
Sesampai di kamar hotelnya Alda segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kakinya terasa pegal setelah berjalan tadi. Alda memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, sebulan ini Alda menjalani hidupnya dengan ditemani kesunyian, jika Brian tidak menghubungi maka Alda kembali merasa sendiri dan kesepian. Tak jarang wanita itu teringat dengan cinta pertamanya, pria pertama yang membuatnya jatuh cinta, pria pertama yang membuatnya terluka, pria pertama yang telah mengambil kesuciannya, pria pertama yang membuat Alda benci untuk mencintainya.
Ngomong-ngomong malam panas yang dilalui Alda sudah sebulan lebih hal itu terjadi bukan ? Alda teringat sesuatu yang membuatnya sedikit cemas dan khawatir. Tapi ia juga enggan untuk mengecek kebenaran hal tersebut, ia hanya bisa berharap semoga saja hal itu tidak terjadi padanya.
Alda yang merasa bosan mencoba membuka handphone miliknya. Wanita itu membuka akun Instagram miliknya yang tentunya akun Fake, Alda sengaja menggunakan akun Fake agar Araga dan sang kakak tidak bisa melacaknya. Alda mulai mencari akun Araga, ya seperti inilah pekerjaannya yang selalu memantau Araga dari sosial media, meskipun tidak ada pembaruan status dari pria itu. Tapi Alda bisa mengobati rasa rindunya yang tidak bisa ia tahan.
Jujur saja, Alda masih sangat sulit menyingkirkan Araga dari hatinya. Semakin ia berusaha semakin ia merasa rindu yang begitu berat. Maka dari itu Alda tidak memaksa hatinya agar benar-benar bisa melupakan Araga, tapi ia akan tetap berusaha agar terlepas dari bayang-bayang Araga.
"Apa kamu sekarang bahagia karena telah lepas dariku ? Jujur saja, aku masih merasa sakit yang begitu dalam jika mengingat perlakuanmu kepadaku, tapi rasa sakit itu belum bisa mengalahkan rasa cintaku terhadapmu. Terdengar bodoh memang, namun itulah kenyataannya" ucapnya kembali terisak.
Lama Alda terisak sambil menatap foto Araga akhirnya wanita itu tanpa sadar masuk ke alam mimpi akibat kelelahan menangis.
Sore harinya Alda yang baru saja mandi mendapatkan telpon dari Brian.
π"Lagi ngapain ?" Tanya Brian di seberang sana.
"Baru selesai mandi sore, terus mau keluar cari makan" jawab Alda sambil memilih-milih baju untuk dipakainya.
π"Oh iya, aku menghubungimu ingin mengatakan kalau bulan ini aku belum bisa menyusulmu kesana. Mamaku masuk rumah sakit, jadi aku harus tetap berada disini hingga keadaan Mamaku pulih" ucap Brian.
"Mamamu masuk rumah sakit ? Ya ampun, semoga lekas sembuh" ucap Alda, ia terkejut mendengar kabar mamanya Brian masuk rumah sakit, ia turut prihatin tapi ia hanya bisa mendoakan agar sang mama lekas sembuh.
__ADS_1
π"Iya, makanya aku belum bisa menyusulmu. Maaf karena membuatmu menunggu lama" sahut Brian yang merasa bersalah pada Alda.
"Tidak masalah, jangan pikirkan aku ! Fokuslah pada kesehatan Mamamu !" jawab Alda.
"Oh iya, jika kamu belum memiliki kepastian kapan kemari, mungkin sebaiknya aku mencari tempat tinggal sementara, jika aku menginap di hotel terus yang ada pemborosan. Aku juga berniat mencari pekerjaan agar aku bisa menghasilkan uang, maklumlah uangku mulai menipis" lanjut Alda sedikit terkekeh.
π"Ya bagaimana baiknya aja ! Aku tidak bisa melarang dirimu. Tapi setelah aku tiba disana, aku yang akan mencarikan tempat tinggal untukmu" jawab pria itu.
"Hm, baiklah. Oh ya, sampaikan salamku kepada Mamamu" ucap Alda.
