Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Hampir Bertemu


__ADS_3

Hari ini adalah kepulangan Adnan dan Brian setelah seminggu meninggalkan pekerjaan mereka. Alda mengantar mereka ke bandara ditemani Anderson, hubungan keduanya semakin dekat semenjak kehadiran keluarga Alda. Anderson begitu sering berkunjung ke apartemen Alda bersama putranya. Sejak seminggu ini Anderson selalu menunjukkan sikap manis dan hangat kepada Alda, sehingga membuat wanita itu merubah pikirannya terhadap seorang Anderson.


"Alda akan merindukan kalian" ucap Alda memeluk erat tubuh sang kakak. Rasanya seminggu belum cukup untuk mereka saling melepas rindu.


"Apalagi kakak, kakak pasti merindukan adik kakak yang cerewet ini" Adnan mencubit kedua pipi adiknya dengan gemas. Semenjak hamil Alda terlihat berisi, mungkin karena porsi makannya dobel.


"Kalian hati-hati ya, dan jangan lupa hubungi aku ketika sudah sampai disana !"


Alda memeluk Febby, Brian, dan Mery secara bergantian. Hubungan Alda dan Febby kini mulai membaik meskipun masih ada rasa canggung diantara keduanya.


"Kami akan mengunjungi kamu saat sudah lahiran nanti" ucap Febby.


"Aku akan menunggu kalian" balasnya.


"Jaga adikku baik-baik !" bisik Adnan pada Anderson.


"Tenang saja, aku akan menjaganya. Bagaimanapun dia adalah wanitaku"


"Ck... Kamu terlalu sombong mengakui adikku sebagai wanitamu, hubungan kalian masih terlalu jauh untuk dirimu mengaku-ngaku seperti itu" ledek Adnan.


"Aku tidak sombong, memang adikmu itu sudah jadi milikku. Tidak ada laki-laki yang akan aku biarkan merebutnya dariku. Jangankan untuk merebut, melirik saja tidak akan ku biarkan !" balas Anderson tegas.


"Ya... Ya... Aku akan doakan semoga niat baikmu segera mendapatkan hasil"


Setelah mengatakan itu Adnan segera mengajak istrinya dan Brian untuk check in. Alda menatap kepergian sang kakak hingga menghilang dari pandangannya.


"Ayo pulang !" ajak Anderson.


Alda mengangguk dan mulai berjalan beriringan dengan Anderson. Alda menatap lurus ke depan sementara Anderson sesekali menatap wanita disampingnya. Matanya juga melirik-lirik tangan Alda yang sedikit bergoyang-goyang saat melangkah. Ingin rasanya ia menggenggam tangan wanita itu dengan erat, namun Anderson masih belum memiliki keberanian untuk hal itu. Bisa saja ia melakukannya, tapi ia takut Alda tidak nyaman atau risih dengan tingkahnya.


"Bagaimana kalau kita makan siang dulu ?"

__ADS_1


"Boleh, sekalian bungkus buat Mama dan Papa"


Anderson segera membuka pintu untuk Alda, wanita itu tersenyum lalu masuk di kursi samping pengemudi.


'Aisshhh... Senyumannya saja sudah membuatku meleleh, ya Tuhan... Segera buat wanita itu jatuh hati padaku !' Anderson memegang dadanya yang berdetak begitu kencang. Setelah merasa normal Anderson dengan langkah yang cepat masuk dalam mobilnya.


Mereka menuju restoran langganan mereka, sesekali Anderson mengajak Alda berbicara.


"Setelah melahirkan nanti, apa kamu berencana pulang dan menetap di negaramu lagi ?"


"Aku belum mempunyai pikiran untuk kembali. Meskipun sebenarnya aku merindukan tanah kelahiranku, namun untuk kembali tinggal disana rasanya aku belum berminat"


"Apa karena kamu takut bertemu dengannya ?"


"Untuk apa aku takut bertemu pria itu ?"


"Takut jatuh cinta kembali misalnya"


"Untuk rasa itu, sepertinya sudah mustahil untuk muncul di hatiku, perasaanku sudah tidak ada untuk pria itu, bahkan hatiku sudah mati dan tidak bisa lagi merasakan apa yang namanya itu cinta"


Keduanya kembali terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tak terasa mereka tiba di restoran. Anderson segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Alda. Mereka berjalan beriringan masuk restoran.


