
"Berapa yang kamu pinta ?" Tanya seorang pria bermata elang menatap Renata dengan wajah datar.
"Seratus juta" jawab Renata sambil menunduk, kedua tangannya sibuk bertautan saling meremas.
"Hanya segitu ?" Pria itu mengangkat alisnya masih menatap Renata dengan tatapan elangnya.
Dalam keadaan masih menunduk Renata menganggukkan kepalanya. Dalam hati Renata berharap semoga pria itu mau membayar rahimnya dengan harga yang ia sebutkan tadi. Renata merasa uang itu sudah bisa membayar uang operasi anaknya serta sisanya bisa ia gunakan untuk memulai usaha agar ia bisa membiayai hidup mereka.
"Baiklah ! Aku akan membayarmu setelah kamu berhasil mengandung bayiku, jika kamu memberiku seorang anak laki-laki maka aku akan menambah bayaranmu" jelas pria tersebut.
Renata yang tadinya menunduk segera mengangkat kepalanya. Seketika pandangannya bertemu dengan tatapan pria yang akan menitip benih dalam rahimnya. Namun karena tidak tahan melihat tatapan tajam pria itu akhirnya Renata kembali menunduk. Tangannya kini meremas roknya dengan kuat.
"Tu-tuan bisakah anda memberikan saya setengah dari bayaranku ? Aku sangat membutuhkan uang itu" ucapnya dengan suara terbata.
"Ku pikir kamu tidak matre karena hanya meminta bayaran sedikit, tapi dugaanku salah, kamu sama saja dengan ****** di luaran sana"
Hati Renata seperti tersayat mendengar penghinaan dari pria itu, tapi Ia tidak ingin mempedulikan perkataan tersebut. Untuk sekarang uang sangat penting untuknya.
"Itu hak Tuan menganggap saya seperti apa, tapi bisakah Tuan memberikan lima puluh juta untukku hari ini ? Aku sangat membutuhkan uang itu"
Renata tidak peduli apa yang pria itu pikirkan tentangnya, ia rela menjatuhkan harga dirinya demi pengobatan putranya. Renata sangat menyayangi putranya karena hanya dia yang Renata miliki.
"Ternyata kamu cukup tebal muka. Tapi tidak masalah, aku akan memberikan uang itu untukmu asalkan kamu mau tanda tangan disini !"
Pria itu mengeluarkan map yang berisi surat perjanjian kontrak yang dimana isinya terdapat pernyataan, jika anak itu lahir maka Renata harus pergi yang jauh tanpa membawa anak yang ia lahirkan.
Tanpa pikir panjang Renata segera menggoreskan tinta di atas materai. Renata merasa senang karena akhirnya ia bisa mendapatkan uang untuk biaya obat sang putra.
"Ambil uang ini !" Pria tersebut memberikan uang lima puluh juta kepada Renata dengan cara melemparkan uang itu, "Malam ini aku akan menemui dirimu di rumah sakit, jadi sekarang kamu bisa pergi !" Ucap pria tersebut setelah Renata menanda tangani surat perjanjian tersebut.
"Baik Tuan, terima kasih" ucap Renata segera mengambil uang tersebut. Renata memasukkan uang itu ke dalam kantong kresek hitam dengan senyum merekah.
'Aku harus berterima kasih dengan dokter Vero karena dia yang memberikan penawaran ini padaku'
Renata meninggalkan perusahan milik pria itu dengan langkah kaki yang lebar. Ia harus segera sampai di rumah sakit agar bisa membayar biaya rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit Renata menemui dokter yang menangani anaknya, dokter itu tak lain adalah dokter Vero yang telah mempertemukannya dengan pria yang akan membayar rahimnya tadi.
"Terima kasih dokter, berkat dokter saya bisa mendapatkan biaya pengobatan untuk Key" ucap Renata tersenyum tulus pada dokter Vero.
