Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Kehidupan Araga


__ADS_3

Alda menatap semua perlengkapan bayi yang kini berada di dalam apartemennya. Seketika tempat tinggalnya yang sederhana itu terlihat sempit dengan adanya barang-barang tersebut. Alda lalu menatap Anderson yang kembali berbincang-bincang dengan sang kakak.


"Huft... Kenapa Tuan membeli semua ini untukku ?" tanyanya.


Alda sebenarnya merasa aneh dengan Anderson sejak mereka jalan-jalan hari Minggu kemarin. Ini jelas-jelas bukan Anderson yang ia kenal.


"Bukan aku tapi Cleo, kamu juga belum membeli perlengkapan bayi bukan ? Saat Cleo memintanya kepadaku aku langsung mengiyakannya" jawabnya dengan lembut namun terdengar mengerikan di telinga Alda.


Tak mau memperpanjang masalah, Alda memilih pura-pura percaya. Mana mungkin anak seusia Cleo tahu tentang hal semacam ini, rasanya masih terlalu dini untuk pemikiran Cleo.


"Jangan lupa berterima kasih dengan Tuan Anderson !" perintah sang Mama.


"Terima kasih"


Anderson tersenyum hangat saat mendengar ucapan terima kasih dari Alda, "Sama-sama" jawabnya.


"Oh iya, ini sudah waktunya makan siang" ucap Papa Atmajaya.


"Tapi Alda nggak nyiapin apa-apa. Kita makan di luar saja gimana ?"


"Iya kita makan di luar saja. Kamu tunjukkan restoran terbaik disini !" ucap Mama Larissa setuju.


"Bagaimana kalau kita makan di rumah saya ?" tawar Anderson secara tiba-tiba.


Bola mata Alda membulat dengan sempurna. Ia tentu tidak setuju dengan penawaran Anderson. Ada banyak alasan membuatnya tidak bisa setuju untuk maka di kediaman Lui.


"Tidak apa-apa Tuan, kita makan di restoran saja" tolak Alda.


Anderson tahu jika wanita itu akan menolak, ia hanya tersenyum dan tidak ingin memaksa wanita Alda. Akhirnya mereka jadi makan siang di restoran.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit akhirnya mereka sampai di restoran. Mereka kembali berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan menu makanan yang mereka pesan.


"Berapa lama kalian tinggal disini ?" tanya Alda.


"Rencananya kami hanya satu pekan, namun melihat kondisimu sedang hamil sepertinya Mama dan Papa akan tinggal lebih lama lagi" jawab Papa Atmajaya.


"Lalu pekerjaan Papa bagaimana ?"


"Kan ada kakak kamu yang bisa membantu Papa mengontrolnya"


"Ya, tenang saja ! Kakakmu ini bisa diandalkan" jawab Adnan dengan bangga.


"Kami tidak mungkin meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini sayang. Kami juga ingin jadi Opah dan Omah yang siap siaga untuk menjaga cucu kami" sambung Mama Larissa.


"Alda sebenarnya senang jika Mama dan Papa tinggal disini. Tapi Alda nggak mau ngerepotin kalian, Alda merasa bisa kok menjaga diri" ucap Alda merasa tidak enak.


"Kami adalah orang tua kamu, nggak mungkin Mama dan Papa merasa direpotkan. Kami justru senang untuk membantu kamu merawat cucu kami" jawab Mama Larissa.


Diam-diam Anderson menatap Alda, ada pertanyaan besar dalam benak pria itu. Ia penasaran mengapa Alda bisa bercerai dengan suaminya hingga mengasingkan diri di negara ini, ia ingin tahu sedalam mana luka masa lalu Alda bersama mantan suaminya dan ingin menjadi pria yang mengobati lukanya.


Alda yang tak sengaja melihat ke arah Anderson tiba-tiba tatapan mereka bertemu, Anderson yang ditatap melempar senyum manisnya. Keduanya larut dalam pesona masing-masing. Alda baru menyadari jika pria itu ternyata sangat tampan jika sedang tersenyum seperti itu.


