Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 36: The wedding


__ADS_3

Usai beberapa hari kesana kemari mempersiapkan segala macam keperluan untuk acara pernikahannya, kini sudah saatnya acara sakral itu berlangsung. Di salah satu hotel elite di Viterbo dengan tuksedo yang sudah melekat rapi ditubuhnya, Alvin menyemprotkan parfum ke beberapa titik ditubuhnya seraya melihat pantulan dirinya dari cermin. "Apa kau merasa gugup, Vin?" Tanya Rei yang melihat tuannya itu beberapa kali menarik napasnya.


"Tentu saja. Ini acara sakral, bodoh!" Sahut Kenzo hang tengah duduk disudut ruangan itu.


"Diam!" Tegas Alvin. "Kalian semakin membuatku gugup." Lanjut pria itu melototkan kedua matanya hingga kedua pria itu terdiam seketika.


Meskipun ia menikahi Moanna bukan karena kemauannya sendiri melainkan untuk mempertahankan gelar Signore-nya, bagaimanapun juga pernikahan baginya adalah hal yang sakral. Bukan sebuah permainan. Maka dari itu ia memilih-milih banyak wanita untuk ia ajak mengingat janji suci meski tanpa sebuah perasaan. Dan akhirnya ia menemukan Moanna.


"Tenanglah, Ini tidak akan lama."Ujar Kenzo.


"Apa kau pernah merasakannya?" Tanya Rei yang melihat raut wajah Kenzo yang begitu meyakinkan itu.


Kenzo menggeleng. "Tapi sepupuku pernah mengalaminya." Celetuknya sambil tersenyum.


"Ck." Decak Rei.


Sementara diruangan yang lain tepatnya disamping ruangan Alvin, seorang wanita tengah duduk dengan beberapa orang yang membantu merias dirinya. Sentuhan terakhir kini ada pada bibirnya yang tengah dipakaikan lipstik berwarna merah supaya menambah kesan yang seksi dan dewasa.


"Selesai." Ujar sang perias seraya merapikan alat makeup miliknya kedalam koper.


Moanna lantas membuka kedua matanya dan terkejut ketika mendapati pantulan dirinya di cermin. "Waw..." Takjub Moanna.


"Bagaimana nona, cantik bukan?" Tanya sang perias memastikan bahwa kliennya puas dengan pelayanan yang ia berikan.


Moanna menganggukkan kepalanya. "Ini sangat bagus." Pujinya sambil tersenyum bahagia.


"Kau memang sudah cantik, nona." Puji sang perias.


"Eh?" Kaget Moanna. "Bu-bukan itu maksudku" lanjutnya setelah beberapa saat berpikir. "Maksudku riasan mu sangat cantik dan bagus." Ralat Moanna. "Aku sangat menyukai hasilnya."


"Terimakasih, nona." Ucap perias itu. "Tapi anda lebih cantik dari itu." Lagi-lagi perias itu melontarkan pujian Hinga Moanna kembali tersipu malu dibuatnya.


Ketukan pintu membuat semuanya melirik kearah pintu itu. Tiga orang pria dengan pakaian rapi kemudian muncul setelah pintu ruangan itu terbuka.


"Tinggalkan kami berdua!" Seru Alvin hingga semua orang yang ada didalam keluar. Termasuk Rei dan Kenzo.

__ADS_1


Kini hanya tinggal kedua mempelai yang tersisa diruangan itu. Suasana canggung begitu terasa ketika Alvin hanya diam sambil menatap kearah Moanna. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu. Beberapa saat kemudian Alvin mulai berjalan mendekati Moanna yang tengah duduk didepan cermin. "Astaga, dia semakin mendekat. Apa yang akan terjadi padaku sekarang?" Gumam Moanna dalam hatinya.


"Kita akan mengingat janji suci beberapa saat lagi, Jadi jangan melakukan hal aneh yang akan membuatku marah!" Ucap Alvin tiba-tiba hingga menusuk jauh kedua kuping Moanna.


"A-apa maksudmu?" Tanya Moanna mencoba menyembunyikan kegugupannya.


"Jangan berpikir aku main-main dengan pernikahan ini hanya karena kita baru saling mengetahui nama." tutur Alvin menatap mata bulat Moanna yang kini sama-sama menatap ke arahnya.


Setelah kedua mata itu saling bersitatap beberapa saat, Alvin lantas membalik badannya memunggungi moanna kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu. "Jangan berpikir untuk meninggalkan tempat ini sebelum semuanya selesai!" Ucap Alvin sebelum pria itu membuka pintu. "Ingat keluargamu!" Lanjutnya kemudian pergi.


Deg....


Kata-kata yang baru saja terlontar dari pria itu seakan-akan menampar Moanna secara tidak langsung. Apakah lebih penting melihat senyuman keluarganya disaat matanya sendiri berair karena rasa sakit? Ataukah lebih penting senyuman dibibirnya sendiri dilihat oleh keluarganya sambil mereka semua menangis? Tidak!


Entahlah, ucapan Alvin yang tiba-tiba itu seakan tahu bahwa dirinya memang berniat kabur bersama temannya saat dirinya akan berjalan di altar. Kebingungan pun menyelimuti Moanna. Apakah ia harus melanjutkan niatnya untuk meninggalkan pernikahan itu? Ataukah jalani saja?


