Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Ceraikan Putri Papa


__ADS_3

"Tidak Pa, Araga tidak ingin menceraikan Alda Pa. Araga mohon berikan Araga kesempatan sekali lagi !"


Araga kini berlutut di kaki Papa Atmajaya memohon agar sang papa mertua mau memberikan kesempatan terakhir untuknya.


"Sekali lagi Papa tegaskan, ceraikan putri Papa !" Papa Atmajaya melangkahkan kakinya memanggil sang istri pergi dari kediaman Araga. Tidak ada alasan lagi dirinya bisa menerima menantu seperti Araga.


"Pi, bantu Araga bicara sama Papa Atmajaya ! Tolong katakan padanya jika aku menyesal, Araga janji akan memperbaiki semuanya" kali ini Araga memohon pada Papi Argantara agar sang Papi membantunya memohon pada mertuanya untuk diberikan kesempatan terakhir.


"Tak ada kesempatan lagi untuk pria berhati iblis seperti dirimu Araga. Kamu telah mempermainkan pernikahan kamu dengan membuat surat perjanjian kontrak pernikahan, kamu juga menyiksa istrimu sendiri. Papi juga akan melakukan hal yang sama seperti Atmajaya jika Papi memiliki anak perempuan yang Papi besarkan dengan penuh kasih sayang lalu disakiti oleh pria sepertimu" ucap Papi Argantara yang tidak ingin membela Araga ataupun membantunya agar bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Alda.


"Pi, Araga mohon !!!" Kali ini Araga menjatuhkan air matanya, namun itu tidak bisa membuat Papi Argantara merasa iba. Pria paruh baya itu sungguh kecewa dan begitu marah dengan kelakuan putranya.


Saat Papi Argantara telah pergi kini tinggal Araga yang memukul dadanya yang terasa sesak dan Adnan yang tersenyum sinis.


"Aku minta ceraikan adikku dan Febby secara bersamaan !" seru Adnan membuat Araga mematung.


Ia baru teringat jika dirinya masih terikat pernikahan dengan Febby. Tiba-tiba Araga dilema harus melepaskan siapa. Ia telah berjuang sangat lama dengan Febby, tapi mereka tidak mungkin bersatu karena Febby telah mengandung anak dari Adnan. Sementara Alda, kini rumah tangga mereka benar-benar berada diujung tanduk.


"Brian sudah mengajukan berkas untuk perceraian kalian. Sekarang tinggal ceraikan Febby" lanjut Adnan yang tidak peduli tatapan tajam Araga.


"Aku akan menceraikan Febby tapi tidak dengan Alda" ucap Araga. Ia tidak akan menyerah mempertahankan rumah tangganya dengan Alda.


"Sudah terlambat Araga. Adikku sudah begitu terluka karena dirimu. Aku tidak akan membiarkan Alda jatuh pada lubang yang sama dengan kembali bersama dirimu" balas Adnan dengan tegas sebelum meninggalkan Araga.


Kini tinggal Araga yang sendirian dengan segala penyesalannya. Ia merasakan kembali sesak di dadanya seperti saat Ia patah hati melihat Alda bersama pria lain beberapa tahun lalu.


"Aku tidak akan melepaskan dirimu Alda" ucapnya dengan air mata yang mengalir.

__ADS_1


...****************...


Alda baru saja sampai di bandara. Ia akan menginap di hotel beberapa hari kedepan hingga dirinya mendapatkan tempat tinggal.


"Hotel xxx, Sir" ucapnya ketika masuk mobil.


Alda menatap jalanan dengan tatapan kosong. Mungkin raganya sedang mengasingkan diri disini namun jiwanya masih tertinggal bersama pria yang telah menorehkan luka di hatinya.


"Tidak Alda, kamu harus melupakan pria itu. Pria itu memperlakukan dirimu dengan kejam, kamu harus mengubur perasaanmu !" Ucapnya mencoba menyadarkan diri agar tidak terikat bayang-bayang Araga.


