Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Peringatan Adnan


__ADS_3

"Aku hanya ingin mengatakan agar kamu tidak macam-macam dengan adikku. Aku ingin mengingatkan agar kamu tak pernah menyakitinya baik secara fisik ataupun mental ! Jika kamu berani melakukan hal itu maka kamu tahu apa yang akan aku lakukan terhadapmu" ucap Adnan dengan tegas.


"Aku tahu jika perasaanmu sudah berubah terhadap Alda, tapi perlu kamu ingat jika tidak menutup kemungkinan perasaan itu bisa kembali jika kamu mau merubah pikiran buruk mu terhadap adikku ! Coba cintai Alda kembali dan jika kamu tetap tidak bisa mencintainya maka kembalikan kepadaku dengan baik !" Lanjutnya.


"Hanya itu ?" tanya Araga singkat.


Araga yang saat ini kacau begitu malas berurusan dengan Adnan. Kedatangan sang kakak ipar membuatnya semakin frustasi.


"Hm, ingat baik-baik perkataanku tadi ! Jika aku mendengar kamu menyakiti adikku maka aku akan membawanya pergi dari hidupmu"


Adnan berdiri dari tempat duduknya dan merapikan jasnya lalu meninggalkan ruangan Araga. Pria itu keluar dengan senyum licik.


Sementara Araga yang ditinggalkan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia belum mengetahui dimana keberadaan Febby sekarang Adnan datang menambah beban pikirannya.


"Sial" umpatnya kesal menarik rambutnya dengan kasar.


Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi lalu memijit keningnya karena merasa pusing. Tak berselang lama pintu ruangannya diketuk.


"Masuk !" perintahnya dan segera memperbaiki posisinya.


Arman membuka pintu dan masuk dengan santai. Tanpa menunggu dipersilahkan duduk pria itu berinisiatif sendiri.


"Ada apa pria itu kemari ?" tanya Arman penasaran.

__ADS_1


Pria itu tak berniat menjawab pertanyaan Arman sama sekali. Araga masih sibuk dengan pikirannya yang bercabang.


"Apa yang dibicarakan pria itu ? Tampaknya kamu sedang tidak baik-baik saja" lanjut Arman yang kini menatap Araga dengan serius.


Araga menatap Arman dengan intens lalu pria itu memutar kursinya menghadap jendela. Ia melihat langit yang tampak mendung dan sepertinya awan hitam itu akan menumpahkan air hujan. Seakan alam sedang tahu jika dirinya sedang bersedih ditinggalkan oleh Febby namun anehnya meskipun Ia merasa sedih karena kehilangan Febby akan tetapi air matanya tidak keluar sama sekali.


"Man, bantu aku mencari Febby" ucapnya dengan suara lesu.


Arman yang posisinya berada di belakang Araga mencoba mengerjakan matanya. Ia menerka-nerka apakah telinganya tidak salah dengar ?


"Coba ulangi sekali lagi !" pintanya.


Araga memutar kursinya dan menatap Arman yang tampak kebingungan.


"Padahal jam makan siang tadi kami masih makan bersama dan dia tampak baik-baik saja tapi setelah aku kembali ke rumah Febby sudah tidak ada dan hanya meninggalkan sebuah surat. Aku sudah mencarinya ke kontrakan yang Ia tempati dulu tapi Febby tidak ada, di apartemen juga Ia tidak ada" jelas Araga yang tampak frustasi.


"Kamu sudah mencoba menghubunginya ?" tanya Arman.


"Dia tidak bawa handphone, Febby bahkan tidak membawa barang apapun selain KTPnya" jawab Araga.


Mendengar hal itu membuat Arman juga bingung. Mereka akan kesulitan mencari Febby jika wanita itu tidak membawa handphone.


"Coba kamu cari di tempat yang memungkinkan Febby mengunjunginya ! Bisa saja Ia hany pergi menenangkan hatinya, biasa wanita akan pergi ke tempat favoritnya atau tempat yang membuatnya tenang dan merasa nyaman" ucap Arman.

__ADS_1


"Aku tidak tahu tentang hal itu" ucap Araga.


Ya selama ini Araga tidak tahu banyak tentang Febby padahal mereka sudah bersama begitu lama.


Seketika Araga tersadar jika selama ini Ia tidak pernah mencoba mencari tahu tentang apa yang disukai wanita itu, Ia tidak pernah mencoba bertanya tentang apa yang tidak disukai Febby. Selama ini Araga hanya menjalankan hubungan yang monoton dengan Febby.


Ada rasa bersalah di hati pria itu karena tidak pernah mencoba mengerti tentang Febby, justru wanita itulah yang mengerti tentang dirinya.


"Lalu bagaimana cara kamu mencarinya ? Akan sulit mencari Febby karena kita tidak bisa melacak keberadaannya" ucap Arman.


Araga berdecak kesal karena merasa dirinya menemui jalan buntu. Pria itu benar-benar tidak bisa berpikir keras lagi.


...****************...


Sementara Febby tampak tertidur di atas ranjang king size dengan tubuh yang meringkuk. Mungkin wanita itu menangis hingga Kelelahan.


Tiba-tiba seorang pria masuk ke kamar itu dan berjalan mendekati Febby. Pria itu melihat ke arah meja kecil di samping ranjang.


"Apa dia tidak makan agar segera mati ?" Tanyanya tersenyum sinis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sa kasih satu bab lagi nih😁

__ADS_1


__ADS_2