Sial...


Moanna melepaskan heels putih dari kakinya Kemudian melempar benda itu ke sembarang arah. Frustasi, begitulah keadaan Moanna saat ini. Suara nyaring dari ponselnya membuat Moanna menghampiri ranjang dan mengambil benda itu.


Secepat mungkin ia berjalan untuk membukakan pintu. "Nona, acaranya sudah dimulai." Ucap wanita yang mengenakan dress selutut itu.


"Tunggu dulu." Tahan Moanna. Ia kemudian mengambil napas panjang beberapa kali.


"Kau gugup ya nona?" Tebak wanita itu.


Moanna tersenyum simpul seraya mengangguk. Bukan karena gugup akan janji suci yang ia ucapkan nanti dihadapan semua orang, melainkan karena ia masih bingung harus memilih keputusan yang mana. Pergi sekarang atau menetap selamanya.


Kini tiba saatnya giliran mempelai wanita masuk ke aula dan menghampiri sang mempelai pria. Bunga-bunga yang dilemparkan oleh orang-orang berterbangan hingga beberapa helai bunga itu menempel di gaun pengantin Moanna.


"Wah, dia sangat cantik. " Puji orang-orang ketiak sorot lampu mengiringi langkah moanna.


"Mama, lihatlah kakak sangat cantik." Ujar Gabie menyuruh agar mamanya itu fokus pada sang kakak bukan pada gelaran acara.


"Benarkan ayah?" kini Gabie bertanya pada Ayahnya.

__ADS_1


Dario mengangguk, "Kakak mu memang sudah cantik dari dulu," ujarnya. "Sama seperti mama kalian."


Gabie yang mendengar hal itu membuang mukanya. "tidak ingat umur." ledeknya.


Semua mata tertuju pada mempelai wanita yang berjalan dengan anggunnya menghampiri Alvin yang siap mengikat janji sehidup semati bersama.


"Apa dia benar-benar calon istrinya?" Tanya Clarina Vyer. Salah satu ketua dari anggota enam keluarga yang ada dalam lingkaran Alvin.


"Sepertinya begitu, Nyonya." Ujar pria disampingnya.


"Ck, dia bahkan tak secantik diriku." Kesal Clarina. Sungguh ia merasa dirinya diinjak oleh Alvin karena pria itu beberapa kali menolak dirinya dengan alasan ia tidak memerlukan seorang wanita dihidupnya. Namun tiba-tiba ia mendapat undangan pernikahan dari pria itu. Sungguh menyebalkan.


Kedua mempelai pun kini saling berhadapan untuk mengikat janji suci pernikahan dihadapan semuanya.


"Aku harap kau menjadi tempatku mengeluh dan berteduh dikala badai menghampiri, Moanna." Ucap Alvin dari hatinya.


Sedangkan Moanna, sambil berpegangan tangan ia menatap ke arah Alvin. Namun bukan pada wajah pria itu, melainkan pada tembok dibelakangnya. "Aku melakukan ini karena isi perutku yang belum tentu seratus persen benar. Jika ternyata tidak ada apapun didalamnya, aku siap kau tinggalkan kapanpun." Ucap Moanna dalam hatinya.


Janji suci kedua mempelai terucap dari mulut mereka masing-masing hingga semua tamu dapat mendengarnya. Tepukan tangan dan kebahagiaanpun mengiringi ketika Alvin mencium kening Moanna usai cincin terpasang dijari manis mereka berdua.


"Cih, seharusnya aku yang menjadi mempelai wanitanya. Bukan wanita jelek itu!" Kesal Greta—sepupu Alvin yang sudah lama memiliki rasa pada pria itu. Hal yang membuatnya semakin yakin bahwa dia akan menjadi menantu keluarga Fortino adalah usai party di Milan ketika Alvin yang masih bersikap seperti dulu padanya.


Tangannya mengepal erat saat matanya melihat adegan yang ia inginkan dari dulu untuk dilakukan bersama Alvin. Sebuah kecupan bibir yang dilakukan oleh kedua mempelai membuat ricuh suasana. Namun menyakitkan baginya.


"Wah, tak ku sangka dia lihai melakukannya." Ujar Rei yang tak menyangka bahwa tuannya itu lihai dalam hal ciuman.


"Aku daritadi menduga bahwa dia akan kaku dan kasar. Ternyata dugaanku salah." Sahut Kenzo yang berdiri disamping Rei.


"Apa dia semalam berlatih dulu?" Duga Kenzo. karena semalam pria itu tak keluar dari kamarnya usai makan malam.


Sementara Moanna terkejut dengan peralakuan Alvin yang tak terduga itu. Meskipun ia kini adalah istrinya, tapi tak semestinya pria itu melakukannya tiba-tiba. Terlebih lagi tanpa adanya sebuah rasa.


Pagutan demi pagutan dilakukan oleh Alvin hingga Moanna yang semula hanya diam kini mulai membalasnya. "Astaga, kenapa dengan diriku ini?" Heran Moanna.


"Ternyata kau lebih lihai dariku." Gumam Alvin dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2