Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Kepergok Brian


__ADS_3

Alda terdiam sejenak, rasanya ia belum siap untuk pulang karena kemungkinan besar dirinya akan bertemu dengan Araga, "Mungkin belum saat Ma" jawabnya.


Mama Larissa mengerti perasaan putrinya dan tidak ingin memaksa Alda. Bagaimanapun putrinya yang menjalani kehidupannya, ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan mengatur pilihan putrinya.


"Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Anderson ?" tanya Papa Atmajaya mengalihkan pembicaraan.


"Hubungan apa Pa ?" tanya Alda pura-pura tidak tahu.


"Sepertinya Vanya masih malu-malu" ucap Lui.


Hubungan kedua keluarga itu memang semakin erat. Bahkan mereka sangat menyetujui hubungan Alda dan Anderson, dan berharap anak mereka segera menikah.


"Jika sudah ada perasaan yang sama, kalian tunggu apalagi ?" tanya Belinda.


"Cleo dan Terra pasti sangat senang jika kalian menikah, mereka membutuhkan orang tua yang utuh" sambung Lui.


Alda masih saja terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jujur saja, ia pun memiliki pikiran yang sama dengan keempat orang tua di hadapannya itu.


Tak lama Anderson dan Adnan ikut mendekat, kedua pria itu ikut duduk dan bergabung bersama mereka.


"Sedang bahas apa ? Sepertinya sangat serius" tanya Adnan.


Anderson menatap Alda yang menunduk, ia bisa tebak jika yang mereka bahas pasti mengenai pernikahan.


"Jadi mau sampai kapan ditunda ?" sindir Lui.


"Dad, Anderson bukannya menunda, tapi Anderson tidak ingin memaksa Vanya untuk buru-buru menikah" jawab Anderson.


Mendengar ucapan Anderson, semuanya terdiam. Memang mereka tidak memiliki hak untuk terus memaksa Alda supaya segera menikah dengan Anderson. Mereka paham jika rasa trauma akibat dari kegagalan rumah tangganya yang dulu masih sering menghantuinya.


"Izinkan aku untuk berpikir matang-matang ! Aku tidak ingin salah mengambil langkah, meskipun Anderson pria yang baik tapi tetap saja rasa takut untuk memulai rumah tangga masih terus menghantuiku" jawab Alda.


"Tidak ada yang akan memaksamu, aku akan tetap menunggu sampai kamu benar-benar siap" balas Anderson.


Alda hanya mampu tersenyum hangat pada pria yang telah menemaninya setahun lebih itu. Ia benar-benar tidak menyangka Tuhan mengirimkan pria seperti Anderson dalam kehidupannya. Alda pikir, mungkin ini bayaran untuknya setelah mengalami masa sulit dengan Araga.


Mereka kembali melanjutkan percakapan mereka. Sementara Alda membawa Baby Terra ke kamar karena hendak tidur siang. Diam-diam Anderson mengikuti mereka dari belakang.


"Vanya... Setelah Baby Terra tidur, apa kamu bisa keluar sebentar ? Aku ingin mengatakan sesuatu"


Alda yang telah memegang handle pintu memutar tubuhnya dan menatap Anderson intens, "Hm, iya" jawabnya mengangguk, lalu masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Alda keluar dan menghampiri Anderson. Wanita itu memilih duduk di hadapan Anderson. Sesaat mereka saling terdiam.


"Apa aku boleh bertanya padamu ?" Anderson mulai membuka suara dengan nada yang serius.


"Boleh, katakan saja !"


"Aku ingin menanyakan perasaanmu terhadapku, apa benar kamu memang memiliki perasaan yang sama denganku ?"


Alda terdiam mendengar pertanyaan Anderson, ia menunduk malu lalu mengangguk pelan. Anderson tersenyum lalu mendekati Alda. Alda semakin merasakan debaran jantungnya yang berdebar kencang.


"Katakan iya jika kamu memang mencintaiku seperti aku mencintaimu ! Aku ingin mendengar jawaban darimu. Sekarang coba angkat wajahmu dan tatap mataku !"


Anderson merah dagu Alda dan mengangkatnya secara perlahan. Kedua mata mereka bertemu, sesaat mereka saling mengagumi satu sama lain.


"Katakan padaku ! Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri !"


"Aku juga, aku juga mencintaimu" jawab Alda spontan. Setelah sadar dengan ucapannya Alda merasa semakin malu dan hendak menundukkan kepalanya namun dengan cepat Anderson menarik dagunya kembali.


"Jangan menunduk ! Aku suka melihat wajahmu yang memerah karena tersipu malu, wajahmu terlihat menggemaskan" ucap Anderson sambil tersenyum.


