
"Lepaskan aku!" Teriak Moanna mencoba melepaskan jeratan Kenzo dari tangannya.
Kenzo mendekati telinga Moanna. "Ikut atau penyesalan yang akan kau lihat!" Bisik pria berwajah kalem itu hingga Moanna yang terus berontak seketika terdiam.
Kenzo pun menggiring wanita itu untuk masuk kedalam mobil dan berkata, "Tunggulah disini hingga Alvin datang!"
Moanna hanya mengangguk layaknya peliharaan yang patuh pada majikannya. "Oh satu lagi," Kenzo yang semula hendak meninggalkan mobil kembali menghadap Moanna.
"Jangan kabur lagi!" pesannya lalu kembali masuk ke restoran dimana Leo dan Alvin berada.
"Aku hanya ingin membahagiakannya." Ucap seorang pria membela dirinya.
"Membahagiakan?" Alvin mengangkat alisnya. "Kau pikir kau siapa harus membahagiakan istriku?" ucap Alvin dengan suara yang sedang sehingga tak mengganggu kenyamanan para pengunjung restoran itu.
Leo terdiam dengan mata yang kini menatap sosok pria yang baru saja tiba dimeja mereka. "Aku, pria yang dia cintai." Ucapnya kemudian.
"Karena itu hanya aku yang bisa membahagiakannya." Lanjut Leo.
"Benarkah?" Tanya Alvin dengan raut wajah yang meragukan ucapan pria itu. "Lantas mengapa dia setuju menikah denganku jika kau cintanya?"
"I-itu.. Itu karena ia terpaksa. Makanya dia setuju."
Senyuman meledek tergambar di wajah Alvin. "Urus dia!" perintah Alvin lalu pergi meninggalkan Tempat itu. Begitu juga dengan Kenzo yang mengekori pria itu dibelakangnya.
"Semuanya terserah padamu, Enzio." Ucap Kenzo sebelum melangkahkan kakinya.
"Sesuai keinginanmu," Enzio tersenyum senang. Inilah hal yang ia sukai, menggantikan tuannya melakukan bagian terakhir.
Alvin bergegas membuka pintu mobil bagian depan namun ia tak melihat sosok wanita didalamnya. "Apa dia kabur lagi? Kemana wanita itu?" Tanya Alvin pada Kenzo yang berdiri disampingnya hendak membuka pintu belakang.
"Dia disini," Ucapnya setelah membuka pintu dan seketika menampakkan Moanna yang sudah terlelap di kursi belakang dengan tenangnya.
Alvin menatap Moanna kemudian masuk kedalam mobil. "Jangan kembali ke hotel! Kita pulang ke mansion!" ucapnya setelah Kenzo duduk dibalik kemudi.
"Kau serius?" Kenzo melirik Atasannya itu dari spion.
"Apa aku terlihat bercanda?" Alvin membalas lirikan Kenzo.
__ADS_1
"Baiklah jika itu mau mu." Kenzo melajukan mobil Alfa Romeo hitam menuju Bolsena, tempat dimana mansion Alvin berada.
"Ayo kita bersenang-senang." Ucap Enzio menepuk bahu pria yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Tidak usah takut, Aku tidak akan menggigit." Lanjutnya kemudian berjalan duluan dengan senyuman yang perlahan-lahan mengembang di bibirnya. "tapi aku akan mencabik mu!" Ucap enzio dalam hatinya.
Dengan rasa percaya Leo pun mengikuti Enzio tanpa berpikir bahwa pria yang membawanya itu adalah sosok pria yang siap membunuh kapanpun tanpa rasa bersalah. Jangankan bersalah, menyesal pun sepertinya tak pernah dirasakan pria berusia 33 tahun itu.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Leo.
"Apa kau tau tempat ini?" Enzio menunjukkan Poto sebuah gedung yang besar, tempat dimana dirinya tinggal bersama 300 orang lebih didalamnya.
Leo menggeleng, "Dimana itu? Aku tidak pernah melihatnya."
"Tempat ini bahkan tidak ada di peta digital karena itu adalah tempat menuju surga." lanjut Enzio penuh arti.
