
...Sudah pada sarapan belum?...
...Ada yang kurang puas author cuma up 3 bab?...
...Jangan lupa wajib komennya berlaku....
...Yang lagi sekolah (daring/nondaring), bekerja, ibu rumah tangga, pengangguran, dsb.... semoga di mudahkan selalu niat dan pekerjaannya. Yang belum dapat kerjaan semoga dapat secepatnya....
...Yang masih jomblo?...
...kita sama:)...
...pay pay...
.
.
.
.
.
.
.
Mereka langsung menatap heran Liyun. Membuat Tachibana melupakan emosi dan topik permasalahan mereka.
Ada apa dengan logat bicara Liyun, ia seperti baru pertama kali melihat kakak iparnya.
Jancent diam-diam menginjak kaki Liyun, membuat istrinya langsung berjengit antara terkejut dan sakit. Liyun langsung mengumpati Jancent dalam hati.
"Kenapa kau menginjak kakiku! Kau sengaja?! " bisik Liyun mencubit pinggang Jancent hingga suaminya meringis kesakitan.
"Kenapa kau malah mencubit ku! Sakit tahu. " tegas Jancent ikut berbisik sambil melototkan kedua matanya.
"Salahmu sendiri main injak kaki orang! "
"Aku mengkode dirimu, dasar tidak peka. Jangan berbicara yang aneh-aneh! "
"Apanya yang aneh? Aku heran saja orang yang mengaku mantan ku itu mengada-ada jadi kakak ipar. Apa aku sedang di prank. "
"Mantan? " batin Jancent.
Jancent baru mengetahui fakta tentang itu. Namun ia berusaha menutupi keterkejutannya.
"Dia memang kakak ipar kita, suami kakakmu. Darma. "
Ehem!,
Suara deheman Tachibana membubarkan bisik-bisik keduanya. Ia dan Darma sudah jengah menunggu mereka berdua berdebat tanpa ada pause.
"Sepertinya adik ipar belakangan ini sangat terkejut melihat aku. Seperti kita tidak saling kenal. Apalagi tadi, saat bertemu di jalan, kau malah pergi dengan seorang pria. "
Salahkan mulut klimis Darma yang sudah membuat Jancent menatap nyalang Liyun. Begitu pun Tachibana yang terlihat syok.
"Apa yang Darma katakan itu benar? "
Takut-takut Liyun menatap wajah ayahnya yang sungguh bringas dengan kumis kelewat tebal mirip suket.
You know suket?
__ADS_1
Darma enjoy saja, tersenyum malah. Bahagia sekali dirinya melihat mantan dan adik iparnya ini terus di pojokkan.
Dasar kakak ipar laknat.
"Iya benar, tapi tadi itu cuma bercanda saja. Pura-pura tidak kenal kakak karena sudah lama tidak bertemu terus kebetulan temanku datang. Memang aku sudah ada janji sih dengannya. "
What the hell!
Jancent langsung melengos. Apa ia sudah budeg. Janjian Liyun bilang!
"Janjian dengan si bajingan itu?! Ryu maksudnya? "
Spontan Liyun membekap mulut Jancent dengan telapak tangannya yang akan mengumpat lagi.
"Dia bukan bajingan. Cuma ada janji bisnis biasa. Pertemuan dengan klien kerja, seperti itu. "
Tegas Liyun mengerjapkan sebelah matanya supaya Jancent mau bekerja sama menahan rasa kesalnya dulu. Sesaat Jancent menepis tangan Liyun.
"Iya ayah, hanya rekan kerja. Dan pria yang ada di foto itu ryu. Dia orang yang sama dengan yang kakak ipar temui di jalan tadi. Kami bertemu karena pekerjaan, bukan untuk berselingkuh. " lanjut Liyun.
Liyun melirik Jancent yang menatapnya dengan tajam. Seolah akan menguliti dirinya. Menatap bergantian ayah dan kakak iparnya dengan cengiran ragu. Takut kebohongannya tidak bisa diterima.
"Aku percaya karena putriku pasti tidak berbohong. Ayah akan bantu meredakan masalah ini. Tapi ingat!... Kalau sampai kalian ketahuan berbohong---"
"Iya ayah janji! Aku jamin hati kami berdua benar-benar suci, jadi untuk apa berbohong. " seru Liyun memotong ucapan ayahnya dengan mengacungkan dua jari.
Jujur, Liyun tidak kuat mendengar kalimat Tachibana selanjutnya. Pasti sangat seram yang membuat dirinya susah tidur nanti malam.
"Ayah, makan siang sudah siap. "
Liyun kembali dikejutkan dengan penampakan seorang wanita barusan. Untung ia bukan tipe orang yang cepat bengek. Pasti sudah is dead dari tadi kena serangan jantung.
Sebelum Liyun bicara yang bukan-bukan lagi, Jancent lebih dulu berbisik di telinganya. Barabe kalau suasananya kembali runyam dan memanas. Buat resah hati kakanda.
"Dia lusi, kakak kandungmu. Istri dari Darma. "
Perdebatan tadi membuat perut mereka lapar. Dan akhirnya kerongkongan kering sekering gurun sahara kakanda bisa minum juga.
#♥#
Semuanya duduk dengan formasi yang seharusnya. Jancent duduk bersebelahan dengan Liyun, di hadapan mereka ada Darma dan Lusi, dan ayahanda di kursi kebesarannya sendiri. Menatap kedua anak dan menantunya.