π"Baik Nyonya ! Aku akan menyampaikan jika calon menantunya menitipkan salam" ucap ria itu terkekeh renyah.
Mata Alda membulat dengan sempurna mendengar ucapan Brian, ia merasa sedikit tidak nyaman mendengar hal itu. Ia sadar diri jika dirinya masih berstatus istri Araga walaupun sebentar lagi akan bercerai, namun tetap saja Alda merasa risih.
π"Aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius !" ucap pria itu.
"Ah, i-iya, tidak masalah. Kalau begitu sudah dulu ya ! Aku ingin mencari makan malam" ucap Alda segera menutup telponnya. Ia bernafas lega kerena Brian mengatakan dirinya hanya bercanda.
Alda segera mengganti pakaiannya lalu mengambil sling bag miliknya. Ia berjalan dengan langkah kaki yang santai karena waktu masih pukul lima sore. Ia sengaja keluar lebih cepat agar bisa ke taman kota. Setelah dari taman kota ia akan melanjutkan mencari makan malam untuknya. Seperti inilah kehidupan Alda sebulan terakhir di negara orang lain.
Sesampainya di taman kota, Alda mengedarkan pandangannya, ia melihat banyak anak kecil yang bermain bersama temannya, ada keluarga yang duduk sambil bersenda gurau, ada sepasang kekasih yang saling melempar perlakuan manis. Alda menarik bibirnya tersenyum tipis saat melihat sebuah keluarga kecil yang tampak harmonis. Seketika Alda membayangkan dirinya berada diposisi itu bersama Araga, hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Alda sibuk mendorong kereta bayi sementara Araga yang menggendong anak pertama mereka. Rasanya sungguh menyedihkan karena itu hanya sebuah khayalan.
__ADS_1
Alda menghirup nafas lebih dalam untuk menghilangkan sesak di dadanya. Ia kira dengan mengasingkan diri seperti ini maka ia dengan mudah melupakan Araga, namun ia salah karena hatinya terpaut rindu yang tak bertuan.
"Kamu pasti bisa Alda ! Plus buang jauh-jauh pria itu dari pikiranmu !" ucapnya mencoba mewaraskan pikirannya.
Setelah duduk hampir sejam, akhirnya Alda putuskan berjalan mencari tempat makan yang dekat. Tak butuh waktu lama hingga Alda menemukan restoran yang menurutnya bagus. Wanita itu masuk dan memilih tempat di lantai dua. Pilihannya jatuh pada tempat duduk yang berada di pojok ruangan dan tentunya dekat jendela. Menurut itu tempat yang nyaman untuk menyendiri.
"Permisi Miss, ingin pesan menu apa ?" tanya seorang waiters memberikan buku menu restoran.
Alda menerimanya dengan senyum ramah, setelah itu ia menimbang-nimbang makanan apa yang akan mengisi perutnya. Setelah memesan makanan Alda menatap keluar jendela, tampak jalanan sedikit padat dengan pejalan kaki. Puas menatap jalanan kini pandangan Alda menyapu bersih restoran ini, lantai dua tampak sepi daripada lantai satu. Pandangan Alda kemudian tidak sengaja bertemu dengan pandangan seorang pria yang ternyata sedang menatapnya dengan tajam.
Deg
'Pria itu ? Mengapa dia ada disini ? Ck... Tatapannya menyeramkan sekali' batin Alda.
Alda kemudian memutuskan tatapan mereka lalu pura-pura fokus pada handphone miliknya. Ia merasa sial bertemu kembali dengan pria yang membuatnya kesal tadi siang.
Sementara di meja lain, pria yang menatap Alda dengan tajam juga merasa sial karena bertemu dengan wanita yang ia pikir ingin menculik anaknya tadi siang.
'Semoga saja Cleo tidak melihat ke arah wanita itu' batin pria itu.
Kebetulan posisi Cleo menghadap sang Daddy otomatis tubuh anak laki-laki mungil itu membelakangi tempat Alda.
__ADS_1
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
duren sawit jangan menatap calon janda dengan tatapan seram dongπ€£