
Setibanya dirumah sakit Alvin segera dilarikan ke IGD untuk mendapatkan tindakan lanjutan oleh dokter ahli. Sedangkan Ettore meninggalkan Rei didalam mobil dengan keadaan masih terlelap. Ia kini merogoh saku celananya untuk memanggil seseorang yang lebih tinggi dari Rei. "Halo.."
"Tumben sekali kau memanggilku?" Ucap seorang pria setelah panggilan itu terhubung. "Ada apa?"
"Alvin masuk IGD, Kenz." Ucap Ettore tanpa basa-basi.
Kenz yang tengah duduk santai sambil menikmati pemandangan kota Viterbo lantas berdiri, "Apa yang terjadi padanya?" Tanya pria itu .
Ettore terdiam beberapa saat lalu kembali membuka mulutnya untuk menjawab Kenzo. "Dia tertembak di dada." Lirihnya.
Kenz memegang pelipisnya, "Bodoh! Kenapa bisa? Lalu dimana Rei?" Bentak pria itu hingga terdengar benturan benda yang begitu keras. Sepertinya pria itu telah menendang meja hingga terjungkir.
Ettore terdiam. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana kejadian itu. Karena sebenarnya itu bukan seratus persen kesalahan Rei. Lamunannya terhenti tatkala Kenzo meneriakinya dari balik telepon. "Sulit menjelaskan kejadiannya ditelepon, Kenz." Ucapnya.
Kenzo yang kesal lantas meninggalkan tempat itu dan pergi ke kamarnya bersiap untuk berangkat ke Orlan menyusul Alvin.
Sementara Ettore menghela napasnya panjang setelah ia melihat panggilannya dengan Kenzo berakhir. Ia sudah menduga bahwa pria itu akan segera datang ke Orlan ketika ia tahu bahwa Alvin masuk rumah sakit. Kini pria berkumis itu menatap Rei yang belum juga sadar sambil mengasihani anak itu. "Kau tidak tahu apapun tentang ini. Tapi ketika kau bangun, entah apa yang akan terjadi padamu." Gumam Ettore iba.
Ia hanya membayangkan hukuman apa yang akan diterima oleh Rei dari Kenzo atas apa yang menimpa Alvin. Atau mungkin juga pria itu tidak akan berada didunia ini lagi setelah pria itu tiba di Orlan.
Merasa bahwa kini Alvin menjadi tanggung jawabnya, Ettore berjalan meninggalkan Rei diparkiran untuk menunggu kabar mengenai keadaan Alvin. Setelah setengah jam dirinya terduduk didepan ruang IGD, seorang Dokter keluar dari ruangan itu dan menghampirinya. "Apakah anda keluarga pasien?" Tanya Dokter itu menggunakan bahasa Orlan.
Ettore yang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh pria itu terdiam. Ia bingung harus menjawab apa karena bahasanya pun tak mampu otaknya cerna. "Maaf, aku bukan berasal dari sini." Ucapnya dengan bahasa Inggris. "Bisakah kau mengulang ucapanmu dengan bahasa Inggris?" Lanjutnya.
Dokter itu tersenyum, "Jika anda adalah keluarga pasien, bolehkan saja meminta persetujuan anda untuk memberi tindakan lanjutan padanya?" Jelas Dokter pria itu.
Ettore terdiam sambil menatap wajah pria yang mengenakan masker didagunya itu, "Lakukan yang terbaik untuknya!" Ucap Ettore menyuruh agar Alvin dapat selamat begitu juga dengan Rei yang juga akan baik-baik saja. Mungkin dia hanya akan menerima hukuman seperti bertahan hidup dihutan Amazon tanpa apapun selama setahun, pikir Ettore.
"Baiklah, jika begitu tanda tangani surat ini dan kami akan segera melakukan operasi dalam waktu dua jam." Ucap Dokter itu mengambil formulir dari seorang perawat yang baru saja tiba.
