
Araga baru saja tiba di rumah orangtuanya, dengan langkah cepat pria itu masuk memanggil nama Alda.
"Alda... Alda..." Suara teriakan Araga memenuhi rumah.
Mami Evelin yang sedang berada di ruang tengah segera menghampiri putranya.
"Kenapa kamu berteriak-teriak ?" Tanya Mami Evelin ketus, wanita paruh baya itu masih kesal dengan putranya karena membela Febby saat kejadian tadi malam.
"Alda mana Mi ?" Tanya Araga.
"Alda ? Alda tidak ada di rumah ini" jawab Mami Evelin bingung.
"Kenapa kamu mencari istrimu disini ?" Lanjut Mami Evelin bertanya.
"Jangan bohong Mi ! Araga tahu Alda berada disini" bukannya menjawab Araga justru menuduh sang Mami berbohong.
"Mami nggak bohong, Alda memang tidak berada disini. Bukannya semalam kamu membawa menantu Mami pergi ?" Jelas Mami Evelin.
Araga menatap Mami Evelin yang tampak berbicara dengan jujur. Jika Alda tidak berada disini lalu mengapa titik posisi handphonenya berada disini ?, Tanya batin Araga.
"Kenapa malah bengong ?" Tanya Mami Evelin menyadarkan Araga dari lamunannya.
"Tidak apa-apa, Araga pamit pulang" ucapnya ingin segera meninggalkan rumah orang tuanya.
"Tunggu sebentar ! Kamu bawa pulang tas istrimu yang ketinggalan !"
Mami Evelin segera mengambil tas menantunya dan memberikannya kepada Araga. Araga mematung saat melihat tas Alda, itu artinya Alda tidak membawa apa-apa saat kabur darinya ?
'Kenapa rasanya seperti dejavu ?' batinnya yang teringat ketika Febby juga kabur tanpa membawa apa-apa.
"Terima kasih Mi" ucap Araga sebelum meninggalkan rumah orang tuanya.
Araga memukul stir mobilnya dengan keras. Ia tidak menyangka jika Alda bisa kabur darinya.
"Apa yang harus aku lakukan ?" Tanyanya frustasi.
__ADS_1
Ia tidak tahu kenapa Ia merasa begitu marah dan kehilangan setelah tahu Alda kabur darinya. Terlebih lagi bayangan percintaannya semalam selalu terlintas dipikirannya.
"Sial, aku akan memberinya hukuman jika aku menemukannya" teriaknya.
Araga sudah kehilangan Febby dan wanita itu sudah sangat sulit untuk kembali padanya karena telah mengandung anak pria yang tak lain adalah kakak iparnya. Kali ini Ia ingin kehilangan Alda, Ia akan menemukan wanita itu bahkan di dalam lubang semut sekalipun.
...****************...
Siangnya Brian pulang membawa makanan untuk makan siangnya dengan Alda. Pria itu menyiapkan semua makanan di atas meja makan, setelah itu Ia memanggil Alda.
"Kamu sudah bangun ?" Tanya Brian saat mendapati Alda duduk sambil menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
"Kamu sudah kembali ?" Bukannya menjawab Alda justru balik bertanya.
"Hm, sebaiknya kita makan siang dulu !" Ajak Brian.
Alda mengikuti langkah kaki pria itu menuju meja makan. Sebenarnya Alda tidak memiliki nafsu makan tapi Ia paksakan untuk menghargai kebaikan Brian.
"Makan yang banyak ! Pura-pura bahagia itu juga butuh tenaga" Brian memasukkan beberapa lauk lagi ke dalam piring Alda.
Selesai makan, Brian membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor. Sementara Alda Ia suruh untuk duduk di depan televisi. Beberapa menit kemudian Brian duduk di samping Alda.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu ?" Tanya Brian penasaran.
Alda menatap Brian lalu menunduk, "sebenarnya aku..."
Alda mulai menjelaskan apa yang Ia alami semalam, tentang sang kakak menghamili Febby, tentang Araga yang memaksa dirinya untuk melayaninya, tentang sikap Araga tiga bulan terakhir ini yang selalu menyiksanya. Air mata wanita itu tak hentinya mengalir, namun Brian membiarkannya.
