
Jam lima sore, Anderson masuk ke kamar dan mendapati istrinya sedang tertidur pulas. Anderson ikut berbaring di samping istrinya, ia menatap wajah Alda yang begitu tenang. Tangannya kini tergerak mengelus lembut wajah istrinya. Anderson merasa bangga karena mempunyai istri yang tidak mudah terprovokasi dengan ucapan Hilda, justru istrinya itu memberikan perlawanan.
"Sayang, bangun !"
Anderson berbisik di telinga Alda, namun wanita itu masih tertidur nyenyak. Akhirnya Anderson memilih cara lain untuk membangunkan istrinya itu.
"Sayang bangun ! Cup...Cup...Cup..." Anderson menghujami wajah Alda dengan kecupan sehingga membuat wanita itu kegelian. Cara seperti ini sering Anderson gunakan jika Alda sulit dibangunkan.
Alda mulai menggeliat saat merasa geli di bagian wajahnya, perlahan ia membuka matanya dan mendapati suaminya tersenyum lebar.
"Kamu mengambil kesempatan lagi untuk mencium ku ?"
"Aku tidak mengambil kesempatan sayang. Memang kamu-nya aja yang suka dibangunkan dengan cara romantis seperti itu"
"Mana ada ? Itu mah maunya kamu"
Anderson terkekeh melihat istrinya cemberut, "Ya sudah, kita mandi bareng yuk !"
Alda semakin cemberut mendengar ajakan suaminya, "nggak ih, nanti yang ada bukan mandi tapi main anu" ucap Alda ambigu.
"Anu apa sayang ?" goda Anderson.
"Ya... Itu... Kamu nggak usah pura-pura tidak tahu !"
"Memangnya kamu mau main ? Boleh juga sih kita coba main di kamar mandi kantor" ucap Anderson semakin menggoda istrinya.
"Nggak ada kayak gitu, aku mau mandi duluan" Alda segera turun dari tempat tidur dan meninggalkan Anderson yang terkekeh.
Setelah lima belas menit Alda keluar dari kamar mandi, wanita hendak memakai pakaian ganti yang ia bawa dari rumah, namun Anderson memberinya pakaian baru.
"Pakai ini sayang ! Nanti malam kita dinner, kamu dandan yang cantik ya ! Aku mandi dulu" ucap Anderson.
"Siap sayang" jawab Alda dengan semangat.
Setelah mereka berdua siap, Anderson mengajak istrinya ke sebuah restoran langganan mereka. Alda pikir mereka hanya akan makan malam biasa, tapi ternyata dugaannya salah. Anderson ternyata menyewa restoran tersebut untuk malam ini, bahkan Anderson meminta agar restoran tersebut dihias sedemikian rupa agar terlihat romantis.
Alda terpana melihat setiap sudut restoran dihias berbagai macam bunga, sebuah meja tepat berada di tengah ruangan dikelilingi lilin-lilin merah. Alda menatap Anderson dengan sebuah senyum yang mengembang.
"Apa kamu suka ?"
"Iya, aku sangat suka. Terima kasih" Alda memeluk tubuh Anderson dengan erat.
"Aku senang jika kamu menyukainya sayang" balas Anderson.
__ADS_1
Mereka melepas pelukannya dan berjalan menuju meja. Anderson menarik kursi untuk Alda, setelah mereka duduk, seorang waiters membawa buket bunga mawar untuk Alda.
"Terima kasih" ucap Alda tersenyum ramah kepada waiters tersebut.
Tak lama beberapa waiters lainnya menyiapkan makanan malam untuk mereka. Mereka menikmati makanan romantis ini dengan hati yang berbunga-bunga. Senyum bahagia terus menghiasi wajah keduanya.
"Terima kasih untuk malam ini, aku sangat bahagia" ucap Alda.
"Sama-sama sayang, aku juga ikut bahagia jika kamu merasa bahagia. Aku selalu berharap agar aku bisa terus bersamamu dan memberikan kebahagiaan untukmu dan anak-anak kita. Aku sangat mencintaimu, sangat mencintai kalian" Anderson menarik tangan Alda lalu mengecupnya begitu lama.