__ADS_1
Ettore pun mengambil pena itu dan mencoret selembar kertas itu membentuk garisan tanda tangannya. "Mohon bantuannya." Ucapnya kemudian. Kedua orang tadi kembali masuk kedalam ruang IGD meninggalkan Ettore seorang diri dilorong rumah sakit. Ponselnya yang bergetar membuatnya kini mengambil benda itu untuk melihat pemberitahuan yang muncul.
Dua pesan singkat dari orang yang berbeda diterima olehnya, dengan segera ia membacanya.
^^^*Kirimkan lokasi ^^^
^^^rumah sakit ^^^
^^^sekarang!*^^^
^^^ Kenzo^^^
Ettore pun segera mengirimkan lokasi dimana letak rumah sakit tempat Alvin berada. Tak peduli sekarang atau nanti, yang pasti Kenzo akan tiba di Orlan untuk membereskan semuanya.
Sedangkan satu pesan lagi, berasal dari istrinya yang berada jauh darinya. Ia mengirimkan sebuah gambar yang memperlihatkan aktivitas mereka di Roma yang tengah menikmati liburan. Kini Ettore membuat pesan baru yang ditujukan untuk Rei yang ia belum ketahui sadar dan belumnya.
Sementara di bandara internasional Leonardo da Vinci, Kenzo tengah duduk menunggu jam terbangnya ke Orlan yang masih sekitar lima belas menitan lagi hingga pesawat berangkat. Raut wajahnya yang selalu biasa saja, bahkan jika dilihat sekilas lebih menyeramkan Rei. Namun kali ini wajah pria itu lebih menyeramkan dari siapapun. Sorot matanya yang tajam dan emosi yang tengah meletup-letup didalam dirinya membuatnya enggan membuka mulutnya.
Empat jam berlalu Akhirnya operasi telah berhasil dilakukan dan peluru dalam tubuh Alvin berhasil dikeluarkan secara utuh. Ettore yang sudah berlumut akibat terus menerus duduk didepan ruang Operasi kini berdiri ketika lampu berubah warna menandakan bahwa operasi selesai.
"Bagaimana?" Tanya Ettore penasaran. "Apa dia baik-baik saja?"
Dokter pun tersenyum lalu kemudian berkata, "Peluru dalam tubuhnya sudah berhasil dikeluarkan. Dia akan segera dipindahkan ke ruangan pemulihan." Jelasnya lalu pergi setelah menepuk bahu pria berkumis itu.
Dering ponsel membuatnya segera mengangkat benda itu ke daun telinganya. "Kau sudah sadar ternyata," ucapnya setelah panggilan dengan Rei terhubung.
Pria Jepang-Italy yang terkejut karena tertidur didalam mobil secara tiba-tiba itu segera memanggil ettore seperti yang pria berkumis itu pesankan padanya melalui pesan singkat—yaitu menghubunginya ketika ia sadar. "Dimana ini? Aku tidak tahu apa yang terjadi hingga aku berada disini." Ucap Rei kebingungan dengan kepala yang masih merasakan sakit itu.
Ettore menjauh dari depan pintu ruangan operasi itu lalu bersandar pada dinding, "Entahlah Rei, aku bingung harus bagaimana menjelaskannya padamu." Jawabnya Ambigu hingga membuat Rei kebingungan sendiri. "Aku menyimpan kunci mobil itu disana. Jika kau sudah membaik, pergilah ke restoran Ornansha dan lihat rekaman cctvnya!" Titahnya lalu memutuskan panggilan.
__ADS_1
Rei yang baru sadar kini menatap lurus ke depan. Sikap Ettore yang membuatnya harus menebak-nebak membuat Perasaanya yakin bahwa ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Tapi mengapa ia tidak mengingat apapun?
Waktu menunjukkan pukul satu pagi. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mencari tahu apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu. Namun ia begitu penasaran dan memilih mengikuti saran Ettore. Rei keluar dari mobil lalu berpindah tempat duduk dan mulai menancap gas menuju restoran Ornansha.
