Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Kontraksi


__ADS_3

"Pulanglah ! Alda tidak berada disini"


Adnan hendak masuk kembali ke mobilnya namun ia urungkan saat Araga mengatakan jika dirinya tidak percaya sebelum masuk dan memastikannya sendiri.


"Berikan dia jalan masuk !" Akhirnya Adnan meminta kedua satpam itu membukakan gerbang untuk Araga, "Setelah itu kamu jangan pernah muncul lagi di hadapanku !" ucapannya pada Araga.


Setelah mengatakan itu, Adnan meninggalkan Araga yang masih mematung di depan gerbang.


...****************...


Alda berbaring di dalam kamarnya, ia mencoba memejamkan matanya namun begitu sulit. Ia sangat gelisah malam ini namun ia tidak tahu penyebabnya. Akhirnya Alda mengubah posisinya menjadi duduk saat merasa matanya tidak bisa terpejam. Ia menatap kalender, HPL-nya sekitar seminggu lagi.


Alda lalu mengusap perutnya buncitnya dengan lembut, "Au..." pekiknya saat merasakan tendangan di dalam perutnya, "Apa kamu juga tidak sabar ingin bertemu dengan Mommy sayang ?" ia mengajak bayinya di dalam perutnya itu berbicara.


Tak lama ia mendapatkan telpon dari Anderson, Alda heran mengapa pria itu menelpon tengah malam seperti ini.


"Ya, ada apa ?"


πŸ“ž"Tidak ada apa-apa, aku hanya merindukan dirimu, seharian ini aku tidak pernah bertemu denganmu" jawab Anderson.


Alda hanya bisa tersenyum, ucapan Anderson semakin hari semakin ngawur saja.


πŸ“ž"Kamu sedang apa ?" tanya Anderson lagi ketika tidak ada suara dan Alda.


"Hanya duduk saja sambil melihat kalender"


πŸ“ž"Apa kamu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bayimu ?"


"Iya, HPL-NYA masih seminggu, dan itu rasanya sangat lama"


πŸ“ž"Aku pun tidak sabar ingin bertemu dengan calon adik Cleo. Jika perempuan dia pasti secantik dirimu, jika laki-laki wajahnya pasti setampan diriku"


"Aish, mengapa setampan dirimu ? Kamu sangat percaya diri" ejek Alda.


πŸ“ž"Kan aku memang tampan, bukan begitu Vanya ?"


"Ya...ya...ya... Kamu memang tampan, sangat tampan" jawab Alda sedikit cekikikan.


Anderson yang dipuji kini wajahnya memerah bak kepiting rebus. Andai saja Alda melihatnya, pasti ia semakin malu.


"Halo, apa kamu mendengarku ?"


πŸ“ž"Iya"


Mereka kembali melanjutkan percakapan mereka, hingga tidak terasa mereka telah telponan hingga sejam. Akhirnya Alda memutuskan untuk mengakhiri panggilan kerena sudah mulai mengantuk.


"Kalau begitu aku tidur ya"

__ADS_1


πŸ“ž"Iya, mimpi Yanga indah cantik !"


"Ck... Kamu selalu merayuku, kamu juga tidur ya ! Ini sudah tengah malam. Besok kamu harus rapat pagi-pagi sekali ! Jangan sampai telat !"


πŸ“ž"Baik Nyonya Anderson"


"Good Night"


πŸ“ž"Good Night to"


Akhirnya panggilan mereka terputus, Alda meraba dadanya yang kembali berdetak lebih cepat dari detak jantungnya yang normal.


"Ada apa dengan jantungku ?" gumannya. Alda baru bisa memejamkan matanya saat detak jantungnya kembali normal.


Pukul empat dini hari Alda terbangun karena merasa perutnya begitu mules. Wanita itu segera masuk toilet dengan muka bantal. Setelah beberapa menit Alda keluar dan hendak melanjutkan tidurnya. Namun lagi-lagi ia merasa perutnya sakit, Alda kembali masuk toilet namun sepertinya ia mules bukan karena ini BAB.


Alda mencoba tidak menghiraukan rasa sakit perutnya, ia pikir rasa sakit itu akan menghilang. Namun bukannya menghilang, rasa sakit itu justru semakin parah. Alda lalu mencoba berjalan keluar memanggil kedua orang tuanya. Ia merasa dirinya mungkin mengalami kontraksi.


"Mmmaaa... Ba-bantu Alda !!!" ucapnya bergetar. Sekuat tenaga ia mengetuk pintu kamar orang tuanya, wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat. Ia benar-benar merasa kesakitan. Alda kembali mengetuk pintu kamar orang tuanya.


Di dalam, Mama Larissa mendengar ketukan pintu mencoba terbangun, wanita paruh baya itu menghampiri pintu lalu membuangnya. Betapa terkejutnya Mama Larissa ketika melihat Alda bersandar di dinding dengan kedua tangannya memegang erat perutnya.


"Ma, to-long Al-da !!!"