Setelah mendengar semua cerita Alda, Brian mengepalkan tangannya. Araga sudah sangat keterlaluan dan melewati batasnya. Bria tidak akan membiarkan pria itu kembali menyiksa Alda.
"Brian, bisakah kamu membawaku menjauh ? Aku tidak ingin berada disini dan bertemu dengan Araga lagi. Aku takut pria itu kembali menyiksa ku" dalam tangisannya Alda memohon bantuan Brian agar membawanya bersembunyi di tempat yang jauh.
"Kamu yakin ?" Tanya Brian mendapat anggukan kepala oleh Alda, "lalu bagaimana dengan keluargamu ? Orang tuamu dan Adnan pasti akan mencemaskan kamu"
Alda tampak berpikir sejenak, Ia membenarkan ucapan Brian, orang tuanya pasti akan mencemaskan dirinya, sementara sang kakak Alda tidak tahu karena Adnan telah berubah semenjak Febby mengandung.
__ADS_1
"Biarkan untuk beberapa waktu saja, aku akan menemui mereka jika aku sudah merasa lebih baik" jawab Alda walau dalam keraguan.
"Kamu ingin keluar negeri ?"
"Jika bisa ? Memang itu yang aku inginkan"
Brian tampak menimbang-nimbang permintaan Alda. Jika Ia menuruti permintaan Alda otomatis dirinya akan berurusan dengan Araga, Adnan bahkan kedua orang tua Alda suatu saat nanti karena menyembunyikan Alda. Tapi Ia juga tidak ingin Alda terus-menerus merasa sakit hati karena perlakuan Araga.
"Nanti kita bicarakan lagi ya ! Aku ingin kembali ke rumah sakit, masih ada beberapa pasien yang menungguku" ucap Brian mencoba mengukur waktu untuk berpikir langkah apa yang akan Ia ambil untuk membantu Alda.
"Hm, baiklah" jawab Alda.
...****************...
Araga masuk rumahnya dengan langkah yang terasa berat. Hari ini Ia memilih untuk tidak masuk kantor dengan pikiran yang sedang kacau seperti ini.
Langkah kaki Araga menuntunnya masuk ke dalam kamar yang ditempati Alda, Ia tidak tahu mengapa Ia ingin masuk kamar tersebut.
Pandangan matanya menyapu bersih ruangan yang cukup luas itu, terlihat beberapa foto pernikahan mereka terpajang di dinding. Tiba-tiba hati Araga sedikit berdenyut saat melihat foto pernikahannya dengan Alda, dimana wanita itu tersenyum penuh kebahagiaan namun Araga tampak berekspresi datar.
Araga lalu menjatuhkan tatapannya ke arah meja kecil yang berada di samping kasur. Lagi-lagi langkah kaki pria itu membawanya mendekati sebuah bingkai foto yang terdapat foto Alda dan dirinya menggunakan seragam sekolah yang berbeda.
"Dia masih menyimpan foto ini ?"
Tangan Araga terulur untuk mengambil foto tersebut. Ia memandang wajah Alda yang masih terlihat menggemaskan karena pipinya yang begitu chubby. Araga ingat jika wanita itu sedang kesal atau sedang tersipu malu maka kedua pipinya akan memerah seperti sebuah tomat matang.
Araga mengembalikan foto tersebut ke tempat semula lalu mencoba berjalan menuju balkon. Tempat ini biasanya menjadi tempat Alda termenung dan terkadang merokok. Araga sebenarnya cukup kaget dengan kebiasaan wanita itu yang suka menghisap rokok padahal sudah jelas barang itu tidak menyehatkan, apalagi Alda seorang wanita. Araga juga pernah melihat Alda menangis tanpa suara di tengah dinginnya udara malam.
Pandangan mata Araga terlihat kosong memandang langit biru yang tampak begitu cerah namun tidak dapat mencerahkan perasannya. Ia baru kehilangan Alda beberapa jam namun Ia dapat merasakan kehilangan yang mendalam.
Araga sendiri bingung dengan perasaannya. Selama ini Ia selalu menginginkan Febby kembali dan membenci kehadiran Alda. Namun saat wanita itu pergi Araga merasakan kehampaan.
"Sebenarnya ada apa denganku ?" Tanyanya yang bingung cara memahami dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mampir di IG Sa yuk !😉 @sa.ekhaupri_