
Have a nice day...
Author minta komen, like, vote, pav biar ndak ketinggalan...
pai pai....
.
.
.
.
.
.
Di luar skenario Liyun menarik dasi Jancent sampai terlepas. Menyuruh Jancent agak membungkuk karena tinggi badan suaminya jauh lebih tinggi.
Liyun ingin menjangkau kepala Jancent. Guna mengikatkan dasi itu di kepala, menutupi lukanya. Sesekali tangan Liyun menepis tangan nakal Jancent yang ingin melepasnya.
Ya kali dasi dipakai di kepala, macam pendekar. Nanti disangka orang mau ikut perang, begitu batin Jancent.
"Aau... Sakit. " Jancent berjengit kala Liyun mengikat dasinya terlalu kuat. Istrinya ini kasar sekali.
"Jangan di lepas sampai pulang. " talak Liyun yang pastinya tidak bisa di bantah.
Baru mangap akan menjawab sebuah bis berhenti di sisian keduanya. Bahkan supir bis menekan klakson membuat Jancent dan Liyun serempak menoleh karena terkejut.
"Mau naik? " tanya sang supir membuka pintu otomatis bisnya.
Sekilas Jancent melihat kiri, kanan siapa tahu ada taxi. Namun takdir sepertinya menyuruh mereka untuk naik bis.
Jancent membaca sebentar alamat rute tujuan. Bis no. 2708, rute blok B. Rute yang sama menuju rumah Tachibana. Jancent menggandeng Liyun untuk naik.
Mereka berdua langsung di tatap horor para penumpang yang notabene tidak sedikit. Hampir semua kursi penuh, tapi ada satu kursi kosong di sebelah anak SMA.
"Kau yang duduk, biar aku yang berdiri. " entah kenapa ia bisa berkata seperti itu. Aneh.
Jancent ingin memarut bibirnya sekarang. Jujur, ia tidak pernah mengalah untuk orang lain. Tidak memandang pria atau wanita, kecuali anak kecil dan kecuali lagi Wina. Tapi hari ini kenapa ia mau mengalah pada Liyun? lebih enak jika ia yang duduk di kursi itu.
Jancent celingukan memindai para penumpang lain yang masih berfokus padanya. Apalagi anak SMA yang duduk di samping Liyun. Mata bulat besarnya itu memperhatikannya tanpa kedip.
Mereka bukan tersepona dengan ketampanan Jancent, melainkan heran melihat tangan kanan Jancent di penuhi darah yang hampir mengering, di sekitaran dahi pun begitu. Banyak tanda tanya di setiap kepala mereka.
Apa dia terjatuh?
Habis berkelahi dengan seseorang?
Atau dia kalah bertengkar dengan perempuan itu dan berakhir di lempar pot bunga?
Begitu kira-kira isi pertanyaan yang di pilih secara relevan pihak face*book.
__ADS_1
"Darah ini... Aku habis kecelakaan. Itu, mobilku mogok di belakang sana. "
Jancent menunjuk mobilnya yang tepat berada di belakang bis. Seolah ia bisa mendengar isi hati mereka. Serempak para penumpang itu ber-oh ria dalam hati.
Bisnya belum jalan ngomong-ngomong. Masih menunggu satu penumpang lagi yang berkaki tiga.
Hah, berkaki tiga?
Mana ada orang berkaki tiga?
Ada. Yang jalannya lambat, tapi bukan bekicot, bukan keong, bukan tutut. Bekicot dan keluarga besarnya tidak punya kaki.
Semua penumpang harus bersabar menunggu nenek yang usianya delapan puluh tahun ke atas naik bis. Jalannya tidak cukup dengan kedua kaki lagi, sudah beranak pinak menggunakan tongkat.
Liyun tertegun melihat nenek itu saat menaiki bis. Tidak ada satu penumpang yang mau berkorban memberikan kursi kosong. Bis sudah kembali melaju ngomong-ngomong.
Bak super hero pembela kebenaran si papa Zola yang jadi panutannya, Liyun beranjak dari kursi. Dengan sopan mempersilahkan nenek itu untuk duduk.
Liyun mengalah, ikut berdiri di samping Jancent. Tersenyum. Bukan karena bisa dekat suaminya, namun ia senang bisa berbagi, menolong orang lain.
Seperti penyakit menular, Jancent juga ikut tersenyum. Ada secuil perasaan bangga di dadanya. Ada sisi manis Liyun yang ia tidak tahu. Apalagi ia seperti sedang melihat senyum seorang malaikat.
Hiperbola sekalilah Jancent ni. Sekali terpikat langsung pro.
*♥*
Belum ada lima menit berjalan bis sudah berhenti lagi. Segerombolan pemain baseball yang bukan hanya satu orang, namun bersembilan macam boyband ikut naik bis. Menghimpit Jancent dan Liyun.