Dengan penuh keberanian Anderson mengecup bibir Alda. Tentu saja wanita itu sontak membulatkan matanya dan hendak mendorong tubuh Anderson. Namun sayangnya, Pria itu lebih dulu menekan tengkuk Alda dan ******* bibirnya dengan lembut. Keduanya larut dalam cumbuan penuh cinta, hingga kedatangan Brian membuat mereka menghentikan aktivitas.


"Jika sudah tidak tahan segeralah menikah !" sindir pria itu membuat Alda menyembunyikan wajahnya di pelukan Anderson karena merasa malu. Sementara Anderson tampak datar dan tidak menanggapi sindiran Brian.


"Tak udah ditanggapi. Tapi jika kamu setuju dengan ucapannya, besok kita bisa menikah"


"Mana bisa begitu ?"


"Bisa, jika kamu menginginkannya"


Alda mencubit pinggang Anderson karena merasa kesal, namun bukannya menjerit kesakitan pria itu justru terkekeh. Anderson semakin mengeratkan pelukannya membuat Alda merasa sesak.


"Berhenti memelukku seperti ini ! Kamu bisa membunuhku karena kesulitan bernafas"


Anderson melonggarkan pelukannya lalu menatap Alda. Pria itu kembali mengecup bibir Alda, namun bukan hanya di bibir melainkan di seluruh wajahnya, mata, kening, pipi, dan juga hidung wanita itu.


"Aku ingin segera menikah denganmu ! Aku sudah tidak sabar memelukmu setiap malam seperti ini. Aku ingin terus menatap wajahmu setiap bangun tidur"


"Tapi aku masih ragu untuk melangkah"


"Apa yang kamu ragukan ? Apa kamu meragukan kesungguhan cintaku ?"

__ADS_1


"Bukan seperti itu, hanya saja masih ada luka di hatiku yang membuatku trauma"


"Maka dari itu, menikahlah denganku dan ijinkan aku menyembuhkan lukamu itu dengan cintaku ! Ijinkan aku menghilangkan rasa traumamu dengan kasih sayangku ! Aku tidak akan pernah membuatmu terluka"


"Berikan aku waktu sebentar saja !"


Anderson hanya mengangguk, ia tidak akan menyerah untuk meyakinkan Alda.


Malam harinya Alda tidak bisa tidur nyenyak karena teringat dengan kejadian tadi siang. Wajahnya kembali memerah karena merasa malu, namun senyum bahagia di bibirnya tidak pernah hilang.


Untuk pertama kalinya Alda merasakan benar-benar dicintai dengan tulus oleh seorang pria. Anderson selalu mempunyai cara untuk membuatnya tersenyum.


"Mudah-mudahan pilihanku kali ini tidak salah" harapnya.


Ia sudah menentukan pilihannya untuk menerima pinangan Anderson. Ia mencoba meyakinkan hati jika pilihannya sudah tidak salah lagi.


Sudah cukup dirinya mengenal pribadi Anderson selama setahun terakhir ini. Pria itu selalu bersikap hangat dengan dirinya dan keluarganya. Bahkan Anderson menjadi pengganti sosok Daddy yang baik untuk Terra. Jadi apalagi yang membuatnya ragu ?


...****************...


Dua Minggu kemudian, hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi Alda dan Anderson, karena hari ini mereka akan menyelenggarakan pernikahan mereka.


Kedua calon mempelai merasakan hatinya berbunga-bunga. Walaupun ini pernikahan kedua bagi mereka namun tetap saja mereka merasa gugup.


"Sayang, kamu cantik sekali" ucap Anderson yang tiba-tiba masuk dalam kamar yang ditempati Alda untuk berhias.


"Mengapa kamu kemari ?" tanya Alda.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon istriku" ucap pria itu yang tanpa rasa malu memeluk tubuh Alda dari belakang.


MUA yang bertugas merias Alda hanya bisa menahan senyum mereka. Tentu saja Alda merasa sangat malu dengan tingkah Anderson.


"Jangan seperti ini ! Kamu membuatku malu"


"Untuk apa malu ? Sebentar lagi kita akan menjadi pasangan suami istri, jadi tidak ada larangan untuk kita melakukan hal-hal romantis seperti ini"


"Iya tapikan belum sah, sekarang kamu keluar ! Aku ingin lanjut untuk bersiap-siap, sebentar lagi acaranya akan dimulai"


Mau tidak mau Anderson menurut dengan calon istrinya itu walau dengan berat hati. Namun sebagai penawarnya, Anderson mencuri kecupan bibir Alda sebelum keluar. Alda hanya bisa menghela nafas dengan tingkah Anderson.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Besok lagi ya😚 kalau Pak Suami udah sembuh besok Sa up double 🙏


__ADS_2