Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Kepribadian Ganda Anderson


__ADS_3

Semua terdiam saat bel apartemen Alda berbunyi, semua mata menatap Alda dengan penuh tanda tanya.


"Kamu sudah punya kenalan disini ?" tanah Adnan pada sang adik.


"Ya, aku punya kenalan disini, aku kenal dengan keluarga Dokter Obgyn yang memeriksa kandunganku. Tapi Alda tidak tahu siapa yang memencet bel itu, karena ini hati senin dan waktu kerja, tidak mungkin mereka bertamu kemari" jelas Alda.


"Jika begitu coba buka saja pintunya !"


Alda mengangguk dan segera membuka pintu, semua mata orang tertuju pada pintu tersebut karena penasaran siapa yang bertamu di apartemen Alda.


"Aunty Vanya" teriak Cleo segera memeluk tubuh Alda.


Wanita itu hanya bisa mematung, ia terkejut dengan kedatangan kedua pria tampan yang beda usia itu. Alda merasa sebentar lagi ia akan terkena serangan jantung karena sudah dua kali terkejut hari ini.


"Apa boleh masuk ?" tanya Anderson memecah keheningan antara mereka.


Alda tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengusir tamu tak diundang itu terlebih lagi ada Cleo. Namun ia tidak ingin menerima tamu karena semua keluarganya sedang berada di dalam.


"Ajak masuk Alda !" teriak Papa Atmajaya dari dalam.


"I-iya Pa" teriak Alda dengan suara gugup, "silahkan masuk !"


Dengan senang hati Anderson masuk, ia berjalan dengan langkah kaki yang mantap. Sementara Alda berjalan di belakangnya sambil berpegangan tangan dengan Cleo.


"Tuan Anderson ?" Adnan mencoba menebak apakah pria yang ia lihat merupakan pria yang sama dengan kenalannya.


Semua mata tertuju pada pria bertubuh tegap itu, hanya mata Alda yang terpusatkan pada sang kakak.


'Apa kakak mengenal pria ini ?' batinnya bertanya.


"Tuan Adnan ?" Anderson yang tadinya bingung Kenapa pria itu mengenalinya kini teringat jika mereka pernah bertemu beberapa kali.


"Apa kabar ?"

__ADS_1


Adnan berdiri dan mendekati Anderson lalu menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Anderson dengan senang hati membalas uluran tangan dari Adnan.


"Kabarku baik, bagaimana dengan dirimu ?"


Alda tercengang mendengar cara bicara Anderson yang begitu enjoy saat berbicara dengan kakaknya.


'Apa pria itu memiliki kepribadian ganda ?'


"Aku juga baik. Aku sangat tidak menyangka kita bisa bertemu disini... Tunggu dulu ! Kenapa bisa kamu bertamu di apartemen adikku ?" Adnan yang tadinya antusias dengan pertemuannya dengan Anderson kini berubah menjadi bingung dan penasaran.


"Apa Vanya adikmu ?"


"Iya, dia adikku. Apa kalian kenal dan saling dekat ?"


Anderson tersenyum penuh arti, jika Alda dan Adnan bersaudara itu artinya ia mendapatkan kesempatan untuk mendekati wanita yang ia incar. Bagai mendapatkan angin surga, Anderson begitu senang. Ia akan menggunakan kesempatan ini dengan baik.


"Iya, kami saling kenal. Keluargaku juga mengenalnya dengan baik" jawab Anderson dengan bangga.


Alda mengerutkan keningnya merasa aneh dengan Anderson. Ternyata Anderson bisa bicara banyak juga dengan orang yang ia kenal. Tapi mengapa dengan Alda ia bersikap dingin ?, Tanya batinnya.


Dengan senang hati Anderson duduk di samping Adnan. Alda juga ikut duduk bersama Cleo. Mata Adnan menatap putra Anderson itu dengan tatapan penuh pertanyaan. Seolah tahu dengan tatapan Adnan, Anderson menjawab rasa penasaran Adnan.


"Dia putraku" jawabannya.


