Istri Sah Rasa Istri Siri

Istri Sah Rasa Istri Siri
Pukulan Untuk Araga


__ADS_3

Deg


Jantung Araga seolah berhenti berdetak saat mengetahui Alda ingin bercerai dengannya. Apakah Ia bisa berharap ini mimpi ?, Pakai Ia mengatakan jika Ia merasa menyesal meskipun belum tahu pasti bagaimana perasaannya terhadap Alda saat ini ?


'Apa ini karma untukku ?' batinnya seolah menyesali perbuatannya.


...****************...


Seminggu berlalu Adnan menemui Brian untuk menanyakan dimana keberadaan Alda. Pria itu tahu jika Brian yang membantu Alda bersembunyi dari Araga dari adik iparnya itu sendiri. Tapi Ia belum tahu sama sekali apa penyebab Alda menjauh dari Araga dan meminta cerai pada pria itu, padahal Alda tipe wanita yang tidak mudah menyerah sebelum mendapatkan apa yang Ia mau.


"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya. Aku sudah berjanji kepada Alda untuk tidak mengatakan tempat tinggalnya kepada siapa-siapa" jawab Brian. Ia tidak ingin mengingkari janjinya dan membuat Alda kecewa kepadanya.


"Aku kakaknya, Alda pasti mengerti jika kamu mengatakannya kepadaku" ucap Adnan berusaha memohon agar Brian mau mengatakan dimana adiknya berada.


"Sekali lagi maaf aku tidak bisa. Jujur saja, Alda mengatakan jika Ia merasa kecewa saat tahu kamu akan menikahi Febby yang jelas-jelas menjadi istri siri Araga"


Adnan kembali merasa bersalah dengan sang adik. Namu Ia tidak bisa melepaskan Febby lagi, mereka sudah saling menyimpan perasaan yang sama. Meskipun Adnan sempat kecewa dengan kenyataan yang disimpan Febby tapi Ia tidak peduli dengan masa lalu wanita itu.


"Saran ku, sebaiknya biarkan Alda mengasingkan diri jauh dari orang-orang yang terlah membuatnya terluka, biar dia menyembuhkan luka hatinya dulu setelah itu kalian bebas menemuinya dan meminta maaf padanya !" Lanjut Brian.


"Tapi apakah dia akan baik-baik saja ?" Adnan khawatir Alda tidak bisa hidup sendiri dengan baik.


"Tenang saja ! Aku bisa menjamin Alda baik-baik saja. Jangan terlalu menyepelekannya karena Alda adalah wanita yang kuat" Brian berusaha meyakinkan Adnan jika Alda akan baik-baik saja.


"Aku percayakan Alda padamu" Adnan menatap Brian dengan tatapan penuh harapan. Tidak ada lagi yang bisa Ia harapkan menjaga Alda selain Brian saat ini.


"Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya, apakah kamu tetap menikahi Febby ?"


Adnan mengangguk dengan yakin, "mungkin aku terlihat egois kerena menikahi wanita yang pernah menjadi saingan adikku bahkan wanita itu pernah berbagi suami dengan Alda. Tapi perasaanku terhadap Febby sudah cukup dalam terlebih lagi Febby sedang mengandung anak dariku"


Sebenarnya Adnan merasa bimbang antara melanjutkan pernikahannya dengan Febby atau melepaskannya demi sang adik. Itu sebabnya Ia menunda pernikahannya dengan Febby sebelum menemui Alda kembali terlebih Febby masih berstatus istri Araga meski hanya istri siri.


"Perasaan memang sulit ditebak, kadang orang yang kita benci bisa dengan mudah mengambil hati kita dan menumbuhkan perasaan cinta. Itu hak kamu untuk memilih pasangan hidupmu, meskipun harus melawan banyaknya penolakan dari orang terdekat kita. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu"


Brian mengerti perasaan Adnan saat ini pasti sangat sulit untuk memilih kemana arahnya untuk melangkah.

__ADS_1


"Terima kasih atas doanya dan terima kasih telah membantu Alda menjauh dari Araga" ucap Adnan tulus, "Tapi sebelum aku kembali bisakah aku mengetahui apa penyebab Alda menyerah mempertahankan rumah tangganya ? Aku sangat tahu adikku itu sangat keras kepala dan akan bersikap bodoh karena cinta"


"Apa Araga tidak menjelaskannya padamu ?"


"Tentu saja pria itu tidak akan mau membuka suara, untuk menemuinya saja aku sampai butuh waktu berhari-hari baru bisa bertemu dengannya"


Brian mengangguk lalu menjelaskan semua masalah yang dialami oleh Alda selama menikah dengan Araga. Dada Adnan terasa sesak mendengar sang adik hidup menderita dalam rumah tangganya.


"Pantas saja Ia begitu sulit menerima Febby menjadi kakak iparnya" ucapnya.


...****************...


