Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Aunty Vanya


__ADS_3

Alda berjalan dengan lemas setelah mengetahui dirinya tengah mengandung anak dari Araga, pria yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya. Rasanya Alda ingin menolak bayi yang ada dalam perutnya ini namun saat Dokter Obgyn menjelaskan perkembangan bayinya yang sangat bagus membuat Alda tidak tega menghilangkan bayinya. Mau bagaimanapun bayi yang ada dalam perutnya tidak bersalah, dan bayi ini bukanlah hasil dari hubungan terlarang.


Alda mencoba menahan sesak di dadanya, ia tiba-tiba merasa ragu untuk berpisah dengan Araga. Ia memikirkan bagaimana nanti jika anaknya lahir tanpa seorang Ayah, ia tidak mungkin bisa membesarkan anaknya sendirian, ia tentu membutuhkan sosok suami yang siaga mendampinginya.


"Apa yang harus aku lakukan ?" tanyanya pada diri sendiri.


Rumah tangganya dengan Araga sudah berada di ujung tanduk, tapi mengapa harus ada benih pria itu yang tumbuh dalam rahimnya. Dirinya benar-benar berada di persimpangan dilema.


Alda singgah di sebuah cafe untuk menghilangkan stresnya, ia teringat kata dokter yang mengatakan jika wanita hamil tidak boleh banyak pikiran dan kelelahan. Alda masih bisa berpikir waras agar tidak menyakiti bayi yang ada dalam perutnya.


Sedang asik melamun tiba-tiba handphone miliknya berbunyi. Ia tahu jika orang yang menghubunginya adalah Brian, ya siapa lagi kalau buka pria itu ? Hanya pria itu yang tahu nomor Alda.


"Halo, kamu sedang apa ?" tanya Brian di seberang sana.


"Halo, aku sedang berada di cafe, biasalah cari makan siang" jawab Alda, "disana bukannya masih subuh ya ? Kok udah nelpon sepagi ini ?" lanjut Alda bertanya, tidak biasanya Brian menelpon di jam seperti ini.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya tidak bisa tidur karena masih berada di rumah sakit" jawab Brian.


"Perbanyak istirahat ! Jangan terlalu kecapean ! Kan kasihan mama kamu nggak ada yang jagain kalau kamu ikutan sakit, masa harus papa kamu yang jagain kalian" ucap Alda menasehati Brian.


"Baik ibu boss, kamu sendiri jangan lupa jaga kesehatan !"


Alda dan Brian berbicara cukup lama, mereka membahas banyak hal, mulai dari kabar orang tua Alda, sidang perceraiannya yang akan dilaksanakan dua Minggu lagi, dan juga tentang pernikahan sang kakak dengan mantan rivalnya. Alda masih tidak bisa menerima keputusan kakaknya untuk menikahi Febby, walaupun wanita itu tidak pernah jahat padanya namun Alda masih tidak rela jika harus melepaskan kakaknya jatuh ke pelukan wanita yang pernah menjadi teman berbagi suaminya. Tapi Alda tidak punya hak untuk menghalau pernikahan sang kakak.


Alda terus bercengkrama dengan Brian hingga tidak sadar seseorang menatapnya. Orang itu tidak lain adalah Anderson, pria itu merasa muak bertemu dengan Alda karena putranya begitu menyukai wanita itu. Entah apa yang telah Alda lakukan sehingga dengan mudahnya menarik perhatian Cleo.


Anderson hendak keluar cafe namun tiba-tiba Cleo yang berada di dalam mobil segera turun dan berlari masuk ke dalam cafe. Anderson hanya bisa berdecak kesal dan mengumpat.

__ADS_1


'Dari sekian banyaknya tempat, mengapa harus di cafe ini sih ? Apa dia seorang penguntit ?' batin Anderson kesal.


"Aunty" teriak Cleo berlari ke arah Alda.


Alda yang sedang berbicara dengan Brian segera mematikan telponnya. Wanita itu terkejut saat melihat Cleo berlari ke arahnya.


'Kenapa harus bertemu lagi ?' batin Alda. Wanita itu bukannya tidak menyukai Cleo, tapi ia begitu malas bertemu Anderson yang selalu berpikiran negatif tentang dirinya.


