
Kecewa, marah, Jancent yakin akan perasaan dasar itu. Sifat yang mendarah daging pada semua orang. Jancent paham tanpa Wina beritahu. Irisnya terlanjur memberi tahu. Entahlah sejak kapan perempuan itu menangis.
Masih diam menunggu jawaban pasti. Waktu seakan berhenti. Bertubi-tubi pertanyaan memenuhi otak. Egois mendominasi, tidak ingin pria itu pergi.
Apa ia harus seperti rubah? memakan hatinya supaya kekal.
"Kenapa? apa aku berbuat salah? "
"Tidak, bukan begitu... "
"Jadi?! " Wina mendesak. Tatapannya tidak teralihkan sekali.
"Maaf."
Jancent mengulur tangan, berniat menyeka air mata Wina. Namun dengan berani ditepis.
"Bodoh, kau tidak peka atau pura-pura tidak paham! aku tidak menyuruhmu minta maaf. "
"Aku ... Akan menikah. "
"Bohong." Tegas Wina. Tangannya mengepal di bawah meja, "Kau janji akan menikahi aku. "
Jancent menghela napas, "perasaan manusia bukan hal sinkron yang abadi. Tidak sama dengan hewan yang bisa setia pada satu pasangan. Hati manusia bisa berubah kapan pun. "
Diam, Wina tidak berupaya mencekal ucapan Jancent, sampai lelaki itu berdiri hendak beranjak.
"Aku yang traktir hari ini. " Jancent pergi.
Sungguh ia bukan lelaki brengsek seperti itu. Meninggalkan perempuan yang menangis karenanya, apalagi ia cinta. Jujur, Jancent ingin berbalik, kembali memeluk wanitanya. Namun tidak bisa.
Senja datang menemani kaki langit. Senja selalu seperti ini. Perlahan datang lalu tiba-tiba hilang, tergantikan keremangan malam, menyisakan kehampaan.
Sama seperti keduanya. Masih setia menyedih. Membenci takdir yang enggan bernego dengan romans mereka.
Wina masih ditempat. Menangis, menatap hadiah yang ia siapkan untuk Jancent, setelan jas. Perempuan itu sengaja membeli hadiah itu di hari jadi mereka. Jancent pernah merengek minta dibelikan untuk hadiah ulang tahunnya tahun lalu.
Ya, hari ini anniversary keduanya. Entahlah sudah berapa jam Wina menangis. Tak peduli cafe yang sepi, akan tutup.
Diluar, Jancent pun sama. Setia menatap Wina menangis dari dalam mobil. Lelaki itu tidak berniat menghidupkan mesin mobil sejak naik. Barang sekali menyentuh kunci mobil pun tidak.
Jancent menangis juga. Meremas cincin yang ingin ia lingkarkan di jari manis Wina. Tapi hanya angannya saja. Sendunya makin menjadi, ia tidak lupa hari apa ini.
Hari anniversary juga akhir untuk keduanya.
Jancent mengumpati diri sendiri. Memukul stir mobil sesekali, melampiaskan amarah. Namun tidak bisa berbuat apa pun.
***
"Ayo lakukan acara pernikahan besok. " Tegas Jancent yang baru sampai rumah. Tidak sopannya mengambil lembar kerja dari tangan Yancent.
Ayahnya sedang membaca perkembangan perusahaan ngomong-ngomong; yang langsung menatap putranya. Terkejut kertasnya diambil juga, apa ia tidak salah dengar?
"Kenapa tiba-tiba ingin besok? kita belum mempersiapkan apapun. Tidak bisa---"
"Apa yang tidak bisa ayah lakukan?!" Tegas Jancent memotong yang langsung dibalas tatapan bingung Yancent.
Ada apa dengan putranya?
"Ayah dengan gampangnya mengiyakan perjodohan. Tidak ingin acara lamaran, maunya langsung nikah, pun direktur tachibana ingin secepatnya. Bukankah mudah besok langsung acara resepsi. Di Zaman sekarang, apa yang tidak bisa dilakukan dengan money. "
Yancent diam, menggigit pipi bagian dalam. Sebelah alisnya naik. Sedikit tersinggung saat putranya menegaskan ucapan di akhir.
Anak itu sengaja memang. Entah setan apa yang sedang merasuki. Jancent meminta tanpa perlu memikirkan dulu.
Apa ini sebagai pelampiasan?
Atau Jancent ingin segera melupakan Wina?
#♥#
__ADS_1
Apa Yancent benar-benar melakukan sesuai perkataan putranya?
Ya. Lelaki tua itu benar-benar mengadakan sebuah pesta pernikahan untuk putra semata wayangnya. Ia seperti jin dalam teko Aladin. Ayah yang sayang anak atau Yancent ada maksud tersendiri.