Alda merasa tersentuh dengan ucapan suaminya, "Aku pun memiliki harapan yang sama. Aku ingin terus bersamamu dan menua bersama, aku ingin kita menyaksikan perjalanan hidup anak-anak kita, aku ingin menimang cucu dari anak-anak kit bersamamu. Pasti akan sangat menyenangkan di hari tua kita bisa bermain dengan cucu-cucu kita," Alda tidak bisa lagi membendung air matanya.
Anderson menarik Alda masuk ke dalam dekapannya. Puas saling memeluk, mereka memutuskan untuk pulang, lebih tepatnya ke hotel.
Saat mereka sampai di hotel, Alda melihat kamar yang di pesan suaminya dihias layaknya kamar pengantin baru.
"Aku ingin mengulang malam pertama kita disini" bisik Anderson di telinga Alda.
Wajah Alda memerah saat mendengar perkataan suaminya. Seketika tubuhnya meremang ketika tangan suaminya mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut. Tanpa menunggu lama Anderson segera melancarkan aksinya.
Pria itu mencium istrinya dengan lembut sehingga membuat Alda menikmati ******* yang diberikan suaminya. Tapi, lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman yang menuntut. Tangan Anderson mulai menceluti pakaian Alda hingga menyisakan dalaman saja. Anderson melepaskan pagutannya lalu segera melepaskan semua pakaiannya.
"Aku berharap ini akan berhasil mencetak adik-adik untuk Cleo dan Terra" ucap Anderson sebelum melanjutkan pergulatannya dengan Alda.
"Sekarang kita istirahat !" ucap Anderson.
Alda tidak menjawab, wanita itu sudah tidak sanggup untuk berbicara. Mereka lalu tertidur dengan tubuh polos yang saling memeluk di bawah selimut.
Beberapa hari kemudian, Alda sedang menemani Cleo dan Terra bermain di taman. Tiba-tiba saja Hilda datang menghampirinya. Alda menatap acuh pada wanita itu.
"Wah, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan dirimu disini. Sebuah kebetulan yang tidak bisa dihindari"
Alda tidak menggubris perkataan Hilda, ia tetap fokus menatap ke arah Cleo dan Terra. Tentu saja Hilda merasa kesal dengan sikap Alda. Hilda lalu mengikuti arah pandangan mata Alda. Ia menangkap dua anak kecil yang sedang bermain, ia bisa menebak Cleo itu adalah anaknya dengan Anderson. Namun hatinya kembali bertanya siapa putri kecil yang bermain dengan putranya itu. Tidak mungkin itu anak Alda dan Anderson, ia tahu jika mantan suaminya itu baru beberapa bulan menikah dengan Alda. Seketika ia menebak jika Alda juga seorang janda.
"Apa kamu seorang janda yang datang pada Anderson dan memintanya menikahimu agar hidupmu dan putrimu bisa dibiayai ?" Ejek Hilda.
"Aku tidak semiskin itu untuk merendahkan harga diriku meskipun aku seorang janda" balas Alda dengan suara datar.
"Ya, ya, aku mengerti, mana ada maling yang mau ngaku. Aku tahu wanita seperti dirimu tidak mungkin melihat pria bukan dari hartanya"
"Kamu berbicara seperti itu seolah kamu sedang menjelaskan dirimu" balas Alda membuat Hilda mulai geram.
"Kau !!!" Hilda menunjuk wajah Alda dan menatapnya dengan tatapan permusuhan.
__ADS_1
"Perlu kamu ingat ! Bukan aku yang mengajak Anderson menikah, tapi dia yang memintaku menikah dengannya karena dia sangat cinta kepadaku. Bukan hanya Anderson yang menyukaiku, tapi putra kecilnya juga menyukaiku"
"Dan kamu juga perlu ingat jika putra kecil Anderson itu lahir dari rahimku ! Dia adalah anakku dengan Anderson, buah cinta kami berdua !" Hilda tersenyum miring dan dengan bangganya mengatakan jika Cleo adalah buah cinta dirinya dengan Anderson.
