
Liyun menghela nafas. Entah sudah berapa kali ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Koper sudah menunggu sejak tadi dibibir pintu, bahkan pasport dan tiket pesawat sejak tadi di genggaman.
Jadwal keberangkatan mereka sebentar lagi, namun Jancent belum juga kembali.
Apa yang sedang pria itu lakukan?
Spontan Liyun menghapus air mata yang jatuh di pipi. Tanpa sadar ia menangis. Pikiran jahatnya begitu menumpuk, penuh ketakutan. Mati-matian dirinya menepis, berpikiran baik jika Jancent hanya menyelamatkan teman wanitanya. Ya, teman. Hanya teman. Semoga begitu.
Liyun mengusap layar handphonenya, mencari nomor kontak Jancent. Sesaat ia ragu untuk menekan nomornya.
Haruskah dirinya menelpon pria itu?
"Halo… "
Tut,
Langsung Liyun menekan tombol merah, mengakhiri panggilan sepihak.
Mendadak tangan Liyun tremor mendengar suara seseorang yang mengangkat panggilannya. Bukan Jancent yang mengangkat, melainkan seorang wanita.
Haruskah ia percaya bahwa hubungan suaminya dan Wina bukan sekedar teman biasa. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Nana bingung. Sumpah ia tidak dapat mengendalikan perasaan emosionalnya. Seorang gadis SMA labil jatuh cinta pada suami orang. Kenyataan memang pahit, tapi ia terlanjur mencintai suami si pemilik tubuh.
Kenapa harus hatinya yang terluka?
Sungguh ini pertama kali perasaannya dipermainkan. Disakiti, namun masih menaruh harapan pada orang yang sama.
"Nyonya, kita harus ke bandara sekarang. "
"Oh… " Liyun terkejut. Sekilas menyeka air matanya sebelum mengangguk. Menyeret kopernya memenuhi ucapan supir pribadi mertuanya.
Untungnya Yancent membekali mereka dengan supir yang pintar berbahasa Jepang selama berlibur di villa.
"Loh, tuan tidak ada? "
Sang supir terkejut melihat Liyun datang menyeret kopernya sendiri tanpa Jancent yang mengekor. Biasanya pria itu selalu ada dibelakang.
"Sudah tinggalkan saja. "
"Hah? "
Bak,
Liyun menutup pintu mobil dengan kasar. Diam-diam ia menyeka air matanya sebelum supir itu melihat.
***
Lagi, Liyun menunggu keberangkatannya dalam hitungan menit tersisa di bandara. Duduk di kursi tunggu sendirian. Merana menatap wallpaper handphonenya, Jancent tersenyum melihat kamera sambil memeluk dirinya agar tidak lari. Foto couple yang manis. Kenangan singkat namun membekas.
"Apa aku harus minum ini? " Liyun menghela nafas mengeluarkan obat tidur dari sakunya.
"Kata jancent, aku tidak akan mabuk bila meminumnya. "
Jujur, hati Liyun penuh kecemasan sekarang. Traumanya kumat. Ia takut mabuk lagi di pesawat. Sungguh ia membutuhkan suami jadi-jadiannya itu.
Ting,
__ADS_1
Notifikasi chat masuk di handphonenya. Liyun hampir bungah, tapi tidak jadi setelah membaca nama si pengirim. Ia kira Jancent, ternyata Ryu.
"Kau dimana? Aku datang ke villa mu, tapi kau tidak ada. "
"Aku di bandara. Liburanku sudah berakhir, jadi aku akan pulang ke rumah mertuaku hari ini. "
"Liyun! " teriak Jancent.
Spontan Liyun mendongak setelah menekan tombol kirim pada chatnya. Menatap penuh kejut pria yang terengah di hadapannya. Jancent?
Apa matanya tidak salah lihat?
"Kenapa kau tidak menelponku kalau keberangkatan kita sebentar lagi! Aku jadi naik taxi dari villa kesini. Dan juga, kenapa kau tidak bilang kalau mau berangkat. Aku sampai mencarimu kemana-mana! "
Tanpa Jancent tahu, tangan Liyun meremas ujung pakaiannya. Jelas-jelas ia sudah menelpon Jancent yang justru diangkat seorang wanita.
"Aku pikir kau sibuk. "
Jancent mengernyitkan dahi, "kenapa dia jadi dingin begini? Bukannya seharusnya aku yang marah karena dia seharian bersama ryu, lalu pulang sendiri tanpa diriku! " batinnya.
Ding… dong… ding…
Perhatian, perhatian… panggilan terakhir bagi para penumpang pesawat udara AirAsia, dengan nomor penerbangan QZ-7521 tujuan Jakarta dipersilahkan segera naik ke pesawat udara melalui pintu nomor satu C. Terimakasih.
attention please. The last call of the AirAsia flight passengers with flight number QZ-seven, five, two, one to Jakarta are welcome to board the aircraft immediately through door number one C. Thank you.
Liyun beranjak dari kursinya setelah mencocokkan nomor penerbangan dengan bel pengumuman. Pergi lebih dulu dari Jancent yang masih termangu.
