
Denting lift berbunyi saat benda itu berada dilantai 11 dan pintunya pun terbuka. Alvin dan Kenz yang berada didalam lift lantas keluar menuju ruangan tempat dimana sepupu Alvin tinggal.
Kenz menekan bel sebuah pintu diujung lorong sambil menatap sebuah kamera yang memang tersedia untuk melihat Tamu-tamu yang datang berkunjung. Usai tiga kali menekan bel, akhirnya pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita berpakaian seksi hendak keluar dari ruangan itu.
Kenz menatap wanita itu hingga ia berhenti didepan lift menunggu pintu itu terbuka dan membawanya turun. Sedangkan Alvin tak peduli dengan wanita yang baru saja keluar dari apartemen sepupunya itu. Ia memilih untuk langsung masuk kedalam dan melihat kondisi Arturo yang sepertinya sudah bersenang-senang.
Saat kakinya berhenti melangkah dan melihat ruang tamu, Alvin disuguhi sebuah senyuman kepuasan dari sang sepupu yang tengah terduduk disofa. "Hai, sepupu." Sapa Arturo dengan tangan yang diangkat. "Long time no see."lanjutnya dengan senyuman yang semakin merekah.
Belum menjawab sapaan sepupunya itu, tiba-tiba Kenz datang bergabung bersama Alvin. "Long time no see, Kenz!" Arturo juga menyapa pria yang selalu bersama sepupunya itu. Sama seperti apa yang dilakukan olehnya kepada sepupunya, Alvin.
Kenz hanya memberi raut wajah datar. "Kabar baik selalu bersamaku." Jawabnya hendak melangkahkan kaki untuk duduk disofa.
"Kembali Kenz, dia sedang tidak waras." Celetuk Alvin hingga membuat niat pria berambut cokelat madu yang ingin duduk tak jadi ia lakukan.
Arturo yang mendengar itu lantas berdiri, "Aku sangat sadar, sepupu." Belanya. "Wanita tadi hanya datang mengantarkan pakaianku."
Alvin yang tahu kebiasaan orang-orang disekitarnya hanya memberi sebelah senyuman atas penjelasan Arturo. Bukan tanpa alasan ia tersenyum. Melainkan karena ia tahu bahwa sepupunya itu baru saja melakukan hubungan panas bersama wanita tadi. Hal itu terlihat dari tubuh dan aura wanita yang berjalan melewatinya.
"Kau harus mandi supaya kesadaran mu lebih dari seratus persen." Seru Kenz yang mengerti keadaan Arturo yang belum membersihkan sisa-sisa percintaan sesaat yang baru terjadi ditempat tinggalnya itu.
Arturo memutar bola matanya, "Baiklah." Ucapnya mengalah dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan kotoran ditubuhnya itu.
Kenz yang sudah yakin jika ajakan untuk kembali telah gagal, kini ia kembali mendekati sofa dan mendaratkan tubuhnya diatas benda empuk itu. Sedangkan Alvin memilih untuk berjalan-jalan diruangan itu tanpa sebuah alasan. "Duduklah dulu, Dia pasti akan lama." Ucap Kenz.
Alvin hanya menatap pada pria yang baru saja membuka mulutnya itu dan melakukan apa yang disuruhnya tanpa berkata-kata. Namun bukannya duduk disofa, pria itu malah duduk didepan kursi tunggal yang berada didapur sambil mengupas anggur merah.
Sementara dirumah sakit, Moanna terbaring di salah satu bangsal tempat dengan mata yang masih tertutup rapat. "Apa dia baik-baik saja?" Tanya wanita yang membawa Moanna kerumah sakit.
"Dia akan segera sadar jika efek obat yang ia minum sudah hilang." Jawab dokter yang menangani Moanna.
"Memangnya apa obat yang diminumnya?"
"Sepertinya dia meminum obat tidur dosis tertinggi." Jelas Leo, dokter yang tak lain adalah rekannya Moanna.
