Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 25: Tiba-tiba Pulang


__ADS_3

Langit biru yang begitu bersih tanpa satupun awan membuat Rei merasakan bahwa itu sebuah sambutan untuknya yang baru saja tiba di Milan. Urusan yang telah selesai di Roma membuat pria itu memilih untuk langsung terbang menyusul kedua rekannya di Milan dibandingkan pulang ke mansion.


"Aku tidak sabar ingin mendengar kejadian malam itu." Gumam Rei pelan. Ia masih berpikir bahwa Alvin akan terus didorong oleh Mamanya untuk mendatangi kencan buta yang sudah direncanakan olehnya dan itu akan digantikan oleh Kenzo.


Senyuman mengejek terukir di wajah pria itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya merasa geli, apalagi jika ia mendengar langsung dari Kenzo. Duduk di bagian belakang membuat Rei merasa pusing dan memilih untuk bertukar tempat dengan sang supir yang sengaja menjemputnya ke bandara.


Setelah kedua orang itu mengenakan seat belt, Rei lantas mengenakan kacamata hitam untuk melindungi matanya dari silaunya pancaran cahaya matahari. Kini pria itu melajukan mobil berwarna putih merek Maserati pada kecepatan 120 km/jam hingga supir pria yang duduk disampingnya lantas mengeratkan pegangannya.


Tak butuh waktu lama untuk pria berambut cokelat itu tiba ditempat Alvin dan Kenzo berada. Layaknya orang penting yang datang berkunjung, Orang-orang yang ditemui Rei beberapa kali menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat padahal ia tidak pernah menginginkan hal itu. "Dimana Alvin?" Tanya Rei pada salah satu orang yang tengah membersihkan sisa acara semalam.


"Tuan Alvin belum keluar sejak pagi," Jawab wanita yang sudah berusia setengah abad itu.


"Oh," Jawan Rei lalu berjalan menuju tempat dimana Alvin akan menetap—sudah pasti itu adalah kamarnya yang luas seperti sebuah ruang keluarga. "Sepertinya acara semalam cukup meriah." Pikir Rei saat ia melihat beberapa kertas warna-warni kecil yang masih berserakan dilantai.


Baru saja ia tiba didepan pintu kamar Alvin sudah terdengar sebuah keributan antara dua pria yang membuat Rei penasaran. "Ada apa dengan mereka?" Heran Rei yang kini menyaksikan kedua pria dewasa tengah berseteru.


"Aku tidak suka dasi motif ramai seperti itu!" Tegas Alvin membuang dasi yang dipilihkan oleh Kenzo.


"Tapi hanya itu dasi yang tersisa disini, Vin." Kekeh Kenzo. Sudah banyak jenis dasi yang ia keluarkan dari lemari Alvin. Tetapi hanya warna polos dan bermotif yang ada didalamnya, tidak ada yang lain. Hal itu membuat Alvin kesal karena ia hanya menginginkan dasi hitam polos yang sudah menjadi kebiasannya itu.


"Aku bilang tidak! Suruh saja pelayan untuk membelinya sekarang!" Perintah pria itu.


"Tidak ada waktu untuk membeli. Kau sudah terlambat!" Kenzo tak punya pilihan lain.


Tiba-tiba sebuah dasi hitam polos tergantung didepan kedua pria itu. "Seperti ini?" Tanya Rei yang menyodorkan dasi miliknya ditengah-tengah mereka.


"Rei.." panggil mereka kompak. "Kapan kau datang?" Tanya Kenzo. Sedangkan Alvin mengambil dasi itu dan segera memakainya.


"Lima menit yang lalu." Jawab Rei.


"Terimakasih, Rei." Ucapnya lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan yang luas itu diikuti Kenzo dibelakangnya.


"Kalian mau kemana?" Tanya Rei. Ia sedikit kesal karena dirinya baru saja tiba tetapi sudah ditinggal.


"Pulang." Jawab Kenzo singkat.

__ADS_1


"Pulang?" Rei terkejut dengan ucapan Kenzo. "Kenapa secepat ini?" Tanyanya. Ia sedikit iri karena kali ini Kenzo begitu beruntung ikut ke Milan bersama Alvin, yang berada ditempat ini sekitar dua hari. Sedangkan saat gilirannya yang ikut, ia selalu terjebak berhari-hari bahkan sampai seminggu ditempat ini.


"Jika kau penasaran ikutlah!" Ucap Kenzo mengajak rekannya itu untuk mengikuti kemana langkah kaki Alvin dan dirinya melangkah.


Kepergian ketiga pria yang berbeda gaya rambut itu membuat para Mata wanita muda yang berada disana tak henti berkedip. Begitupun dengan Greta, wanita yang memiliki rasa pada sepupunya itu makin tergoda dengan tampilan Alvin yang sangatlah tampan siang itu. Rapi seperti biasanya dengan wajah yang tengah namun tetap nyaman untuk dipandang.


