Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 29: Pertemuan Lima ketua keluarga


__ADS_3

Setelah memanggil Rei, kini Alvin duduk bersama dengan Moanna dan seorang wanita tua yang duduk didepannya. Tatapan mata yang tajam dan gerakan tangan yang mengetuk-ngetuk atas meja membuat degup jantung Moanna terdengar keras ke telinganya. Namun hal itu tidak berlaku bagi Alvin. wajahnya tetap tenang begitupun dengan gerak-geriknya yang santai seperti tidak mempunyai sebuah kesalahan.


"Kenapa kau lama sekali membuka pintunya?" Tanya wanita tua yang merupakan ibu dari Moanna sendiri. Cukup lama dirinya berdiri diluar menunggu putrinya membukakan pintu, hampir setengah jam.


"A-aku ta-tadi sedang mandi, Mah." Jawab Moanna gugup. Ia takut jika apa yang dialami olehnya akan mengecewakan sang Mamanya. Padahal hal seperti itu sudah lumrah terjadi pada semua orang. Bahkan anak yang baru menginjak usia dua puluhan pun dapat dipastikan sudah sering melakukan hal semacam itu baik dengan kekasihnya atau menyewa seseorang.


Namun hal itu berbanding terbalik dengan Moanna. Berkali-kali ia memiliki sebuah hubungan namun berakhir perpisahan karena dirinya selalu menolak ajakan kekasihnya untuk bersenang-senang diatas ranjang semalaman. Ia tidak mau melakukan hal itu diluar ikatakan yang kuat seperti pernikahan karena takut jika dirinya akan ditinggalkan begitu saja. Sama seperti dirinya saat kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya karena perceraian. Mseki akhirnya ia tinggal bersama sang Ayah yang kini sudah meninggal. Tetapi tetap saja ia merasa kurang kasih sayang dari salah satu orang tuanya.


"Lalu siapa pria ini?" Mama Moanna menunjuk Alvin dengan telunjuknya yang hampir sampai pada keningnya. "Apa dia kekasih barumu?" Lanjut Mamanya meminta penjelasan Moanna akan pria yang pagi-pagi sudah berada dirumah anaknya.


Moanna terkejut, dan segera menggelengkan kepalanya membantah ucapan sang mama. "Bu-bukan."


"Ya, benar sekali." Sahut Alvin tiba-tiba. "Aku adalah calon menantumu, calon suami pilihan putrimu." ucapnya seraya mengulurkan tangannya. Mengajak mama Moanna untuk berkenalan.


Sedangkan Moanna sangat keberatan mendengar ucapan Alvin dan kini tengah mengumpat dalam hatinya setelah mendengar apa yang baru saja Alvin katakan pada mamanya. "Pilihanku bagaimana? Aku bahkan tidak tau siapa dirimu." Kesal Moanna dalam hatinya.


"Ternyata kau lebih tampan dari pria yang waktu itu datang kemari." Celetuk mamanya tersenyum setelah menerima uluran tangan Alvin.


Alvin mengangkat alisnya lalu menatap Moanna yang tengah membuang muka sambil cemberut disampingnya. "Dia memiliki kekasih?" Batin Alvin.


"Ah, apakah kalian sudah sarapan?" Tanya Mama Moanna kemudian.


Alvin menggeleng sedangkan Moanna tetap dengan wajahnya yang kesal. "Baiklah mari kita sarapan." Ajak Mama Moanna sambil menarik tangan Alvin.


"Tidak. Dia harus pulang cepat!" Timbal Moanna yang menarik tangan Alvin yang lainnya.


"Benarkah begitu?" Mama Moanna sedikit kecewa mendengarnya.


Alvin mendekatkan wajahnya ketelinga Moanna, "Hanya sarapan, dokter. Setelah itu aku akan pergi." bisiknya pelan hingga Moanna dapat merasakan hangatnya hembusan napas pria itu.


Moanna melepaskan tangan Alvin dan membiarkan pria itu ikut mamanya ke dapur.


"Huh..... Apa semalam kami melakukannya?" Moanna menyandarkan tubuhnya pada sofa. Bertanya pada pikirannya yang saat ini tengah kacau. Belum lagi ia harus berangkat bekerja pagi.


