
...Have a nice day...
...Bagaimana kabarnya? ...
...Semoga sehat-sehat semuanya. ...
...Maaf baru nongol untuk yang nunggu cerita ini. Selamat membaca. ...
...pay pay...
.
.
.
.
.
.
.
"Kalau kau keberatan juga tidak masalah. Aku tidak perlu repot-repot--- "
"Tidak, aku bersedia! Siapa bilang aku takut dengan tawaran mu, tapi... "
"Tapi apa? Kau mengkhawatirkan pekerjaan mu?... Tenang, akan aku bereskan. "
Jancent membenarkan jasnya, menyilangkan kaki kirinya diatas kaki kanan, tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa menjauhkan istrinya dari Ryu.
Liyun menipiskan bibir, kecut. Bukan masalah pekerjaan yang ingin ia katakan, namun lagi-lagi Jancent menikung ucapannya. Investasi yang sangat merugikan dirinya. Bodoh sekali ia menyetujui.
Sepertinya Liyun butuh stok obat sakit kepala kedepannya. Karier pendisainer saja ia kelabakan, apalagi menjadi asisten pribadi yang sibuk sana sini membawa map, berargumen dengan para klien dan ikut berdebat dalam rapat untuk memenangkan sebuah proyek. Anak SMA macam dirinya bisa apa?
Sekolah saja kadang bolos demi kencan dengan Arata ke taman bermain setiap kali ada diskon. Nilai mata pelajaran sosialnya merah di rapot, matematikanya jangan ditanya, belum lagi nilai bahasanya belepotan.
Sudahlah, nasi tidak mungkin jadi gabah lagi dan bubur tidak mungkin jadi beras lagi.
Jancent membawa Liyun pergi untuk membeli pakaian baru di toko langganannya. Ia menginginkan istrinya tampil lebih cantik nan segar di hari pertamanya bekerja sebagai asisten pribadinya.
Liyun akan dipromosikan pada karyawannya dan juga ada seseorang yang harus istrinya sapa.
"Aku mau yang ini, ini, itu, itu juga... Tolong ambil yang di patung itu, di patung sebelah sana juga. "
"Kau mau memborong satu toko. " bisik Liyun sedikit kepayahan berjinjit mendekatkan mulutnya dengan telinga Jancent.
"Sst… kau menginjak kakiku! " desis Jancent, matanya melotot menahan sakit. Dasar istri laknat.
Liyun sengaja menginjak kaki Jancent. Ia kesal dengan sifat berlebihan suaminya, belum lagi mereka menjadi tontonan pembeli lain. Kan malu adinda.
"Itu untuk stok. Aku tidak mau mempekerjakan asisten yang berpenampilan norak. "
"Tapikan tidak harus--- "
"Ehem! " Deheman karyawan toko itu menengahi adu mulut keduanya.
Spontan Liyun menyeringai, menjauhkan kakinya dari kaki Jancent. Ia sadar kalau mereka berdua diperhatikan sejak tadi.
__ADS_1
"Ada lagi yang anda inginkan presdir? "
"Hm… aku rasa tidak ada. Tolong dandani dia. "
Karyawan toko itu menunduk dan langsung membawa pergi Liyun sesuai yang Jancent perintahkan. Toko mereka tidak hanya menyediakan pakaian saja, namun tersedia juga penata rias profesional.
"Sambil menunggu istri anda, silahkan duduk di kursi tunggu. "
Sekilas Jancent menoleh kursi dekat meja kasir yang karyawan itu tunjuk, mengangguk dan mengajak Hiba untuk duduk disana. Ralat, hanya bosnya yang duduk.
Hiba beberapa kali melirik Jancent yang sibuk berkutat dengan handphonenya. Ingin melapor, namun ia takut membuat mood bosnya menjadi buruk. Helaan nafas terdengar setelahnya.
"Kau ini kenapa? Ada yang ingin dikatakan? "
Jancent tahu sedari tadi bawahannya itu meliuk-liuk gelisah, resah, gundah, membuatnya tertular tidak fokus juga.
"Itu… sebenarnya, ada yang ingin aku laporkan. "
"Oh, laporkan saja. " jawab Jancent santai, masih sibuk dengan handphonenya.
"Tadi pagi aku tidak sengaja melihat nyonya turun dari mobil tuan ryu. "
Deg,
Seketika rahang Jancent mengeras, moodnya tiba-tiba lumpuh, aktivitasnya spontan berhenti. Ia paling tidak suka mendengar namanya, apalagi kalau istrinya jalan bersama pria itu.
"Aku yakin kalau teman yang meminta nyonya untuk menginap saat hujan malam itu adalah ryu. Bahkan mobil tuan ryu tidak berhenti didepan rumah presdir, dia memarkirkannya agak jauh dan nyonya berlari sendiri sampai rumah. Aku yakin tuan ryu takut ketahuan anda. " perjelas Hiba tambah memprovokasi bosnya.
Diam-diam tangan Jancent meremas handphone yang masih ia pegang, mengumpat nama Ryu dalam hati. Berniat menghabisi pria itu tanpa ampun. Wajahnya merah padam dengan gigi gemeretak beradu saking kesalnya mengingat Liyun yang ternyata membohonginya.
