
Malam harinya Araga kembali ke rumah dengan pakaian yang berantakan, wajah pria itu tampak begitu lesu. Ia memasuki kamar yang ditempatinya dengan Febby dengan perasaan kehilangan.
"Dimana kamu sekarang Febby ? Aku merindukan pelukanmu" ucapnya terdengar lirih.
Pikirannya dipenuhi dengan keberadaan dan kondisi Febby hingga melupakan jika Alda sedang berada di rumah sakit sendirian.
Sementara Alda sendiri merasa bosan berada di rumah sakit. Mami Evelin pulang sore tadi kerena Papi Argantara mencarinya.
"Pasti dia sedang bermesraan dengan wanita itu padahal aku jelas istri sah tapi rasanya aku diperlakukan seperti istri siri" ucapnya tersenyum miris pada nasib rumah tangganya.
Alda merasa bodoh karena memilih mempertahankan perasaannya untuk Araga sementara pria itu sendiri sudah berpaling ke lain hati.
"Harusnya aku membiarkan saja pria lain masuk dalam hatiku tapi kerena aku terlalu bodoh, aku lebih memilih untuk menjaga hatiku untuknya yang jelas-jelas sudah tidak menginginkanku lagi" lanjut Alda yang kini mulai terisak.
Dadanya terasa sesak membayangkan Araga sedang bermesraan dengan Febby sementara dirinya ditinggalkan sendiri dan hanya berteman kesunyian malam.
Awalnya Ia berpikir akan mudah membuat Araga kembali menerima kehadirannya namun ternyata apa yang Ia bayangkan sangat jauh dari ekpektasinya.
Ada rasa menyesal karena Ia menerima pernikahan ini. Meskipun Ia mencintai Araga namun Ia juga tidak merasakan sakit hati seperti ini.
Jika dari awal Araga mengatakan jika dirinya sudah menikah dengan Febby mungkin Ia memilih mundur dan membiarkan Araga memilih kebahagiaannya walau Ia akan merasa berat melepaskan pria yang Ia cintai.
Andaikan waktu bisa Ia putar kembali, Ia ingin kembali di masa dimana Araga hendak menyatakan cintanya. Ia ingin kembali ke masa lalu agar tidak terjadi salah paham yang tidak berkesudahan seperti ini. Namun itu hanyalah sebuah perandaian yang tidak diwujudkan.
"Apa aku berjuang sekali lagi ? Jika hasilnya masih sama sebaiknya aku memilih mundur" ucapnya menimbang-nimbang langkah yang akan Ia pilih.
__ADS_1
Lama Alda berkalut dengan pikirannya yang bertentangan dengan hatinya. Entah yang mana haru Ia ikuti, perlahan wanita itu memejamkan matanya yang mulai terasa berat. Tak butuh waktu lama Alda sudah memasuki alam mimpi.
Tak jauh berbeda dengan Alda, Araga juga baru saja terlelap saat merasa kepalanya sudah mulai terasa berat. Pria itu benar-benar lupa jika Alda sedang dirawat di rumah sakit.
Keesokan harinya Araga bangun kesiangan, pria itu mengucek matanya lalu merenggangkan otot-ototnya. Setelah itu Araga bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di headboard ranjang.
Pandangannya menerawang setiap sisi kamarnya dan tiba-tiba terbayang Febby yang lalu-lalang setiap paginya menyiapkan pakaian dan keperluan kantornya.
Selama sebulan ini Araga begitu ketergantungan dengan pelayanan Febby. Rasa kehilangan semakin terasa menghimpit dadanya. Sejenak Ia berpikir apakah dirinya bisa melewati hidupnya tanpa kehadiran Febby ?
"Aku akan tetap mencari dirimu hingga ketemu dan jika aku masih belum bisa menemukanmu, aku berjanji akan menunggu kehadiranmu kembali" ucapnya dengan tegas.
Pria itu kemudian bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Ia harus masuk kantor hari ini karena ada pertemuan dengan salah satu perusahaan yang ingin berinvestasi dengan perusahaan miliknya.
Semua Araga lakukan sendiri, menyiapkan baju hingga memasang dasi. Padahal Ia sudah terlalu nyaman merasakan pelayanan Febby sebulan terakhir namun tiba-tiba wanita itu meninggalkannya.
Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam benaknya, 'Apakah wanita itu sendirian semalam ?' batinnya.
Tak mau terlalu memikirkan Alda pria itu memutuskan untuk segera ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu. Araga tidak bernafsu untuk makan karena masih kacau dengan pemikirannya.
...****************...
"Bawakan wanita itu sarapan ! Jangan keluar jika wanita itu belum menyentuh makanannya sama sekali !" Perintah Adnan kepada Ajeng.
"Baik Tuan" balas Ajeng.
__ADS_1
Ajeng segera menyiapkan sarapan untuk Febby sementara Adnan melanjutkan sarapannya tanpa suara lagi.
Setelah piring itu penuh dengan nasi dan lauk, Ajeng segera masuk ke kamar yang ditempati oleh Febby. Wanita itu tak perlu mengetuk pintu karena pintu terkunci dari luar.
"Permisi Non Febby" ucap wanita itu dengan sopan.
Febby yang masih berbaring di kasur segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia tersenyum ramah kepada Ajeng dan menatap nampang yang dibawa wanita itu.
"Non sarapan dulu ya !" Ucap Ajeng setelah berhasil meletakkan makanan itu di atas meja.
Febby melirik Pring tersebut, ada banyak macam lauk di dalam piring itu namun tidak dapat membuat Febby tergugah seleranya.
"Nanti saja Mbak" ucapnya dengan malas.
"Jangan seperti itu Non, tadi Tuan pesan kalau saya nggak boleh keluar dari kamar ini jika Non Febby tidak sarapan terlebih dahulu" ucap Ajeng dengan wajah yang memelas.
"Tapi aku tidak lapar Bi" balas Febby yang masih enggan untuk sarapan.
"Tapi saya nggak dibolehin keluar jika Non Febby tidak sarapan sementara perkejaan saya masih banyak di luar"
Ajeng tampak menunduk dan memainkan jarinya. Melihat hal itu membuat Febby mau tidak mau harus segera memakan makanan itu.
"Baiklah Mbak" ucap Febby pasrah namun bisa membuat mata Ajeng berbinar.
"Terima kasih Non" ucapnya senang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...