
salam para pembaca uwu... sehat semua? ada yang kangen kah sama novel ini? atau ngeluh kalau update suka gak nentu, kadang lama, kadang tiba-tiba besoknya up?
Author heran ae yak, yang baca banyak tapi komentar bisa diitung dari bab 1 sampai sekarang. Tolong lah komentar apa gitu, terserah. mau curhat, ya monggo pasti dibalas. Buat author mu ini semangat dikit gitu lo,
Kadang author mikir ini novel ada pembacanya atau gak sih??
perlu lanjut ora???
curhat dikit bolehlah.
Selamat membaca, pay pay......
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jancent menatap lama wajah damai Liyun sejak lampu kembali menyala lima menit lalu. Entahlah, ia tidak berniat pergi lebih cepat seperti ucapannya sebelumnya.
Hanya akan menemani sampai lampunya menyala, namun nyatanya Jancent tetap anteng dari lima menit lalu.
Manis sekali wajah terlelap Liyun. Entah dari kapan istrinya itu tertidur. Nyenyak juga tidurnya. Sesaat Jancent menyentuh dada yang masih bergemuruh.
"Apa aku menyukaimu? " gumam Jancent sendiri.
Perlahan tangannya menyalipkan anak rambut yang menutupi wajah Liyun ditelinga. Menyentuh wajah istrinya untuk pertama kali.
Sekilas Jancent menggeleng, "tapi tidak mungkin, kan aku menyukaimu. Perasaan ini salah! aku hanya mencintai wina. Hatiku hanya untuknya. "
Monolog Jancent sendiri langsung menjauhkan tangannya dari wajah Liyun. Hatinya bimbang. Perasaannya membingungkan seperti delusi.
Tidur istrinya kelewat nyenyak sampai tidak terusik Jancent berbicara sendiri bahkan tangannya tadi berani menyentuh wajah Liyun.
Jancent beranjak diam-diam dari ranjang, takut Liyun terbangun. Namun atensinya berfokus pada handphone Liyun yang menganggur disisian tubuhnya.
"Tidak salah, kan seorang suami mengintip isi handphone istrinya. " batin Jancent.
Ia langsung melihat handphone Liyun yang beruntungnya tidak disandi pengaman.
Bangga bisa mengecek isinya, sesaat wajah Jancent berubah kecut. Tidak ada rahasia apapun yang bisa ia ciduk seperti halunya. Hanya ada aplikasi game. Kotak pesannya juga kosong, namun Jancent tertegun mendapati nama Ryu dalam kontak nomor telepon. Kenapa hanya ada nomor Ryu saja?
"Siapa ryu? apa dia spesial sampai hanya ada nomornya saja. Seharusnya ada nomorku juga, aku ini suaminya. "
Jancent mengomel sambil mengetikkan nomor telepon miliknya dalam kontak Liyun. Menyimpan nomornya sendiri yang ia beri nama "suami tercinta".
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Liyun menggeliat dari balik selimut. Getaran handphone mengusik tidurnya. Siapa di jam segini yang sibuk mengirim chat. Buru-buru Liyun melihat nama si pengirim. Siapa lagi kalau bukan si selingkuhan, Ryu.
" Sudah bangun belum? "
"Sudah sarapan? "
"Hari ini mau melakukan apa? "
"Apa jawabanmu yang kemarin? "
"Kenapa hanya di read. Kau sakit? "
Liyun mengucek matanya tanpa minat membalas spam chat dari Ryu. Sibuk menghilangkan belek di sekitaran mata yang mengering.
Ting,
Sebuah notif kembali masuk. Masih sama dari si selingkuhan Ryu.
__ADS_1
"Aku kerumahmu ya. "
Seketika kedua mata Liyun terbelalak. Segar, seperti disiram air. Hampir saja handphonenya ia lempar saking terkejutnya.
Segera membalas chat si selingkuhan. Takutnya Ryu benar-benar datang ke rumah. Bisa murka kakanda.
