
Sebagai seorang dokter sudah pasti kebanyakan waktunya dihabiskan dirumah sakit. Dari pagi hingga sore, atau dari sore sampai malam, bahkan dari pagi sampai pagi para tenaga medis setia berada di satu tempat yaitu rumah sakit.
Itulah yang dirakasan oleh Moana Adrienne, Seorang dokter yang bekerja disebuah rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya.
Dengan jas berwarna putih yang menjadi ciri khas seorang dokter, ia mengeluarkan stetoskop dari sakunya lalu memeriksa seorang anak perempuan yang sudah terbaring.
"Tarik napasmu .anak manis," perintah dokter itu dan dituruti oleh sang anak perempuan.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya seorang wanita yang merupakan ibu dari anak yang tengah terbaring itu.
"Hem. Dia menderita anemia defisiensi besi." Ujar dokter Moanna.
"Periksanya sudah selesai. Kemari, biar aku bantu anak manis ini turun." Ucap dokter itu menuntun sang anak turun dari ranjang.
"Apa itu berbahaya, Dok?" Tanya Sang ibu.
"Tidak. Tapi Apa dia sulit makan makanan sehat?" Tanya dokter Moanna kemudian.
Wanita itu mengangguk cepat."Iya, dia sangat sulit makan sayur dan daging. Dia hanya mau makan mie dan pasta," jelas sang ibu sambil berjalan keluar ruangan bersama sang dokter.
Mendengar penjelasan dari ibu pasiennya, sang dokter pun berhenti dan berjongkok untuk menyamakan postur tubuhnya dan anak perempuan berponi itu.
"Kenapa kau tidak mau makan sayuran dan daging, hem?" Tanya sang dokter.
"Rasanya tidak enak. Tidak gurih." Jawab anak perempuan itu dengan bibir yang mengkerut.
"Apa kau pernah memakannya?" Tanya dokter itu lagi dan dijawab anggukan Anak perempuan itu.
Dokter itu melirik sang ibu anak itu yang masih berdiri dibelakang anaknya. " Nanti kau coba lagi, rasanya pasti akan sangat gurih." Ucap dokter itu.
"Benarkah?"
"Benar. Coba tanya ibumu," kata dokter itu kemudian berdiri.
"Anakmu kekurangan zat besi karena jarang makan sayur dan daging. Jadi untuk menganti cadangan zat besi pada sum-sum tulang belakang nya kau haru rutin memberinya sayur dan daging untuk enam sampai dua belas bulan ke depan." Papar dokter itu.
"Tapi Jika mulai dari sekarang dia akan pulih dalam waktu seminggu," ucap dokter itu menatap kembali anak perempuan yang tengah melihat pada dirinya dan sang ibu yang sedang berbincang.
"Kau jangan lupa minum obatnya ya, anak manis." Pesan sang dokter sambil mengelus dagu anak itu.
"Siap, Dok." ucap anak perempuan itu dengan tangan yang membentuk sebuah penghormatan.
"Jangan membuat alasan jika ibumu memasak sup untukmu, oke." Kata Moanna dengan tangan yang membentuk ok.
"Terimakasih, dok. Kami permisi." Pamit sang ibu lalu mengandeng tangan putrinya itu.
Sang dokter pun melambaikan tangannya saat sang anak kembali berbalik untuk menatap dirinya. Usai kepergian anak itu ia pun berjalan kembali menuju ruangannya.
"Dokter Moa!" Panggil seseorang.
Dokter yang tengah berjalan itu lantas berhenti dan berbalik untuk melihat sosok yang memanggil dirinya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyanya.
"Anda diminta untuk keruangan direktur utama." Jawabnya.
"Kapan?"
"Jika kau tidak sibuk, kau diminta segera datang." Jawab perawat itu.
"Baiklah, Terimakasih." Ucap dokter Moa lalu berjalan menuju ruangan direktur utama rumah sakit.
Tok...
Tok....
Tok....
Dokter Moanna mengetuk pintu lalu masuk setelah suara seorang pria terdengar menyuruhnya untuk masuk.
