
Dua Minggu berlalu, Alda melewatinya dengan kesulitan. Wanita itu akan merasa mual yang sangat parah di pagi dan malam hari. Wanita itu masih berada di hotel karena belum sanggup untuk mencari tempat tinggal sendirian.
Sementara di tempat lain Araga baru saja keluar dari ruang persidangan dengan wajah penuh penyesalan. Dua bulan waktu yang diberikan Hakin untuk memperbanyak rumah tangganya namun ia tidak bisa menemui Alda. Wanita itu hilang bagaikan ditelan bumi.
"Selamat menyandang status baru" sindir Adnan yang memeluk pinggang Febby dengan posesif.
Araga tidak menggubris ucapan mantan kakak iparnya itu, ia lebih memilih untuk segera berlalu dan mengurung diri di rumahnya.
Sesampainya di rumah Araga segera masuk kamar yang ditempati Alda, pria itu kembali menangisi kebodohannya yang menyia-nyiakan Alda.
"Apa kita masih memiliki kesempatan untuk memulainya bersama ?" tanya Araga pada foto Alda.
"Aku akan menunggumu hingga kembali dan aku akan memperjuangkan cinta kita kembali. Aku harap ini bukanlah akhir untuk kita melainkan awal untuk memulai kehidupan bersama" lanjutnya.
Tak lama kemudian pintu itu terbuka memperlihatkan sang Mami dan Papi. Ini pertama kalinya kedua orang tua Araga muncul setelah pertemuannya dua bulan yang lalu.
"Untuk apa kalian kemari ?" tanya Araga ketus.
"Kami kemari ingin memastikan apakah anak kurang ajar seperti dirimu masih bisa bertahan hidup dengan penyesalannya ?" jawab Papi Argantara tanpa rasa bersalah sama sekali.
Pria paru baya itu masih menyimpan amarahnya dengan Araga, dirinya tidak hanya kehilangan menantunya saja , namun ia juga kehilangan besan sekaligus sahabatnya. Papi Argantara begitu malu menunjukkan wajahnya di hadapan orang tua Alda.
"Pi, jangan bicara seperti itu ! Kasihan Araga, mau bagaimanapun kesalahannya dia tetap putra kita" tegur Mami Evelin.
Jujur saja, selama ini Mami Evelin begitu merindukan dan mengkhawatirkan keadaan putranya. Ia merasa kasihan dengan Araga yang sekarang, Araga yang hidup namun seperti mati.
"Sayang, apa kamu sudah makan ?" Mami Evelin berjalan menghampiri putranya.
__ADS_1
Araga tersenyum sinis mendengar pertanyaan sang Mami, "untuk apa peduli dengan diriku ?" ucapnya dengan nada ketus.
Mami Evelin menahan sesak di dadanya, ia tahu jika putranya pasti merasa terluka akibat dari perceraiannya dengan Alda. Namun ia tidak bisa membela putranya, bagaimanapun Alda yang lebih terluka atas pernikahan yang mereka jalani.
"Mami minta maaf kerena tidak bisa membantumu" ucap Mami Evelin di sela isakannya.
"Kalian bukannya tidak bisa membantu Araga tapi memang tidak ingin" balas Araga.
"Andai saja kalian membantuku, mungkin saja percerainku dengan Alda tidak terjadi" lanjutnya menyalahkan kedua orang tuanya.
"Jaga ucapanmu Araga ! Perceraian ini terjadi kerena keinginanmu, ini semua karena ulahmu yang tega melukai hati dan fisik istrimu sendiri. Jangan mengalahkan kami hanya karena tidak bisa membantumu ! Asal kamu tahu, Mami dan Papi merasa malu bertemu dengan Atmajaya karena ulahmu, hubungan kami renggang karena tingkah lakumu" ucap Papi Argantara dengan tegas.
"Tapi seandainya Papi membantu Araga mempertahankan rumah tanggaku bersama Alda, mungkin Araga masih memiliki kesempatan untuk hidup bersamanya" ucap Araga masih menyalahkan Papi Argantara.
