Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Terbakar Cemburu


__ADS_3

Malam harinya Alda tidak langsung pulang ke apartemennya karena Belinda memintanya mampir dulu di kediaman Lui. Alda turun dari mobil dengan langkah pelan, kakinya terasa pegal serta sepatu yang ia pakai terasa sesak. Mungkin karena kebanyakan jalan dan kakinya mulai membengkak.


Anderson turun lalu menuju kursi penumpang, Cleo tertidur jadi mau tidak mau ia harus menggendong putranya. Setelah berjalan kembali Anderson melihat Alda berjalan begitu pelan, pria itu tentu penasaran. Jadi Anderson mencoba membuang gengsinya untuk bertanya pada wanita itu.


"Are you okay ?"


Alda mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Anderson. Mungkin jika bersama Alex wanita itu akan berterus terang tentang apa yang ia alami, selain karena mereka dekat, Alex juga dokternya.


Melihat Alda mengangguk membuat Anderson terdiam, ia bukannya tidak tahu wanita itu sedang berbohong hanya saja ia tidak ingin bertanya lebih lagi karena ia sadar mereka tidak sedekat itu. Akhirnya Anderson memilih berjalan di belakang Alda walau pelan.


Sesampainya mereka di dalam rumah Alda segera duduk di ruang tengah sementara Anderson segera membawa Cleo ke kamarnya. Tak berselang lama Alex keluar dari kamarnya dan melihat Alda yang sedang meringis. Segera pria itu mendekat dan bertanya.


"Kenapa ? Ada keluhan ?" tanyanya sambil menatap Alda.


"Kakiku terasa pegal, mungkin kerena terlalu lama jalan. Dan juga sepatuku rasanya sesak, aku rasa kakiku bengkak lagi" jawab Alda.


Mendengar hal itu membuat Alex segera menarik kaki wanita itu pelan-pelan ke pangkuannya. Ia membuka sepatu Alda dan melihat kakinya, dan benar saja kaki Alda bengkak.


"Aku ganjal pakai bantal ya" pria itu dengan cekatan menyusun bantal sofa sedikit tinggi lalu meletakkan kaki Alda di atasnya.


"Mau dipijit ?" tanyanya pada Alda.


Dengan cepat Alda menggeleng, rasanya ia tidak terbiasa dipijit oleh lelaki. Jika perempuan mungkin ia dengan senang hati.


"Memangnya kalian darimana ?"


"Tadi kami habis dari Mall nemenin Cleo bermain"


"Hanya menemani Cleo bermain tapi bisa sampai malam ya ?"


"Kami juga sempat belanja dan menonton bioskop, setelah sore kita ke taman kota dan mampir di restoran untuk makan malam"


Alda menjelaskan kegiatan mereka kepada Alex. Pria itu hanya mengangguk paham, sepertinya dugaannya benar jika sang kakak sedang mencari jalan untuk dekat dengan Alda.

__ADS_1


Mereka kembali terdiam dan tak lama Belinda datang menghampiri mereka, wanita paruh baya itu tersenyum pada Alda walau hanya senyum tipis. Matanya kemudian beralih melihat kaki Alda.


"Kakimu bengkak ?"


"Eh... Iya Nyonya" Alda hendak menurunkan kakinya karena merasa tidak sopan, namun ia urungkan karena Belinda menahan kakinya.


"Tidak masalah. Apa kakimu pegal ? Mau aku pijit ?"


Alda menggeleng pelan, mana mungkin ia membuat Belinda memijit kakinya, ia terlalu segan untuk hal itu.


Seolah tak ingin penolakan, Belinda memangku kaki Alda dan mulai memijit betisnya dengan pelan. Hal ini tentu membuat Alda merasa tidak enak hati.


"Nyonya tidak perlu melakukan itu !"


"Lalu siapa yang kamu harap memijit kakimu ? apa Alex ? atau Anderson ?"


Alda terdiam, mulutnya terasa terkunci. Ya mana mungkin ia ingin kedua pria itu yang memijit kakinya. Mau tidak mau Alda membiarkan wanita paruh baya itu memijit kakinya.


