
Langkah kaki sebuah boots berwarna hitam menginjak genangan air hujan semalam. Dengan sebuah payung ditangannya, ia mengetuk pintu rumah didekat toko bunga yang masih bertuliskan tutup.
Gedoran pintu membuat sang pemilik yang masih tertidur pulas mengerjapkan kedua matanya. "Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu!" Kesalnya lalu kembali menarik selimutnya lebih tinggi lagi dan menambah kehangatan.
Tangannya yang hendak memeluk guling disampingnya tiba-tiba menimbulkan suara seperti ia memukul sesuatu. Moanna membuka kedua matanya, "AHHH...." Teriak Moanna segera bangkit dari tidurnya dan segera menutupi seluruh tubuhnya yang ternyata tak mengenakan sehelai kain pun ditubuhnya.
Teriakan Moanna yang melengking membuat pria yang tidur disampingnya terbangun. Kebingungan terpancar jelas diwajah pria yang nyawanya belum terkumpul itu. "Siapa kau berani masuk ke kamarku?" Tanya pria itu dingin seraya ikut bangkit dan duduk disamping Moanna.
"INI KAMAR KU!" Teriak Moanna seraya melemparkan bantal pada Alvin yang langsung mengenai tubuh pria itu. "Kenapa kau ada disini!" Lanjutnya tak terima jika ia baru saja menghabiskan malam bersama pria yang tidak ia kenali.
Alvin mengitari ruangan yang ternyata memang bukanlah kamarnya. "Kenapa aku ada disini?" Heran Alvin. Ia lalu melihat keadaan dirinya yang bertelanjang dada sedangkan Moanna menutupi tubuhnya dengan sebagian selimut. "Kau menjebakku?" Tuduh Alvin pada Moanna yang tengah merenung.
"APA? Kau gila?" Sergah Moanna tak terima dengan tuduhan Alvin. "Kau pikir aku ini perempuan macam apa, hah?" Teriak Moanna pecah hingga kini wanita itu mulai mengeluarkan air mata.
Alvin yang tak tau apa yang sudah terjadi diantara mereka hanya dapat menduga bahwa mereka berdua telah melakukan malam panas bersama ketika listrik mati ditengah hujan lebat semalam. "Apa benar?" Gumam Alvin dalam hatinya.
Tangis Moanna semakin pecah ditengah gedoran pintu yang terus-menerus di pintu depan. Alvin yang juga mendengar gedoran pintu lantas beranjak meninggalkan ranjang untuk mencari pakaiannya yang entah berada dimana. "Kenakan pakaianmu!" Perintah Alvin pada Moanna sebelum ia meninggalkan kamar wanita itu.
Dengan selimut yang membantu dirinya menutupi seluruh tubuhnya, dan langkah kaki yang gontai, Moanna berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dengan air mata yang masih belum mau berhenti Moanna menguyur tubuhnya dengan air dingin dan mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sayang, ia tidak mengingat apapun selain saat dirinya mencari ponsel ketika listrik mati.
Sedangkan Alvin yang sudah kembali rapi kini terduduk disofa sambil memainkan ponselnya. Tentu saja menghubungi kedua tangannya, Kenzo dan Rei. Ia tak menghiraukan suara ketukan pintu karena itu bukanlah rumahnya, jadi ia memilih menunggu Moanna dan membiarkan sang pemilik rumah yang menyambut tamunya.
••••>>>
Dering ponselnya yang terletak dinakas membuat sang pemilik yang tengah duduk sambil berbincang lantas mengambilnya.
"Maafkan kami Vin, semalam hujan sangat lebat dan mobil belum juga selesai." Tutur Rei yang mendapat pertanyaan bertubi dari Alvin.
"Kenapa sulit sekali menghubungi kalian berdua, hah?" Kesal Alvin.
"Ponselku jatuh saat berjongkok untuk mengambil peralatan, "Seru Kenzo yang duduk disebelah Rei.
"Ponselku mati karena kehabisan baterai." Jawab Rei dengan mata yang menatap pada Kenzo penuh arti.
"CK, jemput aku sekarang!" Pinta Alvin lalu mematikan panggilan.
__ADS_1
Rei dan Kenzo seketika tersenyum setelah panggilan dengan Alvin berakhir. Bukannya tanpa alasan mereka ta menjemput pria itu, karena memang mereka berdua sengaja melakukan itu. Termasuk membuat Alvin dan Moanna seperti orang yang telah melakukan hubungan panas diatas ranjang.