Dari kejauhan sepasang mata menatap kedua insan itu dengan tatapan penuh luka dan amarah. Tangannya terkepal, ingin rasanya ia menarik wanita itu dalam pelukannya dan menghajar pria yang bersama Alda. Ia tidak rela Alda dimiliki pria lain, sampai kapanpun ia tidak akan rela.


"Aku akan membawamu masuk dalam pelukanku kembali" ucap Araga.


Ya, pria itu adalah Araga. Ia baru tiba di negara ini lima hari yang lalu. Empat hari ini ia gunakan mencari Alda walau sangat sulit, hingga akhirnya pencariannya membuahkan hasil. Araga yang hendak makan siang di restoran tiba-tiba membeku saat melihat Alda yang baru tiba di tempat yang sama dengan seorang lelaki.


Araga yang telah melihat Alda tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Ia segera masuk restoran dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alda. Araga telah menyapu bersih seluruh ruangan restoran ini, bahkan ia telah naik lantai dua, namu ia tidak mendapati Alda. Araga mencoba menunggu di meja dekat pintu masuk, tapi tetap saja ia tidak melihat Alda keluar.


"Aku telah menunggu hampir dua jam, tapi mengapa Alda belum keluar juga ?"

__ADS_1


Sementara Alda masih berada di dalam ruang manager restoran untuk bersembunyi dari Araga. Tadi ia sempat melihat dengan jelas Araga berjalan masuk restoran saat dirinya telah duduk berhadapan dengan Anderson. Seketika tubuh Alda gemetaran saat memastikan jika pria itu memang Araga. Anderson yang melihat Alda bergetar dan wajahnya pucat mencoba bertanya. Namun Alda hanya meminta pria itu segera membawanya bersembunyi dengan suara yang bergetar. Meskipun Anderson tidak tahu apa penyebab wanita itu terlihat ketakutan, tapi ia tetap menurutinya.


Anderson membawa Alda masuk di ruangan manager restoran ini. Untung saja restoran ini milik teman Anderson, jadi ia bisa meminta ijin untuk masuk ruangan tersebut. Saat mereka sudah duduk, Anderson segera meminta air mineral untuk Alda.


Alda juga meminta agar diperlihatkan rekaman CCTV. Namun sebelum ia meminta, wanita itu menceritakan apa yang membuatnya ketakutan hingga tubuhnya bergetar.


"Mengapa ia belum juga pergi ?"


Alda sungguh gelisah kerena Araga belum juga meninggalkan restoran ini. Ini sudah dua jam namun Araga masih setia di tempat duduknya. Alda tidak ingin bertemu dengan Araga dalam keadaan perut bunting seperti ini. Ia tidak ingin Araga tahu jika ia sedang hamil anak darinya.


"Mau ku bantu keluar ?" tanya sang Manager restoran.


Alda menatap Anderson lalu mengangguk.


"Kalian bisa keluar dari pintu belakang, tepatnya kalian keluar dari dapur"


"Baiklah, tidak masalah" jawab Alda.


"Ya sudah kamu tunggu aku di belakang, aku akan mengambil mobilku terlebih dahulu !" ucap Anderson.


Alda mengangguk, setelahnya Alda dan Anderson berpisah. Alda telah menunggu di belakang restoran, sementara Anderson baru saja melewati Araga. Ia menatap tajam pria yang telah menjadi mantan suami Alda itu. Araga juga menatap Anderson dengan tatapan menyelidik.


'Bukankah tadi pria itu yang bersama dengan Alda ? Tapi, dimana Alda berada ?'


Anderson memutuskan tatapannya dan melangkahkan kakinya dengan lebar hingga berada di dalam mobilnya.


"Ck... Wajahnya sangat memprihatikan. Apa dirinya menyesal telah menyia-nyiakan Vanya ?" Anderson sempat melihat penampilan Araga yang terlihat sedikit kacau.


Tak mau memikirkan Araga, Anderson segera menginjak gas mobilnya. Ia tidak ingin membuat Alda menunggu terlalu lama di belakang restoran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


gimana nih ? Alda dan Araga dipertemukan tidak ? 😁


__ADS_2