Ketukan pintu membuat Moanna kembali membuka matanya, "siapa lagi?" Kesalnya kemudian bangkit untuk melihat.


"Pagi, Dokter." Sapa Kenzo dengan senyuman. "Aku datang untuk menjemput, Alvin." Lanjutnya menjelaskan maksud akan kedatangannya.


"Dia sedang sarapan, masuklah." Ucap Moanna melebarkan bukaan pintu supaya dua pria yang tengah berdiri didepannya dapat masuk kedalam.


Kenzo dan Rei satu persatu masuk kedalam. Masing-masing mata mereka berkeliling melihat-lihat susunan rumah yang semalam mereka kunjungi tanpa sepengetahuan pemiliknya. "Ternyata ruangannya luas," ujar Rei. Ia berpikir bahwa rumah Moanna sempit karena ia merasa semalam kesulitan untuk bergerak hingga ia harus benar-benar berhati-hati ketika melangkah.


"Orang yang kalian cari ada disana." Moanna menunjukan dapurnya pada kedua pria yang berpakaian rapi itu lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil tas serta snelli miliknya.


"Sial. Kenapa pasienku malah menjadi sumber masalahku," kesal Moanna ketika ia mengambil tasnya dan kembali untuk berangkat.

__ADS_1


"Moa!" Panggil Mamanya, "sini, sarapan dulu." Lanjutnya menyuruh agar anak gadisnya itu sarapan sebelum pergi ke Rumah sakit.


Moanna melihat kearah mamanya yang sudah duduk dengan ketiga pria yang bahkan Moanna tak ketahui namanya. "Tidak mah, aku buru-buru." Tolak Moanna halus.


Sungguh malas jika ia harus sarapan bersama ketiga pria itu. Apalagi dengan Alvin yang sudah kurang ajar padanya semalam.


Melihat Moanna yang pergi lantas membuat sang Mama berdiri untuk menyusul wanita yang berprofesi Dokter itu. "Kenapa kau meninggalkan tamu begitu saja?" Tegur wanita itu.


"Dia bukan tamuku," jawab Moanna ketus. " Sudahlah mah, Moa harus pergi sekarang." Pamit Moa lalu pergi setelah mencium kedua pipi ibunya secara bergantian. "Tapi—"


"bye...."


"Hati-hati!.." pesan sang Mama lalu kembali ke dapur setelah Moanna pergi.


"Apakah dia sudah pergi?" Tanya Kenzo selagi menikmati sarapan buatan wanita tua itu.


Mama Moanna mengangguk, "maaf atas perilakunya yang buruk itu." Ucapnya mewakili Moanna lalu kembali duduk diantara tiga pria berwajah tampan itu.


Dering ponsel membuat Rei merogoh sakunya dan berdiri menjauh dari orang-orang, "Bagaimana?" Tanyanya setelah ia menggeser tombol hijau.


"Baiklah, aku akan mengunjunginya sekarang." Ucap Rei dan menutup panggilan. Ia kini kembali mendekati meja makan, "Kita harus melihat kondisi lapangan hari ini, tuan." Ucap Rei pada Alvin.


"Baiklah," Alvin lantas berdiri. "Terima kasih atas sarapan yang begitu lezat ini." Ucap Alvin seraya mencium punggung tangan mama Moanna.


"Sama-sama."


"Terima kasih atas makanannya, nyonya." Rei membungkuk sembilan puluh derajat sebagai tanda bahwa ia menikmati hidangan yang sudah disiapkan kemudian pergi menyusul Alvin dan Kenzo yang sudah duluan pergi.


"Terima kasih juga karena kalian sudah berkunjung, lainkali datanglah lagi." Ucap Mama Moanna kemudian mengantar ketiga pria tampan itu pergi dari rumahnya.


••••>>


Usai menikmati sarapan dirumah Moanna, Alvin dan kedua tangannya sudah tiba disebuah tanah lapang yang rencananya akan dibangun pabrik minuman tradisional. Sebagai pengalih perhatian bahwa pekerjaan dirinya sebenarnya adalah seorang mafia.


"Berapa lama waktu untuk membangun sebuah pabrik?" tanya Alvin kepada salah satu pekerja.


"Kurang lebih sekitar satu tahun, tuan. "jawab pekerja itu.