"Oh ya ? Tampan sekali" puji Adnan, "Sebelumnya kenalin ini istriku !" Adnan memperkenalkan Febby dengan Anderson. Setelah itu lanjut berkenalan dengan Mama, Papa, dan Brian berserta sang istri.


"Wah, kamu dari keluarga Lui kan ?" tebak Papa Atmajaya.


"Iya, Tuan" jawabnya sambil melempar senyumannya yang paling menawan.


"Aku tidak percaya putriku bisa berkenalan dengan salah satu pengusaha terpandang dan berpengaruh di negeri ini"


"Ah, Tuan sangat berlebihan. Aku dan Vanya kenal karena putraku, ia begitu menyukai Vanya. Bukan hanya itu, adikku merupakan dokter yang menanganinya, jadi itu sebabnya Vanya cukup dekat dengan keluargaku."

__ADS_1


Alda terpana dengan penjelasan Anderson. Wah, ia tidak menyangka pria kaku itu bisa berbicara banyak di depan keluarga Alda dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Padahal jika di kediaman Lui pria itu seperti kanebo kering yang sangat sulit diajak bicara. Alda benar-benar melihat kepribadian ganda dari pria itu.


"Ya kelihatannya memang putramu menyukai Alda, buktinya ia begitu menempel" celetuk Mama Larasati sambil mencubit pipi Cleo dengan lembut.


"Ya tidak masalah jika Cleo yang suka menempel dengan Alda, asal jangan Daddy-nya yang menempel !" Brian seolah tahu isi hati Anderson jika pria itu memang mempunyai niat untuk dekat dengan Alda.


"Daddy-nya juga tidak masalah dekat dengan Alda, asal Alda nya mau" goda Adnan.


"Kalian ngomong apa sih ? Bahas yang lain bisa kan !" Kesal Alda. 'Ish, siapa juga yang mau sama kenebo kering ?' lanjutnya membatin.


Lain halnya dengan Alda yang kesal dengan godaan sang kakak, Anderson justru berdoa dengan kencang meski hanya dalam hati. 'Semoga saja ada malaikat yang lewat mendengar semuanya dan membantuku meng-aamiinkannya'


"Ck, ibu hamil ini baperan sekali sih" celetuk Brian.


Alda menatap Brian dengan tatapan melotot, bukannya takut Brian justru terkekeh. Ia sudah lama tidak melihat wajah kesal Alda.


"Sudah, sudah ! Jangan menggoda putri Papa !" tegur Papa Atmajaya.


Mereka kembali bercengkrama, Anderson dan Brian mengenang beberapa kejadian saat mereka pernah bertemu. Sementara Alda sibuk melepas rindu dengan kedua orangtuanya.


Diam-diam Febby menatap kedekatan mertuanya dengan sang adik ipar. Ada rasa penyesalan mengapa dulu ia menuruti keinginan Araga untuk menikah siri. Ia merasa bersalah telah membuat Alda menjauhi orang tuanya hanya kerena rumah tangga Alda yang hancur, semua karena kebodohan Febby yang tidak berpikir panjang untuk menikah dengan Araga.


Mereka sangat asik berbincang-bincang hingga bel apartemen Alda kembali berbunyi. Semua kembali diam saat mendengar bunyi bel. Alda hendak membuka pintu namun segera dicekal oleh Adnan. Akhirnya Adnan yang membuka pintu.


Semua mata kembali fokus dan penasaran siapa yang datang, tak terkecuali Alda. Ia bingung menebak siapa lagi yang datang, tak ada orang yang ia kenal selain keluarga Lui. Jikapun ada yang memencet bel biasanya hanya pengantar makanan, namu Alda juga tidak pernah memesan makanan hari ini.


Saat pintu terbuka lebar, seketika Alda terkejut. Wanita itu segera berjalan ke arah pintu. Ia menatap pria yang berdiri di depannya dengan wajah bingung.


"Dengan Nyonya Alda Vanya Atmajaya ?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


main tebak-tebakan yuk ! siapa ya kira-kira pria itu ? 🤔

__ADS_1


yang benar Sa kasih ******* sekebon😂


__ADS_2