Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 21: Hari pemakaman


__ADS_3

Hari kini telah berganti, seperti yang dikatakan kemarin bahwa hari ini adalah hari pemakaman untuk Petter Morgan—pria tua yang meregang nyawa di tangan Kenzo. Setelah seminggu berada di ruang jenazah rumah sakit kini saatnya pria itu beristirahat dengan tenang.


Semua berkas yang harus diurus oleh keluarga Petter sudah ditangani oleh Kenzo sejak ia berada di Orlan. Karena memang petter tidak menikah dan tidak memiliki keluarga lagi, jadilah Kenzo yang mengurus semuanya sampai tiba saatnya bagi pria tua itu dimakamkan.


Tak banyak orang yang datang ketika pemakaman berlangsung. Bahkan jumlahnya pun dapat dihitung dengan satu tangan. Kenzo memberikan sebuah bunga berwarna putih didepan makam petter kemudian memanjatkan doa untuknya supaya tuhan menerimanya dan segala dosa yang pernah ia lakukan semasa hidupnya.


"Lama tidak bertemu." Ujar seorang pria yang kini meletakan bunga yang dibawanya bergabung dengan bunga lainnya didepan makam petter.


Kenzo membuka matanya lalu melirik pria yang kini tengah memanjatkan doa untuk petter. "Kapan kau kembali, Arlo?" Tanyanya pada pria dengan topi bundar berwarna cokelat tua itu.


"Sudah lama." Jawabnya. "Bagaimana kabar tuan Alvin dan Rei?" Tanyanya.


"Rei sangat baik." Jawabnya. "Sedangkan Alvin.... Dia sedang dalam tahap pemulihan setelah operasi."


Arlo menatap Kenzo. "Operasi? Operasi apa?" Tanyanya penasaran. Karena setahunya pria itu tidak memiliki riwayat penyakit apapun hingga mengharuskannya menjalani operasi.


"Dia tertembak saat berada di Orlan." Jawab Kenzo yang kini berbalik dan hendak pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir petter. Arlo pun mengikuti kemana pria itu pergi dengan pernyataan yang sama. "Bagaimana bisa?"


"Ceritanya panjang. Yang jelas saat ini alvin baik-baik saja," Jelas Kenzo.


"Apa lukanya sangat parah?" Tanya Arlo dengan langkah kaki yang dipercepat untuk menyusul Kenzo yang berjalan cepat.


"Tentu, makanya dia harus dioperasi." Kenzo menatap Arlo yang kini sejajar dengannya.


Arlo terdiam dan masih mengikuti langkah kaki Kenzo yang buru-buru itu. Entah kenapa langkah kaki pria itu sungguh cepat dibanding cara kerja otaknya. "Paman Kenz!" Panggil Arlo saat ia tertinggal jauh karena Kenzo sudah masuk kedalam mobil.


Arlo Segera berlari ketika Kenzo berhenti dan menunggunya. "Apa jenis luka tembaknya?" Arlo begitu penasaran sampai menanyakan hal itu.

__ADS_1


Kenzo menatap Arlo, "Apa itu penting?" Tanyanya dan dibalas anggukan kepala tanda bahwa dirinya setuju oleh Arlo. "Hanya luka tembak biasa." Ujarnya kemudian masuk kedalam mobil.


Kenzo membuka kaca jendela mobilnya itu hingga Arlo menampilkan wajah gembira karena ia akan diajak pergi bersama pria yang lebih tua darinya. "Langsung pulang!" Tegas pria itu. "Jangan biarkan ibumu menyuruhku mencarimu lagi sama seperti sepuluh tahun lalu!" Tegas pria itu hingga Arlo terkejut dan berkata. "Aku sudah besar dan berkeliling dunia seorang diri, paman!"


"Kau hanya besar di badanmu saja, sisanya masih kurang untuk dikatakan sebagai seorang pria dewasa." Jelas Kenzo hingga Arlo sedikit merasa sakit hati dengan ucapan pamannya itu. Tapi ia sudah terbiasa dengan ucapan-ucapan pedas yang selalu terlontar dari mulut Kenzo.


Kenzo mulai menghidupkan mobilnya lalu menutup kaca jendela mobil. Kakinya yang sudah menginjak pedal gas kini beralih pada pedal rem hingga mobil pria itu berhenti mendadak. "Paman, Buka!" Arlo menggedor kaca mobil Kenzo.


Kenzo membuang napasnya kasar. Ucapannya tadi memang benar tentang kedewasaan Arlo yang masih sangat kurang itu. Buktinya saja pria itu menggedor kaca mobilnya sambil berteriak layaknya anak kecil yang tengah meminta dibelikan sesuatu.


"Apa?" Tanya Kenzo setelah ia membuka kembali kaca mobilnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Arlo. "Bukannya mansion Alvin ke arah sana?" Lanjutnya menunjuk ke arah belakang mobil. Alvin dan Arlo terlihat seusia namun nyatanya Alvin lebih tua dibanding Arlo.


