Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Tersesat × 23%


__ADS_3

...Good night......


...have a nice dream......


...Maaf kalau bahasa inggrisnya kurang tepat. Maklum wong jowo....


...Author mintol boleh? untuk like, pav dan komennya......


...Semoga semua sehat selalu...


...sampai jumpa...


...pay pay...


..


..


..


..


..


..


..


"Mungkin dia yang terbaik untuk arata. "


Liyun berlari dari kenyataan pilu yang baru dipertontonkan. Tidak peduli lagi arah tujuan, terserah kemana langkahnya membawa yang penting ia pergi jauh. Sejauh mungkin. 


Liyun tahu irisnya mengembun. Kristal air merekah, menggelayut di pelupuk mata. Pelan air mata itu bergulir membentuk parit di pipi, menggelinding di dagu, menumpuk disana dan dalam gerakan lambat menetes menghujam bumi. 


Lisannya tidak lagi kuasa menahan. Kedua kaki Liyun seketika tidak berguna. Ia bersimpuh di pertigaan gang, menumpahkan jeritan dan air mata. 


Jujur, Liyun tidak pernah merestui Arata dengan orang lain kecuali ia seorang. Terserah jika mereka mengatakan dirinya egois. 


Bohong jika Nana baik-baik saja, dusta bila hatinya begitu mudah melepaskan. 


Banyak orang yang lewat bertanya-tanya melihat Liyun, kenapa dengan perempuan itu? 


Jeritan yang hampir mencekik itu sampai membuat beberapa orang berhenti beraktivitas sekedar keluar rumah untuk melihat siapa yang menangis. 


Liyun mencengkram dadanya sendiri, memukulnya sesekali sebagai pelampiasan. 


Orang-orang tidak ada yang berusaha mendekat. Berpikiran negatif jika Liyun ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa). Mereka hanya menonton dari jauh. 


Baru pertama kalinya Nana sesedih ini, sesakit ini hatinya. Sebuah luka tanpa bekas, namun rasanya seribu kali lebih sakit. 


Liyun kembali berdiri saat setitik air jatuh dari langit yang kelabu. Buru-buru ia menghapus air mata yang tetap saja bergulir tiada tara. 


Liyun linglung menengok kiri dan kanan. Ia lupa arah pulang. 


"Aku harus belok kiri atau kanan? " gumam Liyun sembari menyeka cairan di hidung. 


"Sebenarnya aku dimana?! "


Liyun kembali menangis. Takut tidak bisa pulang dan ia baru patah hati, rasanya masih hangat menyiksa. Bukan nano-nano lagi rasanya. Lebih enak nano-nano candy di warung. 


Sialnya, hujan  tidak bisa diajak kompromi sedikit dengan hati yang patah. Dalam sekejap hujan turun melebat. Liyun jadi ketar-ketir mencari tempat berteduh. 


Lompat sana, lompat sini menghindari jalan yang tidak rata. Sudah macam katak bermain dalam hujan. 


Bruk, 


Untuk kesekian kali nasib membuat luka. 

__ADS_1


Liyun tidak sengaja menginjak minuman kaleng yang berakhir dirinya jatuh terpeleset. Liyun mengerang memegangi bokongnya. Pakaiannya langsung kebas dalam sekejap karena jatuh di kubangan. 


"Au! " Liyun mengaduh saat hendak berdiri. Kaki kirinya terkilir. 


"Ini semua gara-gara kau, arata. " gerutu Liyun menghempaskan pukulannya pada air kubangan. 


Ia tidak peduli air itu kotor dan bau. Bahkan Liyun lupa diri kalau ia berada di tengah hutan. Hatinya tanpa henti menyumpah serapah Arata. 


"Ih, kau jahat! Jahat! "


"Siapa yang jahat? "


Liyun diam, lebih tepatnya terkejut ada yang menjawab omelannya. Mata Liyun mengerjap dengan tubuh yang tiba-tiba kaku menjadi patung. Ia heran melihat rintikan hujan tidak lagi singgah di tubuhnya. 


"Mau aku bantu... "


Liyun mendongakkan kepala setelah melihat uluran tangannya. 


"Ryu... " 


Liyun termangu melihat pria itu tersenyum memayungi tubuh mereka berdua. Bahkan ia terharu sampai matanya kembali berkaca-kaca. 


#♥#


Ryu selalu datang setiap kali Liyun terpuruk. Pria itu seperti malaikat pribumi tanpa sayap. 


Namun dibalik itu, Ryu selalu tersakiti. Hatinya tetap saja perih walaupun Ryu sadar diri ia tidak akan pernah bisa menggapai bunga dalam samudra. Memiliki Liyun seutuhnya yang sudah dipersunting orang. Sungguh tidak mungkin, bukan. 


Ryu sadar itu, sampai babak belur ditampar kesadaran. Namun hati tetap saja buta mencintai Liyun seorang. Ia juga ingin melupakan Liyun, ayolah lupakan semua masa lalu! 


Ryu menutup pintu mobil Liyun dan beralih ke sisi sebelahnya untuk mengemudi. 


"Uh... Sst... " Liyun mendesis sambil mengusap kedua lengannya sendiri. Berharap mengantar sedikit kehangatan untuk tubuh yang kian menggigil. 


Tanpa di kode, Ryu peka sendiri dan langsung melepas jas kerjanya. 


Ryu kekeh saat Liyun menolak. Menahan tangan perempuan itu, yang akan melepas jasnya. 


"Semua pakaianmu basah, laki-laki mana yang tega melihat perempuan kedinginan sampai menggigil begitu. " Ryu juga mematikan AC mobilnya. 


