
...Hai hai...
...Have a nice night...
...ada yang menunggu novel ini up?...
...FYI;...
...Author slow up untuk seremoni ending....
...untuk kamu yang mencari novel cadangan, yuk mampir ke novel baru author......
...judul...
...Gin; jeoseung saja...
...jangan lupa mampir, tinggalkan jejak juga...
...pay pay...
.
.
.
.
.
.
.
"Silahkan naik mas dan mbaknya. "
Ucap petugas itu menyadarkan Jancent dari tatapan buasnya melihat Ryu duduk di belakang Liyun.
Istrinya tampak buang muka saat Jancent naik banana boat lebih dulu. Ia duduk tepat di belakang Ryu, disusul Wina yang duduk di belakangnya.
"Kenapa kau selalu mengikuti aku dan Liyun?! " bisik Jancent ditelinga Ryu saat banana boat melaju dengan kecepatan sedang.
"Ck, siapa yang mengikuti mu. Mungkin karena aku berjodoh dengan Liyun, jadi kami sering bertemu tanpa sengaja. "
"Hah? Apa katamu! "
Pekik Jancent mengernyitkan alis, tidak dapat mendengar ucapan Ryu karena teriakan para penumpang wanita atau pria di belakang maupun di depan. Mereka histeris saat kecepatannya bertambah.
Keseimbangan mulai goyah saat tiba-tiba banana boatnya berbelok tanpa mengurangi kecepatan. Beberapa penumpang yang kehilangan keseimbangan langsung tercebur ke laut.
Penumpang yang tersisa terlihat meremas kuat tali pegangan. Tidak terkecuali Ryu, melingkarkan lengannya di tubuh ramping Liyun. Menahan perempuan itu agar tidak jatuh.
Mata Jancent panas melihat tingkah Ryu yang seenak jidat. Hatinya berkobar melihat sang istri dirangkul orang lain.
"Beraninya kau! Lepaskan dia! " Jancent mencengkram lengan Ryu, memaksa melepaskan rangkulannya.
"Kau apa-apaan sih. Nanti Liyun jatuh! "
"Lepaskan aku bilang! Dia tidak akan jatuh. Tidak perlu kau pegang. "
Jancent geram, menguatkan cengkramannya menarik paksa tangan Ryu.
Ryu pun tidak mau mengalah. Terus menyikut tangan Jancent bahkan menepisnya berulang kali.
__ADS_1
"Singkirkan tanganmu! "
"Kau yang seharusnya menyingkirkan tanganmu dari istriku! "
Diam-diam Wina menggigit pipi bagian dalam, kesal melihat Jancent cemburu karena Ryu merangkul Liyun. Bukankah seharusnya Jancent mengkhawatirkan dirinya, hanya perhatian padanya.
"Aku berani taruhan dengan nyawaku sendiri kalau kau hanya peduli kepada ku, mencintai aku. " ucap Wina dalam hati, tangannya merambat pada klip pelampungnya.
Klek,
Byur…
Wina nekat menceburkan diri ke laut bersamaan saat banana boat berbelok tajam. Ia juga melepas klip rompi pelampungnya. Persetan jika dirinya tenggelam.
Wina percaya bahwa Jancent akan menyelamatkannya. Ia tahu Jancent masih teramat mencintainya. Dirinya sudah tidak waras menggadaikan nyawa demi pria beristri itu. Membuktikan pada dunia jika Jancent mencintainya, miliknya seorang.
"Wina! "
Teriakan Jancent tak terbendung melihat wanita itu tercebur. Spontan menepis tangan Ryu yang masih bertarung meladeni ocehannya tadi. Jancent kalang kabut melihat pelampung milik Wina hanyut entah kemana tanpa bertuan. Ia akan melompat, namun sialnya Ryu menahan.
"Kau gila! Petugas akan menyelamatkan dia. "
"Dia akan mati! Lepaskan aku! "
Byur,
Jancent langsung lompat, membuat guncangan hebat karena kakinya sempat tersangkut di tali pegangan banana boatnya.
"Aaa! " jerit Liyun, hilang keseimbangan dan ikut tercebur ulah Jancent yang nekat.
***
"Kau tidak apa-apa? " tanya Ryu berhasil merangkul tubuh Liyun. Ia ikut menceburkan diri melihat Liyun jatuh terombang ambing bersama ombak.
Jancent lebih memilih menyelamatkan Wina. Jangan ditanya perasaan Liyun sekarang. Ia tidak sanggup melihat wajah penuh kekhawatiran Jancent yang menggendong Wina naik perahu tim penyelamat pantai.
Liyun tidak tahu pasti hubungan suaminya dan wanita itu, namun hatinya kembali terluka. Lebih sakit dibanding Arata yang mencampakkannya.
"Kau bisa menaikinya? "
Liyun tertegun, menoleh Ryu yang sejak tadi menunggunya naik perahu tim penyelamat. Entah sejak kapan tangan petugas itu terulur, bermaksud membantunya menaiki perahu. Berapa lama dirinya melamun?
