
Usai kepergian ketiga pria itu, Moanna kembali terpikir tentang Rei yang sepertinya tidak asing dimatanya. Rasanya ia pernah melihat pria itu, tapi entah dimana.
"Ah mungkin hanya pikiranku saja." Ucap Moanna. Ia kini berjalan keluar ruangannya untuk berjalan-jalan mencari hal baru disekitar rumah sakit.
Seperti biasa, Moanna berjalan dengan secangkir es kopi ditangannya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata sebuah panggilan Vidio dari ibunya.
"Siang, Mah." Sapa Moanna setelah ia mengangkat panggilan dan mengarahkan kemera ponsel itu ke wajahnya.
"Siang, Moa. Bagaimana? Apakah kau sudah kembali ke Viterbo?" Tanya wanita tua yang telah melahirkan dua anak perempuan itu. Ia belum tahu bahwa Moanna sudah pulang dari Orlan kemarin.
"Aku sudah kembali kemarin." Jawab Moanna sedikit merasa bersalah karena tidak memberi kabar kepada satu-satunya orang tua yang ia miliki sekarang. Meskipun ia juga memiliki ayah tiri, tapi baginya suami sang mama hanya sekedar orang asing yang ia panggil paman. "Maaf tidak memberi kabar cepat setelah aku tiba disini." Ujar Moanna dengan raut wajah yang sedih.
"Tidak apa, Mama melihat kau masih bisa mengangkat panggilan dariku saja sudah merasa bahagia." Ujar wanita itu tersenyum bahagia dan tulus hingga Moanna merasa bahwa dirinya belum memberikan hadiah yang terbaik sebagai rasa syukurnya kepada Tuhan atas diberinya orang tua yang begitu baik. Walaupun kedua orang tuanya tidak membesarkan dirinya bersama-sama, tapi itulah yang membuat Moanna semakin menghargai sebuah kebersamaan.
"Untuk acara liburan ke Roma, sepertinya aku akan ikut." Ucap Moanna hingga Mamanya terkejut kemudian sebuah senyuman merekah diwajah wanita berambut hitam yang disanggul itu.
"Benarkah?" Wanita itu kembali menanyakan kebenaran dari ucapan anak perempuannya.
"Tentu saja. Aku akan mengambil cuti beberapa hari dan pergi ke rumah ibu." Kata Moanna. "Karena aku sedang bertugas, jadi aku harus akhiri panggilan ini. Jangan lupa akan kesehatanmu, bye.." pamit Moanna kemudian menutup panggilan itu setelah ibunya melambaikan tangannya.
•••>>>
Sepulangnya dari rumah sakit, Alvin kini menuju sebuah tempat dimana orang-orangnya berkumpul dan berlatih. Bahkan banyak diantara mereka yang tinggal disana karena masih melajang.
Pagar besar yang terbuat dari besi itu kini dibuka oleh dua orang pria berkepala plontos ketika mereka mendengar bunyi klakson. Bungkukan 90° mereka berikan ketika mobil merek Alfa Romeo Giulia hitam melewati mereka. Meskipun tak sedikitpun kaca mobil itu terbuka, tapi mereka yakin bahwa Alvin melihat setiap perlakuan mereka.
Sepatu hitam yang mengkilap kini menginjak rumput hijau yang memang sengaja ditanam dan dirawat. Dengan kemeja putih yang digulung hingga sikut Alvin beserta kedua tangannya berjalan memasuki sebuah gedung yang berukuran 1000m2 itu. Besar bukan? Tentu saja karena orang yang berada didalamnya cukup banyak. Ada sekitar seratus orang yang menetap disana. Dan sisanya selalu pulang setelah pekerjaan mereka selesai. Mungkin jika dijumlahkan ada sekitar tiga ratus orang yang setiap harinya berada ditempat itu.
