
"Hm... Enak sekali. "
Liyun tidak segan menyantap dengan dua tangan saking bersemangatnya. Tubuhnya pula bereaksi, bergoyang kecil, menusuk makanan ini itu dengan garpu nya.
Ngomong-ngomong mereka sedang rehat di restoran makanan laut bintang lima.
Sesaat Hayase meneguk liurnya, menatap nanar Liyun. Ganas sekali perempuan itu makan. Apa Liyun tidak sadar atau memang seleranya sudah berubah.
Majikannya ini tidak suka makanan laut. Walaupun hanya sedikit campuran daging seafood atau kaldu ikan laut dalam menu hidangannya, Liyun tidak akan menyentuh makanan itu. Penciumannya tajam, indra pengecapnya apalagi.
Tapi situasi macam apa ini, Liyun mengajaknya mampir ke restoran seafood yang paling tidak ia suka dan nyonyanya itu bilang rasanya enak, makannya pula lahap.
"Nyonya tidak merasa salah makan?"
Liyun menggeleng, segera menelan makanan dalam mulutnya sebelum menjawab.
"Tidak, ini enak. Rugi kalau tidak dihabiskan... Ssh, aku sangat menginginkan makan ini waktu dirumah. Seperti orang yang mengidam ya, kan? "
Hayase nyengir. Lebih baik ia tidak terlalu khawatir dan makan saja.
"Sekarang nyonya mau kemana lagi?" Tanya Hayase usai Liyun membayar semua tagihan makanan tadi. Menenteng belanjaan di kedua tangan yang lebih dari tiga paperbag.
Liyun berpikir, menekan nekan bibirnya dengan jari telunjuk. Melirik kanan, kiri, depan, belakang, memindai toko-toko di sepanjang pinggir jalan.
Sibuk berpikir, keduanya tidak tahu jika seseorang mengawasi sejak awal.
Ya, Hiba si supir, teman juga bodyguard Jancent. Lelaki itu melajukan mobilnya pelan mengikuti Liyun dan Hayase.
"Nyonya baru saja keluar dari restoran seafood, entah dia akan kemana lagi. Sepertinya nyonya sedang berpikir akan kemana. " Lapor Hiba yang sesaat lalu menelpon Jancent sesuai perintah.
"Baik, terus ikuti dia dan laporkan padaku lagi nanti. " Jawab Jancent diujung sana sebelum memutus panggilan.
#♥#
"Cafe cat ice cream. " Gumam Liyun.
Hayase menoleh Liyun yang sudah berhenti didepan cafe, mendongakkan kepala membaca papan nama cafe di atas pintu. Sadar perempuan itu tidak ada didekatnya, ia kembali menghampiri Liyun yang tertinggal dibelakang.
"Nyonya sedang apa?"
"Mau makan yang dingin-dingin?"
Liyun memekik gemas melihat puluhan kucing anggora berlenggak lenggok mengitari ruangan juga mendekati pengunjung dengan manja.
Seperti judulnya cafe es krim kucing. Bukan es krimnya yang berbentuk kucing, namun pengunjung yang datang akan disambut puluhan kucing imut dan tingkah menggemaskan.
Sambil menunggu pesanan datang, pengunjung bisa mengajak para kucing bermain. Pihak cafe juga menyediakan mainan yang akan membuat kucing-kucing itu mendekat.
__ADS_1
Seperti sekarang, Liyun bermain bola dengan kucing anggora putih. Untuk kesekian kali Hayase dibuat stres memikirkan sikap juga perilaku Liyun yang bertolak belakang. Lebih meresahkan dari soal aljabar.
Jujur, Liyun tipe pembenci hewan, apalagi dengan kucing.
"Nyonya, es krimnya sudah datang. " Seru Hayase dari meja mereka setelah pelayan datang.
"Hm... Segar sekali. Ini es krim terenak yang pernah aku coba. Cafenya juga unik. Semua orang harus datang untuk menikmatinya! "
Lagi, Liyun menyendok es krimnya. Sesekali mengelus kucing yang mendekati, duduk diatas paha.
Hayase mencondongkan tubuhnya sesaat, Berbisik, "Nyonya yakin tidak merasa jijik dengan semua kucingnya?"
Langsung dijawab gelak tawa majikannya.
"Kau ini bicara apa sih. Siapa yang bisa menolak keimutan kucing-kucing ini... " Liyun menjeda ucapannya, sesaat berdiri dari duduknya.
Hayase tertegun, alisnya spontan menyatu. Apa yang akan Liyun lakukan?
"Karena cafe ini unik dan membuatku terpesona akan kucing-kucing imut ini, rasa es krimnya juga membuatku kecanduan, membuat hatiku senang berkali-kali lipat, jadi aku umumkan es krim gratis untuk semua orang selama satu minggu!" Seru Liyun mengacungkan sendok es krim setinggi mungkin.