Derasnya hujan semakin menjadi tatkala sebuah Mobil berhenti didepan sebuah restoran yang pintunya masih terbuka dijam segini padahal sangat tidak mungkin ada orang yang akan datang berkunjung karena semuanya pasti tengah terlelap diatas tempat tidur. Dengan kondisi yang tak karuan, meja-meja yang terbalik, kursi yang tak tertata rapi juga sebuah garis polisi yang mengitari sebuah genangan darah yang sudah mengering membuat Rei seketika terdiam saat melihat dimana tempat darah itu mengalir.
Sebuah meja didekat jendela. Itu adalah tempat dimana dirinya dan Alvin duduk beberapa jam yang lalu. Mengapa terdapat darah dibawah kursi tempat Alvin duduk. Apakah pria itu terluka? Apa penyebabnya? Jika benar, mengapa Ettore tidak memberitahuku? Dan mengapa aku tidak mengingat apapun?
Ingin rasanya Rei berteriak meminta penjelasan seseorang atas apa yang telah terjadi. Namun sepertinya percuma. Tak ada seorangpun didalam restoran itu. Bahkan seekor kucing pun tak ada.
Rei menunduk untuk melihat darah yang mengering itu. Tangannya yang melemas mencoba mengambil ponsel disakunya untuk memanggil seseorang. Tentunya orang itu bukanlah Kenzo.
"Katakan padaku semua yang kau tahu!" Ucap Rei mencoba menetralkan suaranya.
"Kau sudah melihat rekaman cctvnya?" Tanya Ettore. Ya, seseorang yang Rei hubungi adalah pria itu. Pria yang berada ditempat kejadian bersamanya. Yang tentunya melihat semua kejadian yang menimpa Alvin.
"Dimana Alvin?" Rei memilih mengganti pertanyaan karena yakin Ettore hanya akan terus menyuruhnya untuk melihat rekaman cctv Restoran itu.
Ettore yang menunggu Alvin dirumah sakit menatap pria yang baru saja menjalani operasi itu dari balik pintu. "Dia baru selesai menjalani operasi dan akan baik-baik saja." jawabnya. "Dua peluru sudah ditemukan dari tubuhnya." Lanjutnya menjelaskan apa yang dikatakan dokter padanya tadi.
Deg, kedua mata Rei terbuka lebar setelah mendengar bahwa Alvin mengalami luka tembak. Ia tak menyangka bahwa kejadian itu terjadi didepannya. Rasa khawatir mulai menyertai dirinya. Ia yakin bahwa saat ini Kenzo dalam perjalanan menuju Orlan untuk membereskan semuanya, termasuk dirinya.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Teriaknya sambil menampar wajahnya sendiri. "Bagaimana kau bisa lengah, Rei." Kesalnya. Ia lalu menendang beberapa kursi lalu memukul meja yang masih tersedia makanan yang ia pesan tadi.
"Aku akan mencarimu!" Ucap Rei dengan penuh amarah. Ia lalu menggeledah seluruh ruangan restoran itu untuk mencari tempat monitor cctv dan melihat semua kejadian tadi. Setelah berkeliling akhirnya Rei menemukan tempat itu yang kosong tanpa seorangpun disana yang menjaga. Dengan segara ia duduk dikursi depan komputer dan memutar ulang kejadian dimana Alvin mengalami penyerangan.
Brakk!
Rei menggebrak meja ketika ia dengan mudahnya tertidur dan beberapa detik kemudian Alvin tertembak dan pria pelaku penembakan pun hilang berbaur bersama pengunjung yang panik berlarian keluar untuk menyelamatkan diri. "Sial!"
__ADS_1
Rei segera mengambil ponselnya dan memanggil seseorang untuk membantunya menemukan dalang dibalik penembakan Alvin sebelum pagi tiba. "Akan aku bereskan semuanya sebelum kau datang." Gumam Rei lalu pergi meninggalkan tempat itu.