Bukan hanya tempat yang luas saja, tetapi fasilitas di gedung itu juga lengkap. Mulai dari tempat gym, bar, bahkan tempat untuk bergulat pun tersedia disana. Jangan lupakan juga bahwa gedung itu memiliki basemen yang cukup luas.
__ADS_1
Itulah mengapa orang-orang yang masih melajang memilih untuk tinggal disana. Selain nyaman dan bersih, mereka juga bebas melakukan apapun disana, kecuali berpesta wanita.
Larangan itu masih menjadi misteri mengapa tidak boleh. Bahkan semua orang tahu jika Alvin maupun Rei dan Kenzo pernah menikmati banyak wanita dalam semalam.
Kedatangan Alvin membuat semua orang berkumpul di aula gedung itu. Jelas harus ada ruangan besar di gedung itu untuk memuat ratusan orang sekaligus dan mereka menyebutnya sala room.
Alvin berdiri diambang pintu lalu memanggil dua orang untuk ikut bersama mereka turun ke basement. Ada satu hal yang harus ia urus secara langsung dibawah gedung ini. "Apa kalian memberinya makan?" Tanya Alvin.
"Tentu. Kami sudah memberi mereka makan sebanyak dua kali," Jawab Enzio.
"Bagus," puji Alvin. "Aku tidak mau mereka lemah saat bertemu denganku." Lanjutnya kemudian membuka pintu menuju basemen.
Hentakan langkah kaki menggema diruangan bawah tanah yang dipenuhi oleh lorong-lorong yang gelap dan sunyi itu. Berbekal korek api yang ada ditangan kenzo, pria itu kini menyalakan lentera-lentera yang ada di dinding lorong untuk menerangi jalan mereka menuju sebuah ruangan tempat dimana dipenuhi dengan besi.
Enzio yang berada dibarisan paling belakang kini pindah ke depan untuk membuka pintu yang sengaja ia gembok. Usai terbuka, Rei orang pertama yang masuk kedalam ruangan itu diikuti Alvin dan beberapa orang yang masih diluar satu persatu masuk kedalam. Ruangan berukuran 49 m² itu mampu menampung sepuluh orang didalamnya.
"Tuan Alvin tolong lepaskan aku, a-aku sebenarnya tidak tahu apa-apa. aku hanya disuruh olehnya." Teriak pria yang bernasib sama dengan Michael. Dia adalah pelayan pria yang waktu itu menembak Alvin.
Alvin tersenyum getir mendengar ucapan pria itu. Daripada menjawab apa yang dikatakannya, Alvin kini duduk di kursi tempatnya biasa menyaksikan aksi yang dilakukan oleh anak-anak yang tinggal digedung itu. "Mulailah!" Ucap Alvin dan kini Enzio mendekati sebuah lemari dan membukanya. Michael dan rekannya yang melihat isi lemari itu membuka mata dan mulutnya takjub sekaligus ngeri. Segala macam senjata tajam dari mulai yang terkecil sampai yang terbesar tersusun rapi disana. Begitupun dengan pistol dengan jenis dan ukuran yang berbeda ada didalam lemari itu.
"Aku ingin yang tajam tapi kecil." Ucap Alvin. Enzio pun mengambil sebuah pisau kecil dan berjalan mendekati kedua orang yang terikat oleh rantai itu.
"Jika kau mengincar Rei, kenapa kau malah menembak Alvin? Apa maksudmu sebenarnya?" Tanya Kenzo dengan suara yang dingin namun mematikan telinga yang mendengarnya.
"Jawab!" Teriak Kenzo hingga tubuh ketiga orang itu terguncang karena terkejut.
"A-aku hanya di-di suruh." Jawab pria yang merupakan tersangka sebenarnya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Alvin.
__ADS_1
"Sudah jelas itu dia." Timbal Kenzo menunjuk wajah Michael Hwuan.
Merasa terpojok Michael pun segera menggeleng, "tidak. Bu-bukan a-aku yang menyuruhnya." Sanggah pria itu.