__ADS_1
"Tak perlu berterima kasih ! Aku tidak melakukan apa-apa untuk kalian, tapi kamu lah yang melakukan pengorbanan untuk biaya pengobatan putramu" ucap Vero yang merasa tidak pantas mendapatkan ucapan terima kasih dari Renata.
Sebenarnya Vero merasa bersalah dan kasihan pada Renata. Karena usulannya itu Renata tidak berpikir jernih untuk manjadi wanita bayaran yang akan mengandung dan melahirkan seorang anak untuk sahabatnya.
"Besok putramu sudah bisa melakukan operasi" lanjut Vero membuat senyum Renata semakin mengembang.
Sebisa mungkin Renata menahan air matanya agar tidak terjatuh. Wanita itu menggigit bibir bawahnya dan mengangguk sebagai jawaban untuk ucapan Vero.
"Kalau begitu saya pamit Dok" ucap Renata.
Wanita itu kini berada di ruangan tempat dimana putranya di rawat. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini terjun bebas. Ia terisak melihat putranya yang masih tak sadarkan diri.
Putranya yang berusia empat tahun itu terkana penyakit Neuroblastoma, penyakit ini merupakan penyakit kanker yang menyerang jaringan syaraf pada anak yang berumur lima tahun ke bawah. Kanker langkah ini juga begitu cepat menyebar ke organ lain, seperti kelenjar getah bening, sumsum tulang, hati, kulit dan tulang.
Awalnya Keyaan merasakan nyeri di bagian perutnya disertai demam tinggi. Renata yang melihat putranya merintih kesakitan segera membawa putranya berobat. Renata pikir putranya hanya terkena penyakit perut biasa, tapi penjelasan dokter membuat Renata syok. Untungnya Renata cepat membawanya ke rumah sakit sehingga bisa mendapatkan penanganan dari dokter. Penyakit Keyaan juga masih stadium awal, jadi kemungkinan untuk sembuh masih besar.
"Kamu yang sabar ya sayang ! Besok kamu bisa menjalani operasi dan terlepas dari penyakit ganas ini" ucap Renata di sela isakannya.
Tangannya terus menggenggam tangan putranya. Renata yang kelelahan mulai menyandarkan kepalanya di ranjang dan dengan mudah tertidur dalam posisi duduk.
.
Malam harinya pria itu sudah berada di rumah sakit tepatnya di ruangan Vero.
"Aku sudah mengatakannya padamu jika wanita itu seorang janda anak satu yang sedang butuh uang karena putranya terkena penyakit ganas. Renata harus segera membayar biaya rumah sakit agar putranya bisa dioperasi dengan cepat sebelum penyakitnya semakin parah dan menyebar" jelas Vero.
Pria yang berusia 38 tahun itu terdiam. Pria itu merupakan seorang duda yang menginginkan seorang anak tapi tidak ingin terikat pernikahan. Pernikahannya yang gagal membuatnya tidak ingin terikat janji suci lagi dengan seorang wanita.
"Kamu yakin tidak ingin menikah saja ? Aku merasa pilihanmu saat ini sangatlah konyol. Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang ? Anak itu akan kehilangan kasih sayang seorang ibu jika kamu meminta Renata pergi setelah melahirkan bayi kalian"
Vero merasa sedikit bingung dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Vero tahu jika pria itu pernah terluka sehingga membuatnya menutup hati untuk menikah dengan wanita manapun. Tapi bukan berarti sahabatnya itu harus melakukan hal kejam memisahkan seorang ibu dengan bayinya.
"Itu bayiku, aku hanya menitip di rahim wanita itu. Jika masalah kasih sayang seorang ibu itu tidak diperlukan karena aku bisa memberikan kasih sayang yang besar untuk bayiku nanti" balas pria itu.
"Iya, terserah kamu saja" Vero hanya pasrah saja. Lagipula ia tidak bisa ikut campur terlalu jauh dalam kehidupan sahabatnya itu.
