
Alda yang baru saja pulang dari kediaman Lui kini berbaring di atas kasurnya. Ia terus kepikiran dengan ucapan Belinda yang memintanya menjadi menantunya. Namun jujur saja, Alda belum memiliki keinginan untuk memulai rumah tangga kembali. Kejadian-kejadian dimana dirinya disiksa oleh Araga berputar-putar dalam pikirannya. Luka yang diberikan pria itu begitu dalam sehingga sangat sulit baginya untuk pulih dalam waktu yang cepat.
"Aku pikir sudah tidak sakit lagi, tapi nyatanya masih sama. Rasanya begitu perih" ucapnya sambil menatap langit-langit apartemennya.
Alda yang larut dalam berbagai pikiran yang berkecamuk terlonjat kaget saat mendengar dering telponnya. Segera ia menggapai handphone miliknya, tanpa melihat siapa yang menelepon Alda sudah bisa menebak.
"Halo ada apa ?"
📞"Aku berada di bandara. Bisakah kamu mengirimkan alamatmu sekarang !?"
Alda bangkit dari pembaringannya, ia terkejut dengan kedatangan Brian secara tiba-tiba. Ia bertanya-tanya mengapa pria itu tidak mengabarinya terlebih dahulu.
Setelah mengirim alamatnya, Alda segera membereskan apartemennya. Setelah itu ia kembali duduk menunggu kedatangan Brian. Tak lama bel pintu apartemennya berbunyi. Ia sangat yakin jika itu adalah Brian. Alda berjalan membuka pintu apartemennya, dan seketika tubuh Alda mematung melihat siapa yang ada di depannya.
"Apa kabar ?"
Tubuh Alda tiba-tiba bergetar saat mendengar suara pria itu keluar
...****************...
Anderson benar-benar tidak fokus mengerjakan semua tugasnya. Pikirannya terus melayang-layang memikirkan Alda. Ada rasa tidak rela dan takut jika Alda menjadi milik pria lain. Ia tampak berpikir kerasa bagaimana cara mendapatkan Alda.
"Kamu terlah berhasil masuk dalam hatiku, maka aku tidak akan melepaskan dirimu. Kamu hanya milikku dan tidak boleh ada pria lain yang memilikimu selain diriku. Aku akan membunuh laki-laki yang berani menarikmu keluar dari hatiku" ucapnya dengan tangan mengepal.
Ia harus segera bertindak untuk mendapatkan hati wanita itu. Ia tidak ingi pria lain mendapatkan cela, ya walau adiknya sekalipun.
Anderson segera meninggalkan perusahaan dan mencap gas menuju kediaman Lui. Ia ingin membawa Cleo menemui calon Mommy-nya, namu sebelum menjemput Cleo. Anderson mampir di Mall yang sempat ia kunjungi dengan Alda kemarin. Ia memesan banyak perlengkapan bayi untuk calon anak tirinya.
"Segera antarkan ke alamat ini !" pintanya setelah membayar semua hasil buruannya. Setelah itu ia kembali melajukan mobilnya untuk menjemput Cleo.
...****************...
Bruk
Alda tak bisa menahan air matanya saat Mama Larissa memeluk erat tubuhnya. Kedua wanita itu terisak meluapkan segala kerinduan yang mereka pendam. Tak hanya Alda dan Mama Larissa yang terisak namun Papa Atmajaya, Adnan, Febby juga terisak.
"Kenapa kamu begitu kejam membuat Mama dan Papa tersiksa dengan kerinduan ?"
Mama Larissa melepaskan pelukannya dan menatap putrinya dengan tatapan sedih bercampur bahagia, ia sedih karena putrinya menyembunyikan sesuatu yang sangat besar, ia bahagia karena putrinya tampak hidup dengan baik.
__ADS_1
"Ma-maafkan Alda Ma, Pa !"
Wanita itu menunduk dengan tubuh yang bergetar. Ia terisak, ada rasa bersalah telah menghindari orang tuanya dan tidak pernah memberikan kabar.
"Maaf jika Alda begitu egois, maaf karena Alda tidak memikirkan perasaan kalian"
Sekarang giliran Papa Atmajaya yang memeluk putrinya yang malang. Ia sangat menyesal menjodohkan putrinya pada pria biadab seperti Araga. Ia telah membuat hidup putrinya hancur, ia telah membuat senyum cerah putrinya redup.
"Ini bukan salahmu sayang, ini salah Papa karena membuatmu terjebak pernikahan yang menyakitkan itu. Papa minta maaf, papa menyesal telah menikahkan kamu dengan laki-laki kejam itu"
Alda menggelengkan kepalanya, "ini bukan salah Papa, Alda juga salah karena terlalu memaksa pria itu membuka hati untuk Alda"
Setelah Papa Atmajaya melepaskan pelukannya, kini mata Alda menatap kakaknya. Kakak yang dulu selalu melakukan apa saja untuknya, kakak yang selalu ada untuknya saat terpuruk, kakak yang selalu mendukung setiap langkah Alda, kakak yang pernah membuatnya kecewa.