Namun Kenzo hanya memiringkan bibir, tersenyum licik. Kemudian tangannya menampar wajah pria itu hingga telapak tangannya meninggalkan bekas. "Bohong!" Teriaknya.
Pelaku penembakan yang berada disebelah Michael terkejut dan semakin dibuat takut. Tubuhnya gemetaran dan mulai mengeluarkan keringat dingin. Sepertinya hari ini hari terakhir.
Rei yang mengenal Michael hanya menatap pria itu dalam diam. Tak ada satu katapun yang terucap dari pria itu untuk membela orang yang sudah merawatnya dulu waktu masih remaja. Ah tidak, lebih tepatnya dia dijadikan budak dengan upah makan setiap harinya. Hanya makan. Bahkan Rei tidak mengenal bangku sekolah karena Michael tidak memberinya izin untuk pergi keluar sekali pun berangkat sekolah, kecuali bersama dirinya sebagai budak.
Rasa pahit yang dirasakan oleh Rei dulu begitu ingin ia balas hari ini. Namun ia mengerti bahwa bukan waktu yang tepat untuk mendahulukan kepentingannya sendiri. apalagi membalas rasa pahit kehidupan yang dirasakan olehnya.
"Rei... Rei.... REI!" teriak Kenzo hingga pria berambut gondrong itu tersendat dan menoleh. "Apa?" Jawabnya.
"Aku memberikannya untukmu." Kenzo menyodorkan sebuah kotak kecil berisi garam. "Taburkan padanya." Lanjut pria itu.
Rei pun mengambil kotak itu lalu mendekati sudut dimana dua orang itu terikat rantai. Sedikit demi sedikit garam Rei taburkan pada tubuh Michael dan rekannya yang sudah berlumuran darah karena Enzio beberapa kali menggores kulitnya dengan pisau sejak kemarin. Perih kembali terasa disekujur tubuhnya dan teriakan meminta tolong pun menggema diruangan itu.
"Katakan siapa yang menyuruhmu!" Bentak Rei seraya menatap Michael. Pria kecil yang dulu adalah budaknya yang lemah kini berubah menjadi ganas dan garang. "Kau dulu kucing jalanan, sekarang kau singa pemburu." Ujar Michael tersenyum licik. "Ternyata keluarga Fortino sudah merubah dirimu."
"Diam!" Rei kini memegang dagu Michael dengan kuat hingga pria itu kesulitan berbicara lagi. "Tidak ada siapapun yang menyuruhmu bicara!" Teriaknya.
"Rei...." Panggil Alvin dengan nada lembut. "Jangan begitu padanya." Ucap Alvin menasihati pria yang berusia lebih muda darinya itu.
Rei pun menuruti apa yang dikatakan oleh Alvin dan melepaskan cengkraman tangannya dari dagu pria itu. Alvin pun kini bangkit dari duduknya perlahan-lahan karena luka pasca operasinya belum mengering sepenuhnya. "Tidak ada jawaban untuk semua pertanyaan. Ini bagian mu, Enzio." Ucap Alvin lalu berjalan meninggalkan ruangan itu diikuti Rei dan Kenzo dibelakangnya.
Enzio yang tahu keinginan Alvin lantas menyuruh rekannya untuk mengambil pistol berukuran sedang. Bunyi tembakan yang terdengar hingga beberapa langkah setelah pergi meninggalkan ruangan itu menandakan bahwa Enzio telah melakukan tugasnya.
Darah segar memenuhi ruangan itu setelah enzio menembak dada kiri kedua pria itu dan langsung meregang nyawa mereka. Kini Enzio memanggil beberapa rekannya yang menunggu diatas untuk ikut andil membantunya membereskan ruangn bawah tanah dari cairan merah itu juga tak lupa data-data tentang Michael dan anak buahnya itu supaya dihapus.
__ADS_1