
Pertemuan antara Alvin dan Moanna malam itu menjadi malam terpanjang bagi keduanya. Karena semalam mobil yang dikendarai oleh Alvin mengalami pecah ban, dan mereka tidak membawa alat juga ban serep untuk menggantinya.
Moanna yang berpikir bahwa ia harus menolong sesama, menawarkan diri untuk membantu dengan mengajak Alvin untuk singgah dirumahnya yang terletak tak jauh dari pusat kota.
Kenzo yang kebetulan tengah pergi ke toilet menyisakan Rei yang harus kasulitan mengurus semuanya sendiri. "Aku akan menjemputmu jika semua sudah selesai." Ucap Rei pada Alvin yang menatapnya untuk meminta persetujuan.
"Baiklah," Jawab Alvin kemudian mengikuti kemana Moanna membawanya.
Tak banyak bicara, hanya diam dan mengikuti yang dilakukan oleh Alvin seperti biasanya. "Apa kau akan mencalonkan diri untuk menggantikan pemimpin kota ini?" Tanya Moanna tiba-tiba.
Bukan tanpa alasan dirinya menanyakn hal itu. Pasalnya saat ini tengah ramai orang-orang berkampaye mencalonkan diri. Dengan bingung Alvin menjawab, "Aku belum ada kemauan untuk itu." Alvin menjawab ngasal. "Aku masih senang dengan pekerjaanku sekarang." Lanjutnya.
Padahal pada kenyataannya ia terpaksa melakukan hal itu karena menggantikan ayahnya. Sungguh berat menanggung pekerjaan yang sudah berjalan tanpa tahu dengan jelas pekerjaan itu sendiri. Tapi mau bagaimana mana lagi, sebagai anak laki-laki satu-satunya membuat Alvin memilih mengambil alih. Berpura-pura menyukai pekerjaan yang tak kau inginkan bukanlah sebuah dosa bukan?
"Oh begitu," Ujar Moanna mengangguk seperti orang yang mengerti maksud perkataan pria berambut hitam lurus dengan mata yang besar itu. "Ah, rumahku disana," ucapnya.
Alvin menengok kemana tangan wanita itu mengarah. Sebuah rumah yang tak terlalu kecil itu berada diantara toko bunga dan rumah yang besar. Bukan hanya rumah Moanna yang ia perhatikan. Tetapi juga sudut-sudut bangunan yang cocok untuk digunakan sebagai tempat mengintai. Jelas terlihat sebuah cahaya yang kini mengarah padanya hingga membuat pria itu segera mengepalkan tangannya, memberi sebuah kode untuk menjauhkan sedikit teropong itu.
Para pengintai yang tengah bersiap diposisi segera mengikuti apa yang dimaksud oleh Alvin. "Tuan Alvin menyuruh kita mundur." ujar pengintai 3 yang sejajar dengan posisi. Alvin saat ini.
"Siap," kompak para pengintai.
"Kenapa tuan Alvin ada disini sendirian?" Gumam Para pengintai.
Moanna membuka kunci rumahnya dan mempersilahkan Alvin untuk masuk dan singgah sejenak sampai mobilnya selesai diperbaiki.
••••>>
Dipinggir jalan kenzo dan Rei tengah berdiri sambil menghisap rokok. Tak ada yang dilakukan oleh kedua pria itu pada mobil karena memang sebenarnya tak ada yang sulit untuk diperbaiki jika kau bisa menyuruh seseorang melakukannya.
"Bagaimana dengan rencana tadi?" Tanya Kenzo pada Rei.
__ADS_1
"Sudah aku selesaikan, hanya tinggal melihat dan bayar." Jawab Rei menunjukkan tablet hitam yang selalu ia bawa itu.
"Woah Rei, kau memang hebat dalam hal begitu." Puji Kenzo kepada pemuda Jepang itu. "Tapi maaf, jika soal otot akulah yang terhebat." Ucap Kenzo membanggakan dirinya sendiri.
"Ya... Ya... Ya... Terserah dirimu!" Ucap Rei mengakui apa yang dikatakan pria itu supaya dirinya senang. Meskipun sikapnya yang dingin dibanding Alvin dan Kenzo, Rei masih tetap menghormati dan takut terhadap keduanya.
Kenzo memutar bola matanya, kesal karena jawaban Rei yang begitu menyebalkan. "Kira-kira apa yang akan mereka lakukan?" Kenzo mencoba membayangkan hal yang akan terjadi dirumah Moanna.