"Kamu tidak ingin memelukku ?" tanyanya dengan suara bergetar.
Adnan tersenyum lalu memeluk erat tubuh adiknya. Ia tidak menyangka adiknya itu bisa bertahan untuk hidup sendiri dalam keadaan bunting seperti ini.
"Adikku ternyata sudah jadi wanita dewasa. Nggak manja lagi, sudah bisa mandiri. Kakak begitu bangga punya adik kuat seperti Alda Vanya Atmajaya" ucapnya berhasil mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya.
"Kakak memujiku atau mengejekku ?"
"Kenapa kamu menyembunyikan kehamilanmu dariku ? Seandainya kamu mengatakan jika kamu hamil, aku tidak akan membiarkan kamu hidup sendiri" ucap Brian setelah Alda dan Adnan melepas pelukan mereka.
Alda menatap Brian dengan tatapan bingung, soalnya pria itu memeluk pinggang seorang wanita.
"Aku meminta penjelasan, tapi sebelumnya biarkan kami masuk ! Kaki kami sudah pegal dan tenggorokan kami sangat kering"
Alda lalu membuka pintunya lebar-lebar dan membiarkan semua tamunya masuk dalam apartemennya yang sederhana itu. Alda hendak menyiapkan minuman untuk para tamunya namun ia dicekal oleh Adan.
"Tidak perlu, biarkan kakak ipar kamu yang melakukannya"
Alda mematung, ia lupa dengan keberadaan Febby. Matanya menatap wajah kakak iparnya yang semakin terlihat cantik, namun matanya tiba-tiba pindah ke perut wanita itu. Perut Febby terlihat datar, itu artinya Febby telah melahirkan. Namun yang membuat Alda bingung mengapa ia tidak melihat adanya bayi Kakaknya itu.
"Duduklah, biarkan aku yang melakukannya !" ucap Febby tersenyum canggung. Alda tidak menjawab dan hanya menurut saja. Ia duduk di antara papa dan mamanya.
"Febby keguguran ketika kehamilannya masuk lima bulan" ucap Adnan dengan wajah yang terlihat sedih.
Alda membeku mendengar kabar duka dari kakaknya itu. Hatinya ikut sedih dengan duka yang dialami sang kakak. Ia merasa bersalah karena tidak bisa hadir di tengah-tengah keluarganya saat mereka sedang berduka.
__ADS_1
"HPL-nya kapan ?" tanya Mama Larissa yang kini mengelus perut putrinya.
"Kata Dokter paling lambat tiga Minggu lagi"
"Sudah tahu jenis kelaminnya ?" Kali ini Papa Atmajaya yang bertanya.
"Belum, Alda tidak ingin mengetahuinya sebelum ia keluar, supaya surprise"
"Berarti kamu beli perlengkapan bayi karena belum tahu jenis kelamin calon cucu Mama ?"
"Sudah, untuk pakaian sudah lengkap Ma. Alda membeli pakaian yang warna netral, jadi bisa dipakai cewek atau cowok"
"Untuk box bayi dan perlengkapan bayinya belum ada ?" sambung Adnan.
"Kan bisa beli pas lahir. Tak perlu buru-buru" jawab Alda santai.
"Apa kamu menjalani hidupmu dengan sulit selama masa kehamilanmu sayang ?" Papa Atmajaya bertanya sambil mengelus lembut pucuk kepala putrinya.
"Untuk trimester pertama Alda sedikit mengalami kesulitan, namun hanya beberapa bulan semuanya terasa menyenangkan" jawab Alda tersenyum.
Mereka terus berbincang-bincang mengenai bagiamana kehidupan Alda disini. Mereka terkadang terkekeh saat Brian mengeluarkan celetukan yang membuat Alda memanyunkan bibirnya.
"Sekarang ku tanya, apa alasanmu tidak mengatakan kehamilanmu kepadaku ?" tanya Brian kini serius.
"Aku tidak mengatakannya kerena aku tidak mau kabar ini sampai ke telinga keluargaku dan keluarga sahabatmu itu. Aku berpikir jika keluargaku tahu mereka pasti segera menyusul ku kemari. Dan jika keluarga pria itu tahu maka akan sulit diriku terlepas dari belenggu sahabatmu" jelas Alda.
"Ais kamu ini, kamu pikir aku akan mengadu meskipun kamu memintaku tutup mulut ? Kejam sekali pikiranmu itu" Brian menggerutu kesal mendengar penjelasan Alda.
"Tapi kamu juga tidak bilang jika sudah menikah. Jadi kita impas" balas Alda tersenyum penuh kemenangan.
"Ck, bisa saja kamu"
Mereka tertawa melihat wajah masam Brian. Suara riuh dari dalam apartemen Alda membuat seseorang bertanya-tanya. Tak ingin mati penasaran, Anderson segera menekan bel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan minta double up ya hari ini🙏 Sa masih nggak enak badan🤧 besok kalau nggak ada halangan Sa double up✨
lopyuuu sekebon🥰
__ADS_1