
Moanna berdiri pasrah diruang ganti ketika para karyawan butik itu membantunya memasangkan gaun pengantin ke tubuhnya. "Nona, angkat tanganmu!" Ujar salah seorang karyawan yang hendak memasangkan gaun pada tangannya.
"Wah, Nona kau sangat cantik." Puji seorang seorang karyawan. Moanna pun tersenyum dan melihat dirinya yang terpantul dari cermin. "Aku benar-benar cantik." takjub Moanna pada dirinya sendiri.
"Sekarang mari keluar dan perlihatkan pada calon suamimu, nona." Ujar salah satu karyawan hingga Moanna yang wajahnya semula tersenyum kini berubah. "Suami ya..."
Moanna pun berjalan perlahan dibantu oleh para karyawan butik mengangkat gaunnya untuk menemui Alvin yang menunggunya. "Tuan, lihatlah calon istrimu! Cantik bukan?" Ujar salah satu dari mereka hingga Alvin yang semula fokus pada ponselnya kini mengangkat kepalanya.
Diam. Tak ada ekspresi yang menunjukkan bahwa dirinya terpana sedikitpun diwajah pria berusia 33 tahun itu. "Jelek. Ganti!" Ujarnya kemudian.
Moanna pun kembali mengangkat gaun pengantin itu untuk menggantinya dengan yang lain. Susah payah dia mengenakan gaun yang beratnya lebih dari lima kilogram itu. Beberapa gaun sudah ia coba namun jawaban Alvin masih tetap sama, tidak dan jelek! Hanya itu. Moanna pun mulai bosan dan beberapa kali menguap ketika ia dipakaikan gaun oleh para karyawan butik.
"Nona kau mengantuk?" Tanya karyawan yang tengah membenarkan bagian pinggangnya. "Iya," jawab Moanna tersenyum.
"Apa kau ingin memakan sesuatu?" tanyanya lagi.
Moanna menggeleng menolak tawaran dari karyawan butik itu. "Aku ingin secepatnya pulang kerumah." Ucap Moanna dalam hatinya.
"Tidak ada manik-manik yang kau maksud di laci sana," ucap seorang wanita yang tadi disuruh membawa manik-manik untuk melengkapi gaun Moanna. "Benarkah?" Tanyanya tak percaya.
Ia pun pamit kepada Moanna sebentar untuk mencari manik-manik itu. Karena sudah muak dan lelah, Moanna yang semula duduk kini berdiri. "Ini kesempatanku." Ucapnya lalu membuka gaun yang tadi ia kenakan dengan susah payah itu dan menggantinya dengan pakaiannya sendiri.
Usai ia memasang kembali pakaiannya, Moanna kini berjalan mengendap-endap menjauh dari ruang ganti menuju pintu keluar yang disana terdapat Alvin tengah duduk.
"Tuan, calon istri anda menghilang!" Teriak karyawan butik hingga Alvin lantas berdiri. "Apa maksudmu dengan menghilang?" Tanya Alvin kaget.
"Sial." Umpat Moanna dalam hatinya sambil bersembunyi dibalik pakaian yang tergantung rapi.
"Ta-tadi dia masih ada didalam saat kami tinggal, lalu saat kembali dia sudah melepas gaunnya dan menghilang." Tutur karyawan itu menjelaskan kronologi hilangnya Moanna.
"CK," decak Alvin. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Moanna kabur, cari dia!" Perintahnya pada Kenzo yang tengah menunggu diluar butik.
"Baik." Ucapnya dan segera menyuruh para penjaga untuk berpencar mencari Moanna yang sebenarnya masih berada didalam butik.
Alvin pun berjalan menjauh dari tempatnya berada untuk ikut mencari Moanna. "Dia sudah pergi." Ujar Moanna yang melihat bahwa butik sudah sepi dan kini mulai bergerak mendekat pada pintu keluar.
"Akhirnya aku bebas," ucap Moanna senang. Ia pun mendorong pintu keluar itu namun tiba-tiba rambutnya ditarik hingga tubuhnya sontak berbalik.
Brugh...
__ADS_1
Moanna menabrak tubuh Alvin yang sudah berdiri dibelakangnya, "Mau kemana, kau?" Tanya Alvin yang mengunci leher Moanna dengan tangannya hingga tiada jarak diantara keduanya. Ia tahu bahwa Moanna belum keluar dari butik karena Kenzo tadi mengatakan tak melihat seorang pun keluar ataupun berjalan-jalan disekitar butik.
"sial."
Moanna memegang lengan Alvin yang cukup kekar itu, "Aku perlu.... toilet, ya toilet." Ujar Moanna gugup.
"Toilet ada didalam sana, Dokter." ujar Alvin menunjukan tempat toilet itu berada seraya melepaskan tangannya dari leher Moanna.
Moanna tersenyum dengan terpaksa, "Aku tidak melihatnya tadi." ujarnya lalu segera pergi kedalam toilet.
