
Menempuh waktu yang cukup lama yakni sekitar setengah jam, akhirnya Moanna tiba diparkiran apartemen milik Felix yang bertempat di pinggir ibukota. Usia memarkirkan mobilnya, Moanna kini berjalan menuju lantai empat. Tempat pria itu tinggal.
Hanya butuh sekitar lima menit akhirnya Moanna tiba dilantai empat dan kini tengah sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi Felix dan menanyakan dimana kediaman pria itu.
"Aku tidak dapat menemukan apartemenmu," Ucap Moanna memberitahu keberadaan dirinya saat itu.
"Aku akan keluar," jawab Felix. Tak lama sebuah pintu terbuka kearah Luar dan menampakkan seorang pria dengan setelan kameja kantor. Pria itu menengok ke kiri dan kanan mencari seseorang yang tengah berbicara dengannya ditelepon.
"Moanna!" Panggil Felix setelah ia melihat seorang wanita memunggungi dirinya.
Moanna menoleh dan memutuskan panggilan yang tengah berlangsung itu sebelum akhirnya ia masukkan ponsel pintarnya kedalam tas dan berjalan kearah Felix.
"Masuklah," ucap Felix. Moanna dengan senyuman sedikit terpaksa melangkahkan kakinya untuk pertama kali didalam hidupnya masuk ke apartemen milik Felix.
Dengan mata yang terus berkeliling Moanna mencoba mencari keberadaan ibu Felix yang digadang-gadang tengah berada di apartemen pria itu karena sakit. Tetapi itu membuat Moanna sedikit ragu, pasalnya tidak ada suara seorang wanita ketika dirinya masuk kedalam. Apa ini hanya akal-akalan Felix semata?
"Dimana ibumu?" Tanya Moanna menoleh para Felix yang berjalan dibelakangnya.
"Ibuku ada dikamar," jawab Felix dengan raut wajah yang meyakinkan keraguan Moanna.
Moanna pun dituntun oleh Felix menuju sebuah kamar tempat dimana ibu pria itu berada. Namun ketika pintu dibuka, tak ada siapapun didalam sana. Bahkan ranjangnya pun terlihat rapi dan tidak terdapat guratan bekas seseorang berbaring. Semua itu menambah keyakinan Moanna bahwa Felix tengah berbohong tentang ibunya.
"Ibuku mungkin sedang dikamar mandi," Ujar Felix."Tunggulah disana, Aku akan mengambil minum untukmu." lanjut Felix menyuruh Moanna menunggu diatas ranjang rapi berwarna hitam itu.
Sudah lebih dari lima menit namun ibu Felix tak kunjung keluar juga dari kamar mandi. Begitupun dengan pria berprofesi direktur itu, tak ada tanda-tanda kedatangan pria itu hingga Moanna merasa bahwa kedatangannya ketempat itu adalah sebuah kesalahan.
"Apa ibuku belum keluar?" Tanya Felix tiba-tiba hingga membuat Moanna seketika menoleh. Felix mendekat pada tempat tidur yang diduduki oleh Moanna lalu menyimpan dua gelas teh hangat diatas nakas disamping mereka. "Minumlah, aku tau kau pasti kedinginan." Ucap Felix.
Moanna yang sebenarnya ingin menolak merasa tak enak hati karena sudah menolak suguhan yang diberikan tuan rumah. Dengan tersenyum Moanna pun mengambil salah satu cangkir berisi teh lalu meminumnya hingga habis.
"Kenapa ibumu begitu lama?" Tanya Moanna.
"Entahlah, akan aku periksa kedalam." Ucap Felix dan berjalan menuju kamar mandi dalam kamar itu.
"Jika ibumu sudah selesai, bolehkah aku menggunakannya?" Moanna mencoba bangkit dari duduknya dan menghampiri Felix yang berdiri didepan pintu kamar mandi. "Bagaimana?" Tanya Moanna.
Felix segera menutup pintu kamar mandi yang memang jelas-jelas tidak ada siapapun didalam sana karena ibunya saat ini tengah berada dirumah neneknya. " Sepertinya dia sudah pulang." Jawabnya dengan nada panik.
