Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Alda Sudah Pergi Jauh


__ADS_3

Araga mengacak rambutnya ketika sampai di rumah sakit tempat Brian kerja namun yang Ia dapat malah informasi jika pria itu sedang mengambil cuti sehari.


"Kalau boleh tahu Brian mengambil cuti untuk acara apa ya ?" Tanya Araga.


"Katanya sih mau nganterin seseorang ke bandara" jawab seorang Dokter yang juga berteman dekat dengan Brian.


Araga terdiam sejenak, tidak biasanya Brian mengambil cuti hanya untuk mengantarkan seseorang ke bandara. Pria itu mulai berpikir kemungkinan-kemungkinan yang Brian lakukan.


"Nggak, itu tidak mungkin" ucapnya mencoba menghilangkan pikirannya itu.


Araga mencoba menghubungi Arman berharap pria itu sudah bertemu dengan Brian. Araga mengumpat kesal ketika Arman mengatakan Brian tidak berada di rumahnya.


...****************...


"Terima kasih karena telah membantuku, aku begitu beruntung bertemu dengan pria baik seperti dirimu" ucap Alda memberikan pelukan perpisahan kepada Brian.


"Semoga sampai tujuan dengan selamat"


Brian membalas pelukan Alda dengan cukup erat. Lagi-lagi Ia merasa berat membiarkan wanita itu pergi sendirian. Tapi mereka berdua tidak ada pilihan lain, jika terus berada disini makan cepat atau lambat Araga akan menemukannya.


Saat keduanya asik berpelukan tiba-tiba terdengar pengumuman serta panggilan untuk para penumpang pesawat yang ditumpangi Alda.


"Aku pergi sekarang, aku akan menunggu mu disana" ucap Alda setelah pelukan mereka terlepas.


"Pergilah ! Aku berjanji akan menemuinya disana" balas Brian.


Alda tersenyum mengangguk dan mulai menjauh dari Brian. Sementara Brian hanya mampu menatap punggung wanita itu yang semakin jauh dan sebentar lagi hilang dari pandangannya.


"Aku pasti merindukan kecerewetan darimu" ucapnya sebelum memutar tubuhnya.


Brian meninggalkan bandara dan menyetir mobilnya menuju apartemennya. Ia ingin beristirahat disana sambil mengingat kembali kebersamaannya dengan Alda beberapa hari terakhir ini.


Sedang asik menyetir tiba-tiba handphone Brian berdering. Satu tangan pria itu terulur untuk mengambil handphone, matanya melirik nama yang tertera di layar handphonenya. Dengan kening yang berkerut Brian menjawab panggilan masuk tersebut.


"Ada apa ?" Tanya Brian karena tidak biasanya temannya ini menelpon jika tidak ada sesuatu yang penting.


"Kamu dimana ?" Tanya seseorang di seberang sana.

__ADS_1


"Sedang di jalan, memangnya ada apa ?"


"Kebetulan sekali, bisa kita bertemu di kafe xxx ?"


Brian tampak menimbang-nimbang akan temannya itu, mungkin ada baiknya juga jika dia nongkrong dengan temannya disaat hatinya sedang galau seperti ini.


"Baiklah, tunggu aku disana !" Jawaban Brian sebelum memutuskan panggilan dan kembali fokus menyetir.


Brian yang baru tiba di cafe segera masuk ruangan khusus yang sudah dipesan oleh Arman. Pria itu baru ingin membuka suara untuk menyapa kedua temannya namun tiba-tiba Araga menyerangnya dengan dua pukulan di perutnya.


"Bajingan kau... Aku tidak menyangka jika kamu suka menusukku dari belakang" ucap Araga penuh emosi.


Brian yang mendapat serangan mendadak dari Araga awalnya merasa terkejut dan bingung namun setelah mendengar perkataan sahabatnya itu, Brian menarik senyumnya.


"Kamu sudah tahu ?" Brian menatap Araga tanpa rasa takut dihajar kembali.


Araga ingin menghajar Brian kembali namun dicekal oleh Arman, "jangan main kekerasan seperti ini ! Kita coba bicarakan baik-baik dan tanya Brian apa maksudnya menyembunyikan Alda darimu ?!"


"Sekarang duduklah !" Lanjut Arman mempersilahkan Brian duduk.


Tanpa rasa bersalah sama sekali Brian duduk dengan santai bahkan Ia menyalakan sebatang rokok untuk dihisapnya.


"Jika sudah tahu kebenarannya mengapa masih bertanya ?"


"Bang*sat kamu Brian" teriak Araga menggebrak meja.


Brian semakin terkekeh melihat kemarahan sahabatnya itu. Ah, sungguh menyenangkan rasanya menikmati wajah Araga yang memerah.


"Tahan amarahmu Araga !" Tegur Arman lagi.


"Bagaimana aku bisa menahan emosi jika pria sialan ini justru mengkhianati aku dari belakang ?" Bukannya tenang, Araga justru semakin emosi.


