
"Akhir-akhir ini kamu terlihat kacau, sebenarnya apa masalahmu ? Apa Alda membuat ulah lagi ? Atau kamu merindukan pelukan hangat Febby ?"
Arman memberikan pertanyaan beruntun kepada Araga yang baru saja masuk ruangannya dengan wajah yang ditekuk. Sementara Araga hanya bisa menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar. Sudah hampir dua minggu Ia tidak menemukan jejak keberadaan Alda.
"Apa masalahmu kali ini berat ?" Arman mencoba bertanya sekali lagi, berharap Araga mau menjawabnya.
"Alda kabur" Araga menjawab dengan suara lemah.
Kabar tersebut tentu membuat Arman terkejut, Ia bukan terkejut karena Alda kabur dari Araga tapi Ia terkejut karena pria itu kacau saat ditinggal Alda. Bahkan kali ini Araga terlihat lebih parah daripada saat kehilangan Febby. Saat Febby menghilang Araga masih masuk perusahaan, tapi hampir dua Minggu ini Araga hanya muncul jika ada rapat penting, bahkan jika ada dokumen yang butuh tanda tangannya Arman lah yang membawanya ke rumah Araga.
"Lalu ?" Arman menatap Araga dengan menaikkan sebelah alisnya.
Araga menatap Arman dengan tatapan bingung.
"Lalu mengapa kamu terlihat kacau ? Bukannya bagus jika wanita itu pergi ? Kamu bisa hidup dengan wanita pilihanmu" Arman memperjelas pertanyaan karena melihat Araga bingung.
Araga memejamkan matanya dan mengatakan, "aku tidak tahu, aku merasa kehilangan wanita itu. Aku begitu bingung dengan perasaanku ini, saat menatap wajahnya rasa marahku dan kekecewaanku selalu muncul, tapi saat wanita itu sudah tidak ada entah mengapa rasanya sebagai hatiku kosong ?" Jelas Araga masih dengan mata terpejam.
Hatinya tiba-tiba berdenyut saat mengingat perlakuannya yang menyiksa semenjak mereka menikah, belum lagi ketika Ia mengingat Alda yang menangis saat Ia merenggut kesuciannya. Bahkan Araga mulai yakin jika Febby merokok di balkon karena merasa stress selalu disiksa oleh dirinya.
"Aku sepertinya merasa bersalah karena telah menyakitinya, terlebih lagi saat aku merenggut kesuciannya" lanjut Araga.
"Apa ? Kamu merenggut kesuciannya ? Alda masih perawan dan kamu yang pertama baginya ?" Sungguh Arman begitu terkejut dengan fakta yang Ia dapat tentang Alda. Jika dulu Araga membicarakan keseharian Alda yang hidup di luar negeri tentu Ia juga berpikir sama dengan pemikiran Araga yang menganggap Alda wanita liar.
"Hm, aku yang pertama baginya dan tenyata aku salah menilai wanita itu. Apa aku terlalu kejam telah menuduhnya yang tidak-tidak ? Bahkan menolak penjelasan darinya ?" Araga terlihat menyesali perbuatannya.
"Iya, kali ini aku tidak bisa membelamu. Ternyata selama ini kamu hanya melihat satu sisi wanita itu. Kamu juga ternyata egois karena masih menutup telinga untuk mendengarkan kebenaran dari kesalahan pahamam antara kalian. Aku pikir kamu sudah mendengarkan Alda mengatakan faktanya"
Kali ini Arman menyalahkan Araga, Ia tidak bisa membela pria itu lagi. Bahkan Arman juga merasa bersalah karena menilai buruk tentang Alda.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan ?" Araga tampak bingung harus melangkah kemana.
__ADS_1
"Kamu sama sekali tidak bisa menemukannya ? Apa kamu sudah mencoba melacak keberadaan Alda ?"
"Aku sudah melakukannya, tapi handphone Alda ketinggalan di rumah orang tuaku, saat itu aku menarik paksa Alda keluar dari rumah orang tuaku dan membawanya ke hotel dimana aku merenggut kesuciannya" jelas Araga.