#♥#
Seharian Liyun menghindari Jancent setelah sampai di kediaman mertuanya. Berusaha menjauh saat berpapasan atau Liyun akan pergi ketika Jancent berada di ruangan yang sama dengannya.
"Pulang bulan madu seharusnya makin lengket. Ini malah jadi kucing dan anjing. "
Ucap Yancent, sengaja mengeraskan volume suaranya. Bermaksud menyindir Jancent yang sibuk main billiard di ruang santai keluarga.
Tak… tak… tak…
Jancent terpancing emosi mendengarnya. Dengan beringas memasukkan bola itu secepat kilat tanpa cacat.
Bukannya mundur, Yancent malah mendekati badak penuh amarah. Bibir Jancent sudah maju lima centimeter, merajuk, malas diingatkan soal bulan madu. Mengingat Liyun selalu bersama Ryu.
Sama saja bukan ia yang bulan madu, tapi Ryu dan Liyun. Begitu pikir Jancent.
Namun Jancent tidak pernah mengeja kesalahannya. Ia hanya melihat sudut pandang dirinya sendiri yang dirugikan, tanpa mengakui kalau dirinyalah yang selalu meninggalkan Liyun demi Wina.
"Tidak peduli siapapun yang memulai kesalahan, tunjuklah diri sendiri untuk memulai perdamaian. Ayah selalu mengajarkan itukan… pergi bersama liyun besok… "
Jancent tertegun, menarik kembali cue (stick billiard) dari meja billiard saat Yancent menaruh dua lembar kertas disana.
"Wahana ice skating, tiket untuk dua orang. Berbaikan dan pergi besok dengannya. "
"Tidak perlu sampai segitunya. Aku mau ke arena balap besok. "
Yancent menatap tajam Jancent, "itu hadiah cuma-cuma dari klien ayah. Sayang kalau dianggurkan. Tidak mungkin ayah membawa ibumu yang sakit kesana. Pokoknya kau harus pergi besok!... Awas saja kau pergi balapan atau ayah melihatmu bersantai dirumah! " Yancent pergi.
Jancent diam, menatap bergantian punggung ayahnya yang menjauh dan tiket di atas meja billiard yang ditinggalkan.
__ADS_1
***
Krek…
Tangan Jancent mendorong perlahan pintu kamarnya. Mengatur suasana hati sebelum masuk. Benar dugaannya, Liyun ada dikamar.
Sejenak Jancent menatap tiket di tangannya dan beralih menoleh Liyun yang berbaring diranjang memunggungi.
"Sampai kapan diam begini terus?... Aku tahu kau tidak tidur. "
Hening. Liyun tidak menoleh atapun menjawab ucapan suaminya. Ia fokus menatap jendela diseberang. Jancent berjalan ke sisi ranjang dimana Liyun menghadap jendela.
Liyun berencana merubah posisi menghindari Jancent, namun tangan Jancent sigap menarik bahunya. Alhasil mereka saling bertatapan setelah dua puluh empat jam lebih tidak saling berbicara.
"Jangan menghindar. Aku tidak menyukai sikap seperti itu saat aku sedang berbicara. "
Liyun memalingkan pandangannya tanpa berniat mengatakan apapun. Membuat Jancent mengacak rambutnya frustasi.
"Agh! Salah lagi... Aku tidak tahu kenapa kau mendiami ku dari kemarin. Setidaknya katakan alasannya? "
Liyun tetap bereaksi sama. Jancent semakin gila menghadapi perempuan merajuk dihadapannya.
"Ais, baiklah, aku salah. Aku minta maaf. " Jancent merentangkan kedua tangan.
Liyun paham maksud suaminya. Ia ingat kesepakatan mereka tempo hari. Jika salah satu diantara mereka kesal atau marah, maka mari saling memaafkan dengan berpelukan. Namun hatinya terlanjur terluka.
Haruskah dirinya memberi kesempatan pada Jancent?
Haruskah mereka berbaikan?
"Aku ingin kau jawab dengan jujur siapa wanita itu? "
Deg,
Jancent tertegun. Menurunkan kedua tangannya. Paham betul wanita yang dimaksud, tapi tidak mungkin dirinya menjawab kalau Wina mantan yang masih ia cintai.
"Dia temanku. Namanya wina. "
Grep,
Tiba-tiba Jancent memeluk istrinya yang masih diam. Meyakinkan lebih dalam lagi perasaan Liyun bahwa hubungannya dengan Wina hanya sebatas teman.
"Sudah jangan ngambek. Aku kerepotan… karena bulan madu kita kacau kemarin, sebagai gantinya aku mempunyai tiket berbaikan. " Jancent segera melepas pelukannya. Memperlihatkan tiket di genggamannya sejak tadi.
"Ice skating ticket. "
Jancent berdehem, "aku janji, kita habiskan waktu berdua besok. Hanya berdua! … Jancent and Liyun day. Tidak ada yang bisa mengganggu kita, termasuk ryu. "
Liyun tersenyum melihat tingkah Jancent mirip seperti tingkah anak kecil membuat janji. Imut sekali.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...