"Ck, itu mah maunya kamu. Kalau mau pijitin Vanya, nikahin dulu lah !"


"Kalau Vanya mau nikah sama Alex, malam ini juga Alex nikahin" ucapnya sambil terkekeh renyah, matanya melirik seseorang yang berdiri di atas tangga. Dalam hatinya menebak sang kakak pasti kepanasan mendengar pembicaraan mereka.


"Gimana Vanya, mau nggak jadi menantuku ?" tanya Belinda dengan serius.


Alda yang tadinya tersenyum karena candaan ibu dan anak itu kita merubah raut wajahnya. Matanya seketika melotot melihat keseriusan Belinda, tadinya ia berpikir mereka hanya bercanda saja.


"Jika mau, kami akan datang ke negaramu untuk bertemu orang tua kamu" lanjutnya.


Alda menelan salivanya dengan kasar. Rasanya belum terbesit untuk dirinya menikah kembali, mungkin dirinya memang telah melupakan Araga, namun bukan berarti rasa traumanya untuk membina rumah tangga sudah hilang.


"Aku..." Suara Alda tertahan, memikirkan tentang rumah tangga hatinya kembali terasa nyeri mengingat pernikahannya yang buruk bersama Araga.


Sementara Anderson yang berada di atas tangga kini kembali masuk dalam kamarnya dengan hati yang panas melihat keakraban Alda dan Alex. Rasanya ia tidak terima jika wanita yang ia sukai menikah dengan pria lain, bahkan dengan adiknya sendiri.

__ADS_1


"Tak perlu menjawab ! aku hanya bertanya, jika belum siap membuka hati tidak masalah. Kalian kan juga masih baru, jadi nikmati waktu kalian untuk saling kenal lebih dalam !"


Alda tersenyum canggung mendengar ucapan Belinda. Rasanya sangat aneh wanita paruh baya itu tiba-tiba berbicara ke arah yang serius seperti pernikahan.


"Malam ini kamu bermalam saja ! Sudah ada kamar yang sedia untukmu"


Alda hendak menolak namun Belinda tidak ingin menerima penolakan. Akhirnya Alda memilih untuk menurut saja.


Keesokan harinya Anderson tampak begitu dingin kepada semua orang, bahkan jika Belinda bertanya padanya ia hanya menjawab dengan bahasa tubuh seperti mengangguk atau menggeleng. Alex yang melihat perubahan sang kakak semakin gencar untuk menggoda Alda.


"Gimana tadi malam, tidur kamu nyenyak ?" Alda mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Alex.


"Syukurlah, semalam kamu mimpiin aku nggak ?" Alda menggeleng, "ya sayang sekali, padahal aku memimpikan kamu, bahkan aku bermimpi kita sedang menikah"


Alda dan Anderson tersedak saat mendengar ucapan Alex. Alda tersedak karena merasa malu Alex berbicara seperti ini di hadapan Lui dan Belinda. Sementara Anderson tersedak karena kesal dengan mimpi adiknya itu.


"Makan pelan-pelan dong !" Alex menyodorkan air untuk Alda.


"Terima kasih" ucap Alda setelah menerima gelas yang berisi air dari Alex.


Anderson yang melihat itu merasa semakin terbakar api cemburu. Anderson menyudahi sarapan paginya, ia merasa muak melihat adiknya yang gencar mendekati Alda. Dengan kasar ia meletakkan sendoknya sehingga membuat orang-orang yang berada di meja makan menatapnya heran. Pria itu segera berlalu dengan langkah kaki yang lebar.


Alex tersenyum penuh kemenangan saat melihat reaksi kakaknya. Sementara Belinda yang menyadari putra bungsunya itu sedang mengerjai kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala.


...****************...


Anderson tiba di perusahaan dengan wajah ditekuk, setiap staf yang berpapasan dengannya menundukkan kepala dengan hormat. Anderson tidak menggubris orang-orang sekitarnya, hatinya masih terasa panas melihat adiknya bersikap manis pada wanita incarannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini cuma bisa Up satu bab ya🥺 Sa lagi nggak enak badan🤧


lopyuuu❤️

__ADS_1


__ADS_2