
"Kamu tinggal di dekat sini ?" tanya pria itu membuka obrolan setelah cukup lama saling mendiamkan.
"Iya Dok" jawab Alda sedikit canggung.
"Tidak perlu formal seperti itu ! Panggil namaku saja Alexander, panggil Alex terdengar lebih Akrab" ucap pria itu.
Dia adalah Alexander Lui, dokter Obgyn yang memeriksa kandungan Alda. Pria itu merupakan anak bungsu keluarga Lui, adik dari Anderson.
"B-baik Alex" jawab Alda sedikit canggung.
Alda tidak tahu jika Alex merupakan Uncle dari Cleo, yang ia tahu jika Alex adalah seorang dokter Obgyn terbaik di rumah sakit Lui sekaligus anak dari pemilik rumah sakit tersebut. Makanya Alda merasa canggung dan sedang jika bertemu dengan Alex.
"Bagaimana, apa masih ada keluhan morning sickness atau keluhan lainnya ?" tanya Alex.
"Tidak ada, sekarang aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Hanya masih sering ngidam makan sesuatu" jawab Alda sedikit terkekeh.
"Ngidam bagi ibu hamil itu biasa, yang tidak biasa itu kalau Daddy-nya yang ngidam" balas Alex mencoba bercanda.
Alda hanya tertawa hambar, jika pun Araga bisa merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan maka ia ingin hal itu terjadi pada pria itu. Hitung-hitung sebagai pelajaran telah menyia-nyiakan dirinya.
"Kamu sudah pesan makan ?"
"Sudah, sepertinya sebentar lagi datang. Kamu sendiri sudah pesan ?"
"Aku sebenarnya ingin pulang, tapi melihat keadaan di luar sedang hujan jadi aku memutuskan untuk tetap tinggal beberapa saat. Dan tanpa sengaja aku melihat dirimu duduk sendiri, jadi aku mencoba menghampirimu"
Alda mengangguk paham dengan ucapan Alex, mereka berdua kembali berbincang-bincang seputar kehamilan. Alda bertanya apa saja tanda-tanda jika mengalami kontraksi saat ingin melahirkan, dan makanan apa yang baik agar asi bisa lancar keluar, dan masih banyak lagi yang ditanyakan wanita itu kepada Alex. Alda mulai merasa santai berbicara dengan Alex yang ternyata begitu humble.
"Sepertinya hujannya mulai redah, mau ikut pulang denganku ?" tawar Alex.
Alda menggeleng, "terima kasih, mungkin lain kali saja" jawabnya menolak ajakan Alex.
"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya. Kamu hati-hati saat di jalan !"
Alex pamit pada Alda. Setelah itu Alda juga meninggalkan tempatnya dan berjalan kaki menuju apartemennya. Sesampainya Alda di apartemen wanita itu membersihkan tubuhnya dan berbaring di atas kasurnya yang empuk. Wanita itu mencoba menyalakan Tv mencari channel Tv favoritnya. Akhir-akhir ini Alda menyukai acara Tv show yang membahas dunia bisnis.
__ADS_1
Alda mulai fokus ke layar Tv saat mendapatkan acara Tv favoritnya. Alda mendengar baik-baik Host Tv yang memanggil nama bintang tamunya yang merupakan anak dari pemilik rumah sakit Lui. Alda menebak itu adalah saudara Alex yang bisa jadi kakaknya atau bisa jadi adiknya.
"Bintang tamu kita kali ini adalah Tuan Anderson Lui bersama dengan putranya Cleofilo Lui" ucap host tersebut.
Alda membulatkan matanya saat mengenali bintang tamu acara tersebut, "Cleo..." gumannya. Ia masih ingat dengan Cleo, pria kecil yang pernah ia temui beberapa kali tanpa sengaja.
"Apa jangan-jangan... Ah, Alex dan pria itu bersaudara ?" tanya menebak-nebak hubungan Alex dan Anderson.
Alda mulai tidak fokus menonton acara TV dan sibuk dengan pemikirannya. Jika benar Alex dan Anderson bersaudara seperti Alda akan mencari dokter Obgyn baru, bahkan akan mencari rumah sakit baru untuknya memeriksa kandungannya. Ia sudah merasakan ketenangan beberapa bulan ini tanpa bertemu pria menyebalkan itu. Ia tidak ingin ada pertemuan berikutnya dengan Anderson.
Alda mematikan Tv-nya dan memilih untuk tidur, hidupnya akan lebih indah jika dirinya segera masuk alam mimpi.
