Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Tersandung gosip 2 × 7%


__ADS_3

Pantas orang jaman dulu selalu bilang berpikir dahulu sebelum berbicara. Mulutmu harimaumu. Salah sedikit tergelincir sampai tersungkur menjadi buah bibir. Jika buahnya dapat dijual, itu baru menguntungkan, lah ini barabe jadinya. Pusing adinda.


Bagaimana mau meluruskan kalau sudah tersebar luas, merepotkan. Jangan sampai gosip ini didengar karyawan dikantor, apalagi para kolega Jancent.


Ingin menjawab, sialnya atensi kedatangan seseorang membuat Jancent beranjak mengikuti bibi yang membukakan pintu.


Liyun pulang dengan air muka bahagia, lebih ceria dari biasanya. Bibir yang selalu lurus itu, melengkung memberi senyum pada Jancent. Senyum yang tidak pernah ia dapat kecuali terpaksa sejak awal pernikahan. Tapi senyum perempuan itu, kali ini beda.


Jancent termangu. Jujur, senyum Liyun manis sekali.


Tunggu, Jancent tersadar saat Hiba tiba-tiba muncul dari balik pintu. Kenapa supirnya itu bisa pulang dengan Liyun?


Alis Jancent mengernyit. Hiba menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Paham akan sorot tatapan bosnya itu.


"Ini, aku membelikanmu es krim. Rasanya enak loh. " Liyun berlalu setelah memberi Jancent cup es krim yang lumayan besar.


Jancent menatap nyalang es krim di tangannya.


Mereka yang menyaksikan Liyun memberi Jancent es krim bisa melihat aura gelap tuannya. Hayase semakin meremas tali paper bag belanjaanya. Apalagi rasa es krim yang tertulis cukup besar pada cup nya, "flavour mint chocolate". Semua orang tahu apa artinya itu.


Apa Liyun tidak bisa bahasa Inggris atau tidak tahu Jancent tidak suka makanan atau minuman yang berbau min. Pasta gigi saja khusus, rasa original. Arang asli.


" Eh, tuan... Maafkan nyonya, dia pasti lupa. " perjelas Hayase yang langsung mengambil cup es krim dari tangan Jancent. Ia tidak tahu jika es krim itu sengaja dibeli Liyun untuk tuannya.


"Datang keruangan ku jika sudah selesai mandi. " tegas Jancent yang dipatuhi Hayase sebelum pergi.


sesaat berganti melirik Hiba, "Kau, jelaskan sekarang. Ikut keruangan ku. "


Hiba menurut dan langsung mengekori Jancent.


"Ck, kamarku tadi yang mana ya? kenapa rumah ini besar sekali sih! " monolog Liyun kesal sendiri di lorong. Bingung ia harus belok kiri atau kanan untuk ke kamar.


Tidak ingat jelas posisi kamar pemilik tubuh aslinya saat ia keluar tadi. Salahkan rumahnya yang kelewatan besar.


Kesal tidak juga ingat, Liyun memutuskan belok ke lorong sebelah kiri. Yang tanpa ia ketahui, jalan lorong menuju kamar Jancent.


#♥#


Design dark classic interior ruangan kerja pribadi Jancent cukup membuat siapapun yang masuk merinding. Ada beberapa patung dan lukisan di sudut tertentu.


Kesan semakin mystery bila ditelaah orang yang sudah merinding lebih dulu, seperti Hiba yang saat ini masuk ruangan itu.


Namun ada dua rak besar disisian, penuh buku. Salah satu hobi yang diketahui semua orang, Jancent suka membaca. Semua jenis buku ada di koleksinya. Dari yang limited sampai yang mudah dijumpai, penulis profesional sampai kelas bawah, lelaki itu punya.


Hiba menelan kasar liurnya, kikuk mengekori Jancent. Merinding, bercampur gelagat aneh di perut. Rasa-rasa ingin ke toilet mengundang saking takutnya.


Jancent duduk di kursi kebesarannya, menatap serius Hiba yang masih berdiri.

__ADS_1


"Kau tidak mau duduk. "


"Eh, ti-dak... Bukan begitu. " Sanggah Hiba langsung duduk di kursi kosong di seberang meja, menghadap Jancent. Menyeramkan sekali aura bosnya itu jika moodnya buruk.


Jancent memposisikan tangannya diatas meja. Sedang tangan satunya menopang wajahnya.