Gimana tidak sempit, lah wong mereka sudah berpakaian seragam lengkap. Kalian tahu sendirilah pakaian baseball. Pakaiannya itu biasa tapi peralatan yang mereka bawa luar binasa.
Entah isi tas itu apa karena Liyun tidak pernah kepo. Tak tahu kalau Jancent.
Belum lagi alat pemukulnya yang malang melintang sana sini. Pegang tongkat baseball tapi seperti pegang balon. Ada juga yang sudah pakai helem pelindung.
Belum lagi saking aktifnya mereka main lempar tangkap bola di bis pakai sarung tangan yang bisa di manfaatkan kaum emak untuk angkat panci atau ambil loyang kue di oven.
Tingkah mereka persis titisan tour wisata anak TK. Ribet bin rempong.
Jancent memeluk tubuh Liyun agar lebih menempel dengannya. Kasihan melihat Liyun yang beberapa kali kepalanya terjeduk helem pemain kerdil di sampingnya.
"Sabar, sebentar lagi kita turun. " Jancent berbisik. Mengusap kepala Liyun yang terjeduk helem tadi.
Bukannya senang, Liyun malah curiga.
Kok suaminya jadi romantis begini?
Orang yang memeluknya sekarang Jancent, kan?
"Maaf ya, anak buahku menyiksa kalian. Mereka masih labil, susah di omongin. "
Jancent menoleh, tertegun mendapati satu anggota baseball nyelip di belakangnya. Sepertinya ia masuk lewat pintu belakang bis saat naik. Namun pria itu tidak serempong teman-temannya. Liyun juga menoleh atensi yang membuat pikiran di otaknya hilang.
Pria itu tersenyum unjuk gigi. Menyadari kesulitan Jancent dan Liyun yang ia perhatikan sejak awal naik. Ia mengeluarkan sepack tisu basah mi*tu ba*by dari tasnya dan menawarkan Jancent.
__ADS_1
"Mau tisu basah? tangan mu kotor. "
Jancent mengangguk saja dan mengambil beberapa untuk membersihkan darah di telapak tangannya. Pria itu tersenyum lagi, sudah mirip iklan senyum pepso*dent.
Tiba-tiba pria itu mengambil satu lagi tisu basah dan kurangajarnya melepas dasi di kepala Jancent untuk mengelap darahnya.
Liyun mual melihat adegan romantis dua pria di depannya. Sudah se-pro film gay Thailand. Bangsatnya Jancent tidak menolak. Kadang ia meringis sesekali.
"Ini... Pakaikan pacarmu itu, bukan dasi. "
Pria itu memberi Liyun plester luka dan mengembalikan dasi Jancent yang ia lepas.
Keduanya terpaku melihat plester luka itu di tangan Liyun. Aneh, kenapa pria itu baik sekali padanya. Apa jangan-jangan ada kamera tersembunyi acara uang ka*get atau acara bagi-bagi duit bos*que.
"Nih, kau pakai saja sendiri. Aku tidak sampai, tubuhmu itu sebelas dua belas dengan tiang listrik. "
Pria tadi menahan tawa mendengar ucapan Liyun. Namun langsung gulung bibir di tatap Jancent.
"Kau saja yang terlalu bantet. Tumbuh itu ke atas bukan ke bawah. "
Baru akan menampol bibir Jancent dengan sepatu, Liyun kicep mendengar pria itu menawarkan diri.
"Mau aku pakaikan? "
What?
orang ini sudah gila!
Aku bukan G. A. Y!!
"Tidak perlu! aku bisa sendiri. Terimakasih tisu dan plesternya. " Jancent buang muka.
pria itu tersenyum. Lucu juga menggoda pria berjas kantor itu pikirnya. Yang diam-diam di perhatikan Liyun dari percakapannya dengan Jancent.
Liyun mengernyitkan alisnya. Merasa tidak asing dengan wajah pria itu. Bukan sekedar pernah lihat di jalan, namun seperti pernah dekat tapi wajah pria itu sedikit berumur dari seseorang yang sulit sekali ia ingat.
Semua yang melekat pada pria itu tidaklah asing dari logat bicaranya, senyumannya, sikap empati menolong sesama, dan hobi baseballnya.
Spontan mata Liyun melotot seperti akan terlepas dari sarangnya. Jantungnya sedang berdisko dengan hati di jeruji tulang rusuk. Bulu kuduknya merinding serasa ikut acara dimensi lain.
Liyun menyipitkan matanya lagi memperhatikan kembali wajah pria itu dengan serius, takut prediksinya salah. Namun sepertinya tidak.
"Dia, kan pacarku! "
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...