
Tiga hari berlalu, Alda sudah berada di apartemennya. Tadinya Anderson meminta Alda untuk ikut tinggal di kediaman Lui, tapi wanita itu terus menolak dan lebih memilih tinggal di apartemen miliknya.
"Atau kamu mau tinggal di rumah ku ? Aku memiliki rumah yang tidak pernah aku tempati. Daripada rumah itu kosong lebih baik kamu tinggal disana !" ucap Anderson masih membujuk Alda agar pindah dari apartemennya ini.
"Untuk sementara biarkan aku tinggal disini saja ! Lagian baby Terra masih kecil, mungkin aku akan berubah pikiran jika baby Terra sudah mulai aktif"
"Ya, terserah kamu saja. Kapanpun kamu mau pindah, aku akan membantumu"
"Terima kasih telah memberikan bantuan untukku dan keluargaku. Aku tidak tahu bagaimana lagi caranya aku membalas budimu"
"Tidak perlu merasa terbebani, jika kamu ingin membalas kebaikanku cukup menyambut diriku dengan senyuman manismu saat berkunjung" balas Anderson kembali menggoda Alda.
"Ck... Kamu ini bisa saja"
Setelah berbincang dengan Anderson Alda masuk ke kamarnya karena mendengar baby Terra menangis, sepertinya dia lapar. Sementara Anderson kembali ke perusahaannya setelah mengantar Alda dan baby Terra pulang.
...****************...
Araga mendatangi rumah Adnan dengan tujuan yang sama, ingin bertanya tentang keberadaan Alda.
"Tolong beritahu aku dimana Alda berada ! Aku hanya ingin meminta maaf padanya, aku tidak akan memaksanya untuk menerimaku kembali bersama ! Aku hanya ingin mendengarkan dirinya memaafkan kesalahanku" ucap Araga memohon.
Adnan melihat Araga memohon dan bersimpuh di depannya namun itu tidak membuat hatinya merasa kasihan dengan mantan adik iparnya itu.
"Tidak ada kesempatan bagimu untuk bertemu dengan Alda meski hanya untuk mengucapkan kata maaf saja !"
"Sebenci itukah kalian kepadaku hingga tidak membiarkan diriku bertemu dengan Alda ? Aku hanya ingin mendengar dari mulut Alda sendiri, entah jawabannya ia memaafkan ku atau tidak, yang jelas aku ingin meminta maaf secara langsung dengannya"
__ADS_1
"Ya sebenci itu keluarga Atmajaya padamu. Apa yang kamu lakukan terhadap wani yang kami jaga dengan baik itu telah membuat hati kami hancur. Dari awal memang diriku tidak pernah terima Alda menikah denganmu, mengingat betapa kasarnya mulutmu mengatakan Alda bukan wanita baik-baik hanya karena melihat satu sisi dari adikku. Namun aku tidak bisa mencegah Alda untuk tidak menikah denganmu karena adikku itu terlalu bodoh mencintai pria sepertimu dengan cinta yang besar."
Adnan menghela nafas sejenak mencoba menahan emosinya agar tidak kembali meledak.
"Tapi dirimu tidak tahu diri sekali, kamu telah diam-diam menikah siri namun tetap menikahi adikku. Meski begitu Alda masih berusaha menggapai cintamu, namun kamu justru menyakitinya bahkan tak hanya hatinya yang kamu sakiti melainkan hidupnya juga. Kamu menganggap Alda budak, menyiksa fisiknya. Kamu menganggap Alda layaknya musuh yang harus kamu singkirkan. Setelah Alda telah menyerah dan pergi dari hidupmu, kamu justru kembali memohon agar adikku kembali padamu. Ck... Buang jauh-jauh khayalanmu itu Araga. Adikku tidak sekuat itu untuk bertahan dengan suami seperti dirimu" lanjutnya.
Araga mematung, Araga menyadari jika dirinya memang telah begitu tega menyiksa Alda. Rasanya ucapan Adnan bagaikan tamparan untuk dirinya yang tidak tahu diri ini. Rasa bersalah dan penyesalan semakin besar di hati Araga. Ia terus mengumpat dirinya karena bersikap bodoh. Namun sesal tinggallah sesal, semuanya sudah terjadi. Mungkin ini adalah karma untuknya kerena telah menyia-nyiakan wanita yang begitu mencintai.
"Sekarang pergilah ! Dan jangan pernah muncul di hadapan ku !" ucap Adnan dengan tegas.