"kenapa lama sekali?" Heran Alvin. "Apa tidak bisa dipercepat?" tanyanya.


"Sebisa mungkin kami akan menyelesaikan proyek ini sebelum menginjak satu tahun, tuan." Tutur pekerja itu.


"Aku ingin semuanya beres selama satu tahun." tegas Alvin. "Jika lebih aku akan membatalkannya!" Lanjutnya menegaskan para pekerja untuk bekerja keras menyelesaikan proyek miliknya.


"Baik, tuan."

__ADS_1


"Vin," panggil Kenzo. "Sepertinya kita harus segera pulang, para ketua dari setiap keluarga sudah menunggumu."


"Rei, aku serahkan padamu!" Ucap Alvin lalu pergi meninggalkan tempat yang akan menjadi sumber uang selanjutnya bagi dirinya.


"Ok," Jawab Rei singkat.


Didalam mobil Alvin sudah mengira bahwa kedatangan setiap ketua keluarga itu bermaksud untuk kembali membujuk dirinya supaya menyetujui bisnis narkoba yang mereka inginkan.


Namun karena ia tahu resiko dari bisnis itu sangat besar membuat alvin memutuskan menolak bisnis itu dan membuat hubungan diantara mereka sedikit merenggang.


"Apakah kau berubah pikiran?" tanya Kenzo.


"Tidak akan." Tegas Alvin. "Aku tidak mau menerima resiko besar atas itu semua." Lanjutnya.


Setelah kembali dari Milan kemarin, akhirnya kini Alvin menginjakan kakinya di tempat ia berteduh. Mobil-mobil bermacam-macam jenis sudah berjejer rapih dihalaman rumahnya. sepertinya setiap ketua keluarga sudah berkumpul didalam sana.


Dengan langkah pelan, Alvin keluar dari mobil dengan sambutan dari setiap orang yang berpapasan dengannya. Namun pria berambut hitam dengan buku mata yang lurus nan panjang itu tak menghiraukan semua dan tetap menegakkan wajahnya menuju ruangan dimana orang-orang sudah menunggunya.


"Siang semuanya, "Sapa Alvin dan menarik satu kursi sebelah akhirnya ia duduk perlahan.


"Bagaimana keadaanmu setelah insiden itu?" tanya Clarina Vyer—satu-satunya wanita yang menjadi ketua bagi keluarganya.


"Kau bisa melihatnya bukan?" Ledek Alvin. "Aku masih hidup." lanjutnya.


"Tidak sepatutnya kau bicara seperti itu kepada seorang wanita, tuan Fortino." Sela Luigi Abnomi.


"Ya, benar sekali. Dia bahkan tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik." Sahut keluarga Fausto.


"Apa kalian menyuruhku kesini untuk memujanya?" kesal Alvin.


Semuanya terdiam ketika mendengar Alvin meninggikan suaranya. "Jika iya, lebih baik aku tidak ikut serta." Lanjutnya dan hendak meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu!" seru Clarina. "Kalian semua hentikan itu dan mulailah pada intinya!"


"Baiklah, kau pastinya sudah tahu alasan kami semua berkumpul." seru Oslaw, ketua keluarga Benvolio — ayah dari Max.


"Tentu saja, dan aku tetap dengan keputusan pertamaku!" tegas Alvin.


"Mengapa kau begitu keras kepala, Vin?" Bentak Oslaw. "Apa kau tidak tergiur dengan keuntungannya?"


"Dan bagaimana denganmu? apa kau tidak takut akan resikonya?" tanya Alvin dengan wajah yang menyindir.


"Mengapa harus memikirkan resiko jika kita punya Signore yang akan melindungi?" jawab Oslaw.


"Itukah kebodohanmu. Kau terlalu bergantung padaku dan tidak peduli resiko akhirnya." Ucap Alvin.

__ADS_1


perdebatan terjadi diruangan itu. Ada yang setuju dengan dimulainya bisnis narkoba, ada juga yang enggan mengambil resiko seperti Alvin.


"Pikirkan kembali keuntungan yang akan kau dapatkan dari bisnis itu, Vin!" teriak Oslaw setelah Alvin memutuskan untuk pergi dan tetep kekeh dengan keputusannya, Tidak.


__ADS_2