Mama Larissa segera berteriak memanggil suaminya, tanpa bertanya pun ia sudah tahu jika putrinya mengalami kontraksi. Sepertinya cucunya akan segera keluar melihat dunia.


Papa Atmajaya lari terbirit-birit menghampiri kedua wanita tercintanya.


"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit !"


"Tapi kita naik apa ?" tanya Mama Larissa bingung.


"Kita minta bantuan Anderson"


Dengan segera pria paruh baya itu menghubungi Anderson.


πŸ“ž"Ya ada apa ?" Anderson mengangkat telponnya dengan mata yang masih terpejam.


"Anderson ini aku Papanya Alda, bisakah kamu segera kemari ! Sepertinya Alda segera melahirkan"


Mata Anderson membulat dengan sempurna ketika mendengar Alda hendak melahirkan. Tanpa menjawab ia segera meninggalkan tempat tidurnya. Anderson menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, untungnya jalanan masih sangat sepi karena waktu masih subuh.


Hanya beberapa menit Anderson tiba di apartemen Alda. Ia mengetuk pintu apartemen hingga pintu itu terbuka lebar.


"Dimana Alda Om ?"


"Dia sedang duduk di sofa"

__ADS_1


Araga melebarkan langkahnya dan segera mengangkat tubuh Alda, ia melihat wajah pucat wanita itu yang meringis kesakitan membuat Anderson merasa tidak tega.


"Tahan ya ! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit" ucapnya berbisik di telinga Alda.


Anderson membaringkan tubuh Alda di jok penumpang dengan kepala yang dipangku Mama Larissa. Sementara Papa Atmajaya duduk di samping Anderson. Mereka menempuh perjalanan dengan cukup cepat.


Sesampainya di rumah sakit Lui, Anderson segera memanggil dokter untuk menangani Alda, "Lakukan yang terbaik, jika ada kesalahan sedikit saja aku akan memecat kalian !" ucapnya sebelum melepaskan Alda masuk ruang bersalin.


Anderson dan kedua orang tua Alda menunggu di kursi dengan cemas. Mereka berharap Alda bisa melahirkan dengan selamat.


Sementara di dalam Alda terus menerus meringis kesakitan, terlebih lagi ketika dokter memeriksa bagian intimnya.


"Baru pembukaan empat" ucap sang dokter.


"Dok, pe-rutku sa-ngat sak-kit..." ucap Alda terbata.


"Tahan ya Nyonya, ini baru pembukaan empat, masih ada enam pembukaan lagi" ucap sang dokter.


Sudah hampir tiga jam Alda berada di ruangan bersalin namun belum ada tanda-tanda bayinya akan segera keluar. Dokter yang baru saja mengeceknya mengatakan jika dirinya masih membutuhkan tiga pembukaan lagi, itu artinya baru pembukaan tujuh.


Anderson yang tidak sabar menunggu mencoba masuk, "Kenapa kalian menyiksanya ? Vanya sudah kesakitan tapi kalian hanya membiarkannya ! Kalian ingin aku pecat ?"


"Tapi Tuan, ini baru pembukaan tujuh, masih ada tiga pembukaan lagi. Setelah pembukaan sempurna maka Nyonya Vanya bisa melahirkan bayinya"


"Tidak bisakah dipercepat ?"


"Tidak bisa Tuan"


Anderson menarik rambutnya frustasi, ia benar-benar tidak tega melihat Alda kesakitan. Ini pertama kalinya Anderson melihat perjuangan seorang wanita yang ingin melahirkan normal. Dulu Mommy Cleo melahirkan dengan cara operasi Caesar.


Ia mencoba mendekati Alda dan mengelus tangan wanita itu lembut, "Kita lakukan operasi Caesar saja ya !" bujuknya.


Alda menggeleng, lagipula sebentar lagi permukaannya sempurna. Anderson hanya mampu menghela nafas dengan berat.


"Aku masih bisa"


"Tapi kamu terlihat kesakitan"


"Tidak ada seorang ibu yang melahirkan tidak merasakan kesakitan, tapi rasa sakit ini hanya sebentar. Semuanya akan hilang ketika bayinya sudah keluar" jawab Alda walah terdengar lirih.


Anderson semakin mengeratkan genggamannya di tangan Alda. Secara refleks pria itu mencium punggung tangan Alda seolah memberikan wanita itu kekuatan.


Dokter dan perawat yang melihat adegan itu merasa tercengang. Ia tidak menyangka jika Pemilik rumah sakit yang terkenal dingin terhadap wanita itu bisa bersikap romantis dan hangat. Namun mereka bertanya-tanya mengapa Anderson melakukan hal manis kepada wanita yang ia kenal dengan nama Vanya itu. Apa mereka memiliki hubungan spesial ?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yang minta Alda dipertemukan dengan Araga, mohon bersabar ya !πŸ€— nanti ada waktunya kok mereka bertemu😁

__ADS_1


__ADS_2