Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 8: Bisnis yang menjanjikan


__ADS_3

Sorot mentari malu-malu keluar dari balik awan menyinari beberapa tenaga medis yang tengah berdiri diparkiran rumah sakit menunggu kedatangan sang direktur utama untuk memberi prakata pada mereka sebelum berangkat ke Orlan sebagai relawan. Leo berdiri didekat Cira sambil memegangi koper berukuran sedang berisi keperluan miliknya. Sedangkan Cira, wanita itu tengah menutupi wajahnya dari sorot marahari yang menyilaukan matanya. Bahkan sesekali Cira menatap Leo yang menikmati pagi hari tanpa gangguan karena pria itu mengenakan topi hitam dikepalanya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Rio yang melihat penampilan Fio berbeda dengan orang-orang. Perawat itu mengenakan pakaian hangat hingga menutupi lehernya. Bahkan maskerpun tak lupa ia kenakan. Fio menderita flu karena kemarin ia pulang larut malam membelah hujan yang cukup lebat. Alhasil inilah yang ia terima kemudian.


"Aku tidak apa-apa. Besok pasti akan lebih baik." Jawab Fio. Moanna yang berdiri tak jauh dari Fio lantas mendekat, "Apa kau perlukan sesuatu? Seperti teh atau susu hangat?" Moanna menawari minuman hangat untuk Fio karena kebetulan ia akan pergi ke kantin untuk meminta sebuah kopi instan.


"Hem, boleh." Jawab Fio. Moanna pun lantas pergi menuju kafetaria rumah sakit sebelum Felix tiba. Karena ia yakin bahwa pria itu akan datang terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan.


Kurang dari dua puluh menit Moanna sudah kembali. Namun Felix belum juga tiba untuk memberikan prakata. Orang-orang yang sedaritadi berdiri dibawah teriknya mentari mulai merasa kesal dan mengumpat, bahkan sesekali mengutuki atasan mereka. "Ini susu hangat untukmu." Moanna menyodorkan cup berukuran sedang pada Fio.


"Terima kasih." Ucap Fio lalu meminum sedikit susu hangat itu. Setelah tiga kali Fio menyeruput susu, Felix akhirnya datang bersama Serena dan dokter senior yang duduk dikursi roda.


"Selamat pagi rekan tenaga medisku sekalian," sapa Felix. "Terima kasih sebelumnya saya ucapkan kepada rekan-rekan semuanya yang telah menyetujui untuk ikut sebagai relawan." Kata Felix.


"Tak banyak kata yang akan aku sampaikan kepada kalian, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih dan semoga kalian selalu dalam lindungan sang pencipta." Lanjut Felix lalu menundukkan kepalanya sedikit sebagai rasa hormat. " Kalian akan berangkat setelah makan siang." Ucap Felix hingga orang-orang tercengang.


"Bukankah kita akan berangkat sekarang?" Tanya Rio.


Felix menatap asal suara itu lalu menggeleng, "siapa yang mengatakan itu? Aku hanya menyuruh kalian menunggu disini bukan untuk berangkat!" Ketus Felix lalu pergi begitu saja. Tak lupa ia juga menatap sinis kearah Moanna sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan tempat itu.


Orang-orang seketika bergemuruh membicarakan prakata yang diberikan oleh Felix yang isinya hanya sebuah ucapan terimakasih. Padahal jika hanya itu bisa dilakukan di bandara ketika mereka akan berangkat.


Serena yang melihat Felix menatap moanna seperti itu lantas ikut melakukannya. Menatap sambil mengejek Moanna yang merupakan dokter seniornya.


Cira yang menangkap kejadian itu segera menghampiri Moanna. "Hei, kenapa mereka menatapmu begitu?" Tanyanya.


Moanna tersenyum, "Dia mengikuti orang yang berjalan didepannya." Ucapnya dan langsung dimengerti oleh Cira.


"Hei, bagaimana jika kita menunggu di kafetaria? Karena waktu makan siang masih sekitar satu jam lagi." Ucap Dokter Leo.


"Sekalian kita makan siang." Sahut Rio yang juga seorang dokter. Mereka berlima lantas masuk kedalam rumah sakit menuju kantin meninggalkan lapangan yang dipenuhi oleh mobil-mobil.

__ADS_1


Sementara di Orlan, Alvin sudah bersama Rei yang tiba dikota itu kemarin sore. Usai menjelaskan apa yang diketahuinya tentang bos kasino dikota itu pada Alvin, Rei kini menyusun pertemuan antara Alvin dan bos kasino Orlan yang ternyata bukan asli penduduk sana, melainkan pria tua yang berasal dari Turki.


