Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 12: Aksi yang tak terduga


__ADS_3

Sore menjelang tatkala Moanna dan Luca tiba dipusat kota. Suasana yang semula panas terik membuat mereka seperti orang yang salah mengenakan kostum ditengah orang-orang bermantel karena memakai pakaian tipis yang mampu menyerap keringat.


Rasa dingin menusuk kedalam tubuh mereka karena hujan belum juga reda.


Moanna menatap butiran air hujan yang menempel dikaca mobil. "Hei Luca!" Panggil Moanna hingga pria yang tengah sibuk dengan ponselnya menatap kearah wanita itu. "Tolong bantu aku." Ucapnya kemudian.


"Apa itu?" Tanya Luca.


"Tolong kau masuklah kedalam sana dan belikan aku mantel yang cukup hangat." Pinta Moanna. Luca pun mengulurkan tangannya meminta sesuatu dari wanita itu sebelum ia keluar dari mobil. "Uangnya,"


Moanna mengambil lima lembar uang lalu memberikan pada Luca. Dengan rasa bersalah ia melihat pria itu menerjang hujan yang cukup deras lalu masuk kedalam sebuah toko pakaian. Bukan tanpa alasan dirinya menyuruh pria itu keluar, karena dari mereka berdua hanya Luca lah yang mengenakan pakaian cukup hangat. Sedangkan Moanna memakai kemeja yang akan tembus pandang apabila terkena hujan.


Lima menit sudah akhirnya Luca kembali dengan membawa sebuah mantel selutut berwarna navy kedalam mobil. "Ini, cobalah!" Ucap pria itu memberikan mantel itu pada Moanna. Dan sungguh diluar dugaan, mantel itu ternyata cocok dengan ukuran tubuh Moanna. "Bagaimana kau tahu ukuran pakaianku?"


"Aku tadi menyuruh seorang wanita yang bertubuh sepertimu untuk mencoba beberapa mantel. Tenyata dari tiga mantel yang aku ambil, hanya itulah yang muat ditubuh gadis tadi." Jelas Luca seraya sibuk memakai mantel hitam miliknya yang baru ia beli bersamaan dengan milik Moanna.


"Baiklah mari kita cari tempat obat yang komplit disekitar sini." Ujar Moanna seraya membuka website untuk mencari nama toko itu sebelum berkeliling.


Satu persatu nama bermunculan dilayar ponsel Moanna. Namun tak ada satupun tempat yang tempatnya berada didekat mobil mereka terparkir. Bahkan ada yang jaraknya sampai 10 km lagi untuk sampai ditempat yang penuh dengan semua jenis obat-obatan. "Kita coba ke tempat ini dulu, Luca!" Kata Moanna menunjukkan lokasi yang akan mereka tuju untuk membeli obat alergi untuk Leo.


Berputar ke kiri lalu tak lama berputar ke kanan kemudi yang dipegang oleh Luca bergantian berbelok untuk menuju tempat yang mereka tuju. Butuh waktu sekitar 20 menit hingga mereka tiba disebuah toko bernama Herbcine —toko obat terbesar yang ada di Orlan. Moanna dan Luca pun keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam toko itu untuk mencari semua keperluan mereka dan segera kembali untuk memberikannya pada Leo.


Tak butuh waktu lama bagi mereka menemukan obat alergi yang biasa Leo gunakan. Hanya 30 menit akhirnya semua kebutuhan mereka terpenuhi dan haripun sudah berganti menjadi gelap tetapi hujan masih belum juga reda.


"Dokter Moanna, apa kau mau makan sesuatu?" Tanya Luca. "Perutku sepertinya ingin sesuatu," lanjutnya sambil tersenyum malu.


Moanna tertawa mendengar pengakuan pria yang berusia lebih muda darinya itu. "Astaga Luca, maafkan aku. Aku lupa memberimu makan," ucapnya merasa bersalah karena membiarkan anak laki-laki itu kelaparan saat bersama dengannya. "Aku tidak tahu makanan enak ditempat ini, apa kau tahu Luca?"

__ADS_1


Luca yang tengah memainkan ponselnya ternyata mencari rekomendasi orang-orang di website untuk apa yang harus dimakan oleh mereka sebagai turis. "Kita makan ditempat ini saja." Luca menunjukkan sebuah restoran yang tertulis pada keterangannya tak jauh dari tempat mereka berada saat ini.


Moanna mengangguk. "Baiklah, aku ikut kau." Mereka berdua pun berjalan menuju tempat yang jaraknya hanya beberapa meter dari toko Herbcine.


Akhirnya Luca dan Moanna tiba didepan sebuah restoran bernama Ornansha. Nama yang cukup aneh untuk sebuah restoran bagi kedua orang yang tengah berdiri didepan pintu masuk tempat itu. Suasana yang disuguhkan tatkala mereka berdua mauk tak jauh berbeda seperti restoran-restoran di tempat asal mereka, Vitebo. Layaknya orang yang sudah sering berkunjung ketempat itu Moanna dan Luca segera mencari tempat duduk didekat jendela.


Baru beberapa menit bokong kedua orang itu menyentuh kursi, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan sosok pria bermantel dengan sebuah topi dikepalanya. "Maaf, bisakah kita bertukar tempat?" Ucap pria blasteran Jepang-Italy itu sopan. Moanna dan Luca saling bertatapan karena tidak mengerti ucapan pria itu yang menggunakan bahasa asli Orlan.


Pria berambut gondrong lurus berwarna hitam itu kembali mengulang ucapan dengan bahasa yang biasa digunakan di negeri asal mereka. "Ah, memangnya kenapa?" Tanya Moanna setelah ia paham maksud kedatangan pria itu.