'Astaga Alda, mikirin apa sih kamu ?' batinnya. Dengan cepat Alda memutuskan tatapannya dari pria itu dan kembali menikmati makanannya.


Setelah selesai acara makan siang, mereka berpisah di restoran. Alda dan kedua orangtuanya kembali ke apartemen, Adnan dan Brian menuju hotel yang sudah mereka pesan bersama istri mereka, Anderson dan Cleo juga ijin pulang ke perusahaan.


...****************...


Berbeda dengan Alda yang sedang melepas rindu dengan keluarganya. Seorang pria tampak menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor. Wajahnya yang tampan dan halus kini telah berubah menjadi kusam dan ditumbuhi banyak bulu halus, badan yang dulu tegap dan gagah kini terlihat kurus.

__ADS_1


Araga menjalani hidupnya dengan sulit setelah ditinggalkan oleh Alda. Ia seolah enggan hidup tanpa didampingi oleh wanita itu. Arah baru sadar jika memang masih ada cinta yang tersisa untuk wanita itu, namun dirinya terlalu bodoh untuk menyadari semuanya.


Rasa penyesalan, bersalah, sakit, marah, dan sedih bersatu di dalam hati Araga. Ia selalu meminta kepada Tuhan agar waktu bisa diputar kembali, meskipun itu mustahil. Arah benar-benar ingin menebus kesalahannya di masa lalu, Araga ingin memperlakukan Alda layaknya seorang ratu bukan seorang budak yang sering ia siksa.


Setalah terpuruk dan putus asa menjalani hidup selama lima bulan, Araga kembali memutuskan untuk bangkit dan kembali menjalani aktivitasnya sebagai direktur empat bulan terakhir ini. Dengan bantuan dan dukungan dari sang Mami yang selalu meyakinkan Araga jika dirinya bisa membawa Alda kembali. Hanya Mami Evelin yang berada di sisinya kala ia terpuruk, sementara Papi Argantara masih bersikap acuh tak acuh dengannya.


"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan Alda ?" tanya Araga dengan tatapan masih fokus pada layar laptopnya.


"Belum, tapi-"


"Ck... Kemampuanmu sungguh payah. Untuk mencari tahu dimana keberadaan Alda saja kamu sungguh tidak becus" potongnya dengan ketus.


Arman mengelus dadanya mencoba menahan diri agar tidak terpancing emosi. Beberapa bulan ini hubungan persahabatannya dengan Araga memang sedang tidak baik-baik saja. Namun Arman masih mempunyai hati yang baik untuk tetap berada di dekat sahabatnya itu.


"Jika aku sedang bicara, jangan sekali-kali memotongnya. Aku memang tidak becus dalam mencari keberadaan Alda, namun saat ini hanya aku yang bisa kamu andalkan" ucapnya.


Araga tidak menanggapi ucapan Arman, ia tetap menyibukkan tangannya menari di atas keyboard. Lagi-lagi Arman menghela nafas melihat sahabatnya itu.


"Aku memang belum menemukan Alda, tapi aku dapat informasi jika keluarga Atmajaya dan Brian berangkat ke luar negri. Aku yakin negara yang mereka kunjungi adalah tempat Alda mengasingkan diri"


Ucapan Arman membuat Araga menghentikan aktifitasnya. Tanpa pikir panjang pria itu berdiri dan meminta Arman memesan tiket untuk menyusul keluarga mantan istrinya itu.


"Tapi Araga, bagaimana dengan pekerjaan kita ? Aku tidak ingin Papimu-"


"Kalau begitu kamu tidak perlu ikut dan urus saja pekerjaan disini ! Aku ingin menjemput Alda" ucapnya tanpa menghiraukan ucapan Arman.


Ia segera meninggalkan perusahaan dan kembali ke rumahnya untuk mengambil beberapa pakaian. Araga sangat tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang telah ia sia-siakan, ia akan berlutut dan memohon maaf kepada istrinya. Tanpa sadar Araga menjatuhkan air matanya dan memegangi dadanya yang terasa nyeri. Seketika potong masa lalu dimana dirinya menyakiti dan menyiksa Alda berputar-putar di kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Nanti malam Sa up lagi ya😁❤️


__ADS_2