Tujuannya mengasingkan diri untuk membuang Araga dari hidupnya, jadi ia ingin tujuannya itu tercapai agar bisa hidup dengan tenang dan mencari kebahagiaan sendiri.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya Alda tiba di hotel. Setelah melakukan check in, Alda berjalan menuju kamarnya sementara barang-barangnya dibawa oleh pegawai hotel. Saat masuk kamar, Alda segera membersihkan tubuhnya, setelah itu Alda memilih untuk istirahat. Wanita itu lupa dengan janjinya untuk mengabari Brian jika sudah tiba di bandara tadi.


Sementara di tempat yang berbeda Brian tampak uring-uringan karena belum mendapatkan kabar dari Alda. Brian sudah mencoba menghubungi nomor Alda namun yang ada nomornya berada di luar jangkauan. Brian mencoba berpikir positif, mungkin saja Alda lupa mematikan mode pesawatnya atau lupa mengaktifkan kembali handphone miliknya.


Akhirnya Brian memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit, hari ini ia memiliki banyak pasien. Ia tidak sabar ingin menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa menyusul Alda.


Setelah hampir 3 jam akhirnya Alda terbang, wanita itu mengucek-ucek matanya lalu berjalan menuju wastafel. Alda mencuci wajahnya agar merasa segar kembali. Setelah itu Alda kemudian berjalan ke arah telepon untuk memesan makanan, ia merasa perutnya begitu lapar. Lalu sambil menunggu Alda mencoba mengaktifkan handphone miliknya, wajah wanita itu begitu terkejut ketika mendapatkan banyak panggilan tak terjawab dari Brian, bahkan banyak pesan singkat yang dikirim oleh pria itu. Alda membuka satu persatu pesan dari Brian, senyum tipis menghiasi bibir wanita itu, Alda merasa lucu ketika membaca pesan dari Brian yang mendumel karena mengkhawatirkan keadaan Alda. Puas membaca pesan dari Brian akhirnya Alda memutuskan untuk menghubungi pria itu dan meminta maaf.


"Halo-" belum sempat Alda melanjutkan kalimatnya Brian sudah memotong ucapannya.


"Kamu darimana sih ? Kenapa baru menghubungiku ? Seharusnya kamu menelponku beberapa jam yang lalu ! Apa kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya aku ? Aku bahkan berniat menyusulmu jika belum mendapat kabar darimu hari ini" omel Brian.


Mendengar omelan Brian, Alda bisa membayangkan wajah pria itu yang sedang kesal padanya. Bukannya takut mendapatkan marah dari Brian Alda justru terkekeh mendengar omelan pria itu.


"Mengapa ketawa ? Kamu benar-benar membuatku kesal" lanjut Brian yang kini merajuk.

__ADS_1


Alda menghentikan tawanya lalu meminta maaf kepada Brian, "maafkan aku ! Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, aku merasa begitu lelah setelah perjalanan panjang hingga aku memutuskan untuk istirahat dan lupa untuk mengabarimu. Jangan marah ya !"


Alda menjelaskan penyebab dirinya lupa menghubungi Brian, wanita itu juga membujuk Brian agar tidak marah dengannya.


"Kali ini aku maafkan, tapi tidak untuk kali berikutnya" ucap pria itu terdengar terpaksa.


"Apa kamu sudah makan ?" tanya Brian.


"Belum, aku baru saja memesan makanan, sepertinya sebentar lagi tiba" jawab Alda.


"Ingat untuk jaga kondisi kesehatan, jaga pola makan agar teratur, jangan lupa makan makanan yang bergizi !" Pesan Brian layaknya seorang ayah yang berpesan kepada putrinya.


"Baik Dokter Brian yang tampan" jawab Alda menggoda Brian.


Wanita itu tidak tahu jika Brian saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus, ia merasa malu dengan godaan Alda. Jika Alda melihatnya mungkin ia sudah menjadi bulan-bulanan wanita itu.


"Kamu sendiri sudah makan ?" Kali ini Alda yang memberikan pertanyaan pada Brian.


"Ini belum waktunya makan siang" jawab pria itu.


"Oh aku lupa, disini sudah masuk jam makan malam" balas Alda.


Keduanya terus berbicara hingga Alda memutuskan untuk mematikan panggilan karena makan malamnya sudah tiba.


"Aku akan menghungimu lagi" ucap Brian sebelum sambungan telepon benar-benar terputus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Kakak jangan lupa komen beri masukan 😘


__ADS_2