Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Sidang Pertama


__ADS_3

Seminggu berlalu, Alda menjalani hidupnya sedikit sulit. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang sekitar yang masih begitu asing bagi Alda. Meski begitu Alda merasa pengasingannya di negri orang tidak terlalu kesepian karena Brian selalu menghubunginya. Seperti hari ini, Alda yang baru saja duduk di kursi taman kota tiba-tiba mendapat panggilan masuk dari pria itu. Ya hanya Brian yang menghubunginya, karena hanya Brian yang tahu nomor ponsel Alda.


"Masih pagi udah nelpon aja sih" gerutu Alda. Niat hati ingin menikmati udara segar di pagi hari tanpa gangguan, malah dapat panggilan masuk dari Brian.


"Halo, ada apa nelpon pagi-pagi ?" ucap Alda setelah panggilan terhubung.


"Karena aku merindukan omelan darimu" jawab Brian terkekeh, ia yakin jika Alda pasti sangat kesal.


"Ck, begitu tidak pentingnya alasanmu" ketus Alda yang semakin membuat Brian terkekeh.


Seperti inilah cara Brian menghibur Alda agar merasa tidak sendirian. Alda merasa sangat bersyukur mengenal Brian walau terkadang membuat dirinya kesal.


"Aku baru saja ke rumah orang tuamu" ucap Brian yang kini berbicara serius.


Mendengar hal itu membuat Alda terdiam. Ia merasa bersalah pergi tanpa pamit pada orangtuanya. Alda sudah tahu jika kedua orangtuanya telah mengetahui apa yang dirinya alami hingga mengharuskan dia pergi menjauh. Kedua orang tua Alda juga setuju Alda dan Araga bercerai. Brian juga menceritakan jika Araga menolak untuk menceraikan Alda, pria itu bersikeras mempertahankan rumah tangganya dengan Alda. Namun kekecewaan dan rasa sakit wanita itu perlahan membunuh perasaannya pada Araga.


"Lalu apa yang kamu lakukan disana ?" tanya Alda setelah beberapa detik terdiam.


"Mereka akan membantuku mencari pengacara untuk kasus perceraianmu dengan pria itu" jawab Brian.


"Bagaimana jika pria itu masih keras kepala tidak ingin melepaskan aku ?" tanya Alda sedikit khawatir.


"Kamu tenang saja ! Kami akan memperjuangkan keadilan untukmu, kamu berhak melepas diri dari jerat suamimu yang bajingan itu" balas Brian. Ia akan melakukan semua cara Agar Alda bisa lepas dari pernikahannya yang seperti neraka itu.


"Hm, aku percayakan semuanya padamu" jawab Alda. Ia yakin jika Brian bisa mengatasi semua masalahnya disana.


"Terima kasih atas bantuanmu, aku tidak tahu lagi harus bagaimana aku membalas semua jasa-jasamu" lanjut Alda yang merasa berhutang budi dengan Brian.


"Tak perlu membalasnya, aku melakukan ini tulus agar kamu tidak hidup menderita lagi" ucap Brian.

__ADS_1


"Apa kamu sudah sarapan ?" Lanjut Brian bertanya.


"Belum, sebentar lagi aku akan mencari tempat untuk sarapan pagi" jawab Alda.


"Duduk di taman kota lagi ya ?" tebak Brian. Pria itu tahu jika Alda sering duduk di taman kota karena merasa sepi jika hanya berada di dalam kamar hotel.


"Ya, memang dimana lagi ? Apa aku harus terus-menerus mengurung diri di kamar hotel ? Aku sangat bosan tinggal disana, aku ingin mencari rumah sewa atau apartemen Agara aku bebas mengatur tempat tinggal ku sendiri"


Alda sebenarnya ingin mencari tempat tinggal yang lebih nyaman, tapi Brian melarangnya sebelum pria itu datang.


"Setelah sidang pertama perceraianmu dengan pria itu, aku akan menyusulmu. Adnan akan mengurus sisanya" jawab Brian.


"Memang jadwal sidang perceraiannya kapan ?" tanya Alda.


"Paling lambat tiga Minggu lagi" jawab Brian.


Ya, setelah pengajuan berkas perceraian Alda dan Araga diterima oleh pengadilan maka sidang pertama akan segera terlaksanakan. Setelah itu Brian akan menyusul Alda, dan sisanya Adnan yang akan berjuang bersama kedua orang tuanya.


