
"Aunty Vanya" Cleo segera turun dari kursinya dan memeluk tubuh Alda yang masih berdiri kaku.
Alex dan kedua orang tuanya terkejut melihat Cleo memeluk wanita hamil itu, sementara Anderson hanya menatap datar.
"Kalian saling kenal ?" tanya Alex menatap Alda dan Cleo bergantian.
"Uncle kenal Aunty Vanya ?" bukannya menjawab Cleo justru balik bertanya, sementara Alda hanya bisa terdiam.
"Siapa dia ?" tanya Lui dengan suara dingin membuat Alda semakin merasa tidak nyaman.
"Dia pasien Alex", "Dia teman Cleo" jawab Alex dan Cleo bersamaan, kedua pria beda usia itu saling melempar tatapan seolah menatap rivalnya.
Alda memejamkan matanya merasa bingung harus seperti apa. Dirinya begitu canggung berhadapan dengan keluarga Lui. Apalagi melihat tatapan kedua orang tua Alex yang menatapnya dingin, rasanya Alda ingin menghilang di muka bumi ini sekarang juga.
"Aunty duduk yuk !" ajak Cleo memecah keheningan.
Mau tidak mau Alda duduk di kursi samping Cleo, sementara Alex hanya melongo melihat ponakannya itu curi star. Alda menunduk karena merasa malu kepada keluarga Alex.
"Itu pasien Uncle, kenapa kamu menempel dengannya ?" kesal Alex.
"Tapi Aunty Vanya teman Cleo. Kami sudah kenal lama" balas Cleo tidak mau kalah.
Alex menarik kursinya dengan kasar dan duduk di samping sang kakak. Semua gerakan Alex tidak luput dari perhatian Anderson.
Terjadi kembali keheningan beberapa saat hingga seorang waiters menghampiri meja mereka dan memberikan buku menu makanan. Mereka sibuk memilih menu makanan sementara Alda masih terlihat diam.
"Mau makan apa Van ?" tanya Alex pada Alda.
"Emm..." Alda berpikir sejenak ingin makan apa, sebenarnya rasa lapar wanita itu tiba-tiba hilang entah kemana. Rasanya ia ingin pulang saja.
"Cleo yang pilihin ya Aunty, selera Cleo nggak usah diragukan lagi !" ucap Cleo dengan percaya diri.
"Ibu hamil nggak boleh makan sembarangan, kamu mana tahu makanan seperti apa yang bagus untuk ibu hamil" ketus Alex, lagi-lagi ponakannya itu ikut nimbrung.
"Emang gitu ya Aunty ?" tanya Cleo penasaran, ia seakan tidak percaya dengan ucapan Unclenya.
Alda hanya menjawab dengan sebuah anggukan dan senyum tipis, mulutnya bagai dikunci.
"Cepatlah ! Jangan membuat pekerjaan waiters semakin berat hanya menunggu satu orang yang tidak tahu ingin makan apa"
Kali ini Anderson ikut nimbrung karena pusing melihat Alex dan Cleo seakan berebut perhatian Alda. Sementara Lui dan Belinda memilih diam dan tidak ikut campur.
__ADS_1
Akhirnya Alex yang jadi memilih makanan untuk Alda. Alda merasa benar-benar tidak nyaman berada diantara keluarga Lui, terlebih lagi karena adanya Anderson yang jelas-jelas tidak menyukai dirinya.
Setelah makanan siap mereka sibuk dengan makanan mereka tanpa suara, hanya Cleo dan Alex yang sesekali berdebat hal-hal yang nggak penting. Selesai makan makanan berat kini mereka menunggu makanan penutup.
"Sudah masuk berapa bulan ?" tanya Belinda pada Alda.
"Li-lima bulan Nyonya" jawab Alda menunduk dan terbata, rasanya jantungnya ingin copot setelah menjawab pertanyaan dari Belinda.
"Kalau jawab pertanyaan orang itu jangan nunduk, coba tatap matanya agar terlihat sopan !" tegur Anderson.
"Tidak masalah, mungkin Vanya terlalu gugup" diluar dugaan ternyata Belinda mengerti apa yang ia rasakan.
"Memang kenapa harus gugup ? Kayak mau interview saja" balas Anderson.
"Aunty gugup kerena ketemu Cleo mungkin" celetuk Cleo yang begitu polos.
Alex terkekeh dengan jawaban ponakannya, sementara yang lain berekspresi datar. Entah dimana letak lucunya, pikir ketiga orang itu.
"Sudah-sudah !" tegur Belinda pada Alex, "lalu suamimu dimana ?" lanjutnya bertanya.
Alda terdiam, ia bingung harus menjawab apa, ia meremas pakaiannya.