"Ya, dia memang lahir dari rahimmu, tapi sangat disayangkan dia lahir dari rahim wanita sepertimu." balas Alda yang kini tersenyum sinis melihat wajah Hilda yang berubah pias.
"Apa maksudmu ?" tanya Hilda dengan suara yang mulai meninggi.
"Tak perlu ku jelaskan kamu juga pasti paham dengan perkataanku. Sekarang aku ingin mengatakan agar kamu tidak muncul untuk mengusik keluarga kecilku !"
"Kamu tidak berhak melarang ku ! Aku masih memiliki putraku yang hidup bersama Anderson, sementara dirimu belum mempunyai anak dengan Anderson. Sebaiknya kamu saja yang pergi, dan biarkan aku kembali bersama Anderson ! Apa kamu tega memisahkan seorang ibu kandung dengan putranya ?"
Alda tertawa mendengar ucapan Hilda yang mengaku-ngaku layaknya seperti ibu yang baik untuk anaknya.
"Kemana saja kamu ? Kamu baru muncul dan mengatakan jika Close putramu, dulu kamu bahkan tega meninggalkannya saat umurnya masih berusia satu Minggu. Kini kamu berbicara seolah-olah dirimu seorang ibu yang baik yang tidak ingin dipisahkan oleh anaknya, sungguh lucu."
"Aku pergi juga karena ada alasannya. Dan sekarang aku kembali untuk hidup bersama putraku dan Anderson"
"Apapun alasannya, kamu tetap ibu yang kejam yang tega meninggalkan anaknya sendiri. Kamu yang memilih pergi bukan ? Jadi aku tidak akan memberikan jalan untukmu kembali. Lagipula Cleo tidak membutuhkan seorang ibu seperti dirimu" balas Alda.
"Kamu sangat lancang, dasar sialan..." Hilda yang sedari tadi menahan amarahnya kini meledak. Ia mengangkat tangannya hendak menampar Alda, namun sayangnya Alda dengan cepat menahan tangan wanita itu sebelum mendarat di pipinya.
"Jangan berani-berani menyentuhku !" ucap Alda menatap Hilda dengan dingin. Ia menyentak tangan Hilda dengan kasar.
Hilda menatap tidak percaya, ia pikir Alda hanya berani melawan bicaranya saja. Tapi ternyata wanita itu juga bisa melawan orang lain yang ingin menyakitinya.
"Ku peringatkan pada dirimu, jangan pernah mencoba mengusik keluargaku, atau kamu akan tahu akibatnya !" lanjut Alda.
Alda segera meninggalkan Hilda dan menghampiri Cleo dan Terra, "Ayo kita pulang sayang !" ajaknya.
"Mommy, dia wanita itukan ?" tanya Cleo.
"Iya sayang, apa Cleo ingin memeluknya atau berbicara dengannya ?"
"Tidak, Cleo tidak menyukainya" balas Cleo sedikit ketus.
Alda tahu jika putra tirinya itu sangat membenci ibu kandungnya. Anak yang mana tidak membenci ibunya jika dengan teganya ia meninggalkan anaknya dalam keadaan masih bayi. Anak yang mana tidak terluka ketika anak seusianya harus kekurangan kasih sayang seorang ibu. Anak yang mana tidak merasa sakit hati saat melihat teman-temannya memiliki keluarga yang lengkap sementara dirinya tidak.
Cleo tidak menginginkan ibu kandungnya lagi, apa yang ia cari kini ia dapatkan dari Alda. Meskipun Alda hanya seorang ibu sambung namun kasih sayangnya terhadap Cleo melebih kasih sayang seorang seorang ibu kandung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
hari ini Sa kasih bonus satu bab lagi ya sebagai ganti beberapa hari nggak bisa up double 🤗🙏❤️
__ADS_1