Keesokan harinya Alda memutuskan untuk jalan-jalan ke Mall. Wanita itu ingin menghilangkan kejenuhannya dengan cara menonton film bioskop. Sebelum ia masuk bioskop Alda menyempatkan diri untuk membeli popcorn dan air mineral. Setelahnya Alda segera mencari dimana letak duduknya.
Setelah selesai menonton, Alda memilih jalan-jalan mencari pakaian untuk dirinya. Namun saat ia lewat di butik yang menjual pakaian dan perlengkapan bayi, hati Alda tiba-tiba tergerak untuk masuk butik itu.
Alda merasa gemas ketika melihat dress kecil berwarna pink yang dipenuhi dengan motif kembang. Alda mengelus perutnya lembut, ia ingin membeli pakaian bayi itu namun ia belum tahu jenis kelamin calon bayinya. Alda memang sengaja tidak ingin tahu jenis kelamin calon bayinya sebelum lahir.
"Ambil saja !" ucap seseorang membuat Alda terlonjat kaget.
Alda mengusap dadanya karena terkejut, ia memejamkan matanya sejenak lalu memutar tubuhnya menghadap pemilik suara tersebut.
"Tadi jalan-jalan aja sih, trus lewat sini eh nggak sengaja lihat kamu disini. Jadi aku menghampiri dirimu" jawab Alex.
Alda mengangguk paham lalu kembali fokus pada baju yang ia pegang tadi, "aku menyukai pakaian ini, pasti bayi yang memakainya terlihat imut. Tapi sayang sekali aku belum tahu jenis kelamin calon bayiku" jawab Alda.
"Ambil saja jika suka !" saran Alex.
"Tapi jika aku beli tapi anakku nanti laki-laki gimana ?" tanya Alda menatap Alda.
"Iya juga sih, tapi aku bisa membocorkan jenis kelamin calon bayimu jika kamu penasaran, mau tahu ?"
"Nggak" jawab Alda dengan cepat.
Alex terkekeh. Akhirnya Alda memutuskan untuk keluar dari butik pakaian itu. Menurutnya masih terlalu jauh juga jika ingin membeli pakaian untuk calon bayinya, kehamilannya kan baru memasuki umur lima bulan lebih.
__ADS_1
"Setelah ini mau kemana ?" tanya Alex masih mengekori Alda.
"Mau pulang" jawab Alda
"Sebelum pulang, kamu ikut aku makan dulu ya !"
Tanpa menunggu jawaban Alda Alex segera menarik lembut tangan wanita itu membawanya ke sebuah restoran yang berada di lantai tiga Mall. Alda hanya bisa pasrah karena sejujurnya ia juga merasa lapar.
"Kita makan sama mereka ya" tunjuk Alex ke arah meja yang sudah terisi.
Alda membulatkan matanya saat melihat Cleo dengan Daddy-nya duduk disana, Alda semakin terkejut saat melihat ada sepasang orang tua yang Alda yakini itu adalah orang tua Alex.
Saat semakin dekat di meja itu Alda segera menarik tangannya dari genggaman Alex. Alex yang bingung dengan sikap Alda kini menatap wanita itu.
"Ma-maaf aku tidak bisa" ucapnya terbata.
Ia tidak mungkin duduk disana bersama keluarga Alex, mereka tidak sedekat itu. Apalagi ia begitu malas bertemu dengan Anderson yang pasti akan berpikiran macam-macam tentangnya.
"Memangnya apa yang membuat kamu tidak bisa ?" tanya Alex penasaran.
"Hmmm... Aku teringat jika aku memiliki urusan, mungkin lain kali-" ucapan Alda terpotong saat Cleo memanggil Alex.
"Uncle Alex... Kemarilah !" tangan mungil pria kecil itu melambai-lambai memanggil Alex.
Dengan cepat Alex kembali menarik tangan Alda, kepalang tanggung mereka sudah dekat di meja tempat keluarganya duduk. Alda yang tadinya mematung hanya bisa pasrah.
Semakin dekat dengan meja itu Alda semakin merasa gugup.
'Aduh, mengapa rasanya gugup seperti ini sih ?' batin Alda.
"Duduklah !" pinta Alex menarik kursi untuk Alda.
Alda membeku saat semua tatapan ke arahnya, wanita itu menelan salivanya dengan sulit.
"Aunty Vanya..." teriak Cleo senang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa tinggalkan jejak🤧🥺