Kedua insan itu saling berbagi cerita tentang keseharian mereka. Sesekali Alda dibuat kesal oleh Brian sementara pria itu tertawa tanpa rasa bersalah sama sekali.


...****************...


Sementara Araga tampak kacau. Sudah seminggu ini ia tidak bisa bertemu dengan mertuanya, bahkan kedua orang tua Araga enggan untuk menemuinya. Perusahaan yang dikelolanya kini diambil alih lagi oleh Papi Argantara. Araga benar-benar dibuat tersiksa dengan penyesalannya.


Araga benar-benar melalui semuanya sendiri. Arman, sahabat sekaligus asistennya tidak bisa membantunya lagi karena Papi Argantara mengancamnya, jika ia berada di pihak Araga yang jelas-jelas bersalah, maka pria itu akan menerima akibatnya. Sementara Brian ? Tentu saja berada di pihak Alda. Hubungan persahabatannya dengan Brian sudah renggang.


Araga juga sudah menceraikan Febby, dirinya lebih memilih memperjuangkan rumah tangganya dengan Alda yang sudah berada di ujung tanduk. Araga yakin pasti masih ada celah yang akan diberikan Alda untuknya.


"Aku menyesal Alda, bisakah kamu kembali padaku ?"

__ADS_1


Araga menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di kamar Alda. Sudah sepekan Araga tidur di kamar milik Alda. Araga juga sering duduk di balkon dengan menghisap sebuah rokok seperti hal yang pernah dilakukan Alda. Bayangan ketika Alda duduk di balkon termenung dengan tatapan kosong kini mulai bermunculan di pikiran Araga. Bahkan ia teringat betapa pilunya wanita itu menangis tanpa suara dan hanya mampu memukul dadanya yang terasa sesak, karena sakit hatinya atas perlakuan Araga.


"Maafkan aku, maafkan aku !!!" Ucap pria itu dengan bibir yang bergetar.


...****************...


Hari terus berjalan, tanpa terasa hari ini adalah hari dimana sidang perceraian Araga dan Alda dilaksanakan. Alda diwakili oleh kuasa hukumnya untuk menghadiri sidang pertama perceraian.


Sementara Araga sendiri duduk dengan tidak berdaya, ia menghadiri sidang perceraiannya karena ia pikir Alda juga hadir. Tapi ternyata wanita itu tidak muncul, Araga kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Alda.


Setelah proses mediasi atau perdamaian, putusan hakim menunda perceraian hingga dua depan. Ketidak hadiran Alda dalam sidang pertama perceraian ini membuat hakim mengulur waktu perceraian.


Araga sedikit bernafas lega karena masih memiliki waktu dua bulan untuk memperjuangkan Alda. Namun tidak bagi Brian, pria itu tidak bisa tenang karena putusan pengadilan diperpanjang. Begitu juga dengan keluarga Alda yang hadir di persidangan, mereka tidak puas dengan hasil putusan pengadilan.


"Jangan senang dulu karena belum ada putusan dari pengadilan ! Aku akan mengusahakan adikku bisa terlepas dari jeratanmu" ucap Adnan ketika berpapasan dengan Araga.


Araga mengepalkan tangannya dengan kuat lalu berkata, "aku pastikan hal itu tidak akan terjadi, aku akan berjuang meyakinkan Alda agar bisa memberikan kesempatan untukku lagi"


Brian tersenyum sinis mendengar tingkat percaya diri mantan sahabatnya itu.


"Aku tunggu hasil dari perjuanganmu !" ucap Brian lalu meninggalkan Araga dan Adnan.


"Jangan terlalu berekspektasi tinggi !" Sambung Adnan dengan senyum mengejek.


Sepeninggalan Adnan dan Brian, Araga mengacak rambutnya frustasi. Hatinya menjerit menyesali perbuatannya selama ini.


Ia harus menemui keberadaan Alda dan meminta maaf pada istrinya itu. Araga tidak ingin menyerah begitu saja, ia masih memiliki waktu sebulan untuk memperjuangkan Alda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


jadi gimana ? harus pisah dan cari pasangan masing-masing atau balikan tapi kasi hukuman dulu buat Araga ? 😁


__ADS_2