Ingat, Yancent itu selicik rubah. Perilakunya beda dengan tujuannya. Dimulut begini, dihati begitu. Jancent hafal tabiat ayahnya, uang mengubahnya.
Terkadang Jancent heran sendiri, apa alasan ibunya bisa jatuh hati pada lelaki itu. Tapi ia akui ada sisi istimewa ayahnya. Yancent itu setia. Mutlak.
Acara pernikahan yang megah. Apik, seperti dipersiapkan dengan matang jauh-jauh hari. Tidak menerima tamu tanpa undangan. Jancent tak heran, undangan yang disebar dalam semalam mengundang tamu seramai ini. Bawahan ayahnya banyak, ada dimanapun.
Pernikahan bahagia,-ralat, bahagia bagi orang tua. Tidak untuk Jancent dan Liyun, putri kedua direktur Tachibana.
Megah, mewah, berkelas namun buruk. Bukan acara sakral yang diinginkan keduanya. Bukan cinta yang mengikat. Juga tidak ada Laila disisi Jancent. Penyakit perempuan itu kambuh sebelum sang suami datang menjemput. Ibunya tidak datang, tetap acara tidak dapat ditunda.
Pun Liyun yang tidak bisa membatalkan karena tidak menginginkan Jancent. Ia paling tidak suka pria Indonesia. Trauma. Alasannya, mantannya orang Indonesia yang sekarang jadi kakak ipar.
Kakak kandungnya sendiri diembat, padahal mereka berpacaran tempo itu. Liyun paling benci orang semacam itu, tapi entah apa alasannya menerima perjodohan dengan Jancent.
Ngomong-ngomong mereka dalam pesawat. Penerbangan ke Tokyo. Mengadakan acara hari kedua di kediaman Tachibana sekaligus rumah masa depan Jancent kedepannya. Tak lupa jabatan CEO di perusahaan kerjasama mertua dan ayahnya mutlak miliknya secara otomatis. Mertuanya itu bilang sebagai hadiah pengantin baru darinya.
Sama seperti acara hari pertama, acara di Tokyo pun tak luput dari kata megah, mewah, dan berkelas. VVIP, di gedung termahal dengan fasilitas terbaik di Jepang. Souvenir emas logam murni untuk masing-masing orang. Mulia sekali mertuanya ini.
Lagi, keduanya harus bersandiwara. Tersenyum bahagia melayani tamu yang semakin ramai saja. Belum ada obrolan bagi keduanya. Berkenalan pun belum. Hanya kontak mata sesekali.
"Agh." Liyun mengerang, memijit pelipis. Duduk kembali di kursinya. Matanya berkunang, sepertinya ia kelelahan.
"Kau baik-baik saja? perlu aku ambilkan obat?" Jancent memberi segelas air, ikut duduk.
"Tidak perlu pedulikan aku ... Kita bukan siapa-siapa. " Kasar, Liyun mengambil gelas itu dari tangan Jancent.
Sesaat Jancent senyum. Ia tahu Liyun tidak suka dirinya. Kentara dari sikapnya tadi, apalagi ini adalah perjodohan. Ia pun sama, tidak menyukai Liyun. Tapi apa yang bisa mereka lakukan.
Mereka berdua sama pada intinya.
"Aku tidak mengenalmu, dan kau pun tidak mengenalku. Kita juga tidak saling cinta. Menikah pun aku yakin karena terpaksa. Jadi, mari kerja sama." Tegas Liyun setelah acara selesai.
Jancent masih diam, menatap. Menunggu Liyun melanjutkan.
"Terserah kau mau mengambil atau menghabiskan harta ayahku. Aku tidak peduli. Yang perlu diingat, kau tidak bisa memiliki aku ... Ada orang yang aku cintai. Aku yakin kau juga ada. "
"Ada. Jadi, kau ingin bercerai sekarang?"
Liyun menggeleng, "ayahku punya penyakit riwayat jantung. Bisa mati kalau mendengar kita tiba-tiba cerai. Aku tidak peduli kau ingin melakukan apa, tapi yang terpenting kita hanya terlihat mesra di depan ayah dan ibuku. "
"Aku selalu berakting dengan baik. " Jancent melipat lengannya didada. Terlihat searogan mungkin.
Liyun berbalik pergi, namun tiba-tiba ia kembali.
"Ah, aku hampir lupa. Aku sudah menyiapkan kamar sendiri untukmu. Aku tidak ingin punya anak dari pernikahan ini. Jadi kita jalani hidup masing-masing! "
Dahi Liyun mengernyit melihat Jancent mengulurkan tangan.
"Kau bilang tidak tahu aku, kan? Perkenalkan, aku Jancent, putra tunggal direktur yancent asal Indonesia ... Aku menerima perjanjianmu, Liyun. "
Liyun tersenyum. Menerima jabat tangan Jancent.