"Dokter Moa, duduklah." Sapa direktur utama rumah sakit itu yang merupakan seorang pria.
Moanna lantas duduk dikursi depan direktur utama itu. Dan bertanya ada keperluan apa sehingga dirinya dipanggil secara langsung ke ruangan sang direktur utama.
"Dokter Moa," Panggil direktur utama itu memanggil nama pendek Moanna seperti para pasien dan tenaga medis biasa menyapanya.
"Ini adalah permintaan pribadiku, datanglah ke apartemenku untuk memeriksa ibuku nanti malam." Perintah direktur utama tanpa basa-basi.
Tak langsung mengiyakan Moanna mengangkat alisnya, "Bukankah anda tinggal sendiri?" Seru Moanna.
"Benarkah?" Selidik Moanna.
"Jika kau tidak percaya, aku akan menelepon mamaku." Gertak pria itu dan segera mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja.
"Tidak usah, aku akan datang untuk memeriksa ibumu setelah dari rumah sakit." Ucap Moanna menyetujui permintaan pria itu.
"Oke, " jawab Felix sang direktur utama rumah sakit tempat Moanna bekerja. "Mau minum?" Felix memberikan sebuah kaleng soda pada Moanna.
"Tidak, terimakasih." tolak Moanna. Ia lalu menyalakan ponselnya untuk melihat jam. "Sekarang jadwalku bertemu pasien, permisi." Moanna bangkit dari duduknya setelah pamit kepada atasannya itu.
Ia kini berjalan menuju ruangannya untuk menunggu kedatangan seorang pasien yang sudah memiliki janji dengannya.
Waktu menunjukan pukul sebelas pagi dan pintu ruangannya pun terbuka saat ia mempersilakan seseorang yang mengetuk itu untuk masuk ke dalam.
"Siang dokter Moanna." Sapa seorang wanita berusia sekitar 40 tahun itu.
"Siang, silahkan duduk." Ucap Dokter itu.
Ibu paruh baya itu kemudian mendaratkan tubuhnya dikursi depan Moanna. Ia lalu mulai bercerita keluhan yang dideritanya.
"Tekanan gula darah Anda lebih dari 200mg/dL, nyonya. Jadi sebaiknya anda kurangi makanan manis dan tinggi akan gula." Jelas Moanna setelah membaca hasil tes minggu lalu wanita paruh baya itu.
"Tapi aku sangat suka makanan manis," keluh wanita itu dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Untuk saat ini gantilah makanan manis dengan sayuran atau buah-buahan yang memiliki rasa manis alami." Saran Moanna, "jika tidak, anda kemungkinan mengalami diabetes atau bahkan dapat meningkatkan penyakit kanker, nyonya." Lanjut moanna.
"Benarkah? Apa separah itu dokter?" Ucap Wanita paruh baya itu ketakutan.
"Tentu nyonya," Moanna membenarkan. "Namun saya bukan menyumpahkan nyonya supaya menderita penyakit mengerikan itu, tapi sebagai seorang dokter saya sangat ingin pasien saya dapat menerapkan pola hidup yang sehat." Papar Moanna.
"Aku mulai merinding mendengar pemaparan mu dokter," Ucap wanita paruh baya itu. "Baiklah, aku akan mencoba mengurangi makan makanan manis, meski sebenarnya aku tidak dapat berhenti mengkonsumsinya. Tapi aku akan berusaha, terimakasih dokter."
"Terimakasih kembali nyonya, semoga rencanamu konsisten. "ucap Moanna lalu mengantar pasiennya sampai ke depan pintu.
"Sampai jumpa lagi, dokter." Pamit Wanita itu.
"Hati-hati dijalan, nyonya." Ucap Moanna.
Usai kepergian pasiennya, Moanna lantas pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang memang sudah saatnya menerima santapan siang.
Di kafetaria rumah sakit ternyata sudah ada beberapa rekannya sebagai sesama tenaga medis berkumpul. Mereka adalah Cira dan Fio yang merupakan seorang perawat sedangkan Leo dan Rio adalah dokter. Mereka tengah menikmati makan siang dalam satu meja sambil menceritakan hal-hal yang mereka alami.