Hati Liyun menghangat, seolah ia lupa kejadian menyakitkan itu. Menatap penuh syukur Ryu yang duduk di sampingnya. Membayangkan ribuan copy pria seperti Ryu. 


"Ini, untuk mu. " Ryu melempar paper bag putih setelah kembali masuk kedalam mobil. Ia mampir sejenak ke toko pakaian wanita. 


"Ini untukku? ... Tidak perlu repot-repot Ryu. "


"Aku tidak punya baju wanita, tidak mungkin, kan kau pakai baju milikku ... Aku takut kau sakit. Nanti yang ada, jancent marah padaku. "


Ngomong-ngomong soal Jancent, Liyun jadi teringat insiden suaminya yang tiba-tiba meninju Ryu. 


"Wajahmu tidak apa-apa, kan? Lukanya tidak berbekas, kan? "


Liyun sibuk menyentuh wajah Ryu yang fokus menyetir. Ia ingin memastikan wajah tampan itu baik-baik saja. 


Di luar skenario seorang Ryu, tiba-tiba ia gugup. Pipinya bersemu merah muda dengan cepatnya. Sesaat tangan Liyun ditepis. Ryu tidak ingin kelepasan mencium Liyun nantinya. 


"Aku baik-baik saja. Hanya luka ringan biasa... Aku sudah mengoleskan salep, jadi lebih cepat sembuhnya. "


"Maaf karena aku--- "


"Aku tahu Li, jancent itu suamimu, kan? Kau tidak perlu meminta maaf untuk itu. "


Awalnya Liyun tidak mengerti arah pembicaraan yang Ryu bahas. Sesaat ia ingat kalau Ryu menunggu jawaban atas pernyataan cintanya tempo hari. Dan Liyun sadar perasaan Ryu berujung patah hati. 


Sebenarnya Liyun bukan meminta maaf soal itu, tapi Liyun ingin minta maaf karena pergi meninggalkan Ryu saat dirinya terluka. Namun sudahlah, jangan dibahas lagi. 


Seberapa keras Liyun menutupi, Ryu tetap akan mengetahuinya dikemudian hari. 

__ADS_1


"Terimakasih sudah menolongku dan membelikan aku baju. "


Sekilas Ryu tersenyum walaupun pandangannya tetap lurus memperhatikan jalan. 


"Tidak perlu berterima kasih... Aku tidak pernah memberimu apapun. "


Detik itu waktu seolah menjadi racun untuk Liyun. Ia merasa tidak enak hati, namun ia tidak bisa berbuat lebih pada pria baik seperti Ryu. 


Andai pria itu tahu kalau ia bukan Liyun. Mungkin hati Ryu tidak sesakit hatinya sekarang, begitu batin Nana. 


Ryu mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha mati-matian menahan air matanya. Ia tidak ingin menangis didepan wanita yang ia cintai. 


#♥#


Jancent memeriksa handphonenya berkali-kali. Sejak tadi ia menunggu balasan chat dari Liyun. Ia juga menyuruh Hiba menyusul Liyun untuk pulang, namun supirnya itu melapor kalau istrinya tidak ada ditempat kerja. 


Hampir dua puluh menit Jancent uring-uringan. Mondar-mandir menelpon Liyun pantang mundur yang kurang ajarnya jaringan terputus karena hujan. Sinyalnya membagongkan pemirsa. 


Mengirim chat pun tidak ada yang dibaca satupun. Kakanda sakit kepala jadinya. Kemana istri bocahnya itu. 


Apa Liyun sudah pulang lebih dulu? 


Jancent segera merapikan semua berkas diatas meja. Menanggalkan dokumen yang akan ia periksa besok. Memakai jasnya dan buru-buru turun ke lobby. 


Jancent menekan nomor kontak Hiba untuk menelponnya. 


"Siapkan mobil, antar aku pulang sekarang. "


Tut, 


Jancent mengakhiri panggilan sepihak. 


Entah dapat pencerahan dari mana, Jancent mampir sejenak membeli satu box ayam goreng spesial barbeque flavour, berharap Liyun menyukai buah tangan yang ia bawa. 


Tapi, keceriaan Jancent langsung hilang, semangatnya pupus, harapannya hanyut pula, mendengar kabar bahwa Liyun juga tidak ada dirumah.


"Cepat hubungi kana! " Seru Jancent langsung mendaratkan bokongnya di sofa, mulai memijat keningnya. Pusing memikirkan istrinya yang tidak tahu ada dimana.


Hayase segera menelpon Kana lewat telepon rumah diseberang Jancent. 


"Apa! Nyonya li--- " Hayase langsung merendahkan suaranya. Takut kalau-kalau Jancent bertambah khawatir. 


Namun Jancent terlanjur dengar dan langsung menoleh Hayase yang memekik dengan syoknya. Persetan suara Hayase yang sengaja dikecilkan. 


"Apa yang kana bilang? " sambar Jancent yang tidak sabaran setelah panggilan berakhir.


"Kana bilang, nyonya izin pergi tadi siang, alasannya ada urusan pribadi dan nyonya tidak kembali lagi. Semua tugas juga nyonya serahkan pada kana. "


"Pergi?! Kemana? "


Hayase menaikkan kedua bahu sambil menggeleng, "kana bilang, ia juga tidak tahu nyonya pergi kemana. "


Jancent menghela nafas dalam, menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Tiba-tiba ia tidak bisa berpikir jernih. 


"Panggil polisi sekarang! "


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2