Disaat yang bersamaan Liyun datang usai didandani. Istrinya itu cantik sekali sampai Jancent termangu sesaat. Jancent sampai dibuat lupa jika dirinya tengah kesal.
"Presdir, kenapa wajah anda merah sekali. " bisik Hiba.
"Hah? Tidak, siapa bilang wajahku merah. Matamu saja yang katarak. "
Sanggah Jancent segera yang kentara gugupnya bahkan bicara pun sampai gagu.
Jancent buru-buru akan pergi. Entah kenapa ruangannya terasa panas atau memang efek pipi yang tersipu. Namun peringatan petugas kasir membuatnya urung.
"Tuan, anda harus bayar dulu. "
#♥#
Mitsuha dengan sigap mengumpulkan semua karyawan Kireen di lobby. Mereka berbaris rapi untuk menyambut asisten Jancent yang baru sesuai perintah. Tentu mereka tahu siapa asisten baru itu.
Ya, Jancent sudah mengirim chat sebelumnya pada Mitsuha untuk mempersiapkan semuanya dengan cepat. Tidak lupa karangan bunga bertuliskan selamat datang untuk Liyun dan sebuket mawar putih.
"I-ini perusahaan mu? " Liyun tertegun menatap gedung yang pernah ia datangi bersama Ryu setelah keluar mobil.
Jancent mengiyakan, menggandeng tangan Liyun untuk masuk. Yang digandeng penuh kekhawatiran dengan kejadian tempo hari.
"Pantas mereka menatap tajam diriku waktu itu. Pasti mereka sudah tahu kalau Liyun adalah istri presdir dan gamblangnya aku datang bersama ryu, bahkan sangat khawatir saat Jancent memukulnya. Ah, aku yakin mereka semua mengira kalau aku berselingkuh dengan ryu… Ais, bodohnya kau Nana! " begitu batin Nana.
Sesaat Liyun meneguk kasar liurnya saat melihat pintu berkaca tebal itu terbuka otomatis, bisa-bisa dirinya dikeroyok massa karena ketahuan berselingkuh tempo hari.
"Selamat datang nyonya Jancent. "
Serempak seluruh karyawan membungkuk.
__ADS_1
Mitsuha mendekat, memberikan buket bunga mawar putih itu pada Liyun.
Liyun termangu, mana hal menakutkan yang ia pikirkan sejak tadi. Mereka justru menyambut kedatangannya dengan baik. Sejenak ia menoleh Jancent, hatinya tiba-tiba menghangat melihat pria itu tersenyum disampingnya.
Untuk kesekian kali bolehkah Nana berandai jika Jancent akan selalu bersamanya, bukan untuk Liyun melainkan untuk Nana.
"Maaf presdir, itu… "
Hiba berbisik pada Jancent setelah mendapat laporan dari petugas satpam yang berjaga di luar. Seketika wajah Jancent berubah masam.
"Mitsuha, segera siapkan ruang meeting. "
"Semua sudah siap presdir. "
"Ah, kalau begitu bawa nyonya Li kesana untuk ikut meeting juga dan katakan pada yang lain, mungkin aku agak terlambat. "
"Baik. "
Mitsuha menunduk sebelum menuntun Liyun yang terlihat bingung untuk ikut dengannya.
"Kau mau kemana? Aku tidak bisa sendirian, aku harus melakukan apa? " bisik Liyun yang ditarik paksa Mitsuha. Persetan pada Jancent yang malah pergi. Ingin rasanya ia mencekik pria itu.
Jancent keluar ditemani Hiba yang mengekor di belakang. Supirnya itu bilang kalau Ryu sudah datang.
Tentu Jancent tahu kalau Ryu akan datang karena ia telah membuat janji meeting untuk mengulas kembali kontrak yang dibatalkan itu sesuai permintaan Liyun.
Jancent secara khusus ingin menyambutnya sendiri. Tepatnya memastikan bogeman diwajah Ryu tempo hari sudah sembuh dan siap untuk ia warnai biru lebam lagi.
"Selamat pagi presdir Jancent. "
Sapa Ryu mengulurkan tangan dan dengan arogannya hanya ditatap oleh Jancent, bahkan kedua tangan itu tersemat di dalam saku celana.
"Tidak harus berjabat tangan, kan. "
Ryu tersenyum miring, menarik tangannya kembali. Angkuh sekali presdir dihadapannya ini, kalau bukan karena Liyun mungkin sudah habis wajah tampan itu ia buat lebam.
"Kita mulai saja meetingnya. Aku agak sibuk hari ini. "
Tegas Jancent pergi lebih dulu ke arah lift yang hampir dua menit bertatapan sengit dengan Ryu sampai Hiba dan asisten Ryu merinding menyaksikan. Seperti ada gelombang listrik diantara tatapan kedua presdir itu.
"Bisa kau naik lift lain dengan Hiba? " sekilas Jancent melirik kearah asisten Ryu.
Ryu tertegun, langsung menatap penuh selidik Jancent.
Apalagi lagi yang coba CEO itu rencanakan?
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1