"Tidak, aku tidak sakit. "
"Aku belum sarapan. "
"Aku sibuk. Tolong jangan hubungi aku. "
Liyun mengubah mode pesawat jaringannya. Malas meladeni spam chat Ryu berikutnya yang berentet macam kereta.
Sesaat Liyun melirik jam diatas nakas, lalu turun ke lantai dasar untuk sarapan. Celingukan memerhatikan sekitar. Biasanya Jancent kelihatan, tapi kemana batang hidungnya?
"Nyonya mencari siapa? " tegur Ema yang akan membersihkan meja makan.
"Jancent kemana? "
"Tuan sudah berangkat hampir sepuluh menit yang lalu. " perjelas Ema membawa piring kotor bekas Jancent sarapan sebelumnya.
Liyun tidak sengaja melihat kertas memo kecil warna cream diatas piring kosong untuknya dimeja.
"Jangan membangkong. Cepat sarapan dan bekerja!
By Jancent. "
Bibir Liyun di maju-majukan, mencibir persis Jancent kalau sedang mengomel. Liyun menggerutu disela sarapannya. Ada orangnya atau tidak, Jancent tetap menyebalkan. Menyesal mencarinya tadi.
#♥#
Hampir setengah jam sejak keluar rumah, Liyun sudah naik, turun, naik dan turun bis lagi berulang kali.
Mampir sana, sini menawarkan diri untuk bekerja. Namun tidak ada satupun lowongan pekerjaan. Ada satu tapi mereka butuh tenaga kerja laki-laki. Sulitnya mencari kerja di Tokyo, padahal di kota besar.
Liyun menghela napas. Duduk istirahat dibawah pohon diarea pejalan kaki, pinggir jalan. Memijit betis kakinya yang terasa pegal. Sedihnya lagi, uang hasil meminjam dari Hayase sudah ludes untuk ongkos.
Liyun lupa punya mobil pribadi. Kebiasaan melokalnya tidak bisa dihilangkan, keseringan naik angkutan umum di Fukushima.
"Seharusnya aku naik mobil saja tadi. Tidak perlu repot-repot pinjam uang. Sekarang, kan kau orang kaya Nana! "
Liyun mendanga, tertegun. Langsung kicep dari omelannya sendiri, menatap pria asing namun lumayan tampan yang berdiri tegap dihadapannya.
"Kau sendirian? dimana jancent? "
Liyun termangu, pria itu juga mengenal Jancent,
"Kau siapa? bisa kenal aku dan jancent. "
Pria itu mengernyitkan dahi, "kau kenapa sih? pura-pura lupa atau sakit hati padaku yang meninggalkanmu. "
Nana termangu, diam. Kenapa pria itu tiba-tiba jadi kesal. Apa Liyun punya masalah dengannya?
"Aku tahu kau masih sayang padaku... "
"Apa? sayang? "
"Tunggu-tunggu, jangan bilang kau juga mantanku. " seru Liyun menunjuk-nunjuk pria itu.
"Kalau iya memangnya kenapa! "
Liyun syok. Wajahnya berubah kecut. Menjambak rambutnya sendiri. Sebenarnya ada berapa orang mantan si Liyun ini. Bisa-bisa kena demo para mantan yang tidak ia kenal.
"Sudahlah Li, aku tahu kau bucin padaku tapi jangan siksa diri begini. " ucap pria itu menjauhkan tangan Liyun yang menjambak rambut. Gayanya di cool-coolkan.
Liyun mau muntah mendengar ucapan frontal pria itu. Bucin darimananya. Ia semakin syok saat seorang perempuan datang merangkul pria itu manja. Bisa-bisa ia disangka pelakor. Aduh, pusing adinda.
"Aku tidak menggoda pacarmu. Dia yang tiba-tiba datang sok akrab. " Liyun membela diri sebelum disembur kata-kata menyentil ginjal seperti adegan disinetron.
Tiba-tiba perempuan itu terkekeh, "kau ini kenapa Li? pacar darimana, Darma ini suamiku. Kakak iparmu."