Arman tampak menangkap sesuatu dan menatap Araga kesal, "ck... Kenapa kamu bodoh sekali hah ? Jika tidak bisa melacak setidaknya coba cek CCTV hotel tempatmu tinggal ! Mungkin saja kamu bisa mendapatkan petunjuk terkahir dari Alda" Arman berbicara dengan nada kesal.
"Aku tidak kepikiran sampai disana" ucapnya.
Tanpa pikir panjang Araga segera beranjak dari tempat duduknya, Ia ingin mengunjungi hotel tempatnya menginap dengan Alda. Sementara Arman hanya mengekor di belakang Araga.
...****************...
"Sudah siap ?" Tanya Brian saat mereka masuk mobil.
"Siap" jawab Alda. Walau terasa berat namun wanita itu yakin ini adalah pilihan yang baik, mengasingkan diri di negara orang tanpa adanya orang terdekat yang tahu bahkan keluarganya sekalipun.
"Jika sampai disana jangan lupa untuk mengabari aku !" Sambil menyetir Brian memberikan pesan kepada Alda.
"Alda, tolong berusaha untuk melupakan semua hal yang pahit yang pernah kamu alami dengannya ! Jangan ulangi untuk menjadi wanita bodoh yang membelenggu cintanya sendiri pada hati yang sudah mati untukmu ! Suatu saat kamu bisa menemukan pria yang lebih baik dan bisa membuatmu menjadi ratu di hatinya."
Jika boleh jujur, Brian tidak ingin melepaskan Alda hidup sendirian di negara asing. Maka dari itu sebisa mungkin Brian menyelesaikan semua pekerjaannya di rumah sakit tempatnya bekerja sekarang dan segera meminta surat pindah kerja. Ia ingin menemani Alda dan menghibur wanita itu di saat merasa sedih. Ia ingin menjadi orang yang selalu ada disaat Alda butuh sandaran.
"Akan aku usahakan. Tapi aku tidak tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan" jawab Alda.
Brian dan Alda sama-sama kembali terdiam. Alda mencoba menikmati perjalanannya dan menatap jalanan yang sedikit macet.
...****************...
Saat ini Araga berada di ruang pemeriksaan CCTV, tampak pria itu tidak sabar ingin mendapatkan jejak terakhir dari Alda.
"Rekamannya sudah ketemu Tuan" ucap seorang pengamat CCTV.
__ADS_1
Araga melihat ke monitor dan memang benar wanita itu adalah Alda. Alda berjalan di lobby dengan langkah yang sedikit kesulitan, Araga paham jika wanita itu sedang menahan kesakitan.
"Brian" ucap Arman saat melihat pria yang berjas putih menahan lengang Alda.
Mata Araga membulat dengan sempurna karena merasa terkejut. Terlebih lagi saat melihat Alda menggenggam kedua tangan Brian dengan wajah yang terlihat memohon bantuan.
"Mereka terlihat cukup dekat, tapi sejak kapan Alda mengenal Brian ?" Tanya Arman keheranan.
Tanpa niat menjawab pertanyaan Arman, Araga segera berlari keluar dari ruangan pemeriksaan CCTV. Ia tidak menyangka jika Brian mengetahui keberadaan Alda, padahal pria itu baru saja berkunjung ke rumahnya empat hari yang lalu.
"Sial, ternyata dia pura-pura tidak tahu"
Tangan Araga mengepal karena emosi mengetahui ternyata Brian tahu dimana Alda berada, bahkan Araga berpikir jika pria itu juga ikut andil menyembunyikan keberadaan Alda.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit dengan kecepatan tinggi, Araga kini sampai di apartemen Brian. Pria itu terus mengetuk pintu namun tak ada tanda-tanda seseorang akan membuahkan pintu untuknya.
"Brian keluar kamu !" Teriaknya namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam sana.
Tak lama Arman yang menyusul dari belakang juga tiba.
"Gimana, Brian ada di dalam ?" Tanya Arman.
"Mana aku tahu, tapi sepertinya tidak ada orang disini" jawab Araga.
"Lalu dimana Brian sekarang ?" Tanya Arman bingung.
Keduanya kembali terdiam hingga Araga kembali membuka suara.
"Sebaiknya kamu mencari Brian di rumahnya dan aku akan ke rumah sakit !"
Arman mengangguk setelah mendapat perintah dari Araga. Mereka kembali mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...