Semalam ketika hujan sedang lebat-lebatnya, Rei dan Kenzo tengah berada didepan rumah Moanna. Saat akan mengetuk pintu, tiba-tiba listrik mati hingga rencana yang mereka susun awalnya berubah seketika.
Awalnya mereka berniat akan bergabung dengan Alvin dan Moanna untuk menikmati makanan yang mereka bawa yang tentu saja dengan dua minuman yang sudah mereka beri campuran obat tidur. Tapi ternyata rencana gagal karena tidak mungkin makan-makan ditengah kegelapan.
Rei dan Kenzo pun berpikir didepan pintu rumah Moanna sambil menggigil karena kedinginan. "Apa selanjutnya, Rei?" Tanya Kenzo yang kini berjongkok.
"Berpikirlah!" Gumam Rei sambil mundar- mandir. "Aku tahu!" Serunya ketika ia mendapat ide gila di otaknya.
"Apa itu?" Kenzo begitu antusias hingga ponsel didalam sakunya jatuh ke genangan air. "Ponselku..." Kenzo mengambil benda yang sudah basah itu lalu kembali memasukkannya kedalam saku untuk diperbaiki nanti.
"Kita masuk diam-diam dan bergabung dengan mereka." Serunya lalu mencoba membuka pintu yang ternyata belum dikunci itu. Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan oleh pria Jepang-Italy itu melakukan aksinya.
Digelapan ruangan yang tak ia ketahui tata letaknya itu, kedua pria dewasa berjalan seperti seorang pencuri, mengendap-endap pastinya.
"Turunkan ponselmu! mataku silau." Kesal Alvin pada Moanna.
Rei dan Kenzo yang sudah berada didekat kedua orang itu dapat mendengar apapun yang dibicarakan oleh mereka berdua. "Apa selanjutnya?" bisik Kenzo.
"Diam disini dan tunggu aku kembali!" titah Rei.
Dengan bantuan cahaya Flashlight dari ponsel Alvin, Rei kini mendekati cangkir teh kemudian mencampurkan obat tidur.
"Terimakasih..." Ujar Alvin hingg Rei terdiam sesaat kemudian melanjutkan kembali aksinya.
Dengan hati-hati, Rei kembali ke tempat dimana Kenzo menunggunya. "sekarang bagaimana?"
"Tunggu sampai mereka berdua tertidur." ucap Rei dan memilih untuk duduk ditempatnya kini.
Setelah mengucapkan terimakasih pada Moanna yang entah untuk apa, Alvin kini meneguk teh sampai habis tak tersisa. Tak lama rasa kantuk perlahan mulai melanda pria berambut hitam itu. Bahkan beberapa kali ia hampir tersungkur karena tak kuat menahan kantuk yang begitu hebatnya. Tentunya itu karena obat tidur.
Akhirnya Alvin tertidur disofa didekat Moanna yang sudah duluan menutup kedua matanya. "Rei, mereka sudah pulas!" ujar Kenzo yang dapat melihat area sofa karena Flashlight masih menyala.
Rei menjentikkan jarinya, Lalu berdiri. "Bagus, mari kita mulai!" Ujarnya penuh semangat.
__ADS_1
Merekapun kini mendekati kedua orang itu lalu membawanya masuk ke kamar Moanna. "Letakan seperti ini saja?" Tanya Kenzo setelah meletakkan Moanna diatas ranjang.
"Buka pakaian mereka!" Ucap Rei hingga Kenzo terkejut, "Hah? bu-buka?" Kenzo menunjuk Moanna.
Rei kini menghampiri Kenzo yang berdiri didekat Moanna, "Kau buka baju Alvin, biar aku yang membuka bajunya." Saran pria itu.
"Baiklah, tapi berhati-hatilah karena dia seorang wanita." ledek Kenzo seraya beralih untuk membuka pakaian Alvin.
"Berisik!" kesal Rei. Pria berkulit putih itu kini menutupi tubuh Moanna dengan selimut lalu mulai membukanya dengan sangat hati-hati.
Karena salah sedikit saja tangannya itu akan ternoda, ya meskipun tangannya tidak begitu bersih karena beberapa kali ia mengepalkan tangannya sambil berlumuran darah orang lain.
Usai semuanya selesai, kedua pria itu menutupi Moanna dan Alvin yang tertidur pulas dengan selimut. Tak lupa mereka juga mengatur posisi kedua orang itu supaya seperti orang yang baru saja selesai bersenang-senang.
.
.
.
.
.
.
.
...
Berikan dukunganmu
juga cintamu
percaya padaku ini akan seru
__ADS_1
hingga ending kisah terus dukung aku (Bacanya pake lirik ungu ya🤣)
yee, terimakasih