"Kenapa dia minum obat tidur jika dia tidak menetap dirumahnya?" Heran wanita itu seraya melihat Moanna yang masih terbaring.
__ADS_1
"Mungkin Bibi itu lelah dan ingin segera tidur," celetuk bocah laki-laki anak wanita itu. "Makanya dia tidur di lift." Lanjutnya.
"Memangnya dimana kau menemukannya?" Tanya Leo.
"Dia terbaring disudut lift disebuah apartemen elite dipinggir kota." Jelas wanita itu.
Leo sedikit terkejut mendengar ucapan wanita itu, bagaimana bisa Moanna pergi ke apartemen dipinggir kota sedangkan rumahnya berada dipusat kota?
Bocah laki-laki yang datang bersama Moanna terlihat agak ketakutan berada dirumah sakit dan kini menarik-narik ujung pakaian ibunya. "Ibu, ayo kita pulang!" Rengeknya.
Wanita yang tengah berbincang dengan dokter Leo itu kini beralih pada putranya lalu mendekat pada telinga pria kecil itu. "Tunggu sebentar." Bisiknya kemudian kembali berdiri tegak.
"Jika memang anda teman dari nona itu, saya titip dia karena harus pergi sekarang." Pamit wanita itu seraya memberikan kunci mobil Moanna lalu meraih tangan kecil putranya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Dengan tangan yang masuk ke dalam saku jas putih ciri khas profesinya, Leo berjalan mendekati Moanna yang tengah tertidur nyenyak dengan bantuan dari obat yang diberikan Felix pada wanita itu.
"Cepatlah sadar." Ujar pria itu sambil menatapi wanita berambut cokelat yang berprofesi sama seperti dirinya. "Aku ingin mendengar semua darimu." Lanjutnya meminta penjelasan atas apa yang telah menimpa Moanna.
Lain halnya dengan Moanna yang masih tak sadarkan diri, dilantai sebuah kamar seorang pria mulai menggerakkan tubuhnya dan merasakan rasa sakit pada bagian belakang kepalanya. "Moanna...." Ucap pria itu seketika bangkit dan melihat sekeliling ruangan berbentuk persegi itu untuk mencari seseorang yang terakhir ia lihat sebelum ia tak sadarkan diri.
"Argh..." Felix membanting ponsel itu dan mengacak-acak rambutnya frustasi karena takut Moanna mengatakan apa yang terjadi pada mereka berdua pada teman-temannya di rumah sakit. "Kau akan menyesali keputusanmu karena telah menolakku."
Felix kini pergi meninggalkan ruangan itu dengan rasa sakit diseluruh tubuh dan kekesalan dihati karena cintanya ditolak oleh Moanna dihadapannya langsung. Kini pria yang hampir menginjak usia 35 tahun itu masuk kedalam kamarnya untuk mengguyur seluruh tubuhnya sebelum akhirnya ia pergi makan malam.
•••>>>
Hampir lima belas menit Arturo berada didalam kamar mandi hingga Kenz merasa kesal dan beberapa kali meneriaki pria itu. Namun Alvin malah duduk tenang tanpa berkata apapun didapur. Saking penasaran dengan apa yang dilakukan Alvin hingga pria itu menghening, Kenz berjalan menuju tempat itu dan sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Apa dia daritadi begitu?" Gumam Kenz.
"Hanya kau kupas?" Tanyanya dan berdiri didepan Alvin yang ternyata tengah sibuk mengupas seluruh anggur merah yang ada dipiring. "Boleh aku makan?"
"Ini bukan untuk dimakan." Ucap Alvin hingga alis Kenz berkedut. "Lalu?" Herannya.
"Ini hitungan untuknya. Jika dia tidak keluar setelah aku mengupas semuanya, maka..." Alvin berhenti bicara dengan sebelah tangan merogoh kantung pada mantelnya. "Maka dialah yang akan mencoba benda ini." Lanjutnya dengan tangan yang sibuk menyiapkan peluru untuk ia tembakkan pada Arturo jika pria itu tak juga keluar.