Alvin berdiri di balkon sambil menatap pohon-pohon yang bergoyang akibat terpaan angin. Pikirannya tiba-tiba kembali mengingat hal utama yang dibicarakan saat pertemuan antara kepala keluarga. Yaitu keinginan keluarga Benvolio untuk merambah ke bisnis narkoba yang digadang-gadang memiliki keuntungan sepuluh kali lipat dari minuman keras bahkan kasino.


Tetapi Alvin menolak hal itu karena ia tahu resiko dari bisnis itu sangatlah besar. Bahkan meskipun para hakim dan kepolisian ada dalam genggamannya bukan berarti Alvin akan menyetujuinya begitu saja tanpa memikirkan akibatnya.


Julukan Signore yang disabetnya tak lantas membuat penolakan Alvin dapat dengan mudah disetujui oleh setiap kepala. Keluarga Benvolio tak menerima keputusan itu dan menyuruh kelurga lainnya untuk membuat sang Signore setuju. Namun dari kelima kepala keluarga yang datang, hanya keluarga Conley dan Abnomi yang menyetujui pendapat keluarga Benvolio untuk masuk ke dunia perdagangan narkoba.


"Apakah kau ingin keluar, Tuan?" Tanya Rei. Ia sudah tahu kabar tentang perundingan kelima keluarga yang jauh dari ekpetasi Alvin melalui Kenz kemarin.


Alvin membalik tubuhnya lalu bersandar pada pagar besi balkon. "Kau benar, Aku memang harus melihat lebih baik tempat ini." Ucapnya. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya untuk mengikuti nasihat dari Rei.


Mengenakan sebuah topi, Alvin berjalan bersama Rei mengitari seluk-beluk kota kecil itu untuk memudahkan dirinya dalam melakukan sesuatu dikemudian hari. Anak-anak yang tengah bermain sepak bola dijalanan seketika mengeser tubuh mereka untuk memberi jalan kepada Alvin tanpa diberi perintah. Entah aura apa yang dirasakan oleh anak-anak itu, yang jelas kini kedua mata mereka masih terus mengekori kepergian Alvin.


"Apakah disini lebih banyak hutan daripada rumah?" Tanya Alvin. Pria yang sedari kecil hidup dikota besar merasa aneh dengan Orlan yang merupakan kota kecil dengan populasi warga sekitar lima ratus ribu itu namun seperti tak berpenghuni.


"Setelah berkelana seharian, sepertinya 55% adalah hutan." Jawab Rei yang kini berjalan disisi kiri Alvin. Tak lupa pria itu juga mengenakan topi yang menutupi seluruh dahinya. Bahkan wajahnya yang kecil itu juga hampir tak terlihat dari kejauhan.


Rei yang berdiri sekitar lima meter dibelakang Alvin menatap jam ditangannya. "Jam 8 malam," Jawabnya.


Alvin menarik napasnya dalam-dalam, menahannya beberapa detik hingga akhirnya ia menghembuskan napas itu dari mulutnya. "Rei, bolehkah aku bertanya?"


"Tentu," Jawab Rei begitu saja tanpa dapat menebak pertanyaan apa yang akan diajukan oleh tuannya itu.


"Apakah keputusanku masuk dunia ini salah?" Tanya Alvin. Sebelumnya yang memimpin keluarga Fortino adalah ayahnya, Marco Fortino. Namun karena kecelakaan mobil yang dialami oleh Marco dan Alvin membuat pria tua itu kehilangan nyawanya. Sehingga membuat Alvin terpaksa naik untuk menggantikan sang ayah sekaligus mencari tahu dalang dibalik kecelakaan yang menurutnya tak wajar itu.


"Salah dan benar itu ada padamu. Aku tidak berhak menilai Benar dan salahnya seseorang hanya karena kebiasaannya. " Jawab Rei.


Deg. Hati Alvin tersentuh mendengar ucapan Rei. Apakah dia harus merubah kembali kebiasaannya itu? Kembali menjadi seorang anak yang menyedihkan karena kehilangan ayahnya, atau melanjutkan hidupnya sebagai Signore? Lantas jika ia merubah semua yang telah ia jalani sekarang akankah ada sebuah perubahan?


Banyak sekali pertanyaan diotak Alvin saat kini. Bahkan Rei yang sudah berdiri dengan jarak sekitar setengah meter pun tak disadari oleh Alvin karena pria itu tengah hanyut dalam pikirannya. "Vin, Kau mau mati?" Sindir Rei. Pria Jepang-Italy yang berpostur tinggi besar itu memegangi Alvin yang selangkah lagi siap meluncur bebas dari tebing.

