
Ketukan pintu membuat Alvin membuka matanya. Saat melihat jam, waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Ternyata dia tertidur hingga melewatkan waktu makan siang.
Dan sudah dapat dipastikan bahwa orang yang mengetuk pintunya beberapa kali itu adalah pelayan yang mengantarkan makanan untuknya.
Alvin mencoba bangkit perlahan karena luka operasinya belum sepenuhnya kering. Ia pun lantas berjalan untuk membukakan pintu. "Pergilah, aku belum ingin makan!" Ucap Alvin tanpa melihat siapa orang yang ada dihadapannya itu.
"Aku baru tiba. Kenapa kau malah mengusirku?" Kesal Kenzo. Pria itu melihat penampilan Alvin yang sedikit berantakan itu. Sepertinya sang Signore baru saja bangun tidur.
Alvin membuka matanya lebar-lebar. "Kenz, kau sudah tiba? Masuklah!" Ralat pria itu kemudiannya masuk duluan diikuti Kenzo dibelakangnya.
Kedua mata besar berwarna hitam itu berkeliling melihat setiap sudut kamar sang Signore. Mewah dan luas. "Dimana Rei?" Tanya Kenzo setelah ia cukup lama berada dikamar Alvin.
"Dia di mansion." Jawab Alvin sambil mengusap wajahnya yang basah dengan handuk. "Banyak hal yang harus dia urus." Lanjutnya.
"Oh begitu," ujar Kenzo. Ia tidak tahu jika Rei tidak jadi ke Milan bersama Alvin. Jika tahu begitu, setelah dari pemakaman ia tidak akan langsung ke Milan, melainkan ia akan kembali ke mansion dan menggusur pria kecil itu untuk ikut dengannya.
Nyatanya bukan karena banyak urusan yang membuat Rei tidak dapat ikut ke Milan. Melainkan karena pria itu tidak ingin lagi mengikuti kencan buta menggangtikan alvin, ataupun Kenzo. Dan sungguh beruntung dirinya kali ini karena semesta berpihak padanya. Ia harus menemui seorang pemilik minuman terbesar di Roma menggantikan Alvin untuk menyepakati kerja sama diantara mereka.
Tentu saja Rei lebih memilih untuk pergi ke Roma dibandingkan ikut Alvin menemui keluarganya di Milan.
Kenzo kini membuka laptopnya, membaca laporan yang diberikan oleh setiap orang yang bekerja dibawah tangannya. Salah satu pesan yang baru membuatnya penasaran dan segera membukanya. Ternyata isinya adalah hasil tes DNA mantel navy yang kemarin diserahkan. "Hasilnya ternyata lebih cepat dari yang aku kira." Gumam pria itu.
"Vin!" Panggil Kenzo pada pria yang tengah meluruskan kakinya di ranjang besar miliknya. "Hasilnya sudah keluar." Lanjut pria itu.
Dengan wajah datar Alvin menatap ke arah Kenzo, "Hasil apa?" Tanyanya.
Sungguh menyebalkan pria yang sakit itu. Bukankah dia orang yang ngotot ingin menemukan pemilik mantel navy itu kemarin, tapi saat hasilnya keluar ia malah bertanya. Memangnya hasil apa lagi selain hasil tes DNA itu? Hasil kesepakatan bisnis Rei di Roma? Jelas sekali Rei lah yang akan menghubungi Alvin langsung.
Kenzo mengangkat tubuhnya untuk mendekati Alvin yang tengah duduk itu. "Ini," ucapnya seraya menunjukkan layar laptop itu pada Alvin.
"Secepat ini?" Alvin terkejut. "Bukannya dia bilang sekitar tiga hari? Kenapa cepat sekali? Dasar pembohong!" Umpat pria yang baru saja membaca pesan singkat dari Dokter.
__ADS_1
Kenzo tersenyum masam. Ia tidak mengerti dengan pikiran Alvin yang menurutnya serba salah itu. Seharusnya ia merasa senang bukannya malah kesal karena hasilnya datang lebih cepat. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika hasil tes itu keluar sekitar seminggu kemudian. Sepertinya Alvin akan mencabut izin Dokter itu dan memakinya karena tidak bisa memberikan kepastian yang akurat.
"Kenz, suruh dia kirimkan hasilnya sekarang juga!" Perintah Alvin kemudian.
"Baik."
Kenzo pun segera meminta agar hasilnya dikirim padanya dalam bentuk file. Beberapa menit kemudian file itupun muncul dilayar laptop dan kini kedua pria itu tengah membacanya bersama-sama.
"Moanna Adrienne..."
Alvin dan Kenzo sontak saling menatap setelah membaca nama itu. "Cari semua tentangnya!" Ucap Alvin memberi perintah supaya mencari semua identitas Moanna. Kenzo pun segera mengambil ponselnya dan menyuruh Enzio untuk melakukan hal yang diinginkan oleh Alvin.
Sementara semuanya telah terkendali, kini Kenzo dan Alvin tengah bersiap untuk acara nanti malam setelah seorang pelayan menyuruh mereka untuk segera bergabung dengan orang-orang yang sudah berkumpul di ruang keluarga.