Kenz menelan salivanya ngeri mendengar ucapan pria yang dijuluki Signore itu. Ia memilih kembali ke tempatnya tanpa sebiji anggur pun ditangannya. "Ar. Cepatlah!" Teriaknya lagi.
__ADS_1
Akhirnya Arturo keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai dan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Namun aktivitas nya itu terhenti tatkala ia merasakan sebuah benda kecil mendekat pada pinggangnya. Kedua mata biru Arturo melirik kearah kiri yang ternyata sudah berdiri Alvin bersama sebuah pistol. "Mau melihatnya langsung?" Tanya Alvin.
Arturo hanya tersenyum cengengesan, "tidak. Terimakasih, " tolaknya dengan tangan yang mencoba menjauhkan pistol buatan perusahaan Alvin itu dari pinggangnya.
Alvin pun membiarkan sepupunya itu melakukan pembelaan dan memilih kembali memasukkan benda itu kedalam mantelnya. "Waktumu hanya sebentar." Ucap Alvin memperingati Arturo supaya tidak melakukan hal yang sama. Yaitu membuang-buang waktunya.
"Seperti ini saja?" Tanya Arturo yang berdiri diantara Kenz dan Alvin. "Bisakah kita menggunakan waktuku itu untuk berjalan ke sofa dan mulai bicara?"
Alvin menatap Arturo dan berjalan duluan menuju sofa kemudian mendaratkan tubuhnya diatasnya. "Lima detik dari sekarang." Ucap Alvin sambil memperhatikan detik pada jam yang terpampang di dinding.
Mendengar hal itu sontak membuat Arturo berlari kearah Sofa hingga dirinya tersandung dan hampir terjatuh. "Huh.." Arturo membuang napasnya kasar karena hampir terjatuh ke teras akibat ulah sepupunya itu. "Katakan!" Suruh Alvin.
Arturo mengambil napasnya cukup panjang. "Begini sepupu," Pria berambut blonde itu memulai. "sebelum aku kembali ke sini aku bertemu seorang pria tua yang ternyata adalah ketua perjudian terbesar di Meksiko," tutur Arturo lalu menyesap rokok yang baru ia nyalakan dengan pemantik api berwarna silver yang tergeletak diatas meja.
"Dia mengajakku untuk bergabung bersamanya dengan keuntungan yang sangat menggiurkan." Arturo menjelaskan alasan mengapa ia meminta supaya Alvin menemuinya.
"Lalu?" Tanya Alvin yang tak sabar dengan lanjutan cerita sepupunya itu.
"Karena aku tidak pandai dalam dunia perjudian, tentu saja aku menolaknya. Namun aku merekomendasikanmu untuk menjadi partner pria tua itu." Papar Arturo.
Kenz dan Alvin serempak mengangkat sebelah alis mereka, "kenapa diriku?" Heran Alvin.
Arturo memutar bola matanya kesal dengan kepolosan yang dibuat-buat oleh sepupunya itu. "Karena itu keahlianmu. Bukan diriku!"
"Lalu apa yang dikatakan pria tua itu setelah kau merekomendasikan Alvin?" Tanya Kenz.
Arturo diam sesaat untuk mengingat kembali apa yang dikatakan oleh pria tua itu. " Hmmm.... Dia tidak ingin direkomendasikan siapapun. Tapi jika memang tertarik dan ingin bergabung kau harus menemuinya langsung." Jelasnya.
"Berapa keuntungan itu?" Tanya Alvin.
Arturo mengangkat bahunya, "Entahlah." Jawabnya lalu mengeluarkan asap rokok yang baru ia sesap itu.
"Dimana aku bisa menemuinya?" Tanya Alvin yang sepertinya tertarik untuk bergabung dengan pria yang dimaksud oleh sepupunya itu.
"Orlan." Jawab Arturo. "Kau bisa menemuinya disana. Tapi saranku kau jangan datangi kota besar disana karena itu percuma. Pria tua itu selalu datang ke kota-kota kecil untuk menutupi pekerjaannya."" Jelas Arturo
__ADS_1