__ADS_1
"Eh?" Moanna sedikit terkejut mendengar jawaban Felix. "bukannya dia sedang sakit? Lalu kenapa dia pulang?" Herannya.
Felix segera menarik tangan Moanna untuk ikut bersamanya. Namun Moanna dengan cepat menghempaskan tangan Felix dari tangannya. "Maaf, tidak seharusnya kau memegangku seperti itu!" Ucap Moanna.
Felix yang memasang wajah terkejut awalnya kini tersenyum pada Moanna. "Meskipun ibuku tidak ada, tapi kita masih bisa ngobrol sebentar." Ucap pria itu.
"Baiklah, ada hal yang ingin aku katakan padamu juga." Ucap Moanna setelah berpikir sebentar.
Senyum di wajah Felix seketika berkembang setelah Moanna menyetujui ajakannya. "Duduklah."
Moanna dan Felix kini duduk dipinggir tempat tidur dengan posisi yang lumayan berjauhan. " Apa yang ingin kau tanyakan?" Felix memulai obrolan.
"Sebenarnya aku sedikit keberatan dengan keputusanmu mengutusku ke Orlan," Kata Moanna.
"Memangnya kenapa?" Heran Felix. Pasalnya ia sengaja mengikutsertakan Moanna karena tahu jika wanita itu sangat menyukai kegiatan sosial. "Apa kau tidak mau menjadi relawan disana?"
Moanna menggeleng cepat. "Bukan. Bukan begitu, aku hanya tidak mau meninggalkan pasienku yang berada disini."
Felix tersenyum dengan pikiran yang merasa ada celah untuk dirinya. Ia pun mendekati Moanna dan memegang kedua tangan wanita itu, "Jika kau tidak mau aku akan merekomendasikan dokter yang lain." Ucapnya dan hendak memberi sebuah penawaran yang bagus.
"Benarkah?"
Felix terdiam sejenak."Kau harus menjadi kekasihku." Ucap pria itu hingga membuat Moanna seketika melepaskan tangan Felix. "Maaf, Tuan Felix. Aku lebih baik berangkat ke Orlan daripada menjadi kekasihmu. Terimakasih!" Ucap Moanna dan bangkit dari duduknya.
Namun entah mengapa kepalanya tiba-tiba merasa berat dan kakinya tak kuat menopang tubuhnya hingga ia kembali mendaratkan tubuhnya pada ranjang empuk diruangan itu. "Kau masukkan apa pada teh itu?" Moanna bicara lirih pada Felix yang memang sudah menunggu tiba saatnya reaksi dari minuman tadi.
Dia juga yang memasukkan serbuk obat tidur pada kedua gelas berisi teh itu. "Tidak ada." Sangkal Felix yang kini mendekati Moanna.
Samar-samar Moanna membuka matanya supaya ia tetap terjaga dari atasannya Felix yang sepertinya ingin melakukan sesuatu padanya. "Jangan sentuh aku!" Teriak Moanna seraya menyingkirkan tangan pria itu dari bahunya.
"Sudah aku katakan aku menyukaimu, tapi kau selalu menolaknya." Tutur Felix mengakui perasaanya pada Moanna untuk kesekian kalinya. " Sekarang kau tidak akan menolakku lagi." Ujar Felix menggebu dan mendekati bibir Moanna untuk menciumnya.
Meskipun kesadaran sangat minim, Moanna berusaha menghindari pria itu dengan mendorongnya hingga ia terjungkal. Namun sial, lagi-lagi Felix berhasil menangkapnya dan mencoba melakukan hal yang sama padanya.
Sadar akan kekuatannya yang kalah telak, akhirnya Moanna mengambil sebuah lampu tidur disamping ranjang dan memukul pria itu dengan sisa tenaganya.
"Sial." Kesal Felix saat kepalanya dipukul oleh Moanna hingga tersungkur. Bahkan saat ini Moanna berdiri dan memukul2 punggung pria itu berkali-kali hingga satu hantaman yang cukup keras menerjang pundaknya dan menyebabkan Felix hilang kesadaran.