Keluarga Lui begitu kaku dan dingin, hanya Alex dan Cleo saja yang bisa mencairkan suasana yang terasa menegangkan ini bagi Alda.
"Jangan bertanya sesuatu yang terlalu privasi Mom !" Alex tahu Alda pasti merasa tidak nyaman dengan pertanyaan sensitif seperti itu. Apalagi Alex tahu jika Alda sudah bercerai dengan suaminya dalam keadaan hamil.
Belinda hanya diam tidak membalas perkataan putra keduanya. Ia memang merasa dirinya terlalu lancang bertanya terlalu jauh tentang wanita itu.
"Perut Aunty sudah besar, itu artinya dedek bayinya juga sudah mulai besar ya ?" tanya Cleo sambil mengusap perut buncit Alda.
"Iya" jawab Alda singkat.
"Boleh tidak Cleo memanggilnya adik jika dede bayinya sudah lahir ? Cleo sangat ingin mempunyai adik seperti teman Cleo" tanya Cleo penuh harap.
Semua orang terdiam saat mendengar keinginan pria kecil itu. Mereka sangat tahu selama ini Cleo merasa kesepian dan iri pada teman-temannya yang mempunyai adik dan keluarga yang lengkap.
"Tentu saja boleh, dedek bayi yang ada di dalam perut Aunty Vanya kan ponakan Uncle, sama seperti Cleo jadi dedek bayi itu adiknya Cleo" jawab Alex. Meski terkadang ia kesal dengan tingkah laku ponakannya itu ia tetap menyayangi Cleo.
Cleo menatap Alda seolah meminta jawaban dari wanita itu. Alda yang melihat wajah Cleo tampak sedih mau tidak mau mengangguk.
"Boleh"
__ADS_1
Cleo tersenyum senang mendengar jawaban Alda. Pria mungil itu memeluk tubuh Alda lalu mencium perut buncitnya. Alda tersentuh dengan perlakuan Cleo yang begitu manis.
"Adik, perkenalkan namaku Cleo, kamu bisa memanggilku dengan sebutan kakak" ucapnya berbicara dengan perut buncit Alda.
Diam-diam Lui dan Belinda menarik bibirnya tersenyum tipis. Sementara Anderson masih terlihat datar, namun ia menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah selesai acara makan siang yang menegangkan tadi, akhirnya Alda bisa bernafas lega saat sampai di apartemennya. Wanita itu membaringkan tubuhnya yang terasa lelah dengan mata yang terpejam. Rasanya ia baru saja naik roller coaster saat bertemu keluarga Lui yang ternyata begitu dingin dan kaku.
"Mengapa aku bisa kenal keluarga seperti itu ya ?" gumannya masih dalam keadaan mata terpejam.
"Sepertinya aku harus segera cari rumah sakit lain untuk memeriksa kandungan deh, aku nggak mau lagi berurusan dengan keluar Lui, rasanya seram sekali. Masa dalam keluarga mereka kaku semua sih ? Hanya Cleo dan Alex yang sepertinya menikmati hidupnya" ucapnya.
Alda merasa pusing memikirkan keluarga Lui. Ia tidak ingin bertemu dengan keluarga itu lagi namun ia sudah berjanji pada Cleo akan membiarkan anak itu memanggil anaknya nanti dengan sebutan adik.
"Semoga saja anak itu lupa dengan janjiku" do'anya sebelum memutuskan untuk membersihkan badannya.
...****************...
"Sepertinya wanita itu bukan hanya sekedar pasienmu, aku merasa dia pasien yang kamu specialkan" ucap Anderson dengan nada bicara datar.
"Bukan urusanmu" balas Alex melempar kulit kacang ke arah sang kakak.
Anderson menatap adiknya dengan tatapan kesal, namun Alex tidak merasa takut. Ia sudah tahu sifat kakaknya itu terlalu dingin seperti sang Daddy.
"Bagaimana Cleo bisa kenal dangan Vanya ?" kini Alex yang bertanya pada Anderson karena penasaran.
"Bukan urusanmu" Anderson membalikkan perkataan Alex dengan ketus.
"Sialan kamu..." umpat Alex.
"Iya ya, Mommy pun penasaran mengapa Cleo bisa lengket dengan orang asing seperti Alda ?" celetuk Belinda yang ikut penasaran.
Anderson mengacuhkan pertanyaan sang Mommy dan memilih untuk segera meninggalkan ruang tengah. Ia tidak tertarik membahas wanita itu lagi.
"Ck... Kenapa dia pelit sekali ?" gerutu Alex melihat kepergian sang kakak.
"Vanya itu punya suami ?" tanya Belinda pada Alex.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ternyata keluarga Lui kaku sekali ya😬 pantas saja Anderson sikapnya dingin seperti itu🤣
__ADS_1