"Ada orang penting yang akan duduk disini." Ucapnya masih dengan bahasa yang lembut. Namun wajahnya tanpa Ekspresi apapun.


Karena tidak mau berdebat dan mengganggu kenyamanan orang lain, Moanna mengajak Luca untuk pindah ke meja yang lain dan memberikan tempat itu pada pria Jepang-Italy. Kali ini bukan orang lain yang mendatangi meja mereka, melainkan seorang pelayan dengan nampan berisi pesanan mereka berdua. "Terimakasih." Ucap Moanna. Ditengah-tengah menyantap makanannya, beberapa pria bermantel tebal datang bersamaan namun duduk secara terpisah dan salah satunya duduk ditempat Moanna dan Luca tadi.


"Hei, Luca. Lihatlah disebelah sana!" Bisik Moanna menyuruh pria itu untuk mengikuti kode matanya kearah meja dekat jendela.


"Apa dia orang penting itu?" Tanya Moanna. "Apakah dia seorang aktor? Ataukah pejabat yang sedang berkampanye?"


"Entahlah. Aku kurang tahu," Jawab Luca lalu kembali menyantap makanannya.


Dimeja dekat jendela, pria Jepang-Italy tadi ikut duduk bersama seorang pria yang sudah duluan berada disana. "Kenapa tidak langsung masuk ke Oysn?" Tanya Rei pada Alvin.


"Aku hanya ingin makan sebelum bermain-main disana." Jelas Alvin dengan sorot mata yang masih menatap sebrang jalan tempat kasino milik Ilker Agha berada. "Kau pesanlah sesuatu untuk mengisi perutmu." Perintah Alvin dan segera dilakukan oleh Rei dengan memanggil seorang pelayan ke meja mereka.


Cukup lama waktu yang dibutuhkan pelayan restoran hingga makanan yang dipesan Alvin dan Rei datang ke meja mereka. "Bukannya kau memesan duluan?" Heran Rei ketika pelayan membawa nampan berisikan dua piring makanan yang tentunya untuk dirinya dan Alvin.


"Entahlah." Jawab Alvin singkat dengan mata yang masih tertuju pada tempat bernama Oysn—salah satu kasino milik Ilker Agha. "Tak perlu khawatir, aku akan masuk duluan untuk melihat-lihat." Ucap Rei seraya mengambil secangkir Kopi yang ia pesan bersama makanan miliknya.

__ADS_1


Tanpa kedua pria itu sadari, ada sepasang mata milik seorang wanita yang terus mengawasi mereka semenjak kedatanganya. Wanita itu adalah Moanna, entah mengapa ia begitu penasaran dengan sosok pria bermantel dengan topi itu. Pikirannya masih tetap sama bahwa orang penting yang dimaksud pria Jepang-Italy yang bertukar tempat dengannya itu adalah seorang pejabat.


"Luca, lihatlah pria tadi. Apa dia tertidur?" Ucap Moanna seraya menunjuk Rei dengan matanya. Luca hanya menggeleng, "mungkin dia kelelahan karena mengurusi pejabat itu." Gumamnya.


Tak lama setelah makanan milik Alvin diantar, seorang pria berpakaian pelayan datang menghampiri mereka dan tanpa aba-aba langsung mengarahkan senjata api pada Alvin.


Dor!


Dor!


Dua suara tembakan menggema di ruangan itu hingga membuat orang-orang panik dan berhamburan keluar. Begitupun dengan pria bermantel yang duduk berpisah lantas berdiri dan mencari sosok pelaku yang sudah berbaur bersama pengunjung restoran lainnya.


"Cari orang itu!" Teriak seorang pria berkumis tebal memerintahkan tiga orang bawahannya untuk menggeledah tempat makan itu.


Bagaimana dengan Rei? Mengapa pria itu tak mencegah penembakan yang terjadi pada sang Signore?


Pria malang itu tertidur usai meminum kopi yang ternyata sudah diberi obat tidur dosis tertinggi oleh seseorang didapur hingga ia tak bisa melindungi Alvin. Bahkan mungkin ia tidak tahu kejadian yang menghebohkan di restoran itu.


Sementara Luca dan Moanna terpisah sesaat setelah suara tembakan terdengar. Kini wanita itu berjongkok dibawah meja yang terdapat dua orang diatasnya. Itu terlihat dari dua kaki pria yang saling berhadapan. Karena risih dirinya diapit oleh dua kaki, Moanna lantas melihat sekelilingnya dan malah dikejutkan dengan genangan darah disisi kanannya.


Karena penasaran Moanna pun mencoba keluar dari bawah meja setelah keributan mereda dan memeriksa keadaan pria bermantel yang ia duga adalah seorang pejabat itu. "Astaga..." Moanna menutup mulutnya saat melihat darah didada kanan pria itu.


"Tuan, dia terluka. Tolong bantu aku!" Teriak Moanna hingga pria berkumis tadi lantas menghampirinya.


"Tuan Fortino...." Ucapnya terkejut dan segera mendorong Moanna hingga wanita itu terjatuh dan tak sengaja menduduki darah Alvin yang menggenang dilantai. "Aw..." Aduhnya.


"Minggir! Kau hanya penggalang." Bentak pria itu seraya menggendong Alvin yang sudah bernapas lemah itu.

__ADS_1


Moanna menatap tajam pada pria itu, "baringkan dia disini, dan cepatlah panggil ambulans!" Perintah Moanna pada pria berkumis itu.


__ADS_2