Lusi datang bergabung di meja makan dengan membawa loyang besar berisikan ayam panggang presto utuh didampingi tomat ceri, garlic, dan asparagus yang terpanggang.
Liyun nyaris tidak berkedip lagi. Tidak sabar dirinya ingin mencomot paha montok piteknya. Apalagi bawang putih yang sudah menggodanya sejak awal diletakkan.
"Ini, aku ambilkan sayap ayam kesukaan mu. Spesial dari kakak ipar. "
Dengan semangatnya Darma mematahkan dua sayap ayam itu untuk liyun.
"Aku tidak mau, mana ada dagingnya. Lebih enak pahanya. "
Sesaat mereka tertegun mendengar selera Liyun yang berubah, kecuali Jancent. Jujur, ia tidak tahu makanan kesukaan istrinya.
Biasanya Liyun lebih mengincar sayapnya ketimbang paha.
Jancent yang merasa terpanggil bersiap mematahkan paha ayamnya untuk sang istri. Ia sudah tidak memakai jasnya lagi dan lengan kemeja biru telur asinnya sudah digulung ngomong-ngomong sebatas siku.
Jancent langsung menepis tangan Darma sampai satu sayap ayam yang ia pegang tidak sengaja terlempar tepat mengenai wajah ayahanda yang sibuk menggerogoti ceker asam pedas kesukaannya. Wajah terlalu serius itu tiba-tiba blank.
Lusi dan Liyun mati-matian menahan tawa. Sesekali mereka memalingkan muka saking tidak kuatnya. Beda dengan dua suami mereka yang ketahuan jadi tersangka, wajahnya berubah kecut.
"Makan dengan tenang! " geram Tachibana dengan sangarnya mematahkan jari-jari ceker dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
Kretek… kretek…
Jancent dan Darma segera mundur. Otomatis duduk dengan rapi persis anak TK dimarahi ibu guru. Tidak mau tulang-tulang mereka ikut dipatahkan juga.
"Ibu dimana? Kok aku tidak melihatnya? "
Liyun asal saja bertanya untuk menetralkan suasana canggung ulah insiden sayap ayam yang salah alamat tadi.
"Bukannya ibu sudah mengabarimu sebelum pergi? "
"Hah? "
Liyun menyeringai pongah, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sejak kapan mengabari, tahu wajahnya saja belum. " begitu batin Nana. Menyedih dalam hati.
"Oh iya… aku lupa. "
"Sudah hampir satu minggu kira-kira ibu pergi ke Prancis memenuhi undangan acara pameran busana tahunan disana. "
Liyun manggut-manggut membalas Lusi. Toh, sebenarnya ia tidak peduli. Lah wong uduk mamak ku.
"Sini aku ambilkan. "
Lusi berbaik hati mengambilkan adiknya paha ayam yang tidak jadi Jancent ambil. Namun percaya atau tidak, dibalik niat baik pasti ada apanya. Dan untuk kesekian kali Liyun dijejali pertanyaan yang rumitnya lebih dari soal ujian fisika.
"Kenapa dari kemarin panggilan teleponku tidak diangkat, chat pun juga tidak dibalas? Akhir-akhir ini kau sulit sekali dihubungi. Padahal aku ingin memberitahu kalau asisten mu komplain, katanya kau tidak masuk kerja beberapa hari ini tanpa kabar. "
Deg,
Jancent baru ingat kalau ia juga mendapat laporan dari asisten Liyun soal istrinya tidak datang bekerja beberapa hari dan sulit dihubungi. Padahal Jancent berencana akan membahas masalah ini di rumah setelah pulang, namun sudah terlanjur terbongkar oleh Lusi.
Semua terlihat pusing, namun adinda berubah cengo. Pekerjaan apalagi yang disandang Liyun sampai ia jadi buronan begini. Tiba-tiba Nana sakit kepala.
"Em… masalah itu, aku baru saja ganti handphone baru karena yang lama hilang terbawa ombak. "
Jawab Liyun sekenanya. Padahal tidak mungkin juga ia berenang di laut bebas saat ada ombak. Bisa jadi kambing guling ia nanti.
"Iya, Liyun beberapa hari ini kurang enak badan. Jadi aku menyuruhnya untuk istirahat dirumah saja. " Jancent menyahut, merangkul tubuh Liyun yang terlihat terkejut dengan sisi manisnya.
Belum lagi ucapan asal Jancent tadi membuatnya tertegun karena tidak direncanakan, namun Liyun berusaha profesional bersandiwara dengan suami jadi-jadiannya itu.
"Kalau sakit, kenapa tidak mengabari ayah. "
Jancent berniat menjawab ayahnya saat Liyun sibuk menyumpit bawang putih dan memakannya dengan ganas.
"Kenapa kau makan itu! Kau, kan alergi bawah putih, Liyun. "
Spontan mereka panik, takut Liyun gatal-gatal atau sesak nafas atau yang lainnya. Kecuali satu orang yang santainya naudzubillah. Setan pun tobat menggodanya.
Siapa lagi yang dimaksud kalau bukan Jancent yang memang tidak tahu menahu kalau Liyun alergi bawang putih dan dengan ucapan asal ceplosnya membuat satu meja makan jadi gaduh.
"Sepertinya tidak apa-apa. Bukannya orang yang sedang ngidam biasanya suka begitu---"
"Hah! "
.
.
.
.
__ADS_1
..
Bersambung...