Alvin memperhatikan punggung wanita berprofesi dokter itu dengan sebuah senyuman yang mengiringi, "Kau tidak akan bisa keluar semudah itu!" ujarnya lalu kembali duduk ditempatnya semula.
"Hentikan pencariannya!" ucap Alvin ketika panggilannya sudah terhubung dengan nomor yang ia tuju.
"kenapa?" tanya Kenzo heran.
"Aku sudah menemukannya." jawab Alvin lalu mematikan panggilan itu.
"Alvin yang menemukannya?" Gumam Kenzo. "apa kinerja kita berkurang?" lanjutnya menerka-nerka bahwa pekerjaannya beserta anak buahnya sangat buruk. Bahkan untuk menemukan Moanna saja mereka kalah cepat dengan Alvin.
kali ini giliran pria berambut cokelat yang memanggil seseorang. "halo, Enzio. Temui aku di mansion nanti!" ucapnya.
"kita bicarakan nanti di mansion." tuturnya lalu mengakhiri panggilan.
"kenapa dia tiba-tiba mengundangku ke mansion?" Enzio semakin dibuat penasaran oleh tangan kanan sang Signore itu.
Sedangkan didalam butik, lagi-lagi Moanna membuat sebuah keributan. Sudah hampir satu jam wanita itu mengurung dirinya dalam toilet dan tidak ingin keluar meskipun para karyawan membujuknya.
"Keluar sekarang atau aku akan menguncimu dari luar!' Teriak Alvin.
Moanna panik ketika mendengar ucapan Alvin. Ia bingung harus bagaimana, apakah membukanya atau tetap diam didalam. Setelah dipikir-pikir Moanna Akhirnya memihak pada pendiriannya bahwa ia tidak akan keluar sebelum Alvin pergi.
"Tidak mau." jawab Moanna kekeh.
"Baiklah jika itu pilihanmu." ujar Alvin. Ia kini berbalik pada karyawan sambil menengadahkan tangannya. "Berikan kuncinya." ucapnya kemudian.
"Apa dia benar-benar akan menguncinya?" gumam beberapa karyawan yang ikut berkerumun didepan toilet.
"Se-sebentar tuan," ujar manager butik. ia pun lantas menyuruh karyawan lainnya untuk mengambil kunci toilet. "Ini tuan."
__ADS_1
Suara kunci membuat Moanna terkejut bukan main. ia tak menyangka bahwa Alvin benar-benar mengunci dirinya dari luar. "Apa dia benar-benar mengunciku disini? ck, sial." Umpat Moanna.
"Semuanya tinggalkan tempat ini!" perintah Alvin.
"Baik, tuan." ucap manager butik lalu menyuruh karyawannya untuk ikut bersamanya.
senyuman puas terukir diwajah pria itu ketika ia menatap pintu toilet yang sengaja dikuncinya. "Kau menantang orang yang salah, Dokter." ucapnya kemudian pergi.
Sedangkan didalam toilet Moanna hanya berdiri sambil mundar-mandir dengan kaki yang sengaja ia mainkan seperti tengah menendang-nendang bola. setelah beberapa kali melakukan hal yang sama, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Halo..."
"Baiklah, aku akan segera kesana." ucap Moanna kemudian.
*brak...
brak...
brak*..
Moanna menggedor pintu toilet seraya berteriak, "Buka pintunya! aku harus segera pergi!"
Berulang-ulang Moanna berteriak namun tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu itu untuknya. "Kemana semua orang?" kesal Moanna.
Ia pun kembali membuka mulutnya, "Aku harus pergi. tolong buka pintunya!" Ucap Moanna menggema dari dalam toilet.
Sementara diluar toilet itu seorang pria tengah memainkan korek api sambil mendengarkan teriak Moanna. "Berteriaklah sampai suaramu habis, Dokter." Ujarnya.
Beberapa menit kemudian teriakan itu menghilang hingga membuat Alvin merasa heran. "Apa suaranya sudah habis?" gumamnya lalu bergerak untuk membuka kuncinya.
"kenapa lama sekali?" tanya Moanna dengan tangan yang dilipat diatas perutnya. "Aku buru-buru." lanjutnya kalau segera melewati Alvin untuk keluar.
Namun karena pintu toilet yang berukuran kecil membuat mereka berdua terjepit dan kesulitan bergerak. "Mengalah lah, tuan." Ujar Moanna. "Aku buru-buru dan harus segera pergi!" lanjutnya.
"Aku ingin masuk kedalam duluan, jadi kau yang harus mengalah dan minggir!" ujar Alvin tak mau mengalah.
"Ck, dasar." kesal Moanna dan kini menarik tubuhnya untuk kembali masuk kedalam toilet dan membiarkan pria bertubuh tinggi itu masuk terlebih dahulu.
Bukannya membiarkan moanna keluar, Alvin malah mendekati wanita itu hingga Moanna perlahan melangkahkan kakinya mundur dan membentur dinding. "Kau mau apa?" panik Moanna.
__ADS_1
"Sutt...."