#♥#
Hampir setahun mereka terikat janji pernikahan dan kontrak, kemesraan sandiwara. Tidak ada keakraban, berkomunikasi pun jarang. setiap hari seperti itu, monokrom. Seperti ada dinding pembatas. Jauh dari kehidupan suami istri yang saling mengisi.
Jancent sibuk dengan jabatan CEO diperusahaan hadiah ayah mertuanya.
Sedangkan Liyun?
Ia tidak tahu kegiatan istrinya itu. Perempuan itu terlalu dingin, tidak suka urusannya dicampuri orang lain. Jarang bertatap muka, padahal mereka serumah. Entah lebih senang di kamar atau sering keluar, pasalnya pintu kamar Liyun selalu tertutup.
Pun Jancent sama, masih berpegang teguh pada janji awal. Ia juga acuh kalau Liyun sakit setiap kali pembantunya melapor. Tega memang.
Sedikit demi sedikit walau hanya tetesan air dapat mengikis batu karang. Tidak peduli kerasnya. Sama dengan air, sifat hangat Jancent mengikis. Sifat dingin, arogan lebih mendominasi. Lelaki manis itu berubah, perasaan hati mengubahnya.
__ADS_1
Juga membuang jauh kenangan bersama Wina. Lebih baik seperti itu, daripada hidup seperti mayat.
"Hiks... Hiks..."
Jancent menoleh, menatap pintu kamar Liyun. Ada yang menangis? Apa Liyun menangis?
"Nyonya li tadi keluar menemui ayahnya. Sehabis itu nyonya pulang dengan wajah kesal dan menangis sampai sekarang. Kami sudah membujuk untuk makan malam tapi ---"
"Biarkan saja dia. " Tegas Jancent memotong perkataan Hayase, pembantu pribadi istrinya.
Toh, hanya perdebatan antara ayah dan anak. Hal tidak penting untuknya. Ia bukan siapa-siapa.
"Siapkan makan. "
Kepala pelayan langsung beranjak. Menyiapkan makan malam untuk tuannya. Cepat dan rapih. Jancent kelewat lapar usai pulang kerja.
Lagi, tadi Jancent melewatkan makan siang, kemarin melewatkan sarapan karena harus bertemu klien. Hampir setengah tahun terakhir makannya tidak teratur. Pernikahan ini memberinya riwayat penyakit baru. Maag.
Jancent makan sendiri, sepi, hanya suara sendok yang terbentur piring, berisik. Sesekali pembantu datang untuk menuang air dan menyajikan sepiring buah yang baru dikupas, terpotong rapi dalam piring.
"Tuan... "
Jancent menoleh, tidak jadi menyendok nasinya. Menunggu ketua pelayan itu melanjutkan.
"Tadi nyonya bilang ingin makan malam dengan tuan. "
Takut-takut ketua pelayan itu mengatakannya, perihal kedua majikannya tidak pernah makan semeja.
Jancent tertegun, baru kali ini Liyun ingin makan bersama. Ada apa dengan perempuan itu? apa dia menangis karena lapar, sebab ia tidak cepat pulang?
"Panggilkan dia. Bilang, aku menunggunya ... Siapkan satu piring lagi. "
Seorang bibi mengiyakan, mengambilnya sesuai perintah. Yang lain bergegas mengetuk pintu kamar Liyun. Daun pintunya tampak damai, tidak terdengar lagi tangisnya.
Sekali, dua kali, sampai ketukan pintu ketiga Liyun tidak menjawab.
"Biar aku saja. " Jancent menyuruh bibi kembali ke dapur. Tanpa ragu masuk untuk mengecek sang istri. Entah kenapa, baru ini ia peduli.
Tidak pernah Jancent masuk kamar Liyun, walaupun ia tahu istrinya tidak pernah mengunci pintu. Mengetuk juga tidak pernah.
"Ck, tidur. Katanya mau makan bersama. "
Hening, menggeliat saja tidak. Nyenyak sekali perempuan itu tidur. Ini baru pertama kali ia melihat sang istri tidur. Sesaat Jancent tersenyum.
Tersenyum?
Jujur, ini kali pertama lelaki itu tersenyum untuk Liyun. Sayang, Liyun tidak lihat. Manis sekali senyumnya padahal. Bisa diabetes dilihat terlalu lama.
Jancent merapat, membenahi selimut Liyun yang tersibak, perlahan. Tidak ingin membangunkan istrinya.
Sesaat ia diam, ada benda yang menarik perhatian, melihat sesuatu di genggaman Liyun. Botol kecil tanpa merek. Obat apa itu?
Jancent mengambilnya pelan. Menautkan alis, memikirkan sesuatu.
"Tuan, ada tamu. "
Sesaat Jancent sadar dari pikirannya sendiri, menoleh, "oh? hm. " mengangguk.
Mengantongi obat itu segera dan pergi menemui tamunya usai membenahi selimut sang istri yang tertunda.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1