Papi Argantara merasa menyesal mengunjungi putranya, niat hati ingin memberikan semangat untuk Araga malah mendapatkan perlakuan seperti ini dari putranya.
"Sebaiknya kita pergi saja Mi" ucap Papi Argantara menarik lengan istrinya.
"Biarkan anak tidak tahu diri itu menderita dengan penyesalannya, jika dirinya memang mencintai Alda, ia akan kembali bangkit dan memperjuangkan cintanya, bukan malah mengurung diri seperti ini dan menjadi lelaki pengecut"
Araga mengabaikan ucapan Papi Argantara dan kembali termenung menatap foto Alda.
...****************...
Alda masih berada di kamar hotel, wanita itu enggan keluar jalan-jalan kerena merasa malas. Apalagi setelah mendapat kabar jika dirinya sudah resmi menyandang status Janda. Rasanya ada kelegaan dihatinya namun ia juga merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
"Semuanya benar-benar telah selesai" ucap Alda dengan suara lirih.
__ADS_1
"Aku akan memulai hidupku kembali bersama calon anak kita. Semoga aku bisa membesarkannya dan membuatnya bahagia walau harus tanpa kasih sayang darimu" lanjut Alda yang kini tidak bisa menahan Isak tangisannya.
Ini terakhir kalinya ia mengeluarkan air mata untuk cinta pertamanya yang telah memberinya banyak luka. Ia benar-benar akan memulai hidupnya seperti saat terlahir kembali.
Puas menangis Alda bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, ia akan berendam dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu Alda akan mencari makan malam seperti biasanya.
...****************...
Hari semakin berlalu, tak terasa kehamilan Alda sudah memasuki lima bulan. Wanita itu kini sudah tidak tinggal di hotel lagi, ia sudah menemukan apartemen untuknya tinggal bersama calon buah hatinya.
Brian yang dulunya ingin menyusulnya masih belum bisa bergerak, entah apa yang membuat pria itu tertahan padahal mamanya sudah sembuh. Brian pun enggan menceritakan apa alasannya sehingga sampai detik ini belum menyusulnya bahkan belum menjenguknya sama sekali. Alda pun tidak ingin memaksa Brian, pria itu sudah cukup membantunya terlepas dari Araga.
Untuk biaya hidup Alda ditanggung oleh sang kakak, meskipun tidak diberikan secara langsung oleh Adnan. Namun Alda tahu jika Adnan setiap bulannya mengirim uang belanja untuknya melalui perantara Brian, pria itu enggan menghubungi adiknya karena merasa takut jika Alda belum siap berbicara dengannya. Alda sendiri sudah menerima kenyataan jika kakaknya menikahi Febby, ia tidak boleh egois untuk menghambat kebahagiaan sang kakak.
Tak ada yang mengetahui kehamilan Alda bahkan Brian sekalipun. Ia belum siap jujur pada Brian dan keluarganya tentang anak yang ia kandung saat ini. Alda takut jika berita kehamilannya sampai di telinga Araga, ia tidak ingin hidupnya diganggu oleh pria itu lagi. Alda benar-benar telah mengubur perasannya kepada pria itu.
Saat ini Alda berada di cafe langganannya, ia duduk sendiri menatap rintik hujan yang membasahi bumi. Bau aspal yang terkena air hujan begitu menenangkan jiwanya. Alda menikmati bunyi setiap tetesan hujan yang jatuh. Bagaikan mendengar musik relaksasi, Alda semakin merasa tenang dan damai.
Dari jauh seorang pria menatap wanita itu, lebih tepatnya menatap perut buncitnya. Pria itu melangkah mendekati Alda dengan senyuman lebar. Pria itu tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan Alda di tempat ini.
"Alda Vanya Atmajaya..." sapa pria itu.
Alda mendongak dan menatap pemilik suara itu. Alda membulatkan matanya dengan lebar saat melihat siapa pria itu. Sementara pria itu melempar senyuman manisnya kepada Alda.
"Boleh aku duduk ?" tanyanya.
Alda hanya bisa mengangguk pelan, lalu dengan cepat pria itu menarik kursi dan duduk di hadapan Alda.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
ayo tebak siapa yang menghampiri Alda !😁