Araga akhirnya pergi dan kembali ke rumahnya. Dirinya terus mengingat bagaimana kejamnya ia menyakiti Alda, bahkan dirinya mulai bertanya-tanya, apakah dirinya pantas mendapatkan maaf dari Alda ?
"Jika memang aku dan kamu tidak ditakdirkan untuk kembali bersatu, aku akan coba mengikhlaskan dan berharap kamu menemukan kebahagiaan. Namun ijinkan aku meminta maaf padamu dan mengatakan semua penyesalanku agar rasa bersalah tidak terus-menerus menghantuiku ! Aku sungguh tersiksa dengan dosa yang telah aku perbuat terhadapmu"
Araga berbicara sambil menatap foto pernikahannya dengan Alda, dengan air mata yang tak hentinya keluar.
...****************...
Hubungannya dengan pria itu semakin lengket saja. Semua karena kehadiran baby Terra dan Cleo di tengah-tengah mereka. Alda maupun Anderson bagaikan seorang pasangan yang saling melengkapi. Kehadiran Anderson mampu menjadi sosok Daddy untuk Terra, begitupun sebaliknya, Alda mampu menjadi sosok pengganti Mommy bagi Cleo. Meskipun hubungan mereka belum ada kepastian namun hati keduanya sudah menyimpan perasaan satu sama lain.
"Kapan nih kalian nikah ?" goda Adnan membuat wajah Alda memerah.
"Kakak ngomong apa sih ?" ucap Alda menunduk.
"Kalian sudah cukup lengket dan terlihat serasi. Apalagi yang kalian tunggu ?" sambung Febby.
"Kalau aku tinggal nunggu Vanya kapan siapnya" balas Anderson menatap Alda yang tempak malu-malu.
__ADS_1
"Menikah perlu banyak pertimbangan. Aku takut salah mengambil langkah" ucap Alda.
"Kakak yakin Anderson adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak akan melakukan hal bodoh menyakiti wanita yang ia cintai" ucap Adnan meyakinkan Alda.
Alda terdiam, sebenarnya ia sudah memiliki perasaan untuk Anderson, namun masih ada keraguan dalam hatinya untuk melangkah lebih jauh bersama pria itu. Rasa takut akan kegagalan rumah tangga masih terus berputar-putar di kepalanya. Sama halnya dengan Alda, Anderson pun ikut terdiam. Ia tidak akan pernah memaksa Alda untuk segera menikah dengannya.
"Mommy.... Daddy.... Ayo kita mulai acaranya !" teriak Cleo menghampiri Alda.
Ya, Cleo memang memanggil Alda dengan sebutan Mommy sekarang. Semua berawal ketika Terra memanggil Anderson dengan sebutan Daddy karena mengikuti Cleo. Pada akhirnya Cleo juga meminta agar dirinya bisa menyebut Alda dengan sebutan Mommy, dan Alda juga setuju.
"Ah, Mommy lupa acaranya ternyata sudah mulai" ucap Alda.
Wanita itu segera menarik tangan Cleo dan berjalan meninggalkan Anderson serta sang kakak.
"Dia masih malu-malu, tapi aku yakin sebenarnya dia ingin menikah denganmu. Coba saja untuk terang-terangan memintanya untuk menikah denganmu ! Siapa tahu langsung keterima ?" ucap Adnan kepada Anderson.
Anderson tidak menjawab namun dalam hatinya membenarkan ucapan Adnan. Memang dirinya harus memulai untuk mengungkapkan perasaannya, siapa tahu Alda bersedia menjadi istrinya.
Anderson, Adnan dan Febby mulai berjalan ke taman belakang, dimana acara ulang tahun Terra dilaksanakan. Terra yang tadinya duduk di pangkuan Belinda kini berpindah ke pangkuan Alda. Acaranya cukup meriah dengan kehadiran kedua orang tua Alda, kedua orang Anderson, Adnan bersama Febby, Brian bersama Mery, dan Alex serta beberapa teman dokternya.
Mereka pun memulai acara dengan menyanyikan lagu ulang tahun, setelah itu lanjut pemotongan kue. Selesai acara utama, mereka mulai makan sambil mengobrol.
"Alda, Mama dan Papa akan ikut kakakmu pulang, apa kamu ingin ikut ?" tanya Mama Larissa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Up satu bab aja dulu ya🥺 Suami Sa lagi sakit🤧
__ADS_1