__ADS_1
Dengan rasa mual yang saat kini ia rasakan akibat obat yang dimasukkan oleh Felix ke dalam minumannya, Moanna mencoba menyeret dirinya sendiri keluar dari apartemen Felix menuju rumahnya. Badan yang berat karena staminanya menurun, Moanna berjalan gontai dilorong gedung itu mencari lift untuk membantunya turun ke tempat parkir.
Namun ternyata tubuhnya tak mampu menahan rasa berat pada kepalanya dan perlahan Moanna pun menyusut disudut Lift hingga akhirnya wanita itu tak sadarkan diri.
•••••>>
Pergi dengan rasa tak puas karena upayanya untuk mencoba senjata baru miliknya digagalkan seorang perawat, Alvin kini mengajak Kenzo untuk pergi ke apartemen milik Arturo, sepupu dari ayahnya.
"Bukannya Arturo sudah pindah?" Tanya Kenzo disela kesibukkannya dengan kemudi.
"Dia mengajakku bertemu di apartemennya." Jawab Alvin singkat.
Laju kendaraan yang sedang, kini tiba diparkiran sebuah gedung yang cukup elite di pinggir Kota. Lampu-lampu yang menyala karena dunia menggelap membuat Alvin beberapa kali menyipitkan matanya.
Kerumunan orang-orang didekat lift membuat kedua pria yang masih terduduk didalam mobil itu bertanya-tanya. "Apakah ada pesta?" Tanya Alvin. "Kenapa mengadakannya di tempat parkir?" Lanjut pria itu.
Kenzo hanya menatap bergantian pada Alvin dan kerumunan orang-orang itu. Bahkan dugaannya mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu di dekat lift itu. "Kita keluar sekarang?" Tanyanya.
Alvin tak menjawab dan malah membuka seatbelt yang melekat pada tubuhnya kemudian keluar duluan. Tak bertanya ataupun menghampiri kerumunan itu, Alvin malah berdiri disamping mobil hitam miliknya sampai Kenzo ikut keluar. "Ada apa?" Heran Kenzo.
"Tidakkah kau melihat seorang wanita yang tak sadarkan diri di antara kerumunan itu?" Ucap Alvin tiba-tiba. Ternyata pria itu mematung untuk memperhatikan alasan orang-orang berkerumun ditempat itu. "Ternyata bukan pesta." Lanjutnya lalu berjalan menuju lift.
"Matanya sangat tajam." Puji Kenzo pada Alvin atas apa yang dilakukan pria itu dari kejauhan. Usai berkata dengan dirinya sendiri, pria itu kini mengikuti Alvin berjalan dibelakangnya.
Sementara orang-orang yang berkerumun bertanya-tanya siapakah sosok wanita yang tak sadarkan diri disudut lift. Tak ada yang mengenal wanita itu karena memang dirinya bukanlah penghuni apartemen elite itu. "Apakah dia meninggal?"
Seorang wanita yang pertama kali menemukan Moanna menggeleng, "dia masih bernapas, sepertinya dia pingsan." Tutur wanita itu menjelaskan kronologi saat dirinya akan menggunakan lift dan tak sengaja menemukan Moanna.
"Sebaiknya kita bawa saja dia kerumah sakit." Saran seorang pria tua.
"Sepertinya bibi ini membawa mobil, ini kuncinya." Ucap seorang bocah laki-laki yang kini memegang kunci mobil yang jatuh dari dalam tas Moanna.
"Biar aku saja yang mengantarnya." Saran seorang wanita yang merupakan ibu dari bocah laki-laki itu. " Kebetulan aku akan ke rumah sakit." Lanjutnya.
Semua orang yang berkerumun saling menatap kemudian menyetujui saran ibu bocah laki-laki itu. "Baiklah, mari kita bawa dia kedalam mobil." Ajak seorang.
Moanna pun diangkat beberapa warga dan dimasukkan kedalam mobil miliknya yang akan dikendarai oleh ibu-ibu yang hendak ke rumah sakit.
__ADS_1
"Kau duduk dibelakang bersama bibi itu, ya." Ucap wanita itu kepada putranya dan disetujui oleh anak itu. Segera wanita itu mengemudikan mobil Moanna menuju rumah sakit.