"Siapa yang mengkhianati siapa ?" Brian membuka kembali membuka suara, "kamu menuduhku mengkhianati dirimu ?" Kali ini Brian menatap Araga dengan serius.


"Kamu tidak merasa hah ?" Balas Araga.


"Ya, aku tidak merasa. Memang apa yang aku lakukan sehingga kalian mengatakan aku seorang pengkhianat ?"

__ADS_1


"Kamu yang membawa Alda pergi dari hotel dan menyembunyikannya dariku, bahkan kamu datang ke rumahku berpura-pura tidak tahu jika wanita itu kabur dariku. Bukankah itu bisa dikatakan seperti seorang pengkhianat ?" Pekik Araga.


"Bukan aku yang membawa kabur istrimu tapi dia sendiri yang meminta bantuan padaku agar membawanya menjauh dari suaminya yang tidak punya hati dan selalu menyiksa fisik dan hatinya"


Araga mengepalkan tangannya mendengar ucapan Brian, Ia menggigit pipi bagian dalamnya mencoba menahan emosinya.


"Araga, sekarang aku tanya padamu, sebenarnya mengapa kamu semarah ini saat Alda kabur darimu ? Bukannya seharusnya kamu harus senang karena bebas memilih wanita yang kamu cintai sebagai istrimu ? Kamu selalu mengatakan jika kamu tidak mencintainya tapi kamu terlihat begitu terpukul saat kehilangannya ? Apakah kamu masih mencintainya ?"


Araga hanya terdiam mendengar pertanyaan beruntun dari Brian yang mempertanyakan perasaannya pada Alda. Ia tidak bisa menjawab karena Ia pun tidak tahu.


"Jika kamu masih memiliki perasaan padanya maka buang jauh-jauh perasaanmu itu ! Kamu hanya akan menyimpan rasa yang sia-sia" Brian tersenyum mengejek membuat Araga tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"Apa maksudmu hah ?" Kali ini Araga mencengkeram kuat kerah baju Brian,


Brian sama sekali tidak merasa takut dengan Araga, bahkan dirinya pun ingin memberikan pukulan di wajah sahabatnya itu.


"Dengar ya Araga, ketika seorang wanita mencintai seorang pria dengan cinta yang besar maka Ia akan sabar dan menahan rasa sakitnya sendiri saat pria itu memberikan luka, Ia bisa tersenyum menutupi kesedihannya . Tapi perlu kamu tahu jika hati wanita itu dalamnya sangat rapih, disaat hatinya sudah hancur maka tak ada lagi cinta yang tersisa. Seperti itulah Alda yang selalu berjuang mendapatkan hatimu tapi dengan perasaan tega kamu menyakitinya bahkan berhasil membuat hatinya benar-benar hancur"


Kali ini Brian berhasil melepaskan cengkraman Araga dari kerah bajunya. Ia berdiri tegap di depan Araga dengan tangan terkepal.


"Kamu berhasil membuatnya benar-benar merubah cintanya menjadi benci yang begitu besar"


Brian tidak tahan lagi melayangkan beberapa pukulan di wajah Araga hingga pria itu terbaring di lantai, "aku sudah tidak bisa menahannya lagi Araga, meskipun kamu sahabatku tapi aku tidak akan pernah membenarkan semua perlakuan burukmu terhadap Alda. Seharusnya jika tidak bisa mencintainya kembali jangan pernah bermain tangan pada seorang wanita, cukup hatinya saja yang kamu lukai jangan menambah rasa sakit lagi dengan melukai fisiknya !"


Brian begitu menggebu-gebu mengeluarkan semua emosinya.


"Kamu terlalu pengecut karena berani melukai seorang wanita" Brian kembali memberikan pukulan di perut Araga.


Brian kembali duduk di kursi menatap Araga yang masih terdiam dan memegang wajahnya yang terasa perih. Entah mengapa semua tenaganya hilang begitu saja ketika mengetahui cinta Alda telah berubah jadi benci.


Arman yang tadinya diam kini kembali membuka suara, "lalu dimana Alda sekarang ? Jika Alda sudah membenci Araga setidaknya biarkan mereka bertemu dan membicarakan masalah rumah tangga mereka berdua ! Aku bukannya membela Araga tapi biarkan Araga bicara langsung dengan Alda karena mau bagaimanapun status mereka masih suami istri"


Brian kembali berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di kantong celananya.


"Cih, untuk apa Alda membicarakan lagi rumah tangganya dengan pria bajingan ini ? Jangankan bertemu, mendengar namanya disebut saja Alda sudah tidak sudi lagi. Lagi pula Alda sudah pergi jauh, wanita itu menitip pesan padaku agar mengurus surat perceraiannya dengan sahabatmu itu"


Setelah mengucapkan itu Brian memilih meninggalkan Araga dan Arman yang sama-sama mematung.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Baru dapat pukulan dari Brian 😬 kita tunggu dari Adnan🤣


__ADS_2