Semua orang menoleh atensi yang berteriak itu, tak terkecuali Hiba yang sedang bermain dengan kucing. Lelaki itu belum memesan karena tidak berniat membeli, namun pengumuman Liyun membuatnya menoleh antusias.
Istri bosnya ini gila, bukan pemilik cafe tapi seenaknya memberi gratisan. Hayase jadi repot meminta maaf sana sini pada mereka yang menatap. Menarik pelan lengan Liyun untuk duduk kembali.
Bukannya duduk, Liyun malah menghampiri meja kasir.
"Tolong telpon bosmu dan beritahu dia, aku menyewa cafenya selama satu minggu untuk berbagi es krim gratis. "
Liyun menghela napas, sejenak mengeluarkan black cardnya.
"Akan kubayar berapapun harga sewanya. Semua es krim, tempat ini, hewannya juga pegawainya sekalian. "
Lelaki penjaga kasir itu meneguk liurnya, horor. Tangannya yang tremor diam-diam mengambil card itu.
"Baiklah. Kita bisa selesaikan masalah ini dengan hasil yang saling menguntungkan. "
"Oh, jadi bapak pemiliknya. "
Lelaki itu mengangguk tanpa menatap Liyun, matanya terlalu fokus menebak berapa jumlah nominal dalam black card itu. Mulutnya yang menganga hampir saja meneteskan liur.
#♥#
Jancent pulang dengan supir rumah pribadi. Ia terpaksa menghubungi pihak rumah karena Hiba belum kembali dari menguntit Liyun. Sepatah kabar juga tidak ada. Terakhir kali Hiba melapor siang tadi. Tapi terlalu banyak notifikasi pengeluaran black cardnya di handphone.
Entahlah, apa yang Liyun beli. Sehari hampir satu miliar uangnya hangus.
"Selamat malam tuan. " Sambut kepala pelayan, Ema. Mengambil jas Jancent yang dilepas.
__ADS_1
"Kran kamar mandi tuan sudah diperbaiki dan makan malam juga sudah siap. Tuan ingin mandi atau makan terlebih dulu?"
Diam, Jancent tidak terlihat akan menjawab saat Ema melirik. Ia bahkan tidak dengar perkataannya barusan. Jancent terlalu fokus memperhatikan pembantu yang lain. Mereka berbisik-bisik, saat bersi tatap dengan Jancent spontan mereka bungkam, ada juga yang menghindar, bubar.
Apa mereka menggosipkan aku?
"Tuan?"
Sesaat Jancent menoleh, tertegun, "A-apa?"
"Ingin mandi atau makan terlebih dulu?"
"Aku lapar. " Tegas Jancent langsung lenggang kemeja makan.
Suasana makannya pun sama seperti sambutan saat ia datang. Jancent tidak tenang, makannya seperti diusik. Melirik sana sini, mereka diam saat Jancent berdehem. Paham tuanya terganggu.
Helaan nafas Jancent terdengar, sejenak mengendurkan dasi yang masih melingkar di kerah kemeja. Muak, panas telinganya mendengar para pelayan itu berbisik-bisik tak jelas.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? ada berita heboh apa?"
Mereka diam, tidak berani menatap Jancent yang sedang menatap mereka tajam. Sampai ketua pelayan datang menyuguhkan sepiring potongan buah pencuci mulut untuk Jancent.
"Maaf jika kami lancang. Sepertinya gosip ini benar-benar membuat kami iba pada nyonya dan tuan. Kami juga ingin tahu kebenarannya... "
Sesaat Ema diam, menjeda. Gugup ia akan menyampaikannya. Wajahnya sudah berkeringat. Jancent masih setia menunggu pelayannya itu meneruskan. Begitu pun pelayan lain yang harap-harap cemas mendengar jawaban tuanya.
"Apa tuan benar-benar pria impoten?"
Deg'
Tulang-tulang tubuhnya mendadak osteoporosis. Memijat kepalanya, depresi. Helaan napas juga terdengar beberapa kali. Jancent paham sekarang, alasan pekerja di rumahnya menatap nanar dirinya. Bahkan sebagian kecewa karena ada yang diam-diam mengidolakan tuanya karena ketampanan yang terlalu hakiki.
"Kalau berita itu benar, sebagian dari kami mempunyai solusi untuk itu. "
Jancent semakin mengunyel kepalanya sendiri, kesal. Abaikan tatanan rambut yang sudah berantakan itu.
Jujur ia normal. Perkataannya tempo hari pada Liyun hanya asal, tapi kenapa malah menyebar seperti ini.
Dasar Liyun!
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...