Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Di Balik Sikap Dingin Ada Perhatian Manis


__ADS_3

Adnan memarkir mobilnya di depan gerbang rumah Araga. Pria itu kemudian turun meminta agar satpam membuka pintu gerbang untuknya.


"Maaf Tuan kakaknya Non Alda kan ?" tanya satpam tersebut menebak hubungan Alda dan Adnan.


"Iya benar, maka dari itu buka gerbangnya ! Aku ingin bertemu dengan Alda" balas Adnan.


"Maaf Tuan, tapi di rumah ini tidak ada siapa-siapa. Tuan Araga sedang ke kantor dan Non Alda sekarang berada di rumah sakit" jawab satpam tersebut.


Ucapan satpam itu mempu membuat Adnan terkejut namun dengan cepat Ia merubah ekspresi keterkejutannya itu menjadi ekspresi datar.


"Kenapa bisa adikku masuk rumah sakit ?" tanyanya penasaran.


"Saya juga tidak tahu Tuan. Yang saya tahu Tuan Araga mendapati Non Alda sudah tak sadarkan diri di dalam kamarnya" jelas satpam itu.


Adnan sedikit heran mengapa sang adik bisa pingsan di dalam kamar, setahu Adnan adiknya itu mempunyai fisik yang cukup kuat. Pikiran negatif kini bermunculan di otaknya. Sesaat Ia berpikir apakah Araga menyiksa adiknya ?


"Kamu tahu dimana adikku dirawat ?" tanyanya.


"Tidak Tuan" jawab satpam itu.


Adnan segera masuk mobilnya dengan membanting pintu mobil. Pria itu menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju perusahan milik Araga. Adnan tak hentinya mengumpat Araga karena tidak memberitahunya tentang keadaan sang adik.


"Apa dia sengaja menutupinya dariku ? Sialan kamu Araga" ucapnya memukul stir mobilnya.


Tak butuh waktu lama akhirnya Adnan sampai di tempat tujuan. Pria itu mengambil langkah kaki yang lebar agar bisa segera sampai di ruangan adik iparnya itu. Namun saat di lobby Adnan ditahan oleh Arman.


"Untuk apa kau kemari ?" tanya pria itu terdengar tidak ramah.


"Bukan urusan kamu" balas Adnan segera menghentakkan tangan Arman yang menegang pundaknya.


Pria itu kembali berjalan menuju lift namun lagi-lagi dicegah oleh Arman. Adnan berdecak kesal sambil menatap Arman dengan tajam. Sementara Arman sendiri tidak merasa takut dengan tatapan Adnan.

__ADS_1


"Jangan membuat kekacauan disini !" ucap Arman.


"Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku ! Aku ingin memberikan pelajaran kepada lelaki sialan itu" ucap Adnan yang kini mulai meninggikan intonasi suaranya.


Arman bisa melihat kilatan amarah di mata pria itu. Dalam hatinya bertanya, apakah Adnan sudah mengetahui pernikahan siri Araga dengan Febby ? Atau ada hal yang lain sehingga membuat pria itu tampak terlihat begitu marah ?


"Araga tidak berada di kantor ini" ucap Arman melepaskan tangannya di pundak Adnan.


"Cih... Kamu pikir kamu bisa menipuku ?" balas Adnan tidak percaya.


"Aku tidak berbohong. Araga tadi keluar tapi aku tidak tahu kemana pria itu pergi" jelas Arman yang memang tidak berbohong.


Araga sempat ke perusahaan namun hanya sebentar saja pria itu pergi entah kemana. Mungkin saja Araga kembali mencari keberadaan Febby, pikir Arman.


"Jangan membual. Aku akan mengeceknya sendiri di ruangannya"


Adnan masuk lift dan memencet tombol angka dimana ruangan Araga berada. Tangannya sudah begitu gatal ingin memberikan tinjuan di wajah tengil adik iparnya itu.


"Araga jangan bersembunyi dariku sialan ! Tunjukkan wajahmu pria pengecut !" Teriaknya namun tetap saja tidak ada Araga muncul.


Arman seger masuk karena takut Adnan mengacaukan ruangan atasannya itu. Ia tahu betul pria bagaimana Adnan ketika mengamuk.


"Sudah aku katakan Araga tidak berada disini tapi kamu tidak percaya" ucap Arman kesal.


"Dimana pria itu ?" tanya Adnan membalikkan tubuhnya menghadap Arman.


"Aku tidak tahu. Tadi Araga hanya datang ke perusahaan menandatangani beberapa berkas lalu keluar lagi. Dia tidak mengatakan kemana Ia akan pergi" jelas Arman sekali lagi.


Adnan mengembuskan nafasnya dengan kasar. Ia berpikir mungkin Araga mencari keberadaan Febby.


'Tak akan ku biarkan kamu kembali bersama wanita murahan itu dan menyakiti hati adikku' batin Adnan.

__ADS_1


Pria itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan Arman tanpa sepatah katapun.


"Ck... Dia selalu seperti itu" ucap Arman setelah Adnan sudah menghilang dari pandangannya.


"Sebenarnya Araga kemana sih ?" Tanyanya penasaran.


...****************...


"Makanlah !" Perintah Araga setelah menyimpan kantong kresek yang berisi makanan.


Alda hanya melirik sekilas ke arah pria itu lalu kemudian kembali menatap layar handphonenya. Tangannya begitu lihai mengetik pesan kepada seseorang.


Araga berdecak kesal melihat wanita itu sibuk dengan handphonenya. Jika tahu seperti ini maka Araga lebih memilih mencari keberadaan Febby daripada penjenguk wanita yang dicap luar ini.


"Ck... Menyesal sekali aku datang membawa makanan untukmu, benar-benar tidak tahu diri" ucapnya kesal.


Mendengar hal itu Alda segera menyimpan handphonenya di atas nakas. Ia mengambil kantong kresek itu lalu membuka.


'Bubur Ayam ? Dia masih ingat jika aku tidak menyukai bubur yang memakai kacang' batin Alda. Wanita itu tersenyum tipis karena Adnan masih tahu apa yang Ia sukai dan apa yang tidak Ia sukai.


Dengan lahap Alda memakan bubur itu tanpa suara. Alda menghabiskan bubur itu hingga tak tersisa.


"Ternyata di balik sifat dinginmu kepadaku masih ada perhatian manis" ucap Alda menggoda Araga.


"Ck... Jangan terlalu besar kepala" balas Araga tampak membuang muka.


Alda sedikit terkekeh melihat respon dari suaminya. Lalu keduanya kembali terdiam sehingga menciptakan suasana sunyi. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.


Alda yang hendak membuka percakapan lagi dengan Araga harus Ia urungkan karena mendengar suara handphonenya. Wanita itu dengan cepat mengangkat telpon dari seorang pria.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hai terima kasih masih setia membaca karya Sa🤗❤️


__ADS_2