"Panggil wanita itu ! Aku ingin menyelesaikannya cepat" perintah pria tersebut.
.
__ADS_1
Renata mengekor di belakang Vero. Jantungnya berdetak kencang memikirkan berbagai hal.
'Apa sebentar lagi aku dan pria itu melakukan hal itu ?'
Renata bergidik ngeri saat membayangkan bercinta dengan pria yang tidak Ia kenal, bahkan baru bertemu tadi siang.
"Masuklah !" Ucap Vero membuat Renata tersentak.
"Hah ? Dokter tadi bilang apa ?" Tanyanya karena tidak mendengar ucapan Vero tadi.
"Aku bilang masuklah ! Dia sudah menunggumu di dalam" jelas Vero.
Renata sontak membulatkan matanya mendengar ucapan Vero. Pria itu mengunggu di dalam, apa mereka akan melakukannya di dalam ? Jelas-jelas ini rumah sakit, mana mungkin ia mau melakukan hal tersebut dengan pria itu, pikir Renata.
"Cepatlah ! Tunggu apa lagi ?" Vero sedikit gemas dengan Renata yang masih berdiri di luar.
Renata melangkah dengan ragu, apa ia harus mengikuti permintaan pria itu bercinta di tempat umum seperti ini ? Apa itu tidak terdengar gila ?
Saat berhasil masuk ruangan pandangan Renata bertemu dengan tatapan pria itu, tak lama kemudian Renata melirik seorang dokter yang duduk di hadapan pria itu.
"Silahkan duduk mbak !" pinta sang Dokter dengan ramah.
Renata membalas senyum sang dokter lalu duduk di samping pria yang akan menitipkan benih di rahimnya.
"Dokter bisa menjelaskan kembali prosedur yang harus kita jalani untuk melakukan proses Inseminasi Intrauterine !" Seru pria tersebut.
Renata yang bingung dengan ucapan pria disampingnya hanya bisa terdiam sambil menunggu penjelasan sang dokter.
"Baik saja jelaskan terlebih dahulu apa itu Inseminasi Intrauterine, jadi Inseminasi buatan atau Intrauterine Insemination (IUI) merupakan alternatif program hamil dengan cara menaruh ****** di dalam rahim wanita untuk membantu proses pembuahan. Jadi tidak perlu berhubungan badan." Jelas sang dokter.
Renata mendengar dengan baik ucap dokter tersebut, yang dapat ia tangkap adalah dirinya bisa hamil tanpa berhubungan badan dengan pria itu melalui jalan alternatif program hamil IUI. Renata bisa mengartikan penjelasan sang dokter jika pria itu menginginkan anak darinya tapi tanpa proses berhubungan badan. Wanita itu sedikit merasa lega karena tidak perlu melakukan hal seperti itu dengan pria yang tidak Ia kenal.
"Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan, tentunya yang pertama memeriksa kesehatan atau kesuburan sebelum melakukan Inseminasi pembuahan. Langkah kedua, stimulasi ovarium, jadi saya akan memberikan obat subur dan memeriksa kondisi anda secara rutin melalui ultrasound dan tes darah. Langkah ketiga, mempersiapkan ******, tentunya ****** harus sehat, dan langkah terkahir melakukan Inseminasi pembuahan. Sebenarnya jika ingin dijelaskan secara detail membutuhkan waktu yang sedikit panjang" lanjut sang dokter.
"Tak perlu menjelaskan dengan detail ! Itu saja sudah cukup" balas pria tersebut.
"Jadi besok sudah siapa melakukan prosedur IUI ?" Tanya sang dokter.
"Em... Bisa ditunda hingga lusa ? Besok putraku menjalani operasi" ucap Renata meminta mengulur waktu sehari saja.
__ADS_1
Cuss langsung cari Judulnya "Terpaksa Mengandung Anak Sang Duda" 🥰