Bukan sebuah pergulatan di atas ranjang yang melintas dipikirannya. Melainkan jawaban-jawaban Alvin yang singkat dan jelas ketika ditanya banyak hal oleh Moanna.
"Mungkin mereka hanya akan minum teh." Timbal Rei. Tangannya kini menengadah saat sebuah air menetes di wajahnya. "Sepertinya hujan akan turun," Rei beranjak masuk kedalam mobil disusul oleh Kenzo kemudian.
"Apakah Alvin serius ingin menikah?" Tanya Rei disaat Kenzo sudah masuk kedalam mobil.
"Aku tidak tahu. Yang jelas saat ini Alvin tengah mencari tahu tentang Dokter tadi,"Jelas Kenzo mulai menjelaskan kejadian selama dirinya dan Alvin berada di Milan.
"Pantas saja wajahnya seperti pernah kulihat." Gumam Rei.
"Saat insiden itu."
Rei menatap Kenzo lekat. "Mau membuat keinginan Alvin terkabul?" Tanyanya. "Ikutlah denganku!" Ajak Rei.
Siapa kira malam yang gelap dengan bintang yang bersinar akan menurunkan hujan yang cukup deras. Alvin yang tengah melanjutkan konsultasinya dengan Moanna mulai resah karena Rei ataupun Kenzo belum juga memberi kabar kapan mereka akan menjemput.
"Sial, kenapa mereka begitu lama?" Batin Alvin dalam hatinya.
"Astaga, ini pertama kalinya aku mengajak seorang pria masuk ke rumahku tanpa ditemani siapapun." Batin Moanna yang takut pada Alvin. Karena bagaimanapun dia seorang pria yang dapat melakukan apapun pada dirinya seperti merampok atau bahkan membunuhnya.
"Anu... Apakah orang itu sudah selesai mengerjakan tugasnya?" Tanya Moanna gugup. Ia merasa pertanyaan sedikit menyinggung karena seperti nada halus untuk mengusir. Padahal memang niatnya seperti itu;
"Entahlah," jawab Alvin. Ia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi salah satu dari anak buahnya itu. Namun sayangnya kedua pria itu tak mengangkat panggilannya, dan kini hujan semakin deras disertai angin.
__ADS_1
"Sepertinya masih belum—"
"Ya, tuhan." Kaget Moanna ketika lampu tiba-tiba mati. Ia kini mencoba meraba-raba meja untuk mencari ponselnya yang ia letakan diatas meja.
Jari-jarinya mulai merayap perlahan hingga ia menyentuh benda kenyal dan menimbulkan bunyi teriakan.
"Apa itu?" Kaget Moanna seraya segera melepaskan tangannya dari benda itu.
"Mana aku tahu, kau memangnya memegang apa?" Tanya Alvin yang juga ikut terkejut.
"Aku mencari ponselku untuk menyalakan senter. Tapi aku tidak dapat melihat," tutur Moanna.
Sorot cahaya kecil kini menyinari wajah Moanna, "sekarang cari ponselmu!" Ucap Alvin.
Moanna mengitari meja dan akhirnya ia menemukan ponsel kesayangan itu kemudian menghidupkan Flashlight yang langsung menyoroti wajah Alvin yang putih dan mulus itu.
"Astaga, indah sekali." Batin Moanna yang terkesima akan wajah Alvin yang baru disadari ketampanannya oleh Moanna.
"Turunkan ponselmu! mataku silau." Kesal Alvin.
Moanna seketika menurunkan ponselnya, "Maafkan aku, tuan."
"Duduklah, berdiri begitu tidak akan membuat lampunya cepat menyala." Ujar Alvin yang mulai kesal.
Moanna duduk disofa disamping Alvin. "Mengapa dia begitu kesal? inikan rumahku, bukan rumahnya. Harusnya akulah yang kesal padanya!" Gerutu Moanna dalam hatinya.
Tak ada obrolan diantara kedua orang dewasa itu. Hanya flashlight yang disimpan diatas meja yang menemani kesunyian didalam rumah Moanna. Beberapa detik kemudian Moanna menguap hingga matanya berair.
sedangkan Alvin sibuk dengan ponselnya, menghubungi Rei dan Kenzo melalui sebuah pesan. Lamanya ia berfokus pada ponsel membuatnya tak menyadari bahwa Moanna telah terlelap dengan posisi duduk dan kepala disamping sofa.
Alvin menatap lekat wajah Moanna yang kini tersorot oleh Flashlight ponselnya. Bulu mata yang panjang serta bibir yang merah begitu jelas terlihat di bola mata Alvin.
__ADS_1
"Terima kasih.."