Lain halnya dengan keadaan di Milan yang ramai akan orang-orang, di Roma Rei tengah menikmati kesunyian dalam kamar hotelnya dengan segelas correto ditangannya. Menikmati langit sore yang menjelang malam itu menambahkan kebahagiaan yang tengah dirasakan olehnya saat ini.
Bagaimana dia bisa bahagia setelah Ia membuat kesalahan yang fatal? Apakah seorang mafia sangat mudah memaafkan?
Tidak. Setelah semuanya diselidiki oleh Kenzo saat di Orlan, semua gang terjadi bukan kesalahan Rei. Jadi jelas pria blasteran Jepang-Italy itu tidak bersalah dan tidak layak dihukum. Seorang mafia bukanlah seorang pembunuh ataupun penghukum. Tapi mereka adalah seorang pebisnis yang akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Sekalipun harus melukai tangan mereka dengan darah.
Rei berdiri dan berdiri didepan cermin kecil disamping tempat tidurnya. "Tidak mungkin aku begini menemuinya." Ujarnya lalu bersiap membersihkan dirinya dan pergi menemui pemilik minuman terbesar itu.
Tak butuh waktu lama bagi seorang pria untuk bersiap dibandingkan seorang wanita. Hanya menggunakan single breasted hitam dan sepatu yang senada, seorang pria sudah siap pergi keluar. Jangan lupa aroma wangi tubuh dan rambut yang ditata rapi akan menambah kesan dewasa. Selesai bersiap, Rei kini keluar dari hotel menuju restoran Bufalero yang berada di pusat kota. Ia akan bertemu dengan koleganya ditempat itu sambil menikmati makan malam.
Jarak dari hotel ke restoran Bufalero cukup dekat hingga membuat Rei tak perlu menghabiskan banyak tenaga untuk tiba disana. Aroma makanan yang dibawa pelayan melewati Rei membuat pria itu melirik makanan itu. Sangat jelas bahwa dia saat ini ingin segera menyantap sesuatu.
Kedua mata cokelat terang pria itu mengelilingi setiap sudut restoran untuk mencari seseorang yang ia kira sudah berada disana. Namun ternyata orang itu belum tiba.
"Permisi, apa anda mencari sesuatu tuan?" tanya seorang pelayan.
Rei pun menoleh, "Aku mencari tempat duduk yang cukup besar." Jawab Rei.
__ADS_1
"Mari saya antar, tuan." Saran wanita itu dan kini memimpin Rei menuju meja yang diinginkannya.
Sebuah meja dengan ukuran untuk satu keluarga telah diduduki oleh Rei seorang diri. "Jika seorang pria bernama Dante sudah tiba, antarkan dia kemari!" pesan Rei pada pelayan itu sebelum ia pergi meninggalkan meja.
pelayan yang baru saja pergi kini telah kembali bersama tiga orang pria berpakaian rapi dibelakangnya. "Tuan, silahkan duduk." ucap pelayan itu mempersilahkan Pria berkumis hitam untuk gabung bersama Rei.
"Selamat malam, Tuan Rei." Sapa pria itu mengajak Rei untuk berjabat tangan.
"Malam, Tuan Carlo." Jawab Rei membalas jabatan tangan Carlo.
"Berikan kami makan malam terbaik dari restoran ini!" ucap Carlo.
"Baik tuan." pelayan itu segera pergi menuju dapur untuk menyiapkan pesanan Carlo.
"Bagaimana kabar Alvin?" tanya Carlo basa-basi sebelum pembicaraan inti.
"Dia sedang bahagia bersama keluarganya saat ini." Jawab Rei tanpa ia tahu bahwa Alvin sebenarnya tengah tersiksa berada dilingkungan yang disebut keluarganya itu.
"Apakah kita mulai sekarang tujuan pertemuan ini?" tanya Carlo.
"Baiknya begitu. Basa-basi hanya mengikis waktu untuk pembicaraan inti!" Ujar Rei.
Carlo tertawa, "Kau benar."
Rei pun tersenyum dan kini menerima sebuah berkas berisi seluruh perjanjian dari bisnis yang akan mereka jalani. "Semuanya sudah dijelaskan disana." Tutur Carlo. "Jika ada sesuatu yang tidak kau setujui kita akan bahas disini." lanjutnya.
Rei pun membaca semuanya kemudian memotret setiap lembar kertas itu untuk dikirim pada Alvin. Karena meskipun keputusan sudah Alvin serahkan padanya, tapi sebagai bawahan Rei menghargai adanya Alvin.
"Apakah semuanya jelas?" Tanya Carlo lalu menyantap hidangan yang baru tiba saat Rei sibuk memotret berkas itu.
"Semuanya jelas. Dan aku menyetujui kesepakatan ini." Ujar Rei seraya menutup berkas itu dan menyimpan benda itu disampingnya.
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang mari nikmati hidangan dihadapan kita," Ajak Carlo.
Dengan senang hati Rei pun menerima tawaran pria itu, menikmati makanan terbaik di restoran Bufalero yang terkenal itu.