"Menuju surga?" Leo agak aneh mendengar kata itu, "Maksudmu?"
"Taukah kau surga dunia? Tempat itu salah satunya."
Enzio melirik Leo yang masih memandang ke sembarang arah. Seumur senyuman jahat nelingkar diwajah pria itu. "Bagaimana? Apa kau tertarik?"
"Apa kau mau ikut?"
"Tentu,"
Drttt...
"Sebentar, ponselku berbunyi." Ucap Leo lalu segera menjawab panggilan itu.
Enzio pun mempersilahkan pria itu untuk mengangkat telepon daru seseorang.
"Halo...."
"Gawat, Dok. Pasien yang baru saja dioperasi mendadak pendarahan hebat." Seru seseorang dibalik telepon.
"Siapa yang sedang menanganinya sekarang?" Tanya Leo.
__ADS_1
"Tidak ada, Dok." Paniknya.
"Aku akan tiba disana dalam 15 menit." Ucap Leo mengakhiri panggilan lalu menghampiri Enzio yang masih berdiri ditempatnya.
"Apa kita berangkat sekarang?" Tanya Enzio.
Leo menepuk pundak Enzio hingga sorot mata pria itu menajam menatap tangan yang menyentuh pundaknya. "Maaf, aku tidak bisa ikut denganmu. Aku harus segera kerumah sakit karena seorang pasien mengalami pendarahan pasca operasi." jelas Leo.
Rasa kesal mulai terlihat diwajah pria itu, namun ia tetap saja menampakkan ekspresi yang biasa saja. "Hmm, tidak apa. Pergilah dan selamat kan pasienmu!"
Bukan tanpa alasan Enzio membiarkan Leo pergi ke rumah sakit, Ia hanya tidak mau pihak rumah sakit bertanya-tanya jika pria itu tak muncul malam ini. Dan jika hal itu terjadi maka akan melibatkan banyak pihak hingga semuanya akan terendus oleh masa.
"Terima kasih atas tawaranmu, tuan." Ucap Leo kemudian pamit undur diri dan pergi dengan motor sport putihnya.
Enzio mengangkat sebelah bibirnya. "Aku suka gaya pria itu." Ucapnya kemudian meninggalkan tempat itu juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit semakin gelap karena malam sudah sangat larut. Udarapun kian dingin membuat siapapun yang keluar akan membutuhkan pakaian hangat tambahan.
Seperti biasa, keheningan selalu terjadi di dalam mobil. Hanya suara helaan napas panjang yang terdengar kadang-kadang. "Kenz, apakah kau punya mantel?"
"Tidak," Jawab Kenzo cepat. "Memangnya kenapa? Kau kedinginan?" Kenzo menatap Alvin dari spion.
Alvin menatap wanita yang duduk disampingnya, "Bukan aku, tapi dia." Sahutnya. Ia cukup terganggu dengan hentakan gigi wanita itu yang terus berbunyi karena kedinginan.
"Apa dia akan baik-baik saja? Pakaian yang ia gunakan sepertinya cukup tipis." tutur Kenzo khawatir jika Moanna kenapa-kenapa.
"Entahlah, aku tidak tahu." Jawab Alvin acuh.
Sebuah tikungan yang cukup tajam membuat Moanna yang tertidur lelap kehilangan keseimbangannya hingga kepalanya jatuh diatas bahu Alvin.
"Aw...."
Moanna membuka kedua matanya perlahan. "Huhu...dingin sekali disini." keluhnya seraya mengelus lengannya supaya sedikit hangat.
Kenzo yang mendengar suara dari belakang lantas melirik spion. Disana ia disuguhi pemandangan dimana Alvin menidurkan Moanna di pahanya dan menyelimuti wanita itu dengan jaket yang semula dikenakannya.
__ADS_1
"Jangan meledekku!" Sergah Alvin yang mendapati Kenzo tengah menatapnya.
Sesegera mungkin Kenzo memalingkan wajahnya untuk fokus pada jalan. Dengan senyuman meledek ia menggelengkan kepalanya. "Rei, kau melewatkan hal yang sangat berharga." Gumam Kenzo.