"Kau memikirkan apa? " tanya Ryu setelah mereka naik perahu.
Liyun menggeleng, "ah, tidak ada. "
Spontan Liyun menoleh kerumunan. Ia terkejut mendengar suara Jancent meneriakkan nama Wina. Tanpa sengaja melihat suaminya sedang memberi nafas buatan pada Wina dari celah seseorang yang pergi mengambil tabung oksigen. Sekali lagi hatinya sakit.
"Bagaimana kalau kita duduk didalam? Disini anginnya sangat kencang, nanti kau terkena flu. "
Ucap Ryu berdiri tepat di hadapan Liyun. Ia sengaja menutup jarak pandang Liyun agar tidak melihat Jancent yang mati-matian menyelamatkan mantannya itu.
#♥#
Niu… Niu… Niu…
Liyun berusaha untuk tidak menangis setelah kepergian ambulan itu membawa Wina. Ia bukan ingin menangis untuk wanita itu, tapi karena Jancent berada di dalam ambulan itu, berstatus wali pasien.
Suaminya pergi tanpa mengatakan apapun. Menjelaskan hubungannya dengan wanita itu juga tidak. Bukankah wajar jika ia cemas, takut kalau Jancent bercumbu di belakang.
Jancent sama sekali tidak bertanya apakah dirinya baik-baik saja, padahal ia juga tercebur ke laut. Bahkan suaminya tidak meliriknya sekalipun, padahal ia tepat berada di sampingnya.
Sesayang itukah Jancent pada wanita itu?
__ADS_1
Seberharga itu dari dirinya?
Sepenting itu dari istrinya sendiri?
Liyun menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang meronta. Kedua tangannya mengepal, mengurung lebih dalam sendu di dada. Mati-matian matanya menelan kembali cairan asin yang ingin menerobos keluar. Nafasnya tercekat, hingga sakit dadanya menahan. Ia tidak sanggup lagi.
"Aku tahu beban hatimu. Aku tahu sakitnya menahan pedih itu. Yang perlu kau yakini, aku selalu ada untukmu … bahuku menjadi tempat paling setia menampung air mata mu. "
Ryu mendekap Liyun. Membawa jiwa rapuh itu ke dalam pelukannya. Ia dapat merasakan sebelah pundaknya basah.
Tangisan Liyun seketika pecah. Seolah tidak ada seorangpun yang bisa menenangkannya. Pikirannya penuh bayang-bayang janji manis Jancent.
Mana yang kata Jancent akan mulai mencintanya?
Belum ada pembuktian tapi hatinya sudah meminta mundur lebih dulu. Hatinya sudah sakit di awal.
Apakah kita sudahi disini saja?
***
"Bagaimana kondisinya dokter? "
Sambar Jancent begitu datang usai mengurusi administrasi di meja kasir, melihat sang dokter selesai memeriksa Wina.
"Istri bapak baik-baik saja, tidak ada luka serius. Hanya kekurangan oksigen karena tenggelam dan tubuhnya lemas akibat syok. Jadi butuh istirahat yang cukup… setelah infusnya habis, istri bapak sudah bisa dibawa pulang. Saya tinggal dulu, permisi. "
Jancent langsung menyambar kursi di sisian bed pasien setelah dokter pergi. Erat sekali tangannya menggenggam tangan Wina, sesekali mencium punggung tangannya. Sejenak Jancent tertegun menatap sepasang mata wanita itu perlahan terbuka.
"Agh, kau sedang mengujiku atau membunuhku. "
Gerutu Jancent ketika Wina benar-benar sadar. Wanita itu tersenyum mendengar keluhannya.
"Aku hampir gila kau tercebur tanpa pelampung. " tambah Jancent dengan helaan nafas di akhir ucapannya.
"Maaf… perutku kosong dan kepalaku tiba-tiba pusing dibawa berputar-putar. Akibatnya aku tidak kuat menahan beban tubuh ku sendiri. "
Alibi Wina yang kenyataannya hanya bualan agar Jancent bersimpati. Mengkhawatirkan ia seorang.
Jancent tetaplah manusia yang terus dibutakan oleh cinta. Percaya semua untaian manis yang terucap di bibir Wina. Seketika sarafnya lumpuh bila berurusan dengan mantannya itu.
Kata-kata yang Wina ucapkan sudah setara bisa kobra rasanya. Tak salah kalau wanita dijuluki ular berbisa.
Tepatnya bisa segalanya.
"Kenapa tidak bilang kalau belum makan, kita bisa makan dulu… " dan bla-bla lainnya. Jancent berceramah banyak.
Biasalah, Jancent suka ngelantur ngalor ngidul, bolak balik kutub utara ke selatan. Entahlah apa yang pria itu bahas hanya perkara kecebur laut karena belum sarapan.
Wina sampai tertawa renyah menatap mimik tampan di depannya berceloteh ria.
Tanpa sadar Jancent lupa satu potensi yang ia katakan pagi tadi. Membiarkan seseorang menunggu di villa sendirian dengan perih di hati yang ia pelihara.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1