__ADS_1


Alvin menatap kebawah lalu tersenyum simpul. "Tidak Rei, Aku baru memulai. Tidak mungkin aku mati cuma-cuma." Jawabnya lalu mundur beberapa langkah dari sisi tebing.


"Sebaiknya kita kembali ke rumah." Saran Alvin. Maksud Alvin dengan rumah karena memang pria itu menyewa sebuah rumah di Orlan yang cukup besar. Bahkan paling besar dari kebanyakan penduduk disana.


Waktu begitu cepat berlalu hingga tak terasa kini Alvin tengah duduk menunggu kedatangan raja Kasino di Orlan. Setelah beberapa kali mengecap kopi miliknya, beberapa pria berjas rapi datang menghampiri mejanya. "Selamat malam, Alvin Fortino." Sapa pria itu.


Alvin mengangkat matanya untuk melihat wajah pria yang sudah menyapa dirinya duluan itu kemudian berdiri. "Selamat malam, tuan Ilker Agha." Sapa Alvin seraya menjawab tangan Pria tua asal Turki itu.


"Apa kau sudah lama menungguku?" Tanya Ilker seraya menarik kursi didepan Alvin untuk ia duduki.


Alvin tersenyum, "aku tidak pernah menunggu seseorang." Jawabnya. "Tapi karena dirimu aku rela menghabiskan waktuku untuk duduk disini. " Lanjutnya. Sebagai seorang Signore serta pemimpin dari setiap keluarga, memang seharusnya dialah yang ditunggu kehadirannya. Maka dari itu ini menjadi kali pertamanya ia menunggu.


Ilker Agha hanya tertawa mendengar ucapan dari seorang laki-laki yang berumur jauh lebih muda darinya. "Aku percaya ucapanmu itu, Tuan Fortino." Ucapnya. "Lantas apa hendakmu menemuiku?"


Alvin yang semula duduk menyilangkan kakinya kini ia turunkan dan mendekatkan tubuhnya pada meja. "Langsung ke intinya saja karena aku tidak suka basa-basi." Tegas Alvin kini memulai bisnisnya. "Aku dengar kau mengajak sepupuku untuk ikut berbisnis bersamamu, namun ia menolaknya dan malah menyarankan diriku," papar Alvin dan dibenarkan oleh Ilker.


"Setelah aku memikirkannya, sepertinya aku tertarik dengan bisnismu itu, tuan Agha." Lanjut Alvin.


Ilker tersenyum. " Tentu saja kau tertarik karena keuntungan yang aku berikan cukup menjanjikan." Timbal Ilker senang. "Akan aku berikan sepuluh kali lipat jika Kau memberikan 1000 Euro sebagai awalan."pria itu memberi tawaran yang membuat Alvin sedikit terkejut dengan kelipatan itu.


Bagaimana tidak, mengembangkan bisnis ditempat seperti ini bahkan tidak menjamin keuntungan yang melimpah. Namun bagaimana bisa pria ini memberikan kelipatan yang begitu besar?


Alvin menatap Rei yang berdiri disamping tempat dirinya dari pria Turki itu berbincang supaya memberikan isi dari koper yang sedari tadi ditentengnya. Rei mengeluarkan dua buah kertas berisi tulisan perjanjian atas kesepakatan bisnis yang terjadi malam itu. "Berikan tandatangan mu disini dan ambillah kertas itu sebagai bukti bahwa bisnis ini sudah mengikat kita." Ujar Alvin yang memberikan kertas berisi tandatangannya untuk ditukar dengan milik Ilker Agha.


Ilker Agha mengambil pulpen lalu menggores kertas itu seperti yang diperintahkan oleh Alvin. "Kau memang sangat hati-hati." Ucap pria itu setelah ia selesai dan saling menukar kertas. Entah pujian atau ejekan yang dimaksudkan Ilker itu. Yang jelas kini semua sudah sepakat dan Rei pun menyerahkan koper berisi uang 1000 Euro kepada orang disamping Ilker.


"Semuanya selesai, terimakasih telah datang. Permisi!" Pamit Alvin lalu pergi meninggalkan Ilker Agha bersama anak buahnya dimeja bundar yang masih terdapat beberapa piring berisikan makanan diatasnya.


"Rei, aku ingin tahu lebih banyak tentang Ilker Agha!" Perintah Alvin pada Rei saat mereka berdua masuk kedalam mobil mereka.


"Baik."

__ADS_1


__ADS_2