"Aku menyuruhmu mengawasinya, kenapa bisa mengantarnya pulang? kau tahu, aku menunggu jemputan sampai keriput! dan laporannya, kenapa kau tidak melapor lagi setelah di cafe itu?! "


"Maafkan aku, aku telah lalai dalam tugas... Aku terbuai es krim gratis dan tidak sengaja ketahuan hayase. "


"Apa, es krim gratis? "


Hiba mengangguk, mencondongkan tubuhnya. Bla... Bla... Bla... Bercerita panjang lebar tanpa sensor.


"Jadi begitu. Akhirnya, aku disuruh nyonya mengantarnya kemana saja yang dia mau. "


Jancent menghela napas, pening kepalanya. Seenak jidat istrinya menyewa cafe es krim itu selama seminggu full dengan es krim gratis, hewan kucingnya, juga karyawannya pun disewa; Ditambah pakaian branded  yang Liyun beli lebih dari satu macam. Istrinya juga membelikan untuk Hayase. Tempat makan yang Liyun datangi juga bukan murahan.


Jancent memijit pelipisnya.


"Nyonya juga membelikan aku sepasang jas dan sepatu baru, tu-an. " takut-takut Hiba memberitahu.


Jancent menggeleng tak kuat. Membuka handphone-nya untuk kesekian kali, mengecek notifikasi akhir debit pengeluaran black card miliknya.


Habis sudah uang yang ditabungnya. Jancent menangis dalam hati.


Sesaat menggeleng, menetralkan wajah yang terlanjur muram, "tidak. Jika sudah selesai melaporkan semuanya, kau boleh pulang. "


Hiba mengiyakan dan akan beranjak, namun Jancent berucap lagi membuatnya terdiam sejenak.


"Anggap saja itu sebagai hadiah. Aku tidak akan meminta kau membayar jasnya. "


Lirih, tetapi masih bisa didengar Hiba sebelum dirinya benar-benar keluar ruangan itu.


Belum ada semenit Hiba pergi, pintu ruangannya kembali diketuk.


Jancent mengiyakan dari dalam, mempersilahkan Hayase masuk. Pelayan istrinya itu datang sesuai perintahnya sehabis membersihkan diri.


Terlihat jelas rambutnya yang masih tergerai basah, aroma sabun yang Hayase pakai, jelas menyeruak di indra penciuman.


Jancent beri syarat dengan tangannya agar Hayase duduk. Tidak perlu diperintah dua kali, perempuan itu langsung duduk dikursi yang sebelumnya Hiba pakai.


"Ada perlu apa tuan memanggilku secara pribadi? "


"Kau yang lebih tahu liyun daripada aku, suaminya, karena kau selalu menemani hampir dua puluh empat jam---"


"Ah, jadi tuan cemburu begitu. "

__ADS_1


Persetan mulut klimis Hayase. Berniat menyinggung atau pelayan istrinya terlalu polos.


Detik itu Jancent tersindir, kesal. Tapi kenapa dirinya kesal?


Jancent tidak pernah seperti itu sebelumnya. Ia terlalu tidak mau peduli semua yang menyangkut pautkan Liyun.


Apa Jancent mulai menggeser hatinya untuk Liyun?


"Siapa yang cem-buru ... Aku belum selesai bicara sudah kau sanggah. " tegas Jancent, menyentak. Tapi tetap saja kegugupannya terasa.


Hayase merendahkan pandangannya, bersalah. Tidak berani menatap. Sungguh ia tidak bermaksud menyinggung Jancent.


Sesaat Jancent batuk, sengaja. Bermaksud menghilangkan canggung ulah tersindir cemburu tadi.


"Apa perlu aku ambilkan minum tuan? "


Jancent menggeleng, "Tidak perlu. Aku akan langsung pada intinya. "


Gugup, Hayase masih setia menunggu Jancent melanjutkan ucapannya.


"Apa kau melihat keanehan pada istriku? "


Hayase tertegun, langsung meluruskan pandangan, kembali menatap Jancent yang tiba-tiba bertanya demikian.


"Aku kira, hanya aku yang berpikiran begitu seperti orang idiot. Merasa nyonya berubah dalam semalam. Ternyata, tuan juga berpikiran sama... "


Kedua mata Jancent terbelalak, benar dugaannya. Tapi apa yang terjadi pada Liyun sebenarnya.


Ia bahkan tidak mengenali suaminya sendiri malam itu,


Tidak mengingat Hayase, padahal Liyun sendiri yang mempekerjakannya,


Sifatnya juga berubah dalam semalam,


Dan Liyun mengatakan dirinya pelajar SMA,


Apa dia bukan Liyun, tapi...


.


.


.


.


Tapi ... Siapa hayoo

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2