"Aunty kita bertemu lagi" lanjut pria mungil itu segera duduk di hadapan Alda.


Cleo tampak senang bertemu dengan Alda, sementara Alda hanya bisa membalas senyum kaku kepada Cleo. Alda mulai melirik-lirik mencari dimana keberadaan Daddy Cleo, dan tenyata pria itu berdiri di dekat pintu masuk sambil memijit kepalanya.


"Aunty, Cleo senang bisa bertemu dengan Aunty, apa Aunty juga merasa senang ?" pria mungil itu terus mengoceh mengajak Alda berbicara.


Alda menatap Cleo dan mengangguk, memang dirinya cukup terhibur jika bertemu dengan Cleo tapi tidak dengan Daddy-nya.


"Iya ya, Aunty belum perkenalkan nama Aunty ? Kalau begitu kenalkan, namaku Aunty Vanya" Alda mengulurkan tangannya seraya memperkenalkan namanya, wanita itu sengaja menggunakan nama Vanya berharap nasibnya di masa depan tidak seperti Alda yang dulu.


"Nama yang cantik" puji Cleo membuat Alda terkekeh.


Keduanya kembali melempar candaan dan mengabaikannya keberadaan Anderson yang kini duduk di meja samping meja mereka. Anderson membiarkan putranya berbincang-bincang dengan wanita yang ia tahu namanya adalah Vanya, ya dia tidak sengaja mendengarnya tadi.


Anderson memperhatikan putranya yang tertawa lepas, sudah lama Cleo tidak tertawa lebar seperti itu. Dulu sebelum Cleo mengerti peran penting seorang Mommy, Cleo selalu mudah tertawa bahagia, namun setelah pria kecil itu tahu jika seorang Mommy begitu penting dalam kehidupan membuat Cleo selalu menginginkan kasih sayang dari seorang Mommy. Putranya itu selalu bercerita jika dirinya ingin seperti teman-temannya yang memiliki keluarga lengkap, ia merasa iri melihat temannya mempunyai seorang Mommy.


"Ini apa Aunty ?" tanya Cleo menatap buku yang bergambarkan seorang ibu hamil.


"Ah, ini buku kesehatan milik Aunty" jawab Alda.

__ADS_1


"Aunty hamil ya ? Tapi kenapa perutnya tidak besar seperti yang ada di gambar ini ? Kata teman Cleo jika seorang ibu hamil maka perutnya akan besar karena di dalamnya ada Dede bayinya" ucap Cleo dengan polosnya.


Alda menganga mendengar ucapan Cleo. Sepertinya anak itu terlalu cerdas sehingga bisa menyimpulkan Alda sedang hamil.


"Hmm... Karena Dede bayinya masih kecil" jawab Alda sambil menunjukkan jarinya berbentuk seperti ini 🤏.


"Oh ya ? Sekecil apa Dede bayinya ?" tanya Cleo penasaran.


Alda bingung menjelaskan seperti apa ukuran janinnya. Ia pun tidak tahu bagaimana ukuran calon bayinya itu.


Anderson yang tadinya diam menyimak pembicaraan Alda dan Cleo segera berdiri.


"Cleo kita pulang sekarang ya !"


"Aunty masih mau disini ?" tanya Cleo yang masih enggan meninggalkan tempat duduknya.


"Aunty masih ada urusan" jawab Alda.


"Tidak apa-apa kan Cleo pulang duluan ?"


"Ya tidak masalah"


Alda tersenyum manis pada Cleo, sebenarnya ia merasa senang ditemani berbicara oleh Cleo tapi ia juga merasa risih dengan kehadiran Daddy-nya.


"Baiklah, sampai ketemu lagi Aunty Vanya" ucap Cleo melambai-lambaikan tangannya ke arah Alda.


Setelah kepergian Cleo, Alda kembali merasa sunyi. Padahal cafenya begitu ramai namun tidak bisa menghilangkan kesunyian di hati Alda. Alda hanya bisa menatap buku kehamilannya dengan tatapan sendu. Ia benar-benar bingung memilih jalan yang mana untuk melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2