"Greta! Ayo bersiap, kita akan pulang sekarang." Wanita tua dengan sanggul itu menegur putrinya supaya secepat mungkin mengemasi barang-barangnya.


"Sabar, Mah. Aku juga hampir selesai mengemasi barangku ini." Grate menutup koper kedua miliknya yang berisikan makeup. Wanita itu kemudian menarik kedua kopernya keluar dari rumah menuju garasi yang sudah terparkir mobil disana.


"Kalian akan pulang sekarang?" Tanya Anete, Mama Alvin.


"Iya Anete, suamiku harus pergi ke Berlin lusa. Dan Grate harus kembali masuk kerja di perusahaan papahnya." Tutur mama Grate.


Anete menghembuskan napasnya, "baiklah jika begitu, kalian hati-hati." Ucap Anete. "Grate, sering-seringlah main kemari." Ucapnya tersenyum ramah.


Grate membalas senyuman Mama Alvin, "Aku akan sering kemari jika Alvin masih tinggal disini." Batinnya.


Grate memberikan dua koper yang ia bawa pada supirnya untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil. "Barangmu banyak sekali, nona." Ucap supirnya setelah selesai. Padahal wanita itu hanya menginap satu hari ditempat ini. Sungguh wanita selalu ingin sempurna hingga membuat dirinya kesusahan dengan itu semua.


Entah bertanya atau ledekan maksud dari ucapan pria itu. Yang jelas saat ini grate tersinggung dengan ucapannya. "Apapun itu kau tidak berhak berkomentar!" Kesal Grate. "aku tidak butuh komentar murahanmu itu!" Lanjut Grate lalu masuk kedalam mobil dengan wajah cemberut.


Grate yang terlambat membuka kaca mobil kembali kesal dan semakin cemberut. Ia tidak menyangka bahwa Alvin akan berteriak sama seperti dulu ketika mereka akan berpisah setelah berlibur bersama.


"Aku yakin, dia menyukaiku sama seperti aku menyukainya." Batin Grate yakin. Sama seperti Alvin, kini mobilnya berjalan keluar meninggalkan halaman rumah bibinya. Lambaian tangan Anete turut mengiringi kepergiannya.


Dalam mobil Maserati putih, ketiga pria itu membisu. Kenzo yang sibuk mengemudi dan Alvin yang menikmati pemandangan sekelilingnya. Sedangkan Rei yang baru saja tiba dan tidak tahu apapun memilih ikut diam.


"Bagaimana kesepakatannya, Rei?" Tanya Alvin. sepertinya pria itu baru mengingat perjalanan bisnis yang dilakukan oleh Rei kemarin.


"Sepertinya keberuntungan akan berpihak pada kita." Ujar Rei. "Carlo Dante akan menjadi pemasok stok penjualan minuman kita bulan depan." Lanjutnya menjelaskan.


"Bagus." Puji Alvin. jika Ia ahli dalam IT dan Kenzo dalam berkelahi, maka Rei adalah orang yang ahli dalam bersilat lidah. Bahkan beberapa dari bisnis yang kini terhubung dengannya itu karena saran dari pria yang paling muda diantara mereka bertiga.


"Aku ingin tahu apa yang terjadi semalam." Rei kemudian memulai rasa penasaran dengan bertanya.

__ADS_1


"Aku memberinya makan banyak sampai dia sulit berdiri." Jawab Alvin seraya melirik orang yang tengah fokus mengemudi.


"Apakah kalian makan berdua?" Rei belum bisa menangkap maksud dari jawaban Alvin.


"Tidak, dia makan sendiri dan aku hanya menyaksikannya." Kata Alvin.


"Apakah kenzo selamat dari kencan buta lagi?" Batin Rei.


"Aku tidak bertemu dengan wanita manapun semalam." Timbal Kenzo tersenyum meledek. Ia yakin bahwa pria berdarah Jepang itu tengah menggerutu dalam batinnya karena ia tidak merasakan kencan buta seperti yang diharapkannya.


"Aku sungguh beruntung, bukan?" Tanya Kenzo dengan nada meledek.


"Ya, ya kau memang beruntung." Jawab Rei dengan nada malas.


Sedangkan Alvin yang duduk dibelakang kembali menatap layar ponselnya setelah sebuah pesan masuk.


^^^*Apa^^^


^^^pengintaian^^^


^^^Masih perlu^^^


^^^dilakukan?*^^^


^^^_Enzio^^^


Alvin berpikir sejenak. Apakah ia sudah melakukan hal yang benar?


^^^*ikuti^^^


^^^kesehariannya!*^^^


^^^_Alvin^^^


Setelah membalas pesan masuk dari Enzio, ia kini menatap kaca spion depan dan tak sengaja Rei pun melihatnya.

__ADS_1


"Ada apa, Vin?" tanya Rei.


"Aku akan menikah!"


__ADS_2