"Moanna, sini duduk didekat ku!" Ajak Cira seraya menepuk kursi disampingnya supaya moanna berada didekatnya. Dengan senyuman yang merekah bak bunga yang mekar dimusim panas, moanna pun duduk ditempat yang ditujukan Cira untuknya.
"Aku akan pergi ke Orlan Minggu depan." Ucap Rio disela-sela makannya yang terlihat tidak begitu selera.
"Kau gabung dengan tim medis kita sebagai relawan di Orlan?" Tanya Fio dengan raut wajahnya yang begitu semangat hingga membuat yang lainnya merasa aneh atas ekpresi Fio. "Kau juga ikut kesana?" Tanya Moanna penasaran.
Semua orang kini melihat pada Fio menunggu jawaban dari wanita itu, "tidak," Jawab Fio dengan raut wajah yang kini berubah dari sebelumnya. "Padahal aku sangat ingin pergi kesana." Lanjutnya.
"Kenapa?" Heran Leo. "Padahal aku tidak mau berangkat kesana dan memilih tetap disini." Tutur pria itu menjelaskan keberatannya atas keputusan direktur utama yang juga mengutuskan untuk berangkat ke Orlan.
"Kenapa kau tidak mau? Padahal setahuku Orlan tempat yang tidak buruk, bahkan pemandangannya sangat bagus disana." Seru Cira
"Kau benar. Itulah alasanku mengapa ingin ikut pergi," timbal Fio yang iri karena dua dokter tampan itu akan pergi ke Orlan. Meskipun untuk menjadi relawan ditempat itu tapi setidanya ada bonus alam yang akan mereka dapatkan disana.
"Bagaimana denganmu Moanna?" Tanya Leo.
Moanna yang sedari tadi hanya mendengarkan teman-temannya itu kini melihat kearah Leo, "Aku tidak tahu dimana itu Orlan, dan sepertinya aku tidak ikut serta menjadi relawan." Jawabnya sambil memasukkan sebuah kentang goreng ke mulutnya.
"Sungguh? Kau tidak tahu dimana itu Orlan?" Rio berkata dengan raut wajah yang bergitu terkejut sambil menatap moanna yang menggelengkan kepalanya setelah mendengar ucapan Rio.
"Aku dengar-dengar Orlan adalah tempat yang jauh dari pusat kota. cuacanya yang ekstrim membuat orang-orang enggan untuk singgah ke tempat itu, padahal menurut website yang aku baca pemandangan disana indah dan mampu memanjakan mata." Tutur Rio menjelaskan tempat tujuan mereka nanti sebagai relawan.
"Oh, benarkah?" Ucap moanna tak percaya. " Tapi sepertinya aku tidak ikut serta untuk pergi kesana." Lanjut moanna dengan perasaan yang menggebu karena tidak ikut bergabung dengan orang-orang yang kini duduk satu meja dengannya sebagai relawan.
"Padahal aku sangat ingin kau berdua ikut." Seru Cira yang juga menjadi anggota relawan ke Orlan.
Senyuman yang semula terpancar diwajah moanna dan Fio perlahan sirna tatkla ia mengingat sesuatu. "Ada apa?" Tanya Leo yang melihat perubahan diwajah wanita berprofesi dokter dan perawat itu.
"Aku harus izin kepada siapa supaya bisa ikut bersama kalian?" Tanya Fio dengan senyuman malu.
"Direktur utama." Jawab Cira dengan sepotong kentang goreng yang menempel dimulutnya, "kau ajukan saja dirimu padanya sekarang." Lanjutnya setelah sepotong kentang itu habis.
"Iya, Cira benar." Sahut Rio. "Ajukan saja dirimu pada direktur utama." Lanjut Rio seraya bangkit dari duduknya kemudian mengambil ponsel dan sebotol air mineral di atas meja. "Aku pergi duluan. Sudah saatnya mengecek kondisi pasien." Pamitnya buru-buru pergi meninggalkan rekannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku juga harus pergi." Moanna pun pergi meninggalkan kafetaria dan rekan-rekannya yang masih setia menyantap hidangan makan siang mereka.