"Aku akan ke Milan." Jawab Kenzo.


Kedua alis Arlo saling bertautan, "Milan?" Herannya. "Kau mau apa ke sana, paman?"


Sedangkan di Milan, Alvin sudah berkumpul bersama keluarganya. Suasana ramai di kediaman nyonya Fortino membuat Alvin muak dan memilih untuk duduk di sebuah taman kecil didekat rumahnya untuk mencari sebuah ketenangan.


"Kenapa sering sekali membuat acara seperti ini setelah ayah tiada?" Kesal Alvin. Ia sangat membenci sikap ibunya yang mulai berubah sejak kepergian Ayahnya, Marco. Hidupnya yang semula berwarna pelangi mendadak berubah menjadi gumpalan awan hitam yang disertai petir. Gelap dan menyeramkan yang harus membuatmu berhati-hati karena petir bisa menyambar tanpa aba-aba.Lemah lembut seorang ibu kepada anaknya tak lagi ia rasakan. Hanya kekerasan dan Omelan yang selalu ia dapat ketika bertatap muka dengan wanita yang sudah melahirkannya itu. Itulah alasannya dia memilih pindah dan hidup bersama Kedua tangannya, Rei dan Kenzo.


"Tahun ini sudah tiga kali dia berpesta dirumah." Gerutunya dengan muka yang setengah menahan amarah itu.


Wajahnya yang ditekuk menambah kelucuan diwajah pria itu hingga sepasang mata yang melihatnya sejak tadi mulai menarik bibirnya hingga sebuah senyuman terukir diwajahnya. Wanita berambut cokelat ikal sepunggung itu semakin dibuat salah tingkah saat Alvin menarik rambutnya kebelakang. "Astaga, dia semakin tampan." Gumamnya.


"Greta, apa yang kau lakukan disana?" Tanya seseorang hingga Wanita itu terkejut.

__ADS_1


"A-aku sedang mencari u-udara segar, Bibi." Jawabnya sambil tersenyum.


"Disini cukup panas untukmu, ya?" Tebak wanita itu. "Lebih baik kau pergi keluar dan berjalan-jalan." Lanjutnya memberi saran.


Greta mengangguk, "Baiklah, aku akan keluar setelah makan siang." Wanita yang tadi menyapa Geta kini pergi.


Dirasa ruangan kembali sepi, grate pun kembali melihat ke arah jendela untuk mengangumi ketampanan Alvin dari jarak jauh. Tapi sungguh malang. Alvin ternyata sudah tiada dari tempat tadi hingga grate pun sedih.."Aku masih menyukainya sejak dulu." Batin Grate.


Ia mengaku pada dirinya sendiri bahwa perasaan suka yang ia miliki pada Alvin bukanlah sebatas rasa kagum kepada kakak sepupunya itu. Melainkan rasa suka selayaknya pria kepada wanita begitupun sebaliknya. Ingin sekali rasanya ia menyampaikan perasaannya itu. Namun sejak kepergian Marco, Alvin mulai berubah dan tak lagi dekat dengan dirinya seperti dulu lagi. Sungguh menyedihkan.


"Grate! Grate!" Panggil seseorang namun wanita itu masih saja sibuk melihat ke arah luar jendela. "Grate!" Kali ini ia memegang bahu wanita itu dan lagi-lagi membuat wanita berambut ikal itu terkejut.


"A-pa?" Grate berbalik badan dan semakin terkejut ketika mendapati Alvin lah yang memanggilnya.


"Katanya kau ingin pergi keluar," ujar Alvin dengan suara yang rendah namun masih dapat didengar.


"Ya, aku ingin mencari udara segar." Jawab Grate setelah beberapa saat tak mengedip dan hanya melihat wajah pria itu.


"Baiklah, kau akan ditemani olehnya." Alvin menunjuk seorang wanita berseragam ala asisten rumah tangga.


"Bukankah kita akan pergi bersama?" Tanyanya.


Alvin tersenyum, "Aku sibuk, grate." Jawab Alvin "Bersenang-senanglah di Milan bersamanya, grate!" Ucap Alvin kemudian berjalan melewati grate begitu saja hingga wanita itu merasa kesal.


"Alvin, Awas Kau Ya!" Batin Grate sambil melihat punggung Alvin yang perlahan menjauh darinya.


"Nona, kemanakah kita sekarang?"" Tanya pelayan wanita yang tadi ditunjuk oleh Alvin.

__ADS_1


"Tidak kemana-mana! Aku ingin tidur!" Kesalnya lalu berlari menuju kamarnya.


Setelah menemui Grate, kini Alvin berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat sebelum bergabung dengan keluarga besarnya di pesta nanti.


__ADS_2