Oh shit!
Suaminya!
Kakak iparku katanya!
__ADS_1
Pusing adinda macam di drama-drama. Bisakah seseorang menjelaskan siapa dua orang ini sekarang.
Liyun dilema. Otaknya kejang-kejang, tidak tahu tempe soal mereka yang tiba-tiba mengaku mantan, terus datang si Jono yang dadakan berubah memberitahu jadi kakak ipar.
Suasana bertambah runyem dengan datangnya mobil hitam merek H*yun*dai yang tiba-tiba berhenti disisian jalan.
Siapa lagi yang datang ikut campur macam es campur lima ribuan.
"Ryu! " Liyun bersemu kegirangan melihat siapa yang turun dari mobil. Tadi pagi ia uring-uringan dapat chat darinya.
"Mereka siapa? kau sedang apa disini? " tanya Ryu menatap dua orang asing yang mengelilingi Liyun.
Liyun menggeleng. Menggenggam erat lengan jas Ryu. Menatap memohon untuk dibawa pergi.
"Liyun, dia siapa? " tanya perempuan itu tidak suka menatap Ryu.
"Maaf, aku ada urusan dengan Liyun. Permisi. " tegas Ryu langsung membawa Liyun menaiki mobil dan pergi.
Persetan pada mereka yang kesal padanya main comot sembarangan.
#♥#
"Kita mau kemana? " tanya Liyun setelah jauh dari pandangan dua orang asing tadi.
"Temani aku meeting, bisa, kan? "
Liyun mengangguk saja. Toh, itung-itung balas budi.
"Tadi pagi aku ingin bilang minta ditemani meeting tapi kau bilang sibuk. Eh, malah sekarang tidak sengaja bertemu dijalan. Kebetulan sekali atau memang berjodoh. " perjelas Ryu lagi. Wajahnya begitu gembira seperti baru menang lotre.
Liyun ber-oh ria. Merasa ambyar dibilang berjodoh. Wajahnya sudah merona. Untung tidak kelepasan menggerogot seatbelt ditubuhnya.
"Hm, soal jawaban yang---"
"Aku tidak bisa menjawab sekarang. " potong Liyun segera. Ia tahu kemana arah pembicaraan Ryu.
Sekilas Ryu mengangguk, "aku tidak memaksa, kapanpun kau siap menjawabnya. Aku akan menunggu. "
Hening. Tidak ada yang berniat bicara lebih dulu setelah pembahasan tadi. Suasana tiba-tiba jadi canggung. Sampai Ryu parkir didepan sebuah gedung perusahaan bertulis "Kireen" dibagian puncak bangunan.
Ryu buru-buru membukakan pintu mobil untuk Liyun.
"Asistenku cuti hari ini, tolong gantikan dia. Kau cukup temani aku meeting saja, tidak perlu melakukan apapun. "
"Tenang saja, aku ini jago urusan beginian. " jawab Liyun menyombongkan diri.
Ikut masuk kedalam gedung yang langsung diberi sambutan. Liyun buru-buru mengimbangi langkah kaki Ryu yang agak cepat memasuki lif.
Beberapa karyawan menatap tajam Liyun. Seperti mau memakannya hidup-hidup. Mereka semua itu kenapa?
"Dimana meetingnya? "
"Lantai lima belas. " jawab Ryu setelah pintu lif tertutup.
Tidak ada siapapun kecuali mereka berdua didalam, namun pintu lif tiba-tiba terbuka dilantai sepuluh. Menampakkan sosok yang jelas Liyun kenal sekali.
"Jancent? "
Keduanya tertegun, begitupun Ryu dan Mitsuha.
Kenapa ada suaminya. Wajah Liyun persis ikan terdampar di daratan. Terciduk. Bukan lagi bertemu mantan, tapi ini suami. Dan sialnya kenapa ia bersama Ryu.
.
.
.
.
.
Bersambung...
1252K
Kebanyakan gak sih???
__ADS_1
Nanti author kurangi.