Malam harinya Araga baru saja tiba di rumahnya tiba-tiba mendapatkan hadiah berupa pukulan bertubi-tubi dari Adnan. Papa Atmajaya dan Papi Argantara hanya bisa diam melihat Adnan memukul Araga membabi-buta. Sementara Mami Evelin dan Mama Larissa hanya bisa menangis saling berpelukan.


"Bajingan kamu Araga !!!" Teriak Adnan masih memberikan pelajaran untuk adik iparnya itu.


Araga yang mendapatkan serangan mendadak itu tidak bisa mengelak pukulan dari Adnan, Ia juga tidak berusaha melawan karena Ia tahu dirinya memang salah.


Darah segar mengalir dari ujung bibir Araga dan lubang hidungnya namun Adnan masih belum puas memberikan pelajaran untuk Araga.


"Adnan hentikan sayang, kamu bisa membunuhnya" ucap Mama Larissa di sela isakan tangisnya.


"Memang itu yang aku inginkan, seharusnya pria seperti ini dikirim ke neraka saja. Tidak ada gunanya Ia hidup di dunia" ucap Adnan yang enggang menghentikan aksinya memukul Araga.


Mau tak mau Papi Argantara menarik Adnan, meski Ia merasa emosi juga dengan kelakuan putranya tapi Ia juga tidak tega melihat putranya dipukuli hingga bonyok seperti itu.


"Hentikan Adnan, Om mohon !"


Dengan penuh keterpaksaan Adnan menghentikan aksinya. Ia melihat wajah Araga mulai memar dan beberapa bagian wajahnya mengeluarkan darah.


Papi Argantara mencoba membantu Araga bangkit dan menuntunnya ke sofa. Setelah Araga duduk, Papa Atmajaya meminta Mama Larissa membawa Mami Evelin ke kamar, mereka tidak ingin penyakit jantung Mami Evelin kambuh.


"Araga, kamu benar-benar membuat Papi malu dan kecewa" pekik Papi Argantara.


"Kenapa kamu menjadi pria yang begitu biadab Araga, hah ? Apa pernah Papi mengajari kamu untuk menyakiti hati seorang wanita apalagi seorang istri ?" Kali ini Papi Argantara meninggikan intonasi suaranya.

__ADS_1


"Dimana letak otakmu berada, hah ?" Lanjut pria paruh baya itu.


Araga hanya bisa diam, Ia benar-benar tahu kesalahannya, Ia tidak bisa membela diri.


Papa Atmajaya yang tadinya diam kini ikut membuka suara, tapi ucapan Papa Atmajaya berhasil membuat Araga syok.


"Ceraikan putriku !"


Dua kata itu mampu membuat jantung Araga seperti berhenti berdetak.


"Seharusnya dari dulu kamu bisa melakukannya, ketika kamu tidak bisa mencintainya harusnya kamu mengembalikan putri Papa secara baik-baik, bukan malah menyiksanya ! Aku membesarkan putriku dengan penuh kasih sayang, kami selalu memanjakan putri kami dan bahkan tidak pernah membentaknya sama sekali. Tapi kamu malah dengan teganya menyakiti hati dan fisiknya. Kamu benar-benar membuat hati papa ikut hancur Araga"


Papa Atmajaya melanjutkan ucapannya dengan suara bergetar. Ia tidak menyangka putrinya yang Ia besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang justru diperlukan tidak baik oleh seorang pria yang seharusnya melindungi Alda sebagaimana seorang Suami melindungi istrinya.


Araga menggeleng pelan, "A-aku minta maaf pa ! Aku tahu kalau aku memang bersalah, tapi Araga mohon untuk diberikan kesempatan kedua. Araga ingin memperbaiki semuanya, Araga tidak ingin menceraikan Alda" ucapnya memohon.


"Untuk apa kamu meminta kesempatan kedua jika kamu saja tidak mengerti bagaimana perasaanmu terhadap adikku ? Alda juga sudah pergi jauh, bahkan kami saja tidak dapat bertemu dengannya, semua karena ulahmu yang seperti iblis" balas Adnan ketus.


"Kemarin adalah kesempatan keduamu untuk memperbaiki hubungan dengan Alda, tapi kamu malah menyia-nyiakan kesempatan itu Araga. Seharusnya saat itu kamu mau mendengarkan penjelasan adikku. Tapi kamu terlalu egois sehingga selalu menutup telinga" lanjutnya.


Araga termenung, ya seharusnya saat awal-awal pernikahan dirinya mau mendengarkan penjelasan Alda dan memulai suatu hubungan yang baik. Ia menyesal telah melakukan hal bodoh hingga membuatnya kehilangan Alda untuk yang kedua kalinya.


"Papa tidak bisa memaafkan kesalahan kamu, hati papa sangat sakit karena perlakuan kamu terhadap putri papa. Jadi papa mohon agar kamu menceraikan Alda sekarang juga !" Tegas Papa Atmajaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


ijin promo karya sebelah



jangan lupa mampir ya🙏🥰


judul : Terpaksa Mengandung Anak Sang Duda


napen : Queen SaE Moon

__ADS_1


__ADS_2